Bab 1: Malam yang Penuh Kasih
2120Please respect copyright.PENANAY7mxbaSKfv
Salma berdiri di depan cermin kamar mandi hotel bintang lima di pusat kota Jakarta, tangannya pelan menyisir rambut hitam panjangnya yang tergerai sampai pinggang. Usianya baru 25 tahun, tapi malam ini ia merasa seperti gadis remaja yang baru jatuh cinta. Tubuhnya langsing dengan tinggi 166 sentimeter, kulit putih mulus yang selalu membuat orang melirik dua kali. Payudaranya yang berukuran E+ cup terlihat sempurna di balik dress hitam ketat yang ia pilih khusus untuk malam ini, bokongnya yang bulat tapi tidak terlalu besar menonjol elegan. Hidungnya mancung, mata coklatnya memancarkan kehangatan yang selalu membuat Arhan meleleh. Putingnya yang pink tersembunyi di balik bra renda tipis, sudah sedikit mengeras karena udara dingin AC hotel.
2120Please respect copyright.PENANA5rRwqTKMw5
Di luar kamar, Arhan menunggu di ruang tamu suite. Pria berusia 26 tahun itu berdiri tegak dengan tinggi 170 sentimeter, tubuhnya sedikit berotot karena rutin olahraga pagi meski pekerjaannya sebagai jenius medis sangat sibuk. Rambut hitam lurusnya disisir rapi, senyum menawannya muncul begitu Salma keluar dari kamar mandi. Arhan adalah tipe pria yang baik hati, kaya, pekerja keras, dan selalu memperlakukan Salma seperti ratu. Malam ini mereka merayakan satu tahun hubungan yang penuh kelembutan.
2120Please respect copyright.PENANAptZqaTcrLV
“Kamu cantik sekali malam ini, Sal,” kata Arhan dengan suara lembut yang selalu membuat hati Salma berbunga-bunga. Ia mendekat, tangannya memegang pinggang Salma pelan, merasakan kehangatan kulit di balik kain tipis. Bau parfum Arhan yang mahal dan maskulin langsung memenuhi hidung Salma, campur aroma lilin vanila yang menyala di meja makan kecil mereka. “Aku nggak percaya sudah satu tahun kita bareng. Setiap hari aku makin sayang sama kamu.”
2120Please respect copyright.PENANAnhslM7BI0v
Salma tersenyum manis, pipinya memerah. Kepribadiannya yang romantis dan haus akan keintiman membuat ia selalu merasa aman di pelukan Arhan. “Aku juga, Han. Kamu bikin aku merasa dicintai banget. Nggak pernah ada yang kayak gini sebelumnya.” Mereka duduk di meja kecil yang sudah disiapkan staf hotel: steak medium rare, salad segar, dan segelas wine merah yang berkilau. Obrolan mereka mengalir ringan tapi penuh arti. Arhan bercerita tentang pekerjaannya yang semakin berat di bidang obat-obatan, sementara Salma menceritakan hari-harinya di perusahaan IT. Tawa kecil mereka sesekali pecah, tangan mereka saling genggam di atas meja.
2120Please respect copyright.PENANA1AAcNw6Otm
Setelah makan malam selesai, Arhan berdiri dan mengulurkan tangan. “Mau dansa sebentar sama aku?” tanyanya sambil memutar lagu slow romantis dari ponselnya. Salma mengangguk, tubuh mereka saling menempel. Tangan Arhan berada di punggung bawah Salma, merasakan lekuk tubuhnya. Napas hangat Arhan menyapu leher Salma, membuat bulu kuduknya berdiri. “Kamu wangi banget malam ini,” bisik Arhan. Salma merasakan panas yang mulai menjalar dari perutnya ke bawah. Ia haus akan sentuhan Arhan, haus akan cara Arhan selalu membuatnya merasa spesial.
2120Please respect copyright.PENANAPjaRIIaFyo
Pelan-pelan, Arhan menuntun Salma ke tempat tidur king size yang empuk. Lampu kamar sudah diredupkan, hanya cahaya lilin yang menerangi. Ia membuka resleting dress Salma dengan gerakan lembut, kain hitam itu jatuh ke lantai tanpa suara. Salma berdiri hanya dengan lingerie putih renda, payudaranya yang besar terlihat menggoda di balik bra tipis. Arhan menatapnya dengan mata penuh cinta dan hasrat. “Kamu sempurna, Sal. Setiap bagian tubuhmu aku sayang.”
2120Please respect copyright.PENANAZn38OWW3tb
Arhan mendorong Salma pelan ke ranjang, bibirnya langsung menyentuh bibir Salma dalam ciuman yang dalam dan penuh perasaan. Lidah mereka bertemu, rasa manis wine masih tersisa di mulut masing-masing. Tangan Arhan menyusuri pinggul Salma, naik ke payudaranya, meremas lembut melalui bra. Salma mendesah pelan di dalam ciuman, tubuhnya sudah mulai panas. Arhan melepas bra Salma dengan satu tangan, putingnya yang pink mengeras langsung terpapar udara dingin. Arhan menunduk, mulutnya mengulum satu puting dengan lembut, lidahnya berputar pelan di sekitar puncaknya. Rasa manis kulit Salma bercampur aroma sabun mandi yang masih menempel membuat Arhan semakin lapar.
2120Please respect copyright.PENANAeoQudsoWnZ
“Han… ahh… enak sekali…” gumam Salma sambil memejamkan mata. Tangan kirinya mencengkeram rambut Arhan, sementara tangan kanannya meraba dada Arhan yang bidang. Arhan berpindah ke puting satunya, mengisap lebih kuat sedikit, giginya menggigit pelan hingga Salma menggelinjang. cairan orgasme mulai mengalir deras di vagina Salma, membasahi celana dalam tipisnya. Arhan merasakan itu dengan jarinya yang turun perlahan, menggosok vagina dari luar kain. Sensasi basah dan hangat itu membuat jari Arhan licin.
2120Please respect copyright.PENANAHEbac8TtBD
Arhan melepas celana dalam Salma dengan gigitan di pinggirnya, lalu membuka kaki Salma lebar-lebar. Bau harum cairan orgasme Salma langsung memenuhi udara kamar. Arhan menunduk, lidahnya menyentuh kristorisSalma dengan lembut dulu, lalu menjilat pelan ke bawah. Suara kecupan basah terdengar pelan setiap kali lidahnya bergerak. Salma melengkungkan punggungnya, pinggulnya terangkat ingin lebih. “Han… lebih dalam… tolong…” pintanya dengan suara parau karena hasrat. Arhan memasukkan lidahnya ke dalam vagina Salma, mengecap rasa manis cairan orgasmenya yang semakin banyak. Dua jarinya ikut masuk, bergerak pelan mengikuti irama lidahnya. Salma sudah gemetar hebat, napasnya tersengal, tangannya mencengkeram seprai sampai kusut.
2120Please respect copyright.PENANA07J88aIaIq
Setelah Salma hampir mencapai puncak pertama, Arhan naik ke atas tubuhnya. Ia sudah melepas semua pakaiannya, kontolnya yang keras dan panjang 15 sentimeter berdiri tegak, ujungnya mengkilap karena hasrat. Salma memegangnya dengan tangan gemetar, merasakan denyut hangat di telapak tangannya. “Masukkan pelan ya, Han… aku mau merasakan kamu sepenuhnya,” bisik Salma dengan mata berkaca-kaca karena cinta.
2120Please respect copyright.PENANADEJegWhXA4
Arhan mengangguk, mencium kening Salma dulu sebelum memasukkan kontolnya perlahan ke vagina yang sudah sangat licin. “Kamu pas banget buat aku… selalu,” desahnya saat masuk sepenuhnya. Gerakan Arhan lembut dan dalam, setiap dorongan penuh kasih sayang. Suara kulit bertemu kulit pelan mengisi ruangan, bercampur desahan Salma yang semakin nyaring. Salma merasa setiap inci kontol Arhan memenuhi dirinya, membuat vaginanya berdenyut nikmat. Ia memeluk leher Arhan erat, kuku-kukunya meninggalkan bekas tipis di punggung Arhan.
2120Please respect copyright.PENANAYFJA7xQQsd
“Han… aku sayang kamu… jangan berhenti…” kata Salma di antara napas tersengal. Arhan mempercepat sedikit, tapi tetap lembut, bibirnya terus mencium leher, dada, dan bibir Salma bergantian. Bau keringat mereka bercampur, rasa asin di kulit, suara desahan yang saling menjawab. Salma merasa dicintai, dihormati, dan diinginkan sepenuhnya. Air matanya jatuh karena bahagia. “Aku milikmu selamanya…”
2120Please respect copyright.PENANAS618sjRBZJ
Mereka mencapai puncak hampir bersamaan. vagina Salma menjepit kontol Arhan kuat, cairan orgasme menyembur hangat dan deras, tubuhnya kejang nikmat. Arhan menyusul, spermanya menyembur dalam-dalam ke vagina Salma dengan denyut panjang. Mereka berpelukan lama setelah itu, napas saling bercampur, tubuh masih menyatu. Arhan usap rambut Salma dengan lembut, mencium keningnya berulang kali.
2120Please respect copyright.PENANAurKnKFPDX3
“Aku nggak akan pernah ninggalin kamu, Sal. Kamu segalanya buat aku,” bisik Arhan tulus. Salma tersenyum manis, hatinya penuh kehangatan. Ia merasa aman, dicintai, dan puas. Malam ini sempurna, penuh romansa dan kelembutan yang membuatnya semakin jatuh cinta pada Arhan.
2120Please respect copyright.PENANAleP2kBTf4p
Tapi di balik semua kebahagiaan itu, Salma tidak tahu bahwa suatu hari nanti, cinta lembut ini akan berubah menjadi hukuman paling panas dan gelap yang pernah ia alami. Malam ini hanyalah awal dari segalanya.
2120Please respect copyright.PENANAkR32z8VX3I


