Bab 3: Hari yang Semua Orang Tunggu
5205Please respect copyright.PENANAXdlDOyz4Z3
Hari itu akhirnya tiba. Tanggal yang sudah ditandai di kalender Santi dengan hati berdebar sejak enam bulan lalu: hari pernikahan mereka. Langit Jakarta pagi itu cerah tanpa awan, matahari menyinari halaman rumah besar di Pondok Indah dengan cahaya keemasan yang lembut. Udara masih sejuk, bercampur aroma bunga melati dan mawar segar yang sudah ditata sejak subuh oleh tim dekorator.
5205Please respect copyright.PENANAg95nSD3W4r
Santi berdiri di depan cermin besar di dalam ruangan, dikelilingi oleh Widya dan dua penata rias profesional. Gaun pengantin putih ivory yang dipilihnya adalah mahakarya: model off-shoulder dengan korset ketat yang menekan pinggang rampingnya, rok A-line yang mengembang lembut namun tetap menampilkan lekuk pinggul dan bokong bulat besarnya. Bagian dada gaun itu dirancang rendah—sangat rendah—sehingga bagian payudara F-cup-nya terlihat jelas, kulit putih mulusnya berkilau karena body shimmer yang diaplikasikan tadi pagi. Kerudung panjang berenda tipis menjuntai dari belakang kepala, namun tidak menutupi wajah cantiknya: mata coklat memikat yang diberi smokey eyes lembut, hidung mancung yang selalu jadi kebanggaannya, dan bibir merah mawar yang sedikit menggigit karena gugup.
5205Please respect copyright.PENANAofh3wsXMgh
“Cantik sekali Nak,” bisik Widya sambil menyesuaikan anting berlian panjang di telinga Santi. Matanya menatap putrinya dengan campuran bangga dan sesuatu yang lebih dalam—sebuah antisipasi yang hanya ibu dan pemahaman pemahaman. "Tubuhmu sempurna di gaun ini. Dimas pasti tidak bisa berkedip sepanjang hari."
5205Please respect copyright.PENANABK7lhlpWCd
Santi malu tersenyum-malu, tapi ada kilau nakal di matanya. “Mama jangan godain terus. Aku sudah deg-degan dari tadi.”
5205Please respect copyright.PENANAO5dqc0tjYv
Ia memutar tubuhnya pelan di depan cermin. Gaun itu bergerak mengikuti, roknya bergoyang lembut, tapi bagian atas tetap menonjolkan payudara yang berat dan kencang. Setiap gerakan kecil membuat bagian dada itu bergoyang pelan, dan Santi tahu—ia sengaja memilih model ini karena ingin Dimas melihat betapa indahnya tubuhnya hari ini. Tapi di sudut hati, ada bisikan kecil yang selama ini ia coba abaikan: apakah Dimas benar-benar bisa memuaskan hasrat yang telah dibangun bertahun-tahun oleh orang tuanya?
5205Please respect copyright.PENANAT8sRtTdJJH
Di lantai bawah, Dimas sudah siap dengan beskap hitam klasik yang dipadukan jas putih modern. Rambutnya disisir rapi ke belakang, senyum menawannya terpancar setiap kali ia menyapa tamu yang mulai berdatangan. Ia berdiri di teras depan, menyambut kerabat dan sahabat yang memenuhi halaman. Tubuhnya tegap, tinggi 170 cm, sedikit berotot dari gym rutin—tapi di balik penampilan gagah itu, jantungnya berdegup kencang. Malam ini adalah malam pertamanya dengan Santi. Ia membayangkan tubuh istrinya yang sempurna, payudara besar yang selama ini hanya bisa ia remas lewat baju, bokong bulat yang selalu membuatnya melengkung, dan vagina yang pasti hangat serta sempit.
5205Please respect copyright.PENANA8ZBzCUGCtW
Mulyo mendekat, menampar calon menantunya dengan tangan kuat. “Siap jadi suami resmi anakku, Dimas?”
5205Please respect copyright.PENANAlL5OceOtsu
Dimas mengangguk cepat. “Siap, Pak. Saya nggak sabar.”
5205Please respect copyright.PENANAqa8n7pTlxi
Mulyo tersenyum—senyum yang hangat di permukaan, tapi matanya menyimpan rahasia. "Bagus. Nikmati hari ini sepenuhnya. Malam nanti… pasti akan jadi malam yang tak terlupakan.”
5205Please respect copyright.PENANA9tEECruwBd
Dimas tidak menangkap nada aneh itu. Ia terlalu sibuk membayangkan bagaimana rasanya memeluk Santi tanpa batas, mencium setiap inci kulit putihnya, dan akhirnya—memasukkan penis kecilnya ke dalam tubuh wanita yang dicintainya.
5205Please respect copyright.PENANAEZRqj2pqT5
Pukul sepuluh pagi, upacara akad dimulai di aula dalam rumah yang sudah dihias megah dengan bunga putih dan emas. Santi masuk perlahan, diapit oleh Widya dan Mulyo. Langkahnya anggun, namun setiap ayunan pinggul membuat gaunnya bergoyang, menarik perhatian hampir semua tamu pria di ruangan itu. Payudaranya bergoyang lembut di balik korset ketat, bagian dada yang di dalamnya seperti magnet. Dimas menelan ludah saat melihat istrinya mendekat. Matanya tidak bisa lepas dari lekuk tubuh Santi—dari bahu mulus, ke bagian payudara, ke pinggang ramping, sampai bokong yang terlihat bulat meski tertutup rok.
5205Please respect copyright.PENANASLoEN2b3il
Saat ijab kabul diucapkan, suara Dimas sedikit gemetar. “Saya terima nikahnya Santi binti Mulyo dengan mas kawin tersebut secara tunai.”
5205Please respect copyright.PENANAlfJzDWmMHp
Tepuk tangan riuh. Santi menunduk malu, tapi saat ia mengangkat wajah, matanya bertemu dengan Dimas—penuh cinta, tapi juga ada kilau harap yang dalam.
5205Please respect copyright.PENANA3ypp7Gz1X3
Resepsi diadakan di taman belakang rumah. Meja meja panjang dipenuhi hidangan mewah: sate lilit, bebek betutu, rendang, dan aneka kue tradisional. Musik gamelan lembut mengalun, tamu berfoto, tertawa, dan memberi selamat. Santi dan Dimas duduk berdampingan di pelaminan, tangan mereka saling berpegangan. Dimas sesekali mencium pipi Santi sambil berbisik, “Kamu cantik sekali hari ini. Aku nggak sabar malam nanti.”
5205Please respect copyright.PENANA3n3Dbx8mEk
Santi manis tersenyum. “Aku juga, Mas. Aku mau jadi milikmu sepenuhnya.”
5205Please respect copyright.PENANAWtfVwHClTq
Tapi di balik senyum itu, pikiran melayang ke kata-kata ayahnya semalam lewat telepon singkat: “Tenang saja, Nak. Malam pertama kalian sudah kami siapkan. Kamu akan puas.”
LANJUTAN CERITA BISA DI AKSES DI https://lynk.id/novelhambilah
5205Please respect copyright.PENANAkHaf9Ho5MW


