Bab 3: Api Lama yang Menyala Kembali
1465Please respect copyright.PENANAJU57GMeakB
Pagi itu Salma berdiri di depan gedung kantor klien dengan jantung berdegup lebih kencang dari biasanya. Blazer hitamnya menempel sempurna di tubuh langsingnya, menonjolkan payudara E+ cup yang selalu jadi perhatian diam-diam. Rok pensil hitam memeluk bokong bulatnya, high heels membuat langkahnya terdengar tegas di lantai marmer lobby. Rambut hitam panjangnya diikat rapi ponytail, makeup natural tapi bibir merahnya membuat wajahnya terlihat lebih menggoda. Ia tarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Presentasi ini penting untuk karirnya, tapi pertemuan dengan Hardi kemarin sore masih terngiang di kepalanya.
1465Please respect copyright.PENANAVeWJYmYDjR
Ruang meeting besar sudah penuh orang. Lampu terang, proyektor menyala, dan di ujung meja panjang, Hardi duduk santai dengan jas abu-abu gelap. Tubuhnya yang berotot terlihat jelas meski tertutup pakaian formal, rambut hitam lurusnya disisir ke belakang, senyum menawan itu masih sama seperti dulu di masa SMA. Saat Salma masuk, mata Hardi langsung tertuju padanya. Tatapan itu bukan tatapan biasa—ada kilatan hasrat lama yang langsung terbaca. Salma merasa panas naik ke pipinya, tapi ia pura-pura tenang, membagikan slide presentasi dan mulai bicara.
1465Please respect copyright.PENANAxSrvR37KTP
Presentasi berjalan mulus. Salma menjelaskan proyek IT dengan percaya diri, suaranya jelas, gerakannya profesional. Tapi setiap kali ia menoleh ke Hardi, pria itu memandangnya dengan cara yang membuat vaginanya berdenyut pelan. Hardi tidak banyak bertanya, hanya mengangguk dan tersenyum tipis. Setelah selesai, tepuk tangan pelan menggema. Bos klien memuji, tapi Hardi yang paling vokal. “Presentasi luar biasa, Salma. Kamu masih sama pintar dan menarik seperti dulu.”
1465Please respect copyright.PENANAjAAcGPn2U2
Setelah meeting bubar, Hardi mendekat saat orang-orang mulai keluar. “Mau lunch bareng? Kita cerita-cerita masa lalu. Nggak lama kok, cuma sejam.” Salma ragu sejenak. Ia ingat Arhan, ingat janji setia mereka. Tapi rasa penasaran—dan hasrat yang mulai menyelinap—membuatnya mengangguk. “Oke, sebentar aja ya. Aku ada meeting lagi sore ini.”
1465Please respect copyright.PENANAgpUKvHfeBo
Mereka pindah ke restoran Italia di lantai atas gedung yang sama. Meja pojok, cahaya redup, musik piano pelan. Hardi memesan wine putih dan pasta carbonara untuk mereka berdua. Obrolan dimulai ringan: teman SMA yang sudah menikah, kerjaan masing-masing, kenangan konyol di kelas. Tapi Hardi pintar mengarahkan pembicaraan ke masa lalu yang lebih pribadi.
1465Please respect copyright.PENANAIaqCopIvbU
“Ingat nggak dulu kita di mobil setelah acara pensi? Kamu gemetar banget pas pertama kali,” kata Hardi sambil tersenyum miring. Matanya turun ke dada Salma, lalu naik lagi ke wajahnya. Salma merasa wajahnya memanas. “Hardi… itu masa lalu. Aku sekarang udah punya pacar.” Hardi mengangkat bahu. “Aku tahu. Tapi aku lihat kamu sekarang… tubuhmu makin sempurna. Payudara lebih besar, bokong lebih bulat. Kamu makin hot, Sal.”
1465Please respect copyright.PENANAZtBYUCPXD7
Salma menunduk, tapi vaginanya sudah basah hanya karena kata-kata itu. Ia ingat bagaimana Hardi dulu suka main kasar—menampar bokongnya, menarik rambut, mendorong kontolnya yang 18 cm masuk dalam-dalam tanpa ampun. Arhan lembut, penuh kasih. Hardi liar, penuh dominasi. Dan sekarang, setelah berminggu-minggu LDR, tubuh Salma haus akan sesuatu yang lebih keras.
1465Please respect copyright.PENANA0X1OHNDs6a
Mereka selesai makan, tapi Hardi tidak langsung pulang. “Aku ada meeting lagi besok pagi di sini. Kamu bisa datang lagi nggak? Aku mau diskusi detail proyek… dan mungkin kita bisa ngobrol lebih lama.” Salma mengangguk pelan. “Bisa. Aku kirim proposal revisinya malam ini.”
1465Please respect copyright.PENANA7ZKc8rjh6X
Malam itu, setelah pulang, Salma mandi air hangat lama sekali. Air mengalir di kulit putihnya, tapi pikirannya penuh Hardi. Ia menyentuh vaginanya di bawah shower, jari memutar kristorispelan. Bayangan kontol Hardi yang besar, dorongan kasar, tangan yang menampar bokongnya membuatnya orgasme lebih cepat dari biasanya. cairan orgasme menyembur ke lantai kamar mandi, tapi setelah itu rasa bersalah datang lagi. “Maaf, Han… aku cuma kangen kamu,” gumamnya sambil menangis pelan.
1465Please respect copyright.PENANAgLFOizMxdr
Besoknya, Salma kembali ke gedung klien. Kali ini Hardi sudah menunggu di ruang meeting kecil, hanya mereka berdua. Pintu dikunci dari dalam. Hardi berdiri, mendekat pelan. “Kamu cantik sekali hari ini. Blazer ini bikin dadamu kelihatan makin gede.” Salma mundur setengah langkah, tapi punggungnya menyentuh dinding. Hardi mendekat lagi, tangannya menyentuh pinggang Salma. “Aku tahu kamu kangen sesuatu yang kasar. Pacarmu di luar negeri kan? Dia pasti lembut banget ya?”
1465Please respect copyright.PENANArYkbPCUvb6
Salma menggeleng, tapi suaranya lemah. “Hardi… jangan.” Tapi tubuhnya berkhianat. vaginanya sudah basah, putingnya mengeras di balik bra. Hardi mencium leher Salma pelan, giginya menggigit kecil. Bau parfum Hardi yang kuat dan maskulin membuat kepala Salma pusing. “Kita cuma sekali aja, Sal. Biar kamu nggak gila karena kangen. Aku tahu kamu butuh di entot keras.”
1465Please respect copyright.PENANAvyuGZzzILB
Salma menutup mata. Gambar Arhan muncul di pikirannya—senyum lembut, ciuman penuh kasih. Tapi hasrat tubuhnya lebih kuat. “Cuma sekali… janji nggak ada yang tahu.” Hardi tersenyum puas. “Janji.”
1465Please respect copyright.PENANA4oGrLG9yei
Mereka langsung ke hotel terdekat yang Hardi sudah booking. Kamar suite di lantai atas, pemandangan kota malam. Begitu pintu tertutup, Hardi mendorong Salma ke dinding. Bibirnya menyerang bibir Salma kasar, lidahnya memaksa masuk. Tangan Hardi meremas payudara Salma kuat, jarinya mencubit puting melalui kain. Salma mendesah keras, tubuhnya gemetar. “Hardi… ahh… pelan…”
1465Please respect copyright.PENANAWt6YDYKHvK
Hardi tertawa kecil. “Kamu bilang pelan? Dulu kamu suka kasar.” Ia tarik blazer Salma, merobek kancing blusnya. Bra renda putih terlihat, payudara besar bergoyang. Hardi menarik bra ke bawah, mulutnya langsung mengulum puting kanan, giginya menggigit keras sampai Salma menjerit kecil. Rasa sakit bercampur nikmat membuat cairan orgasme mengalir deras di vaginanya.
1465Please respect copyright.PENANAUoUANd4jri
Hardi angkat rok Salma, jarinya langsung menyusup ke celana dalam. “Udah basah banget. Kamu emang haus ya?” Dua jari masuk ke vagina Salma, bergerak kasar. Suara kecupan basah terdengar nyaring. Salma mencengkeram bahu Hardi, pinggulnya bergerak mengikuti irama. “Hardi… masukin… aku mau kontol kamu…”
1465Please respect copyright.PENANASl9dOwC4OT
Hardi melepas celananya. kontolnya 18 cm, tebal, urat-uratnya menonjol, ujungnya sudah mengkilap. Salma berlutut, mulutnya langsung menelan kontol itu dalam-dalam. Rasa asin dan hangat memenuhi lidahnya. Hardi menarik rambut Salma, mendorong kepalanya lebih dalam sampai kontol menyentuh tenggorokan. Salma tersedak, air mata keluar, tapi ia terus mengisap. “Bagus… deepthroat kayak dulu.”
1465Please respect copyright.PENANASxxkb1uS49
Setelah puas, Hardi angkat Salma ke meja kaca di ruang tamu suite. Ia buka kaki Salma lebar, kontolnya langsung menempel di vagina yang licin. “Siap?” tanya Hardi sambil tersenyum jahat. Salma mengangguk gemetar. Hardi dorong masuk keras sekali, kontol besar itu memenuhi vagina Salma sampai penuh. Salma menjerit nikmat, vaginanya menjepit kuat. “Ahh… gede banget… lebih keras!”
1465Please respect copyright.PENANAW2ORLQGjJz
Hardi mulai mengentot kasar, setiap dorongan membuat meja bergoyang. Suara kulit bertemu kulit keras, “plak… plak… plak…” menggema. Tangan Hardi menampar bokong Salma kuat, meninggalkan bekas merah. Salma orgasme pertama, cairan orgasme menyembur deras, tubuhnya kejang. Tapi Hardi tidak berhenti. Ia balik tubuh Salma, dorong dari belakang, kontol masuk lebih dalam. “Kamu lonte kecil yang haus ya? Bilang!”
1465Please respect copyright.PENANAlOByNnTuQ6
“Aku… ahh… haus… entot aku lebih keras!” jerit Salma. Hardi tarik rambutnya, mempercepat. Ia keluar di dalam vagina Salma, spermanya menyembur panas dan banyak. Salma orgasme lagi, tubuhnya lemas di atas meja.
1465Please respect copyright.PENANAeDHxB2HVpU
Mereka berdua terengah-engah. Hardi cium leher Salma dari belakang. “Besok lagi ya? Aku tahu kamu bakal balik.”
1465Please respect copyright.PENANAzTpZyqnJqJ
Salma diam, rasa bersalah menusuk dada. Tapi tubuhnya puas, untuk pertama kalinya setelah LDR. Saat ia pulang malam itu, ponsel berdering. Arhan video call. Salma angkat dengan senyum dipaksakan. “Hai, Han… aku kangen.”
1465Please respect copyright.PENANAIg9DsP1wMp
Arhan tersenyum lelah. “Aku juga, Sal. Kamu kelihatan capek. Presentasi tadi gimana?”
1465Please respect copyright.PENANASSUB5BEvSG
Salma menelan ludah. “Lancar… biasa aja.” Ia tidak cerita tentang Hardi. Tidak cerita tentang apa yang baru saja terjadi. Di dalam hatinya, ia tahu ini baru permulaan. Api lama sudah menyala kembali, dan ia tidak yakin bisa memadamkannya.
1465Please respect copyright.PENANAORmaFsLXFe
Malam itu, setelah video call dengan Arhan berakhir, Salma berbaring telanjang di ranjang. Tubuhnya masih berdenyut karena kenangan Hardi. Ia menyentuh vaginanya lagi, membayangkan dorongan kasar itu. Orgasme datang cepat, tapi setelah itu air mata mengalir. “Maaf, Han… aku nggak kuat.”
1465Please respect copyright.PENANAiGqeN6mimP
Jarak memang menggigit. Dan Salma mulai tergelincir ke jurang yang lebih dalam.
1465Please respect copyright.PENANAwfX5rWkaFc
1465Please respect copyright.PENANAMEIGj8S9E7
1465Please respect copyright.PENANAoYZPW1Uw0w


