Gendis tidak pernah percaya pada kebetulan. Baginya, kebetulan hanyalah sebutan bagi mereka yang kurang teliti mengamati pola atau terlalu malas untuk menghubungkan titik-titik kenyataan. Di balik gorden kamarnya yang berbau sisa laundry murah, Gendis menyipitkan mata. Objek pengamatannya sore ini adalah seorang pria bertopi kumal yang baru saja memarkir gerobak bertuliskan "Bakso Urat Pak Kumis" tepat di depan gerbang kosnya. Pria itu tampak biasa saja bagi orang awam, namun di mata Gendis, ada sesuatu yang sangat tidak beres.
Di telinga Gendis, sebuah earphone kabel mengalirkan suara bariton seorang narator podcast Misteri Nusantara. Gendis tidak percaya pada teknologi nirkabel karena menurut artikel yang dibacanya di forum teori konspirasi, frekuensi Bluetooth sangat mudah disadap oleh pihak ketiga. Suara narator itu bergema pelan, menjelaskan bagaimana seorang pelaku kriminal profesional biasanya memiliki latar belakang pelatihan militer yang sangat disiplin.
Gendis mencatat sesuatu di buku saku kecilnya dengan saksama. Ia menuliskan target yaitu si abang bakso, waktu kedatangan pukul 16.45 WIB, dan kejanggalan utama berupa cara memegang pisau yang terlalu ergonomis. Menurut analisisnya, potongan seledri pria itu terlalu presisi sehingga kemungkinan besar mengikuti standar operasional prosedur intelijen.
"Lo lagi ngapain sih, Dis? Ya ampun, beneran sakit nih anak," suara itu membuat Gendis melompat hampir satu meter. Ia segera mematikan podcast miliknya dan menoleh dengan wajah pucat. Maya, sahabat sekaligus teman sekamarnya, berdiri di ambang pintu dengan tangan di pinggang. Masker wajah berwarna hijau yang ia pakai sudah mulai mengering dan retak, membuatnya tampak seperti monster rawa.
"Maya! Sumpah ya, lo hobi banget bikin gue jantungan!" bisik Gendis sengit sambil memegang dadanya yang berdegup kencang. Ia merasa jantungnya hampir copot karena terkejut.
"Lo yang aneh! Gue dari tadi panggil-panggil kagak nyaut," balas Maya sambil melangkah masuk ke dalam kamar. Ia menarik gorden kamar Gendis sepenuhnya hingga cahaya matahari sore masuk dan menerangi ruangan yang lebih mirip ruang arsip kepolisian daripada kamar mahasiswi itu. Ada kliping koran lama tentang kasus yang belum terpecahkan dan tumpukan buku kriminologi di sudut meja.
"Ngapain lagi lo ngintipin tukang bakso? Mau beli kagak, malah dicurigain mulu," tanya Maya dengan nada heran yang sangat kental.
"Coba lo liat cara dia berdiri, May," Gendis menarik tangan Maya agar ikut bersembunyi di balik gorden. "Dia nggak nawarin bakso ke orang lewat. Dia cuma liatin HP, terus nengok ke balkon kamar kita tiap sepuluh menit. Fix, ini intel, May. Gue yakin banget."
Maya menghela napas panjang sampai masker di dahinya rontok sedikit. Ia menjelaskan dengan sabar bahwa itu namanya sedang menunggu pelanggan. Alasan pria itu menengok ke arah balkon adalah karena Gendis sudah mengintainya seperti psikopat sejak minggu lalu. Pria itu mungkin mengira Gendis yang berniat merampok gerobaknya.
Gendis kembali memasang satu earphone miliknya dengan keras kepala. Ia mengingatkan Maya tentang podcast episode seratus dua belas yang menceritakan agen rahasia yang menyamar jadi penjual asongan selama lima tahun hanya untuk menangkap sindikat perangko palsu.
"Berhenti, Gendis! Cukup!" Maya meraih ponsel Gendis dan mencabut paksa kabel earphone tersebut. "Skripsi lo soal kriminologi itu udah bikin otak lo gesrek. Lo butuh udara seger. Lo butuh ketemu cowok ganteng yang masih idup, bukan dengerin narasi soal mayat dalam koper mulu."
Gendis merengut dan mencoba meraih kembali ponselnya yang disita. Ia memprotes karena narator podcast baru saja mau masuk ke bagian analisis pola luka. Namun, Maya tetap teguh pada pendiriannya. Ia menarik Gendis menuju tumpukan baju di atas kursi dan menyuruhnya mandi karena jam tujuh malam ini Gendis sudah memiliki janji penting.
Gendis membeku di tempat dengan firasat buruk. Ketika ia bertanya janji apa yang dimaksud, Maya tersenyum lebar dengan jenis senyum licik yang membuat Gendis ingin kabur lewat jendela saat itu juga.
"Kencan buta, Sayang. Namanya Arlan. Gue udah pilihin yang paling oke di Match-Up. Dia ganteng, wangi, dan yang paling penting, dia bukan intel ataupun mayat yang lagi lo teliti!" seru Maya penuh semangat.
Gendis menelan ludah dengan susah payah. Baginya, bertemu orang asing di sebuah kafe jauh lebih menakutkan daripada menghadapi sepuluh tukang bakso mencurigakan. Di dalam kepalanya, suara narator podcast kembali bergema bahwa itulah kesalahan pertama yang dilakukan sang gadis sebelum ia menghilang untuk selamanya dari muka bumi.
ns216.73.217.14da2


