Bab 4: Pengkhianatan di Kamar Hotel
1557Please respect copyright.PENANAf0wmMNBwZH
Malam itu hujan deras mengguyur Jakarta, suara udara membentur kaca jendela hotel seperti detak jantung yang tak tenang. Salma berdiri di lobi hotel bintang lima yang sama seperti malam ulang tahunnya dengan Arhan dulu, tapi kali ini tangannya gemetar memegang kartu kunci kamar yang Hardi kirim lewat pesan. Ia memakai coat panjang hitam untuk menutupi dress merah ketat yang membalut tubuhnya—dress yang ia beli khusus karena Hardi bilang “pakai yang seksi, aku mau lihat kamu seperti dulu”. Rambut hitam panjangnya dibiarkan tergerai basah karena hujan, mata coklatnya memandang dengan ragu.
1557Please respect copyright.PENANAEh2CnT0hvE
Di dalam lift, Salma menatap pantulan dirinya di cermin. Payudara E+ cup-nya menonjol jelas di balik dress rendah, putingnya sudah menegang karena dingin dan antisipasi. Bokong bulatnya terlihat menggoda saat ia berputar sedikit. “Ini cuma sekali… cuma untuk melepaskan kangen,” gumamnya pada diri sendiri, mencoba meyakinkan hati yang sudah penuh rasa bersalah. Ponselnya bergetar—pesan dari Arhan: “Malam ini aku capek banget, Sal.VC besok pagi aja ya? Love you.” Salma menelan ludah, mengetik balasan cepat: “Oke, Han. Istirahat ya. Love you too.” Lalu ia matikan notifikasi.
1557Please respect copyright.PENANAwD9FjdJ7Yu
Kamar suite di lantai 28. Pintu terbuka begitu Salma menyentuh kartu. Hardi sudah menunggu di dalam, hanya mengenakan celana jeans dan kaus hitam ketat yang menampilkan otot dada. Senyum menawannya muncul, tapi matanya gelap penuh nafsu. “Akhirnya datang juga. Aku udah nunggu dari tadi.” Ia mendekat, tangannya langsung memeluk pinggang Salma dari belakang, menarik tubuhnya hingga punggung Salma menempel di dada Hardi. Bau parfum Hardi yang kuat dan maskulin langsung memenuhi hidung Salma, membuat pusing.
1557Please respect copyright.PENANATVi9rMaPo4
“Hardi…kita pelan-pelan aja ya,” bisik Salma lemah. Tapi tubuhnya sudah berkhianat—vaginanya basah hanya karena pelukan itu. Hardi tertawa kecil di telinganya. "Pelan? Kamu datang pakai dress ini, basah kuyup hujan, dan bilang pelan? Kamu haus banget ya, Sal." Tangan Hardi naik ke dada Salma, meremas payudara kuat melalui kain tipis. puting pink-nya terasa sakit nikmat saat Hardi mencubitnya. Salma mendesah keras, kepalanya terdongak ke belakang.
1557Please respect copyright.PENANAqKf5IxB5ol
Hardi tarik mantel Salma, biarkan jatuh ke lantai. Lalu ia mendorong Salma ke dinding, menyerang bibir Salma dengan kasar. Lidah Hardi memaksa masuk, mengeksplorasi mulut Salma dengan lapar. Rasa wine merah yang Hardi minum sebelumnya bercampur ludah mereka. Salma membalas ciuman itu, tangannya mencengkeram bahu Hardi. Hardi tarik resleting dress Salma dari belakang, kain merah jatuh ke lantai seperti darah. Salma kini hanya berbalut bra renda hitam dan celana dalam tipis yang sudah basah di bagian tengah.
1557Please respect copyright.PENANARdGrxOp9iO
"Kamu makin gede dada. Pasti enak diremas," gumam Hardi sambil menarik bra ke bawah. Payudara Salma terbebas, bergoyang pelan. Hardi langsung menunduk, mulutnya mengulum satu puting dengan ganas. Giginya menggigit puncaknya, menarik hingga Salma menjerit kecil. “Ahh… sakit… tapi enak…” Rasa sakit itu membuat cairan orgasme mengalir deras di vagina Salma. Hardi berpindah ke puting satunya, menghisap kuat sambil tangan turun ke bokong Salma, menampar keras sekali. Suara “plak!” menggema di kamar.
LANJUTAN CERITA BISA DI AKSES DI https://lynk.id/novelhambilah
1557Please respect copyright.PENANAfHYM40axLF


