Cafe Retro malam itu dipenuhi oleh cahaya kuning temaram dan alunan musik jazz yang mendayu pelan. Gendis berdiri di depan pintu masuk, meremas tali tas kecilnya dengan sangat gugup. Matanya menyisir setiap sudut ruangan, bukan untuk mencari pria tampan, melainkan untuk memastikan di mana letak pintu keluar darurat dan kamera pengawas terdekat. Setelah memastikan rute pelarian yang aman dalam keadaan darurat, ia melangkah masuk menuju meja nomor dua belas yang terletak di pojok ruangan.
Seorang pria dengan kemeja biru navy yang lengannya digulung hingga siku tampak duduk menanti dengan tenang. Saat Gendis mendekat, pria itu segera berdiri dengan gerakan yang sangat sopan. Aromanya tercium bahkan sebelum Gendis sampai di depan meja, sebuah wangi kayu cendana bercampur jeruk purut yang segar. Gendis mencatat dalam hati bahwa pria ini tidak berbau amis darah ataupun mesiu, sebuah fakta yang entah kenapa membuatnya sedikit kecewa sekaligus lega.
"Selamat malam. Apakah Anda Saudari Gendis?" tanya pria itu dengan suara berat yang menenangkan. Senyumnya tampak simpul, memperlihatkan barisan gigi yang rapi dan sangat terawat.
Gendis berdehem perlahan, mencoba memperbaiki postur tubuhnya agar terlihat seperti wanita normal yang tidak terobsesi pada profil sosiopat di waktu senggangnya. "Benar. Selamat malam. Anda adalah Mas Arlan?"
"Iya, saya Arlan. Silakan duduk, Gendis," jawab Arlan sembari menarikkan kursi untuknya. Tindakan itu membuat Gendis merasa seperti sedang berada di dalam sebuah film romantis klasik alih-alih di dalam simulasi kasus kriminal. "Terima kasih banyak sudah bersedia meluangkan waktu untuk bertemu dengan saya malam ini."
"Sama-sama, Mas Arlan. Saya juga berterima kasih atas undangannya," jawab Gendis dengan nada yang agak kaku. Ia duduk dengan punggung tegak, sementara pikirannya sibuk menganalisis mikro-ekspresi wajah pria di depannya. Ia mengamati bahwa senyum Arlan mencapai mata dan pupil matanya tidak mengecil, yang menurut teorinya berarti pria ini tidak sedang berbohong tentang identitasnya.
"Anda terlihat sangat anggun malam ini. Saya harap tempat ini tidak terlalu bising untuk Anda?" Arlan memulai percakapan dengan nada yang sangat terjaga dan penuh tata krama.
"Tidak sama sekali, Mas. Tempatnya sangat nyaman. Pilihan yang cukup menarik untuk sebuah kencan buta," Gendis berusaha membalas dengan sopan, meski di dalam hati ia ingin bertanya apakah Arlan sengaja memilih meja di pojok ini agar percakapan mereka tidak bisa disadap oleh pengunjung lain atau oleh pihak berwenang.
Arlan terkekeh kecil, sebuah suara yang terdengar sangat tulus di telinga Gendis. Ia mengaku sudah memesan kopi hitam untuk dirinya sendiri, namun ia belum memesankan apa pun untuk Gendis karena tidak ingin salah menebak selera teman kencannya itu. Arlan kemudian menawarkan Gendis untuk memilih menu yang ia sukai.
"Cukup teh chamomile saja, Mas. Itu membantu menenangkan saraf saya," jawab Gendis dengan cepat tanpa berpikir panjang.
"Saraf?" Arlan menaikkan satu alisnya, tampak sangat tertarik dengan pilihan kata tersebut. "Apakah Anda sedang merasa tegang bertemu dengan saya malam ini, Gendis?"
Gendis tersentak karena pertanyaan itu terasa terlalu tepat sasaran. Ia segera berkilah bahwa setelah seharian berkutat dengan skripsi, tubuhnya membutuhkan sesuatu yang membuat rileks. Percakapan mereka kemudian berlanjut dengan sangat formal. Mereka berbicara tentang pekerjaan Arlan sebagai jurnalis investigasi dan tesis Gendis tentang kriminologi sastra, meski Gendis berusaha keras menyaring detail-detail mengerikan agar tidak membuat Arlan ketakutan pada pertemuan pertama mereka. Untuk sesaat, Gendis hampir benar-benar lupa pada kecurigaannya karena Arlan tampak seperti pria paling sempurna yang pernah ia temui.
ns216.73.217.14da2


