Suasana di meja nomor dua belas terasa semakin santai. Arlan baru saja menceritakan pengalamannya saat terjebak hujan badai ketika meliput berita di daerah perbatasan, sementara Gendis mendengarkan dengan saksama tanpa sekali pun menyelipkan teori konspirasi. Gendis mulai merasa bahwa mungkin Maya benar. Tidak semua orang di dunia ini menyimpan rahasia gelap, dan Arlan tampaknya memang pria baik yang hanya kebetulan memiliki selera parfum yang sangat enak.
Seorang pelayan muda datang membawa nampan berisi teh chamomile pesanan Gendis. Namun, saat pelayan itu hendak meletakkan cangkir di meja, seorang pengunjung lain yang sedang terburu-buru menyenggol bahunya dari belakang. Kejadian itu berlangsung dalam hitungan detik. Cangkir teh yang masih panas itu miring, dan cairannya tumpah tepat ke arah tas kulit milik Arlan yang tergeletak di atas meja.
"Aduh! Maaf sekali, Mas, Mbak! Saya benar-benar tidak sengaja," seru si pelayan panik sambil segera mengambil serbet dari sakunya untuk mengelap tumpahan air tersebut.
"Tidak apa-apa, tenang saja. Cuma air teh kok," jawab Arlan dengan nada yang sangat tenang, meskipun ia segera meraih tasnya yang mulai basah kuyup. Ia tampak tidak marah sama sekali, sebuah poin tambahan di buku catatan mental Gendis tentang pengendalian emosi pria di hadapannya.
Gendis, dengan insting menolong yang muncul begitu saja, ikut mengambil beberapa lembar tisu dari kotak di atas meja. "Mari Mas Arlan, saya bantu keringkan bagian dalamnya agar tidak merembes ke dalam," ujar Gendis sambil menarik tas itu sedikit ke arahnya. Ia bermaksud baik, mencoba membuka ritsleting tas yang sudah setengah terbuka itu untuk memastikan tidak ada barang elektronik yang terkena air.
Namun, gerakan tangan Gendis mendadak membeku di udara. Di balik lapisan kulit tas yang mewah itu, ia melihat sebuah pemandangan yang sangat tidak asing bagi pendengar setia podcast kriminal. Di sana, terselip sebuah kartu identitas kepolisian yang plastiknya sudah retak dan terdapat bercak merah kecokelatan yang sangat identik dengan darah kering. Di samping kartu itu, sebuah flashdisk besi berukuran besar tampak berkilat tertimpa cahaya lampu kafe.
Gendis merasakan udara di paru-parunya mendadak hilang entah ke mana. Jantungnya berdegup kencang, kali ini bukan karena pesona Arlan, melainkan karena alarm bahaya di otaknya berteriak dengan suara yang sangat nyaring. Ia menatap Arlan, berharap pria itu memiliki penjelasan logis seperti ini hanyalah properti syuting, namun ia mendapati ekspresi Arlan telah berubah total. Keramahan yang tadi terpancar kini digantikan oleh tatapan mata yang tajam, dingin, dan sangat waspada.
"Gendis, sebaiknya kamu tidak melihat itu," bisik Arlan dengan nada suara yang sangat rendah, hampir seperti sebuah perintah rahasia. Tangannya dengan sangat cepat merebut tas itu kembali dari jangkauan Gendis dan menutup ritsletingnya dengan sekali sentak yang tegas.
Gendis menelan ludah dengan susah payah, tangannya yang memegang tisu mulai gemetar kecil. "Mas Arlan... itu tadi... apakah itu darah?" tanyanya dengan suara yang hampir tidak keluar.
Arlan baru saja hendak membuka mulut untuk memberikan jawaban ketika suara dentuman keras tiba-tiba terdengar dari arah pintu depan kafe. Kaca besar di bagian depan pecah berkeping-keping, menciptakan suara parau yang memekakkan telinga pengunjung. Gendis menjerit saat melihat sekelompok pria dengan penutup wajah hitam merangsek masuk dengan senjata api di tangan mereka.
"Tiarap!" teriak Arlan. Sebelum Gendis bisa memproses apa yang terjadi, pria yang tadinya berbicara dengan sangat sopan itu kini mencengkeram lengan Gendis dan menariknya jatuh ke bawah meja dengan kekuatan yang sangat besar. Kencan buta yang manis itu baru saja berakhir secara tragis.
ns216.73.217.14da2


