Bab 6: Bukti yang Tak Terbantahkan
1827Please respect copyright.PENANASuY9c5ecou
Malam itu hujan kembali deras mengguyur Jakarta, tapi di dalam mobil hitam yang parkir di seberang hotel bintang lima, Yosep duduk diam dengan kamera ponselnya siap. Ia adalah teman lama Arhan dari masa kuliah, pria berusia 27 tahun dengan tubuh atletis, rambut pendek rapi, dan mata tajam yang selalu penuh perhitungan. Yosep bukan tipe yang suka ikut campur urusan orang, tapi ketika Arhan meneleponnya dua hari lalu dengan suara bergetar—menceritakan tayangan setelah telepon malam itu—Yosep langsung setuju membantu. "Gue curiga Salma lagi main belakang, bro. Tolong pantauin dia buat gue. Rekam kalau ada apa-apa."
1827Please respect copyright.PENANAEoUthbegjZ
Yosep tidak bertanya banyak. Ia tahu Arhan sedang hancur di luar negeri, dan sebagai teman yang pintar di bidang obat-obatan—termasuk yang “khusus” seperti perangsang dan silikon—Yosep merasa punya tanggung jawab moral. Malam ini, setelah mendapat info dari Arhan bahwa Salma sering ke hotel ini akhir-akhir ini, Yosep memutuskan mengintai. Ia parkir di tempat gelap, mesin mati, kaca film gelap menyembunyikannya.
1827Please respect copyright.PENANARCYdUU9s6M
Jam 19.45, Salma muncul dari taksi. Mantel panjang hitam menutupi tubuhnya, tapi Yosep langsung mengenali langkahnya—langsing, percaya diri, rambut hitam panjang basah karena gerimis. Ia masuk ke lobi dengan cepat, sambil menghindari kamera keamanan. Yosep langsung merekam dari jendela mobil. “Ini dia… lagi ke hotel lagi,” gumamnya sambil memperbesar kamera.
1827Please respect copyright.PENANA3an4vZ3DtF
Lima menit kemudian, Hardi muncul dari arah parkir bawah tanah. Tubuh berototnya terlihat jelas di balik jaket kulit, senyum menawan itu masih sama. Ia masuk lobi, langsung ke lift. Yosep rekam semuanya. “Cowok ini lagi…pasti yang sama.” Ia keluar dari mobil, mendekati lobi sambil menelepon pura-pura, tapi kamera tetap merekam. Di dalam, Salma dan Hardi bertemu di depan lift—Hardi langsung peluk pinggang Salma dari samping, cium pipinya pelan. Salma manis tersenyum, tapi matanya melirik ke sekeliling, takut ketahuan. Yosep dapat momen itu jelas: pelukan mesra, tangan Hardi meraba bokong Salma sekilas sebelum masuk lift bersama.
1827Please respect copyright.PENANAiWxP11Zazs
Yosep kembali ke mobil, kirim video pendek ke Arhan via aplikasi aman. Pesan singkatnya: "Bro, ini bukti pertama. Mereka masuk lift bareng ke lantai atas. Hotel yang sama seperti sebelumnya. Gue tunggu mereka keluar."
1827Please respect copyright.PENANAfzM2lwhLmS
Di Singapura, Arhan baru bangun pagi. Ponsel bergetar di meja samping tempat tidur. Ia buka mata, lihat notifikasi dari Yosep. Video dimainkan: Salma dan Hardi berpelukan, cium pipi, tangan Hardi di bokong. Arhan merasa dada sesak. “Ini… ini nggak mungkin…” gumamnya. Tapi gambar itu jelas. Ia putar ulang berkali-kali, setiap kali jantung semakin hancur. Air mata mengalir pelan di pipinya yang biasanya tegar.
LANJUTAN CERITA BISA DI AKSES DI https://lynk.id/novelhambilah1827Please respect copyright.PENANAZq3xlzrdAT


