Bab 1: Godaan di Balik Tidur Malam
5234Please respect copyright.PENANAMzlZPnWDLV
Sore itu matahari Jakarta sudah condong ke barat, cahayanya yang keemasan menyusup lewat jendela ruang tamu rumah keluarga Mulyo di kawasan elit Pondok Indah. Santi baru saja pulang dari butik pengantin bersama Dimas, calon suaminya. Mereka menghabiskan hampir empat jam untuk fitting terakhir gaun pengantin, veil, dan sepatu hak tinggi yang akan dipakai Santi tiga hari lagi di hari pernikahan.
5234Please respect copyright.PENANApfWbNyM8ap
Santi merasa tubuhnya seperti habis diperas. Pinggangnya yang ramping terasa pegal karena terus-menerus ditarik-tarik oleh penjahit agar gaun putih satin itu menempel sempurna pada lekuk pinggul dan payudaranya yang penuh. Payudara F-cup miliknya memang selalu jadi pusat perhatian—bulat, kencang, dan berat—sehingga hampir setiap gaun yang dipakainya terlihat seperti dirancang khusus untuk menonjolkan aset itu.
5234Please respect copyright.PENANAvXvTHdugvw
“Capek banget, Mas,” keluh Santi sambil melempar tas kecilnya ke sofa. Rambut hitam panjangnya yang biasanya rapi kini sedikit acak-acakan, beberapa helai menempel di pipi yang memerah karena kelelahan dan panas Jakarta.
5234Please respect copyright.PENANApELyuNXIWw
Dimas tersenyum lembut, seperti biasa. Pria berusia 24 tahun itu memang punya senyum yang menenangkan—senyum yang membuat Santi jatuh cinta dua tahun lalu saat mereka bertemu di acara amal perusahaan ayah Dimas. Tubuh Dimas tidak terlalu berotot, tinggi 170 cm, tapi posturnya tegap dan rapi. Rambut hitam lurusnya selalu disisir ke belakang, membuat wajahnya terlihat bersih dan menawan. Hanya saja, di balik sikap romantis dan perhatiannya, ada satu hal yang selalu membuat Santi diam-diam gelisah: ukuran penisnya yang hanya sekitar 8 cm saat tegang.
5234Please respect copyright.PENANAHzzwAtgUOE
“Tapi kamu cantik banget tadi pakai gaunnya, Sayang,” ujar Dimas sambil mendekat dan mencium kening Santi. “Aku nggak sabar lihat kamu jalan ke altar pakai itu.”
5234Please respect copyright.PENANA5ar0KTIrUQ
Santi tersenyum tipis, tapi matanya coklat yang memikat itu seolah menyimpan sesuatu yang lebih dalam. “Makasih, Mas. Aku mau langsung tidur dulu ya, badan pegel semua. Kamu ngobrol sama Papa dulu aja.”
5234Please respect copyright.PENANAODPzuR2QPx
Ia berbalik, rok mini hitam yang dipakainya hari ini bergoyang mengikuti langkah bokongnya yang bulat dan besar. Dimas menatap punggung istrinya calon itu dengan tatapan penuh cinta—dan juga hasrat yang mulai menyelinap.
5234Please respect copyright.PENANAK5cTn7R2Ek
Di ruang tamu, Mulyo—ayah Santi—sudah menunggu dengan segelas kopi hitam di tangan. Pria berusia 47 tahun itu masih terlihat sangat gagah: tinggi 171 cm, tubuh atletis yang terlatih gym setiap pagi, rambut hitam ikal yang sedikit beruban di pelipis, kulit sawo matang yang sehat. Senyumnya hangat, tapi di balik mata tajam itu tersimpan sisi gelap yang hanya diketahui oleh istri dan anak perempuannya.
5234Please respect copyright.PENANA6kK5boM1pU
“Dimas, duduk dulu. Ngobrol bentar,” ajak Mulyo sambil menepuk sofa di sebelahnya.
5234Please respect copyright.PENANApaFg7SWQDF
Dimas duduk, mereka bicara tentang bisnis, persiapan pernikahan, dan sedikit canda tentang masa depan. Tak sampai setengah jam, ponsel Mulyo berdering. Ia melihat layar, lalu berdiri.
5234Please respect copyright.PENANASgzZ3gqD7j
“Ada urusan mendadak di kantor. Maaf ya, Dimas, aku harus pergi dulu. Widya di kamar, kamu pamit dulu sama Santi sebelum pulang ya.”
5234Please respect copyright.PENANAH7tfd0moEW
“Siap, Pak. Hati-hati di jalan.”
5234Please respect copyright.PENANAZ8C1IXPeLc
Begitu Mulyo pergi, rumah terasa lebih sepi. Dimas naik ke lantai dua, menuju kamar Santi. Pintu kamar sedikit terbuka, lampu tidur menyala redup berwarna jingga. Ia mendorong pintu pelan.
5234Please respect copyright.PENANArAYUOUsYMT
Dan di situlah pemandangan yang membuat darahnya langsung berdesir.
5234Please respect copyright.PENANA4G3Tm3Zh6x
Santi sudah tertidur pulas di atas ranjang king size-nya. Ia tidak sempat ganti baju. Masih mengenakan crop top hitam ketat yang bahannya tipis sekali—hampir tembus pandang—dan celana pendek ketat yang hanya menutupi separuh bokongnya. Crop top itu terangkat sedikit karena posisi tidurnya miring, sehingga payudara kirinya hampir sepenuhnya terbuka. Puting pink kecil itu terlihat jelas, mengeras sedikit karena AC kamar yang dingin. Kulit putihnya yang mulus berkilau samar di bawah cahaya lampu tidur.
5234Please respect copyright.PENANAxswmX7CEtW
Dimas menelan ludah. Jantungnya berdegup kencang. Ia tahu ini salah, tapi kakinya seperti terpaku. Perlahan ia mendekat ke sisi ranjang. Napasnya mulai berat.
5234Please respect copyright.PENANASjdBckoT8n
Ia duduk di pinggir kasur, tangannya gemetar saat menyentuh paha Santi yang mulus. Kulitnya hangat, lembut seperti sutra. Santi hanya bergumam pelan dalam tidurnya, tidak terbangun.
5234Please respect copyright.PENANAl1eRxsrdVn
Tangan Dimas naik lebih tinggi, menyusuri pinggang ramping, lalu akhirnya menyentuh payudara yang selama ini hanya bisa ia remas lewat baju. Telapak tangannya langsung menutupi satu payudara penuh itu. Berat. Kenyal. Hangat. Puting pink itu langsung mengeras di bawah ibu jarinya saat ia memijat pelan.
5234Please respect copyright.PENANAhiPtI9rXgK
“Ya Tuhan…” desis Dimas pelan.
5234Please respect copyright.PENANAk3R1KvNIkE
Ia meremas lebih kuat. Payudara Santi bergoyang lembut setiap kali ia meremas. Santi mendesah pelan, “Mmmh…” tapi matanya tetap tertutup. Napasnya mulai sedikit lebih cepat.
5234Please respect copyright.PENANAgS6HnFDmXQ
Dimas tidak bisa menahan lagi. Tangan kirinya turun ke celananya sendiri, membuka resleting. Penisnya yang sudah tegang sepenuhnya keluar—8 cm, keras, tapi kecil dibandingkan imajinasi yang selama ini ia pendam. Ia mulai mengocoknya pelan sambil terus meremas payudara Santi dengan tangan kanan.
5234Please respect copyright.PENANA5QTTJSsCfg
Sensasi itu luar biasa. Kulit payudara yang lembut, puting yang mengeras di telapak tangannya, desahan kecil Santi yang keluar setiap ia cubit pelan puting itu. Bau parfum vanila manis Santi bercampur aroma tubuhnya yang hangat membuat kepala Dimas pusing oleh nafsu.
5234Please respect copyright.PENANAPv3q1vZHSF
Ia mempercepat gerakan tangannya. Penis kecilnya berdenyut keras. Ia membayangkan bagaimana rasanya jika ia bisa memasukkan ke dalam tubuh Santi malam ini juga. Tapi ia tahu—ia tidak akan bertahan lama.
5234Please respect copyright.PENANAF9XxzEGYbV
Tiba-tiba…
5234Please respect copyright.PENANAoRTWHXxvq6
*Khk khk…*
5234Please respect copyright.PENANAVL7R7yOCnm
Suara batuk kecil terdengar dari arah pintu.
5234Please respect copyright.PENANA6uXDcrkCla
Dimas tersentak. Matanya melebar. Ia melihat Widya—ibu Santi—berdiri di ambang pintu, mengenakan kimono sutra merah tipis yang memperlihatkan lekuk payudara F-cup-nya yang mirip sekali dengan putrinya. Rambut hitam panjangnya tergerai, mata coklatnya menatap tajam ke arah Dimas.
5234Please respect copyright.PENANAzQuOLpBPAW
Dimas panik. Dengan cepat ia memasukkan penisnya kembali ke dalam celana, tangannya gemetar. Wajahnya memerah hebat.
5234Please respect copyright.PENANAqSp1WQw5Ul
“Eh… Tante… saya… saya cuma mau pamit sama Santi, eh dia sudah tidur…” katanya tergagap.
5234Please respect copyright.PENANANh0OwSRevR
Widya tersenyum tipis—senyum yang penuh makna. Ia melangkah masuk, menutup pintu pelan di belakangnya.
5234Please respect copyright.PENANAHh85jqkoIW
“Iya, aku tahu. Dia capek sekali tadi. Kamu mau pulang sekarang?”
5234Please respect copyright.PENANANnOUyga6SB
“I-iya, Tante. Maaf kalau mengganggu…”
5234Please respect copyright.PENANAjHtlm7o51s
Widya mendekat, berdiri tepat di samping Dimas. Aroma parfumnya—juga vanila, tapi lebih pekat—menggoda hidung Dimas. Ia menunduk, melihat payudara Santi yang masih setengah terbuka.
5234Please respect copyright.PENANARKNqhMicsR
“Cantik ya anakku,” bisik Widya pelan. “Payudaranya besar dan kenyal sekali. Kamu suka meremasinya tadi?”
5234Please respect copyright.PENANAOHaZEKFotr
Dimas membeku. Ia tidak tahu harus jawab apa.
5234Please respect copyright.PENANAi42hmQuayA
Widya tertawa kecil. “Tenang saja, Dimas. Aku tidak marah. Malah… aku mengerti. Tapi sekarang, ayo aku antar ke pintu depan. Biar Santi tidur nyenyak.”
5234Please respect copyright.PENANAaeL6ZWApxJ
Dimas hanya bisa mengangguk lemas. Ia bangun, melirik sekali lagi ke tubuh Santi yang tertidur damai, lalu mengikuti Widya keluar kamar.
5234Please respect copyright.PENANAEOGQy7gubq
Di tangga menuju pintu depan, Widya berhenti sejenak. Ia menoleh ke Dimas.
5234Please respect copyright.PENANAeQ77yYkJW2
“Dimas… tiga hari lagi kamu resmi jadi suami Santi. Pastikan kamu bisa menjaganya, ya. Dia anak kesayangan kami. Dia butuh… kepuasan yang besar.”
5234Please respect copyright.PENANA3CaKVcl9hr
Dimas menelan ludah. Ada nada aneh di suara Widya—nada yang membuat bulu kuduknya merinding.
5234Please respect copyright.PENANAKLKrQdcdmP
“Iya, Tante. Saya janji.”
5234Please respect copyright.PENANAMUYkasltGT
Widya tersenyum lagi, lalu membukakan pintu depan. “Hati-hati di jalan. Sampai jumpa di hari H.”
5234Please respect copyright.PENANAAeCLlDjFZW
Dimas melangkah keluar, pikirannya kacau balau.
5234Please respect copyright.PENANALevsw322Hj
Malam itu, di apartemennya sendiri di kawasan SCBD, Dimas tidak bisa tidur. Gambar payudara Santi yang kenyal, puting pink yang mengeras di bawah sentuhannya, desahan pelan Santi, terus berputar di kepalanya. Penis kecilnya kembali tegang hanya dengan ingatan itu.
5234Please respect copyright.PENANAwHgvmWh8YH
Ia merebahkan diri di ranjang, menurunkan celana dalamnya. Tangan kanannya mulai mengocok penisnya dengan cepat. Ia membayangkan Santi terbangun, membuka kakinya lebar-lebar, meminta Dimas memasukinya. Tapi dalam imajinasinya, vagina Santi terasa begitu sempit, hangat, dan basah—dan ia tidak bisa bertahan lama.
5234Please respect copyright.PENANAU9SDEVqgKb
“Ahh… Santi… ahhh…”
5234Please respect copyright.PENANAUtOr8bc7kG
Hanya dalam hitungan menit, Dimas mencapai klimaks. Cairan putih kental menyembur ke perutnya sendiri. Ia mendesah panjang, tapi setelah itu datang rasa hampa yang dalam.
5234Please respect copyright.PENANA7U8p8arPrn
Di sisi lain kota, di kamar utama rumah Pondok Indah, Widya sedang berlutut di depan Mulyo.
5234Please respect copyright.PENANAgkh8uII0Gv
Suaminya duduk di tepi ranjang, telanjang bulat. Penisnya yang 19 cm sudah tegak sempurna—tebal, berurat, kepalanya mengkilap karena sudah dilumuri air liur Widya. Widya mengenakan lingerie hitam transparan yang memperlihatkan puting pink-nya yang juga sama seperti putrinya.
5234Please respect copyright.PENANAJCYjZxwQY2
Ia membuka mulut lebar-lebar, menelan penis Mulyo sampai pangkal. Tenggorokannya langsung mengembung terlihat jelas dari luar—bukti bahwa selama bertahun-tahun ia sudah dilatih untuk deepthroat tanpa refleks muntah.
5234Please respect copyright.PENANAkBNCFDxANs
*Gluk… gluk… gluk…*
5234Please respect copyright.PENANAwN2ii9SIf7
Suara basah dan dalam terdengar setiap kali kepala penis Mulyo menyentuh dasar tenggorokan Widya. Air liur menetes dari sudut bibirnya, tapi matanya menatap penuh nafsu ke atas, ke wajah suaminya.
5234Please respect copyright.PENANA3pjcx80yCg
Mulyo menggenggam rambut Widya, menekan kepalanya lebih dalam. “Bagus, Sayang… seperti biasa… kamu selalu bisa menelan semuanya.”
5234Please respect copyright.PENANA25og3vNPgJ
Widya mengeluarkan penis itu sebentar, menarik napas, lalu kembali menelannya sampai habis. Setelah puas mengulum, ia naik ke pangkuan Mulyo, memposisikan vagina basahnya tepat di atas kepala penis besar itu.
5234Please respect copyright.PENANAkL30mBub1A
Ia menurunkan pinggul perlahan.
5234Please respect copyright.PENANAUcbVN9y4Kw
“Ahhh… sakit… tapi enak… selalu begini rasanya…” desah Widya saat penis 19 cm itu memaksa masuk ke dalam vaginanya yang sudah terlatih tapi tetap terasa penuh setiap kali.
5234Please respect copyright.PENANATb0ZMszdZd
Ia mulai menggerakkan bokongnya naik-turun. *Plok… plok… plok…* suara bokong besarnya bertabrakan dengan paha Mulyo terdengar ritmis. Payudaranya bergoyang keras, puting pink-nya bergesekan dengan dada suaminya.
5234Please respect copyright.PENANAq287rdLnLt
Mulyo tidak diam. Ia meraih kedua payudara Widya, meremas keras, lalu menggigit puting kiri dengan gigi depannya.
5234Please respect copyright.PENANApiagFdhWP8
“Aaahhh! Mulyo… gigit lagi…!” jerit Widya keenakan.
5234Please respect copyright.PENANAS02VnK8xSs
Di tengah gerakan liar itu, Widya berbisik di telinga suaminya.
5234Please respect copyright.PENANA71abozrPbm
“Tadi aku lihat Dimas meremas payudara Santi sambil mengocok kontolnya sendiri…”
5234Please respect copyright.PENANARJ8ExXfOFP
Mulyo mengangkat alis. “Serius?”
5234Please respect copyright.PENANApiziAwxKqG
“Iya. Kontolnya kecil sekali, Sayang. Cuma segini…” Widya menunjukkan jari telunjuk dan jempolnya membentuk lingkaran kecil. “Santi nggak akan pernah puas. Kita sudah melatih vaginanya bertahun-tahun untuk kontol besar. Dia butuh yang tebal, yang panjang, yang bisa mengisi sampai rahimnya.”
5234Please respect copyright.PENANAqo2CAUdz2m
Mulyo tersenyum licik. Penisnya berdenyut lebih keras di dalam vagina Widya.
5234Please respect copyright.PENANA7UHravOZJy
“Kalau begitu… malam pertama nanti kita siapkan kejutan untuk mereka. Aku akan panggil teman-temanku. Biar Santi merasakan kepuasan yang sebenarnya. Dan Dimas… dia harus belajar menerima.”
5234Please respect copyright.PENANAuhMhDq57gq
Widya mengejang hebat. Orgasmanya datang tiba-tiba. Cairannya menyembur membasahi pangkal penis Mulyo.
5234Please respect copyright.PENANAQz14oblqN9
“Aaahhh… setuju… aku setuju…!”
5234Please respect copyright.PENANAjBUlMyt8wm
Mulyo membalikkan tubuh Widya, memposisikannya nungging. Ia meludahi anus istrinya, lalu mendorong penis besar itu masuk ke lubang belakang.
5234Please respect copyright.PENANAkzrzx8BZgo
Widya menjerit lagi. “Aaaahhh! Pelan… tapi jangan berhenti…!”
5234Please respect copyright.PENANAGirgpTY3aO
Malam itu berlanjut dengan desahan, jeritan kenikmatan, dan rencana gelap yang semakin matang.
5234Please respect copyright.PENANA7idp3WhOl0
Sementara itu, di kamarnya, Santi masih tertidur pulas—tidak tahu bahwa tiga hari lagi, malam pertamanya akan menjadi malam yang akan mengubah segalanya.
5234Please respect copyright.PENANA44aSHXvHiO


