Bab 2: Jarak yang Mulai Menggigit
1627Please respect copyright.PENANA2axmsZfb0W
Dua minggu setelah malam ulang tahun hubungan mereka yang penuh kasih, Arhan sudah berdiri di Bandara Soekarno-Hatta dengan koper besar di sampingnya. Salma memeluknya erat di depan gerbang keberangkatan, air mata mengalir pelan di pipinya yang putih mulus. Rambut hitam panjangnya tergerai, mata coklatnya memandang Arhan dengan campuran bangga dan sedih. “Janji ya, Han… tiap hari VC sama aku. Jangan lupa makan, jangan kerja terlalu keras,” bisik Salma sambil menempelkan wajahnya di dada Arhan. Bau parfum maskulin Arhan yang selalu membuatnya tenang kini terasa seperti perpisahan yang menyakitkan.
1627Please respect copyright.PENANAtTkxxXDoLn
Arhan mencium kening Salma lama sekali. “Aku janji, Sal. Ini cuma sementara. Setahun dua tahun paling lama, aku balik lagi ke sini, ke kamu. Kamu harus janji juga jaga diri, jangan lupa makan, jangan terlalu capek kerja.” Tangan Arhan mengusap punggung Salma pelan, merasakan lekuk tubuh langsing yang selalu ia rindukan. “Aku cinta kamu. Selamanya.” Mereka berciuman terakhir di tengah keramaian bandara, ciuman yang dalam tapi penuh rasa kehilangan. Lalu Arhan berbalik, melangkah masuk ke gerbang sambil melambai. Salma berdiri sampai pesawat Arhan lepas landas, hatinya terasa kosong.
1627Please respect copyright.PENANASSQXjkYlSm
Hari-hari pertama LDR terasa seperti mimpi buruk yang manis. Salma pulang ke apartemen kecilnya di kawasan Sudirman, mandi sendirian, tidur sendirian. Setiap malam pukul 21.00 WIB—sudah pagi di negara Arhan—mereka video call. Arhan selalu muncul dengan senyum lelah tapi bahagia, rambutnya sedikit acak-acakan karena baru bangun. “Pagi, cantikku,” sapa Arhan dengan suara serak khas pagi. Salma tersenyum lebar di layar, mengenakan kaus oversized Arhan yang masih berbau parfumnya. “Aku kangen banget, Han. Kapan kamu pulang?”
1627Please respect copyright.PENANAWtxyIALzKk
Obrolan mereka selalu panjang. Arhan cerita tentang laboratorium baru di Singapura, rekan kerja yang kompetitif, dan bagaimana ia merindukan makanan Indonesia. Salma cerita tentang proyek IT-nya yang sedang deadline, teman kantor yang cerewet, dan betapa sepinya apartemen tanpa Arhan. Tapi yang paling mereka nantikan adalah momen “melepas kangen” lewat video call.
1627Please respect copyright.PENANApihbBRuvbv
Malam ketiga, setelah obrolan ringan, Arhan memandang Salma dengan mata gelap. “Sal… buka bajumu pelan-pelan. Aku mau lihat kamu malam ini.” Suara Arhan rendah, penuh hasrat. Salma merasa panas langsung menjalar ke seluruh tubuh. Ia berdiri di depan kamera, tangannya pelan menarik kaus oversized ke atas. Payudara E+ cup-nya terlihat jelas di balik bra tipis, putingnya sudah mengeras karena udara dingin dan tatapan Arhan. “Kamu cantik sekali… lepas bra-nya,” perintah Arhan lembut.
1627Please respect copyright.PENANAhAcYaak2iT
Salma melepas bra, payudaranya terbebas, bergoyang pelan saat ia bergerak. Arhan di seberang sana sudah melepas celananya, kontolnya yang 15 cm berdiri tegak, tangannya memegang pelan. “Sentuh puting kamu, Sal. Bayangin mulut aku yang lagi nyedot.” Salma menggigit bibir, jari-jarinya memutar puting pink-nya pelan. Rasa geli dan nikmat bercampur, cairan orgasme mulai mengalir di vaginanya. “Han… ahh… aku kangen kontol kamu…” desahnya.
1627Please respect copyright.PENANA1MI0wrh2KP
Arhan mempercepat gerakan tangannya. “Masukin jari ke vagina kamu, Sal. Satu dulu… pelan.” Salma menurut, jarinya menyusup ke vagina yang sudah basah. Suara kecupan basah terdengar samar di mikrofon. Ia menambahkan jari kedua, gerakannya mengikuti irama Arhan. “Lebih cepat… bayangin aku yang dorong masuk dalam-dalam,” bisik Arhan. Salma melengkungkan punggung, pinggulnya bergerak maju-mundur seolah Arhan benar-benar ada di depannya. Bau harum cairan orgasmenya sendiri memenuhi kamar, napasnya tersengal.
1627Please respect copyright.PENANAdQshzdcroh
Arhan mendesah keras. “Aku mau keluar bareng kamu, Sal… bilang kalau kamu mau keluar.” Salma mengangguk cepat, jarinya semakin liar menggosok kristoris “Han… aku mau… ahh… sekarang!” vagina Salma berdenyut kuat, cairan orgasme menyembur hangat ke jari-jarinya, tubuhnya kejang nikmat. Di seberang, Arhan menyemburkan spermanya ke perutnya sendiri, napasnya tersengal. Mereka saling pandang lewat layar, tersenyum lelah tapi puas.
1627Please respect copyright.PENANAGkNw0aJwVm
Tapi semakin hari, video call seperti itu mulai terasa kurang. Salma merindukan sentuhan nyata, bau keringat Arhan, rasa kontolnya di mulut, panas tubuhnya yang menindih. “Han… aku pengen kamu di sini. Video call nggak cukup,” keluh Salma suatu malam. Arhan menghela napas panjang. “Aku tahu, Sal. Aku juga. Sabar ya… aku usahain pulang secepatnya.”
1627Please respect copyright.PENANAgPPfkJFKbx
Salma mulai merasa ada yang hilang di dalam dirinya. Ia haus akan seks langsung, haus akan dorongan kasar yang membuat tubuhnya gemetar. Di kantor, ia sering melamun, membayangkan tangan seseorang meremas payudaranya, kontol besar memenuhi vaginanya. Tapi ia selalu ingat Arhan—pria baik yang mencintainya sepenuh hati. Ia tidak mau mengkhianati.
1627Please respect copyright.PENANAl7cvOS8Hg4
Suatu sore, bos Salma memanggilnya ke ruang meeting. “Salma, besok kamu presentasi proyek ke klien besar. Mereka minta yang paling bagus, kamu yang handle.” Salma mengangguk, meski hatinya berat. Presentasi berarti ia harus tampil sempurna, berpakaian rapi, dan berbicara di depan orang asing. Tapi ia tidak tahu, klien itu adalah Hardi—mantan SMA-nya, orang yang pertama kali mengambil keperawanannya dulu.
1627Please respect copyright.PENANATksJPoJWsg
Malam sebelum presentasi, Salma mandi lama sekali. Air hangat mengalir di tubuhnya, tapi pikirannya melayang ke Arhan. Ia menyentuh dirinya sendiri di bawah shower, jari-jarinya memainkan kristoris membayangkan kontol Arhan. Tapi orgasmenya terasa datar, kosong. “Aku butuh kamu, Han…” gumamnya sendirian. Setelah mandi, ia tidur dengan ponsel di tangan, menunggu panggilan Arhan yang biasanya datang jam 22.00.
1627Please respect copyright.PENANACxAOBj2Flb
Arhan muncul di layar dengan wajah lelah. “Aku kangen banget, Sal. Besok presentasi ya? Semangat. Aku doain kamu sukses.” Salma tersenyum, tapi matanya berkaca-kaca. “Han… aku pengen peluk kamu. Pengen cium kamu. Pengen… kamu masukin kontol kamu ke aku lagi.” Arhan tertawa kecil, tapi suaranya bergetar. “Aku juga, Sal. Sabar ya. Nanti kalau aku pulang, aku kasih kamu semua yang kamu mau.”
1627Please respect copyright.PENANA7ljcf02EeY
Mereka video call panas lagi malam itu. Salma telanjang di ranjang, kakinya terbuka lebar menghadap kamera. Arhan memerintah dengan suara rendah. “Mainin kristoriskamu pelan… bayangin lidah aku.” Salma menurut, jarinya berputar di kristorisyang sudah bengkak. cairan orgasme mengalir deras, suara basah terdengar jelas. Arhan memegang kontolnya, gerakannya cepat. “Masukin dua jari… dorong dalam-dalam.” Salma memasukkan, pinggulnya bergoyang liar. “Han… aku mau keluar… ahh!” Mereka orgasme bareng lagi, tapi setelah layar mati, Salma merasa semakin hampa.
1627Please respect copyright.PENANAXQeFwVdcXQ
Ia berbaring telanjang di ranjang, menatap langit-langit. “Aku sayang kamu, Han. Tapi aku… aku butuh lebih dari ini.” Pikiran itu membuatnya takut. Ia tidak mau selingkuh. Tapi hasrat di tubuhnya semakin membara, semakin sulit dikendalikan.
1627Please respect copyright.PENANAUQj9dUq3ab
Besok pagi, Salma berdandan rapi: blazer hitam ketat yang menonjolkan payudaranya, rok pensil yang memeluk bokong bulatnya, high heels membuat kakinya terlihat panjang. Ia siap presentasi. Tanpa ia sadari, pertemuan itu akan menjadi awal dari segalanya—awal dari pengkhianatan yang akan mengubah hidupnya selamanya.
1627Please respect copyright.PENANAIKL1fu8s1P
Di ruang meeting klien, pintu terbuka. Hardi masuk dengan senyum menawan. Tubuhnya berotot, tinggi 170 cm, rambut hitam lurus, mata tajam yang langsung mengenali Salma. “Salma? Wah, lama nggak ketemu sejak SMA ya,” katanya santai. Salma membeku sesaat. Hardi—pria yang dulu mengambil keperawanannya di mobil setelah acara sekolah. Pria yang tahu seluk beluk tubuhnya lebih dari siapa pun selain Arhan.
1627Please respect copyright.PENANA6rRtwg1mwu
Presentasi berjalan lancar. Salma berbicara dengan percaya diri, tapi setiap kali Hardi memandangnya, ada kilatan hasrat di mata pria itu. Setelah selesai, Hardi mendekat. “Bagus sekali presentasinya. Mau ngopi bareng? Kita cerita-cerita masa lalu.” Salma ragu, tapi akhirnya mengangguk. “Oke, sebentar aja ya.”
1627Please respect copyright.PENANAw85EDVITJh
Mereka duduk di kafe dekat kantor. Obrolan ringan tentang SMA, teman lama, dan pekerjaan. Tapi Hardi tidak bisa menyembunyikan tatapannya yang turun ke dada Salma, ke lekuk pinggulnya. “Kamu makin hot sekarang, Sal. Dulu aja udah bikin cowok pada gila,” katanya setengah bercanda. Salma tertawa kecil, tapi hatinya berdegup kencang. Ada sesuatu di dalam dirinya yang terbangun—hasrat yang selama ini ia tekan karena LDR.
1627Please respect copyright.PENANAbrcUYeeQkj
Malam itu, setelah pulang, Salma mandi lagi. Tapi kali ini, saat jarinya menyentuh vagina, ia membayangkan Hardi—bukan Arhan. Bayangan kontol Hardi yang dulu 18 cm, dorongan kasarnya, tangan yang suka menampar bokongnya. Ia orgasme lebih kuat dari biasanya, tapi setelah itu datang rasa bersalah yang menusuk. “Maaf, Han… aku cuma kangen kamu,” gumamnya sendirian.
1627Please respect copyright.PENANArQVSWIK2ro
Jarak mulai menggigit. Dan Salma tidak tahu, gigitan itu akan semakin dalam, hingga akhirnya ia jatuh ke pelukan yang salah.
1627Please respect copyright.PENANAzF9UbdJwBx
1627Please respect copyright.PENANAJZ4cwRH2G5
1627Please respect copyright.PENANATpLqawAiB4


