Gendis bergeming di depan lemari pakaiannya yang terbuka lebar. Matanya menatap horor pada sebuah gaun berwarna merah muda lembut yang baru saja dilemparkan Maya ke atas tempat tidur. Bagi Gendis, warna itu terlalu cerah, terlalu mencolok, dan terlalu mudah untuk dilacak oleh teknologi inframerah jika keadaan mendadak menjadi genting dan ia harus bersembunyi di semak-semak.
"May, serius deh. Gue nggak bisa pergi," rengek Gendis sambil mencoba meraih kembali ponselnya dari tangan Maya yang gesit. "Gue lagi ada di tengah-tengah teori konspirasi besar. Kalau si Abang Bakso itu beneran intel dan gue pergi sekarang, dia bakal tahu kalau gue tahu kalau dia tahu kalau gue tahu kalau dia sedang mengawasi gue."
"Stop! Otak gue pusing dengernya!" Maya memotong kalimat Gendis dengan tegas. Ia melangkah menuju rak buku di sudut kamar yang dipenuhi oleh novel-novel misteri bersampul hitam dan jurnal-jurnal forensik yang sudah kusam dimakan usia. Rak itu adalah tempat suci bagi Gendis, tempat di mana ia menyimpan seluruh harta karun intelektualnya tentang dunia kegelapan.
Maya meletakkan tangannya di atas tumpukan koleksi terbatas novel Agatha Christie milik Gendis. Ia memberikan pilihan yang sangat sulit bagi sahabatnya itu. Jika Gendis tidak pergi kencan malam ini dengan Arlan, maka semua buku detektif miliknya akan disumbangkan ke panti asuhan besok pagi. Gendis terkesiap dan wajahnya berubah pucat seolah-olah ia baru saja melihat hantu di siang bolong.
"Lo nggak akan berani, May. Itu edisi tanda tangan asli penulisnya yang gue dapet dari lelang online!" seru Gendis dengan suara yang bergetar karena emosi.
"Coba aja kalau lo berani nolak kencan ini," tantang Maya sambil mengambil satu buku dan berpura-pura hendak memasukkannya ke dalam kardus kosong di lantai. "Gue juga udah hapus semua daftar putar podcast kriminal lo di tablet. Kalau lo nggak pulang bawa foto atau minimal cerita kalau Arlan itu manusia normal yang punya denyut nadi, gue bakal reset pabrik semua gadget lo supaya nggak ada lagi suara narator horor itu di hidup lo selamanya."
Gendis jatuh terduduk di pinggir kasur, merasa dunianya sedang runtuh berkeping-keping. Ini adalah pemerasan tingkat tinggi yang pernah ia alami. Jika ini adalah sebuah kasus kriminal yang ia dengarkan di podcast, Maya sudah pasti akan menjadi tersangka utama dengan motif kelelahan menghadapi sahabat yang terlalu aneh.
"Lo jahat banget, sumpah. Ini namanya pelanggaran hak asasi manusia untuk tetap jomlo," gumam Gendis lemas sambil menatap tumpukan bukunya dengan tatapan sedih.
"Gue peduli sama lo, Dis! Lo itu cantik dan pinter, tapi masa muda lo abis cuma buat mikirin cara membuang mayat tanpa jejak di kolam asam," Maya melembutkan suaranya sedikit lalu mendekat dan duduk di samping Gendis. "Arlan ini beda. Dia jurnalis, Dis. Dia pinter, dia kritis, dan yang paling penting adalah dia nyata. Dia bukan sekadar suara di earphone lo."
Gendis menghela napas panjang dan menatap gaun merah muda itu dengan pasrah. Ia bertanya bagaimana jika Arlan ternyata adalah seorang pembunuh berantai yang sedang mencari korban melalui aplikasi kencan karena statistik menunjukkan korban aplikasi Match-Up naik sepuluh persen tahun lalu. Maya hanya memutar bola matanya dengan gemas mendengar argumen tersebut.
"Kalau dia pembunuh, lo kan udah khatam semua teorinya. Tinggal lo praktekin apa yang dibilang podcast lo itu buat kabur. Tapi buat sekarang, mandi! Lo bau minyak kayu putih sama bau kertas lama," perintah Maya sambil mendorong Gendis menuju kamar mandi.
Dengan langkah gontai, Gendis menyeret kakinya. Di dalam kepalanya, ia mulai menyusun rencana darurat dengan sangat detail. Jika Arlan tampak mencurigakan, ia akan segera mengirimkan titik koordinat GPS miliknya kepada Maya secara berkala. Ia juga harus memastikan tasnya berisi semprotan merica dan pulpen taktis yang bisa digunakan sebagai senjata perlindungan diri jika keadaan memburuk di tengah kencan.
Satu jam kemudian, Gendis sudah berdiri di depan cermin dengan gaun yang pas di tubuhnya. Meskipun terlihat sangat manis, wajahnya tetap menunjukkan ekspresi seseorang yang sedang menuju kursi eksekusi mati. Maya memuji penampilannya dan menyemprotkan parfum bunga ke leher Gendis agar ia tercium lebih feminin.
"Gue ngerasa kayak target operasi yang lagi diumpanin," keluh Gendis pelan.
"Bawel banget sih. Inget ya, jam tujuh di Cafe Retro. Jangan telat, dan jangan sekali-kali lo nanya ke dia apa pendapat dia soal kasus mutilasi yang lagi viral di Twitter!" ancam Maya sekali lagi sebelum melepaskan sahabatnya itu pergi.
ns216.73.217.14da2


