Gendis meringkuk di bawah meja dengan tangan menutupi telinga. Suara pecahan kaca dan teriakan pengunjung kafe bersahutan, menciptakan kakofoni yang jauh lebih mengerikan daripada efek suara podcast mana pun yang pernah ia dengar. Di sampingnya, Arlan tidak lagi terlihat seperti jurnalis yang ramah. Pria itu berjongkok dengan sikap siaga, matanya mengawasi setiap pergerakan di balik kaki-kaki meja kayu yang kini menjadi satu-satunya perlindungan mereka.
"Tetap di bawah dan jangan bersuara," perintah Arlan. Suaranya tidak lagi lembut, melainkan dingin dan penuh otoritas. Gendis hanya bisa mengangguk cepat dengan wajah pucat pasi. Ia melihat Arlan merogoh sesuatu dari balik jaketnya, bukan sebuah pulpen atau buku catatan jurnalis, melainkan sebuah benda logam kecil yang ia gunakan untuk mengamati pantulan posisi musuh di lantai kafe yang mengilat.
Dua pria bertopeng mendekat ke arah meja mereka dengan langkah yang terukur. Salah satu dari mereka menendang kursi di dekat Gendis hingga terpental. Gendis hampir saja berteriak jika Arlan tidak segera membekap mulutnya dengan telapak tangan yang hangat namun terasa sangat kuat. Gendis bisa merasakan detak jantungnya sendiri berpacu melawan waktu, sementara bau mesiu mulai memenuhi ruangan yang tadinya beraroma kopi.
Tiba-tiba, Arlan bergerak. Dalam satu gerakan yang sangat cepat dan presisi, ia menyapu kaki salah satu penjahat hingga terjatuh, lalu menggunakan momentum itu untuk menghantamkan kepalanya ke pinggiran meja. Penjahat kedua mencoba mengarahkan senjatanya, namun Arlan lebih dulu mencengkeram pergelangan tangan pria itu dan memelintirnya hingga terdengar bunyi retakan yang memilukan. Gendis menonton semua itu dengan mata terbelalak; Arlan bertarung seperti mesin yang sudah diprogram untuk menetralisir ancaman dalam hitungan detik.
"Mereka sudah melihat wajah kamu bersama saya, Gendis. Kalau kamu tetap di sini, mereka akan membawa kamu untuk memancing saya keluar," ujar Arlan sambil memungut tasnya dan menyampirkannya di bahu. Ia mengulurkan tangan ke arah Gendis yang masih mematung di lantai. "Pilihannya hanya dua: ikut saya sekarang atau menjadi jaminan bagi orang-orang ini."
Gendis menatap tangan Arlan, lalu menatap pintu belakang kafe yang tampak seperti gerbang menuju ketidakpastian. Di dalam kepalanya, ia teringat sebuah kutipan dari salah satu episode podcast favoritnya yang mengatakan bahwa dalam situasi penyanderaan, peluang hidup korban akan menurun drastis setelah sepuluh menit pertama. Dengan keberanian yang dipaksakan, Gendis menyambut tangan Arlan.
"Saya benci kencan ini, Mas," bisik Gendis dengan suara bergetar saat Arlan menariknya berdiri.
"Saya juga, Gendis. Tapi setidaknya saya akan memastikan kencan ini tidak berakhir di ruang otopsi," balas Arlan singkat. Mereka berlari menembus dapur kafe yang kacau balau, menghindari serentetan peluru yang menghantam rak piring di belakang mereka. Selamat datang di dunia nyata, Gendis; dunia di mana narator tidak akan pernah menghentikan rekaman saat situasi menjadi terlalu berbahaya.
ns216.73.217.14da2


