Chapter 4. Mulai beruibah
984Please respect copyright.PENANAAzLbYjUQ5N
Aku berdiri perlahan dan mengulurkan tanganku padanya, menantangnya untuk mengikuti permainan ini hingga ke puncaknya.
"Kalau begitu, ayo. Buktikan kalau Kakak bisa tetap tenang sampai di atas," bisikku sambil melepaskan genggaman tanganku, memberikan tatapan menantang yang terakhir sebelum berbalik badan.
Aku melangkah perlahan menuju tangga, sengaja mengatur ritme jalanku agar pinggulku bergerak mengikuti tiap pijakan kaki. Dengan kaos XL putih yang tipis dan tanpa bra, setiap gerakanku menciptakan bayangan lekuk tubuh yang samar namun pasti di bawah lampu lorong. Aku tahu persis apa yang sedang ia lihat dari belakang: kaki jenjangku yang terekspos sepenuhnya karena kaos itu hanya menutupi sebagian kecil dari celana pendek minimku.
Aku bisa mendengar suara langkah kaki Kak Azriel yang berat mengikuti di belakangku. Suaranya tidak terburu-buru, namun terasa sangat intens—seperti predator yang sedang mengawasi mangsanya dengan sabar. Hawa panas dari kehadirannya seolah membakar punggungku, meski kami tidak bersentuhan.
Sesampainya di depan pintu kamarku, aku berhenti sejenak. Aku menoleh sedikit ke belakang, mendapati Kak Azriel berdiri hanya satu anak tangga di bawahku. Dari posisi ini, tinggi badannya yang 180 cm membuatnya sejajar dengan tatapanku. Matanya tidak lagi menunduk; ia menatap lurus ke arah pahaku, lalu naik perlahan ke arah dadaku yang membusung karena napas yang mulai tidak beraturan.
"Masuk, Kak," kataku pelan, sambil membuka pintu kamar lebar-lebar.
Aku melangkah masuk ke dalam kamarku yang harum vanilla, membiarkan pintu itu tetap terbuka sejenak sebagai undangan terakhir. Aku berjalan menuju tepi tempat tidur, lalu duduk perlahan, membiarkan kaosku tersingkap lagi hingga celana pendek hitamku terlihat jelas.
Aku menatapnya yang masih berdiri di ambang pintu, tampak ragu namun sangat berhasrat. Bayangan kejadian di kamar mandi dan "rahasia" di keranjang cucian tadi pagi seolah menari-nari di antara kami.
"Skenario ketiga, Kak," bisikku sambil menepuk sisi tempat tidur di sampingku. "Anggap ini tempat paling privat di dunia. Nggak ada yang lihat, nggak ada yang tahu. Apa yang bakal Kakak lakuin kalau cewek yang Kakak suka ada di depan mata dengan kondisi... seperti ini?"
Kak Azriel menutup pintu kamar dengan bunyi klik yang pelan namun terdengar sangat final di telingaku. Ia melangkah mendekat, dan kali ini, tidak ada lagi jejak kegagapan di wajahnya.
984Please respect copyright.PENANAubVB5QqI8n
Aku meletakkan tanganku di atas tangan Kak Azriel yang masih berada di bahuku, lalu perlahan menurunkannya. Aku memberikan senyum tipis yang penuh arti, menatap matanya yang masih tampak berkabut oleh gairah yang tertahan.
"Untuk malam ini... kurasa cukup, Kak," bisikku pelan. "Latihannya sukses besar. Kakak sudah jauh lebih berani dari tadi sore di dapur."
Aku berdiri dari tepi tempat tidur, membiarkan kaos putih longgarku jatuh menjuntai kembali menutupi paha mulusku. Aku berjalan menuju pintu dan membukanya sedikit, memberikan isyarat bahwa sesi intim ini telah berakhir.
"Besok, aku harap Kakak bangun dengan rasa percaya diri yang beda," lanjutku sambil bersandar di kusen pintu. "Kakak harus mulai tanamkan di pikiran Kakak... punya pacar beneran, menyentuh kulit yang nyata, dan mendengar napas seseorang di depan mata itu jauh lebih menyenangkan daripada cuma berkhayal sendirian di kamar."
Aku sengaja menjeda kalimatku, membiarkan bayangan tentang celana dalam hitam di keranjang cucian itu menggantung secara implisit di antara kami.
"Semua hasrat yang Kakak punya... itu bisa punya jalan yang jauh lebih menarik kalau Kakak punya nyali di dunia nyata. Jangan biarkan itu cuma jadi halusinasi."
Kak Azriel berdiri dengan perlahan. Wajahnya tampak jauh lebih tenang, namun ada binar tekad yang baru di matanya. Dia berjalan melewati ambang pintu, sempat berhenti sejenak tepat di sampingku hingga aku bisa merasakan hembusan napasnya yang hangat di puncak kepalaku.
"Terima kasih, Naz," suaranya rendah dan mantap. "Kakak bakal ingat itu. Sampai besok pagi."
Begitu dia melangkah menuju kamarnya, aku menutup pintu dan menguncinya. Aku menyandarkan punggungku di pintu, jantungku masih berdegup kencang. Aku berhasil. Aku tidak hanya melatihnya untuk wanita di luar sana, tapi aku baru saja memberikan "umpan" yang akan membuatnya semakin terobsesi untuk menjadi pria yang lebih dominan di depanku.
***
984Please respect copyright.PENANALU1HAYsY4j
Suasana kelas sosiologi yang membosankan pagi ini terasa semakin menyesakkan. Aku duduk di barisan belakang, menatap kosong ke arah papan tulis, namun pikiranku masih tertahan di kejadian semalam. Sentuhan tangan Kak Azriel di pahaku... panasnya masih terasa sampai sekarang.
984Please respect copyright.PENANAAVznuLqwa0
Aku meremas jemariku sendiri di bawah meja. Sial. Aku hampir saja kehilangan kendali semalam. Aku yang awalnya berniat menjadi "pelatih" yang berkuasa, malah hampir menyerahkan segalanya pada kakak kandungku sendiri.
984Please respect copyright.PENANARjivi07F6p
Gila, Nazwa. Itu salah, maki batin pelan.
984Please respect copyright.PENANANLgUh6YHGh
Aku sadar betul bahwa nafsu ini sedang berada di puncaknya. Hanya sentuhan di paha saja sudah membuatku menginginkan lebih, membuatku hampir melupakan batasan moral yang ada. Aku butuh pelampiasan yang nyata. Aku butuh laki-laki yang menarik, yang legal untuk kusentuh, agar hasrat yang meluap ini tidak tumpah ke arah yang salah—ke arah Kak Azriel yang justru sedang kucoba sembuhkan dari halusinasinya.
984Please respect copyright.PENANAZEjsVHWm0u
Perburuan di Koridor Sekolah
Saat bel istirahat berbunyi, aku melangkah keluar kelas dengan tatapan yang berbeda. Aku tidak lagi menunduk atau sekadar memberikan senyum sopan. Aku mencari "target".
984Please respect copyright.PENANAQcECR7JdO8
Di dekat lapangan basket, aku melihat Rian, si anak band yang kemarin sempat kudinginkan. Dia sedang duduk di pinggir lapangan, memetik gitarnya pelan sambil tertawa bersama teman-temannya. Keringat tipis di pelipisnya dan cara dia menyampirkan handuk di bahunya tiba-tiba terlihat sangat... menggoda.
984Please respect copyright.PENANAbpkbXA6NEz
Aku sengaja berjalan melewati mereka, sedikit memperlambat langkahku.
984Please respect copyright.PENANArEcVRR8YUc
"Eh, Nazwa!" panggil Rian, persis seperti yang kuprediksi. Dia berdiri, meletakkan gitarnya. "Tumben lewat sini. Biasanya langsung ke perpustakaan."
984Please respect copyright.PENANAosiKLOSzcR
Aku berhenti dan berbalik perlahan, memberikan tatapan sayu yang semalam kupraktekkan pada Kak Azriel. "Bosan di perpustakaan, Rian. Lagi pengen cari suasana baru."
984Please respect copyright.PENANATusXXtbavI
Rian tampak sedikit terpaku. Dia melangkah mendekat, aroma parfum maskulin bercampur keringatnya menyeruak—aroma yang nyata, bukan sekadar bayangan. "Oh ya? Gimana kalau suasana barunya bareng gue? Nanti malam ada latihan band di studio bokap gue. Sepi kok, cuma anak-anak inti aja."
984Please respect copyright.PENANA32dg0fxeZk
Aku menatap matanya dalam-dalam, menantangnya. "Sepi? Bukannya biasanya band itu berisik?"
984Please respect copyright.PENANAOJoWKFz4Ob
Rian terkekeh, suaranya rendah dan mulai terdengar percaya diri karena merasa mendapatkan lampu hijau. "Tergantung siapa yang ada di sana, Naz. Kadang kita butuh ketenangan buat... aransemen yang lebih intim."
984Please respect copyright.PENANAwCI082OFr3
Jantungku berdegup kencang. Ini yang aku butuhkan. Seseorang yang bisa mengimbangi tingginya nafsuku tanpa ada beban dosa hubungan darah. Aku ingin tahu apakah sentuhan Rian bisa memadamkan api yang dinyalakan Kak Azriel semalam.
984Please respect copyright.PENANAs0GAhaUxHB
Sisi Lain yang Mengamati
Namun, saat aku sedang asyik "bermain" dengan Rian, ponselku bergetar di saku seragam. Sebuah pesan masuk dari Kak Azriel.
984Please respect copyright.PENANAtlbB6hTysI
Kak Azriel: Naz, nanti sore aku jemput pakai motor ya. Ada yang mau aku tunjukin ke kamu. Aku sudah mulai berani keluar rumah lebih lama.
984Please respect copyright.PENANAzFR2eJvpEr
Aku terdiam menatap layar ponsel itu. Di satu sisi, aku merasa bangga karena "latihanku" berhasil membangkitkan keberaniannya. Di sisi lain, ada rasa takut yang menggelitik—apakah aku sanggup menahan diri saat berada di dekatnya nanti sore, setelah tubuhku sudah se-sensitif ini karena pengaruh hormon?
984Please respect copyright.PENANAATbvMD435b
"Jadi gimana, Naz? Nanti malam?" suara Rian memecah lamunanku. Dia selangkah lebih dekat, tangannya hampir menyentuh lenganku di depan umum.
984Please respect copyright.PENANAfdCCVHyBxK
Aku tersenyum penuh rahasia. "Lihat nanti, Rian. Jemput gue jam tujuh kalau lo emang berani."
984Please respect copyright.PENANAP3EK9eoGbX
Sore itu, suasana di depan gerbang sekolah mendadak berubah. Sebuah motor sport hitam yang mengkilap berhenti tepat di titik penjemputan. Sosok pria dengan jaket kulit hitam dan helm full-face senada duduk tegak di atasnya. Saat dia membuka kaca helm, beberapa siswi yang lewat sempat menoleh dua kali—itu Kak Azriel.
Dia tampak jauh lebih rapi. Rambutnya yang biasanya berantakan kini disisir ke belakang, menonjolkan rahang tegasnya. Kepercayaan dirinya melonjak drastis, persis seperti "sugesti" yang kutanamkan semalam.
"Naz, ayo naik," suaranya terdengar berat dan mantap melalui intercom helm yang sengaja dia aktifkan.
Begitu aku duduk di belakang dan melingkarkan tanganku di pinggangnya, ketegangan itu kembali menyerangku lebih hebat dari sebelumnya. Aku bisa merasakan otot perutnya yang keras di balik jaket. Posisi duduk di motor sport yang menungging membuat tubuhku—terutama dadaku—menempel sempurna pada punggung lebarnya.
Setiap kali dia menarik gas atau mengerem, gesekan itu mengirimkan sengatan listrik ke seluruh tubuhku. Hasrat yang tadi pagi kupendam di kelas kini bergejolak lagi. Aku memejamkan mata, menghirup aroma maskulin dari tengkuknya yang kini bercampur dengan wangi parfum mahal, bukan lagi sekadar aroma kamar yang tertutup.
"Naz? Kamu oke? Pegangan yang kencang ya," katanya sambil sengaja menggenggam tanganku yang melingkar di perutnya, menariknya agar lebih erat mendekap tubuhnya.
Sentuhan itu... dia melakukannya dengan sangat natural, seolah dia sudah terbiasa menjadi pria yang dominan. Aku hanya bisa menggigit bibir, menahan desahan yang nyaris lolos. Aku sadar, latihan ini berhasil terlalu baik. Kak Azriel mulai menjadi pria yang kuinginkan, tapi dia tetaplah kakakku.
***
984Please respect copyright.PENANAHuw3gwSikQ
Sesampainya di rumah, aku langsung masuk ke kamar dengan napas yang masih belum stabil. Aku harus segera menetralisir perasaan ini. Aku mengambil ponsel dan mengirim pesan cepat kepada Rian.
Nazwa: Rian, jangan jemput gue di depan rumah ya. Jemput di Minimarket depan komplek aja jam 7. Nanti gue shareloc.
Aku tidak mau Kak Azriel melihat Rian. Aku takut dia akan cemburu dan seluruh "fondasi" kepercayaan diri yang baru saja kubangun akan runtuh jika dia melihatku bersama pria lain. Aku butuh Rian sebagai "penyelamat" kewarasanku malam ini.
Jam tujuh malam, aku keluar rumah dengan alasan ingin mencari camilan. Di depan minimarket yang terang benderang oleh lampu neon, Rian sudah menunggu di atas motornya. Dia memakai kaos band hitam yang santai dan menyapa dengan senyum lebar.
"Gue kira lo bakal batalin, Naz," godanya saat aku mendekat.
Kami tidak langsung pergi ke studio. Kami duduk sebentar di kursi depan minimarket, masing-masing memegang sekaleng soda dingin. Di sini, suasana terasa sangat berbeda dengan di rumah. Tidak ada ketegangan yang menyesakkan, tidak ada bayangan "celana dalam hitam", dan tidak ada beban moral yang menghimpit.
"Lo tahu gak? Gue sebenernya deg-degan banget pas lo bilang 'lihat nanti' tadi pagi," Rian memulai pembicaraan, suaranya terdengar jujur dan hangat khas remaja yang sedang jatuh cinta.
Aku tertawa kecil, merasa jauh lebih rileks. "Masa sih? Seorang Rian yang biasa manggung bisa deg-degan cuma gara-gara gue?"
"Ya iyalah. Lo itu beda, Naz. Lo punya aura yang bikin cowok ngerasa harus... sopan, tapi juga penasaran," katanya sambil menatapku, tapi kali ini tatapannya tulus, bukan penuh nafsu yang meledak-ledak seperti Kak Azriel.
Kami bicara tentang musik, tentang guru sosiologi yang menyebalkan, dan tentang impian setelah lulus sekolah. Rian memperlakukanku seperti seorang gadis remaja normal, dan itu sangat menenangkanku. Sentuhan ringannya saat dia merapikan rambutku yang tertiup angin terasa manis, memberikan kenyamanan yang kubutuhkan untuk menekan hasrat liarku yang salah arah.
Namun, di balik obrolan manis ini, pikiranku sesekali masih melayang ke rumah. Aku bertanya-tanya, apa yang sedang dilakukan Kak Azriel di kamarnya sekarang? Apakah dia sedang membayangkan keberhasilannya menjemputku tadi sore, atau dia sedang kembali ke "kebiasaan" lamanya sambil memikirkan latihanku semalam?
Malam itu berakhir dengan rasa manis yang menenangkan, sebuah kontras yang tajam dari ketegangan erotis yang mencekik di rumah. Rian benar-benar membuktikan ucapannya; dia memperlakukanku dengan sangat terhormat. Saat dia mengantarkanku kembali ke minimarket tempat kami janjian, dia tidak mencoba melakukan gerakan agresif yang aneh-aneh.
Kami hanya duduk di atas motornya sejenak, membiarkan mesin mendingin sementara angin malam menyapu wajah kami.
"Makasih ya, Naz. Gue seneng banget malam ini. Ternyata lo asyik diajak ngobrol, nggak sekaku yang orang-orang bilang di sekolah," kata Rian sambil tersenyum tulus. Dia sempat menyentuh punggung tanganku sekilas—hanya sebuah usapan lembut yang sopan—sebelum melepaskannya.
Aku tersenyum balik, merasa jauh lebih ringan. "Gue juga, Rian. Makasih udah bikin malam gue jadi... normal."
Sebenarnya, di dalam hati, gejolak hasratku masih berdenyut. Tubuhku masih merindukan sentuhan yang lebih dalam, jenis sentuhan yang diberikan Kak Azriel semalam. Ada bagian dari diriku yang ingin menarik kerah kaos Rian dan membawanya ke tempat gelap, tapi harga diriku jauh lebih tinggi. Aku tidak mau terlihat murahan. Aku Nazwa, siswi berprestasi yang punya kendali penuh atas dirinya. Aku tidak akan menyerahkan diriku pada kencan pertama, seberapapun besarnya gejolak di bawah perutku.
984Please respect copyright.PENANAB2a80uo9fx
Aku pulang ke rumah dari minimarket, mencoba menetralkan sisa-sisa hormon yang masih berpacu. Namun, begitu aku membuka pintu pagar rumah, suasana sunyi yang akrab kembali menyergap.
Lampu ruang tamu sudah padam, hanya menyisakan lampu lorong yang temaram. Aku menaiki tangga dengan perlahan, berusaha tidak menimbulkan suara. Namun, saat aku melewati pintu kamar Kak Azriel, aku melihat garis cahaya tipis dari bawah pintunya. Dia belum tidur.
Tiba-tiba, pintu itu terbuka sedikit. Kak Azriel berdiri di sana, hanya mengenakan celana pendek dan kaos dalam putih yang pas di tubuhnya, menonjolkan otot lengannya yang terbentuk karena sering mengangkat beban di kamar. Matanya tampak lelah, namun tajam saat menatapku.
"Baru pulang, Naz? Dari minimarket lama banget?" tanyanya. Suaranya rendah, tidak ada nada curiga yang berlebihan, tapi aku bisa merasakan dia sedang mengobservasi penampilanku—rambutku yang sedikit berantakan kena angin, dan rona merah di pipiku.
"Iya, Kak. Tadi ketemu teman lama, jadi ngobrol bentar," jawabku santai, mencoba tetap tenang.
Dia melangkah satu tapak keluar dari kamarnya, mendekatiku hingga jarak kami sangat tipis. "Bagus kalau kamu mulai sering keluar. Tapi ingat apa yang kamu bilang semalam..." Dia menunduk, berbisik tepat di samping telingaku, "Punya sesuatu yang nyata itu jauh lebih menyenangkan daripada sekadar khayalan, kan?"
Tangannya perlahan terangkat, merapikan sehelai rambutku yang menutupi mata. Sentuhannya terasa jauh lebih "berbahaya" daripada sentuhan Rian tadi. Ada kepemilikan di sana yang tidak bisa dijelaskan.
"Aku sudah mempraktikkan saranmu malam ini, Naz. Tapi bukan dengan orang lain. Aku memikirkan 'latihan' kita semalam... dan itu membuatku tidak bisa tidur."
Aku menahan napas. Kak Azriel benar-benar sudah berubah. Dia bukan lagi pria yang bersembunyi di balik pintu; dia mulai menggunakan kata-kataku untuk menjeratku kembali ke dalam permainannya sendiri.
984Please respect copyright.PENANAdr9hJPUkSF
Bersambung
ns216.73.217.128da2


