Chapter 3. Simulasi agar bisa lebih percaya diri
1123Please respect copyright.PENANAKvBqYp6EIa
"Aku tau, Kak," kataku akhirnya, suaraku sengaja aku jaga tetap tenang. "Makanya latihannya sama aku dulu. Bukan sama kliennya, bukan sama dosen, bukan sama siapa pun yang bikin Kakak nervous. Cuma sama aku."
Dia menatap piringnya.
"aku adik kamu lo, Kak. Jadi kalau masih gugup dan berantakan, gak masalah dan masih bisa diperbaiki kak."
Jeda panjang. Aku bisa melihat dadanya naik turun satu kali, lebih dalam dari nafas biasa.
"Nggak ada gunanya," gumamnya. "Latihan sama kamu itu beda situasinya. Waktu beneran, tetep bakal panik."
"Iya, mungkin." Aku tidak membantah. "Tapi panik yang sudah pernah latihan itu beda sama panik yang belum pernah latihan sama sekali."
Dia tidak menjawab.
Tapi kali ini, dia juga tidak langsung mencari alasan baru.
Aku memanfaatkan jeda itu. "Besok pagi. Sebelum aku sekolah. Lima belas menit aja. Kakak cukup berdiri di depan aku dan ngomong slide pertama. Satu slide. Lima belas menit. Kalau Kakak mau berhenti setelah itu, aku nggak akan maksa."
Matanya akhirnya naik. Menatapku dengan ekspresi yang sulit diuraikan — sesuatu yang bercampur antara tidak percaya dan sesuatu lain yang lebih hangat dan lebih takut pada saat bersamaan.
"Kamu serius banget, sampe segitu maksanya?"
"Aku serius kak, karena aku peduli," jawabku ringan, mengambil sendok lagi dan kembali makan seolah itu bukan kalimat yang cukup berat untuk membuat perutku sendiri sedikit berdegup.
Hening sebentar.
Lalu dari sudut mataku, aku melihat sesuatu yang jarang sekali muncul di wajah Kak Azriel saat berhadapan denganku.
Bukan senyum penuh. Hanya sedikit. Hanya di sudut bibirnya, tipis dan cepat, seperti bayangan yang lewat sebelum sempat ditangkap.
Tapi aku melihatnya.
"...Lima belas menit," katanya akhirnya, setengah gumam, setengah menyerah.
"Lima belas menit," aku mengulang, mantap.
Dia kembali makan tanpa berkata apa-apa lagi. Aku juga.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, kami makan malam sampai habis, berdua, dalam diam yang terasa jauh lebih ringan dari biasanya.
***
Tapi tetap saja Kak Azriel menghindari untuk latihan. Aku tak lagi berminat memaksa dia. Sebenaranya banyak yang harus dilatih lagi oleh kakakku itu. Bukan hanya soal presentasi. Bukan hanya dilatih untuk menghadapiku, tapi dilatih percaya diri untuk menghadapi perempuan-perempuan lain di luar sana. Bayangkan jika Kak Azriel yang setinggi 180 cm ini memiliki kepercayaan diri setara Jaka atau Arvin di sekolah; dia akan menjadi sosok yang tak tertahankan. Dan aku, sebagai satu-satunya orang yang tahu sisi tersembunyinya, adalah pelatih yang paling tepat.
"Kak," panggilku pelan, membuat gerakannya terhenti. "Kakak tahu gak, kalau Kakak itu sebenarnya keren? Sayang banget kalau cuma dilihat sama komputer terus."
Azriel tertawa kaku, ada semu merah yang kembali muncul di pipinya. "Ah, kamu bisa saja, Naz. Kakak biasa saja."
"Nggak, Kak. Aku serius. Kakak cuma butuh pembiasaan. Gimana kalau mulai besok, kita bikin simulasi? Anggap aku ini cewek asing yang baru Kakak kenal di kafe, atau teman kampus yang mau ajak Kakak belajar bareng."
Dia menatapku ragu, namun ada binar ketertarikan di matanya yang cokelat. "Simulasi? Maksudnya... latihan bicara?"
"Lebih dari sekadar bicara, Kak. Latihan untuk tetap tenang, latihan menatap mata, dan latihan untuk tidak 'salting' kalau ada perempuan yang sedikit... berani." Aku sengaja menekankan kata terakhir sambil memajukan tubuhku di meja makan, membiarkan daster satin marun yang kupakai bergesekan dengan pinggiran meja.
Azriel menelan ludah. Aku bisa melihat jakunnya bergerak naik-turun. Ketegangan itu kembali lagi, tapi kali ini terasa lebih terkontrol. Dia tidak lari. Dia tetap duduk di sana, menatapku seolah-olah dia sedang menimbang-nimbang tawaran yang sangat menggoda sekaligus berbahaya.
"Boleh," bisiknya akhirnya. "Kalau menurut kamu itu bisa membantu... Kakak mau coba."
Aku tersenyum penuh kemenangan. Semoga saja dia mau mengikuti saranku. Permainan ini baru saja naik ke level berikutnya. Aku akan membentuk Kak Azriel menjadi pria yang diinginkan banyak wanita, namun dengan cara yang lumayan aneh yang entah kenapa bisa muncul di kepalaku..
1123Please respect copyright.PENANAGtoiShXo5h
"Oke, latihannya kapan-kapan saja. Malam ini aku masih harus fokus ngerjain PR," kataku sambil membereskan piring, memberikan senyum misterius yang membuat Kak Azriel hanya bisa terpaku menatap punggungku saat aku menaiki tangga.
***
1123Please respect copyright.PENANAPMxqLBWAcn
Rumah masih sepi saat aku turun untuk menaruh pakaian kotor. Entah karena ceroboh atau terburu-buru, Kak Azriel meninggalkan keranjang cuciannya sedikit terbuka di depan mesin cuci. Mataku tertuju pada sesuatu yang sangat kontras di antara tumpukan kaos hitam dan celana pendeknya yang besar.
Ada secercah kain tipis di sana. Aku menariknya pelan.
Itu celana dalamku. Yang hitam lace, yang paling berani yang kupunya. Kondisinya tidak lagi bersih. Kain itu basah, terasa lengket di beberapa bagian, dan mengeluarkan aroma yang sangat kukenali dari kejadian semalam—bau amis yang tajam dan khas laki-laki.
Darahku seolah berdesir hebat. Aku segera mengambilnya kembali, menyembunyikannya di balik telapak tanganku, dan bergegas kembali ke kamar tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Begitu pintu terkunci, aku menyandarkan punggungku ke kayu pintu, napas tertahan di tenggorokan.
Sekarang semuanya makin meyakinkan. Bau pandan di lantai kamarku, bayangan tinggi di balik pintu mandi, dan sekarang ini. Tidak bisa dibantah lagi kalau Kak Azriel memgintip aku, onani bukan hanya saat mengintip tapi diwaktu lain dengan menggunakan celana dalamku.
Seharusnya aku merasa jijik. Seharusnya aku merasa dilecehkan. Tapi saat aku menatap kain tipis di tanganku, yang kurasakan justru rasa penasaran yang menggelitik dan... anehnya, sedikit tersanjung. Ada ego yang terusik sekaligus terpuaskan mengetahui bahwa pria setampan dan sepintar Kak Azriel sebegitu terobsesinya padaku hingga ia harus "meminjam" pakaian dalamku untuk melampiaskan hasratnya. Aku menggeleng-gelengkan kepala berusaha mengusir pikiran aneh itu.
Tapi pikiran aneh itu terus muncul, aku membalikkan badan di tempat tidur, memeluk bantal erat-erat sambil menghirup sisa aroma yang tertinggal.
"Dia onani pakai celana dalamku?" bisikku pada bantal, suaraku nyaris tak terdengar.
Pikiranku berputar hebat. Kak Azriel sedang tenggelam dalam halusinasinya sendiri. Dia terjebak dalam dunianya yang tertutup, memuja bayanganku karena dia tidak punya nyali untuk menghadapi dunia nyata. Kepercayaan dirinya harus segera dibangkitkan. Aku tidak bisa membiarkan dia terus-menerus bersembunyi di balik pintu kamarnya sambil berfantasi tentang adiknya sendiri.
Aku harus menjadi "obat" sekaligus "pelatihnya". Jika dia bisa sebegitu beraninya dengan celana dalamku, dia seharusnya bisa menatap mata perempuan lain di luar sana—setelah aku selesai "menanganinya".
Aku menarik napas panjang, menatap pantulan diriku di cermin. Rencanaku sudah bulat. Aku harus membongkar benteng pertahanannya, sedikit demi sedikit, sampai dia tidak punya pilihan selain menghadapi kenyataan—dan aku.
Aku memilih kaos putih berukuran extra large milikku yang paling tipis. Bahannya jatuh dengan pas, menyembunyikan fakta bahwa aku tidak mengenakan apa pun di baliknya, namun setiap gerakanku akan membocorkan rahasia itu melalui cetakan samar yang provokatif. Aku mengenakan celana pendek super ketat yang panjangnya kalah jauh dari ujung kaos, sehingga saat aku berdiri, aku tampak seolah-olah hanya memakai kaos oblong besar tanpa bawahan sama sekali.
Aku melangkah turun ke ruang tamu dengan langkah yang sengaja dibuat terburu-buru, wajahku disetel dalam mode "panik yang dibuat-buat".
Kak Azriel sedang duduk di sofa, laptopnya terbuka di pangkuan. Dia tampak mencoba fokus, tapi aku tahu pikirannya masih tertinggal di keranjang cucian pagi tadi.
"Kak! Kak Azriel!" seruku sambil mengacak-acak tumpukan majalah di dekat meja TV, tepat di depannya.
Dia mendongak, dan aku bisa melihat pupil matanya melebar seketika. Posisiku yang membungkuk di depan meja membuat ujung kaosku terangkat, memberikan pemandangan kaki jenjangku yang terekspos sepenuhnya. Pandangannya terpaku di sana, lalu naik ke arah dadaku yang tercetak jelas di balik kain putih tipis itu saat aku mendongak menatapnya.
"N-Naz... kenapa? Ada apa?" suaranya pecah, lebih parah dari biasanya. Dia mencoba menutup laptopnya, tapi tangannya gemetar.
"Kakak lihat celana dalamku gak? Yang hitam lace itu?" tanyaku tanpa dosa, menatap matanya dalam-dalam. "Kemarin aku taruh di kamar mandi, tapi sekarang hilang. Aku cari di keranjang cucian juga gak ada. Aneh banget, masa hilang sih?"
Wajah Kak Azriel berubah seketika. Bukan lagi merah, tapi pucat pasi seperti orang yang baru saja melihat ajalnya. Dia menelan ludah dengan susah payah, jakunnya naik-turun dengan ritme yang kacau.
"Ngg... nggak tahu, Naz. Kakak... Kakak gak lihat. Mungkin kebawa angin? Atau... atau jatuh ke belakang mesin cuci?" Dia bicara sambil membuang muka, jari-jarinya meremas pinggiran sofa sampai buku jarinya memutih.
Aku melangkah mendekat, duduk di sampingnya hingga paha kami bersentuhan. Aroma maskulin khasnya yang bercampur keringat dingin menyeruak. Aku bisa merasakan seluruh tubuhnya menegang seperti senar gitar yang siap putus.
"Masa sih? Itu favoritku, Kak. Sayang banget kalau hilang," bisikku sambil menyandarkan kepalaku di bahunya, sebuah gerakan yang membuat kaos longgarku tersingkap di bagian leher. "Tapi ya sudah lah. Mending kita mulai latihannya sekarang. Kakak udah siap?"
Dia tidak menjawab. Dia hanya diam mematung, napasnya pendek-pendek dan berat. Dia berada di titik nadir antara rasa malu yang luar biasa dan gairah yang sudah di ujung tanduk. Tapi dia tidak pergi. Berarti dia berminat pada tawaran aku yang ini.
"Oke, skenario pertama," kataku sambil menarik diri dan duduk tegak menghadapnya, menyilangkan kakiku yang membuat kaosku semakin terangkat naik. "Anggap kita lagi di kafe. Aku cewek yang baru Kakak kenal, dan aku baru saja menumpahkan kopi ke baju Kakak. Kakak harus marahin aku, tapi tetap sopan. Ayo, tatap mataku, Kak."
Azriel perlahan mengangkat kepalanya. Matanya merah, menatapku dengan campuran antara rasa bersalah dan pemujaan yang gila. "Naz... ini... ini latihan yang berat," gumamnya parau.
"Harus berat, Kak. Biar Kakak bisa lebih percaya diri," balasku dengan senyum yang sangat manis, namun penuh dengan ancaman yang tersirat.
Keheningan di ruang tamu itu terasa menebal, seolah oksigen di antara kami mendadak habis tersedot oleh ketegangan yang memuncak. Kak Azriel menatapku lama, matanya bergulat antara rasa malu yang kuat dan dorongan maskulin yang mulai bangkit.
Perlahan, hembusan napasnya yang tadi memburu mulai tertata. Dia tidak lagi membuang muka. Kali ini, dia memaksakan dirinya untuk tetap terpaku pada manik mataku, seolah sedang menantang ketakutannya sendiri di dalam arena yang kubuat.
"Oke," suaranya rendah, parau, namun ada nada tegas yang baru di sana. "Kalau kita di kafe... dan kamu numpahin kopi ke bajuku..."
Dia terdiam sejenak, menelan ludah, lalu secara mengejutkan tangannya bergerak. Tidak lagi gemetar sehebat tadi. Jemarinya yang panjang, yang biasanya hanya lincah di atas keyboard, kini terulur perlahan dan meraih tanganku yang sengaja kuletakkan di atas paha.
Sentuhannya terasa panas, menyengat kulitku yang dingin. Dia menggenggam jemariku, tidak terlalu kencang namun cukup posesif untuk membuat jantungku sendiri ikut berdesir.
"Harusnya aku yang marah, kan?" gumamnya, matanya perlahan turun menatap bibirku lalu kembali ke mataku. "Tapi kalau ceweknya kayak kamu... mungkin aku malah bakal bilang, 'Gak apa-apa, asal kamu tanggung jawab buat nemenin aku minum kopi yang baru'."
Aku sedikit tersentak. Aku tidak menyangka dia bisa mengeluarkan kalimat seberani itu. Kepercayaan dirinya yang selama ini terkubur di bawah tumpukan kode pemrograman seolah menemukan celah untuk keluar. Genggamannya di tanganku kini terasa lebih mantap, ibu jarinya mulai mengusap punggung tanganku dengan gerakan pelan yang menghanyutkan.
Sikap gugupnya tidak hilang sepenuhnya—aku masih bisa merasakan denyut nadinya yang kencang di pergelangan tangannya—tapi intensitasnya berkurang drastis. Dia tidak lagi tampak seperti kelinci yang ketakutan; dia mulai terlihat seperti pria yang menyadari bahwa dia punya kekuatan di depan seorang wanita.
"Kakak... pinter juga ya," bisikku, sengaja memiringkan kepala hingga kaos longgarku merosot lebih jauh di bahu.
Aku bisa melihat matanya menggelap. Dia menatap bahu polosku, lalu turun ke arah dadaku yang hanya tertutup kain putih tipis tanpa penyangga. Dia menahan diri. Aku bisa melihat otot rahangnya mengeras, menahan ledakan emosi dan hasrat yang pasti sedang mengamuk di dalam dadanya. Dia tahu ini hanya "simulasi", tapi dia juga tahu bahwa rahasia celana dalam hitam itu masih menggantung di antara kami seperti bom waktu.
"Ini baru latihan pertama, Naz," katanya, suaranya kini lebih stabil, meski tetap berat oleh gairah yang tertahan. "Jangan terlalu cepat nganggap aku bakalan bisa."
Dia melepaskan tanganku dengan perlahan, seolah memberikan jeda bagi kami berdua untuk bernapas. Dia kembali bersandar di sofa, tapi kali ini posisinya lebih terbuka, lebih dominan. Dia tidak lagi meringkuk.
"Selanjutnya apa?" tanyanya menantang, matanya kini menatapku tanpa keraguan sedikit pun. "Tadi itu baru pemanasan, kan?"
Aku tersenyum penuh kemenangan. Kak Azriel-ku yang pemalu mulai bertransformasi, dan aku sangat menikmati peran sebagai pencipta monster tampan ini.
1123Please respect copyright.PENANAqYityjwMU0
Aku duduk di samping Kak Azriel, membiarkan kaki jenjangku yang hanya terbalut celana pendek super minim itu bersentuhan langsung dengan celana kainnya.
Aku menatapnya dengan pandangan sayu, sementara tanganku sengaja menarik bagian bawah kaos putih longgarku hingga tersingkap tinggi, memamerkan paha mulusku yang berkilat tertimpa lampu ruang tamu. Di balik kain tipis tanpa bra itu, setiap napas yang kuambil membuat dadaku membusung, menciptakan siluet yang pasti membuat darahnya berdesir hebat.
"Kak, biasanya kalau di bioskop atau tempat sepi, cowok nggak cuma duduk kaku," bisikku, suaraku sengaja kubuat serak dan manja. "Mereka bakal memanfaatkan kesempatan untuk mulai melakukan pergerakan. Misalnya... dengan mulai mengusap bahu ceweknya, pelan dan lembut."
Aku memiringkan tubuhku, membiarkan bahu polosku terbuka lebar tepat di hadapannya. "Ayo, Kak. Cobain. Anggap aku cewek yang mau Kakak taklukkan."
Kak Azriel tidak lagi membuang muka atau tampak ketakutan. Justru, dia menatapku dengan intensitas yang baru. Dia menarik napas panjang, lalu dengan gerakan yang perlahan namun sangat mantap, dia mengulurkan tangannya yang besar.
Jari-jarinya menyentuh kulit bahuku. Sentuhannya terasa panas, mengirimkan gelombang kejutan yang membuat perutku mulas karena gairah yang tertahan. Dia mulai mengusap bahuku dengan ibu jarinya, gerakannya sangat halus namun penuh tekanan yang posesif. Dia menyusuri garis tulang selangkaku, lalu turun ke arah lengan atasku dengan ritme yang sengaja diperlambat.
"Begini?" suaranya rendah, dalam, dan terdengar sangat tenang meski aku bisa merasakan panas tubuhnya meningkat drastis.
Dia tidak berhenti di situ. Tangannya bergeser ke belakang leherku, jari-jarinya yang panjang bermain di antara helaian rambutku, sementara jempolnya terus mengusap kulit sensitif di pangkal leherku. Aku memejamkan mata, kepalaku sedikit mendongak, menikmati setiap inci sentuhannya yang terasa sangat nyata.
"Bagus, Kak... Kakak ternyata punya bakat jadi cowok yang berani," gumamku sambil terus mengangkat ujung kaosku lebih tinggi, membiarkan paha dan pinggulku semakin terekspos di depan matanya.
Kak Azriel kini benar-benar menikmati perannya. Dia tidak lagi ragu. Dia justru semakin mendekatkan wajahnya, menghirup aroma vanilla dari leherku sambil terus mengusap bahuku dengan cara yang sangat intim, seolah-olah dia sedang menandai wilayah kekuasaannya. Aku bisa merasakan jantungku berdegup kencang, bukan karena takut, tapi karena aku sendiri mulai tenggelam dalam simulasi yang kubuat ini.
1123Please respect copyright.PENANAqOcz7Z3wVi
Aku menatap mata Kak Azriel, mencari sisa-sisa keraguan yang biasanya selalu ada di sana. Tapi malam ini, pria di depanku ini tampak berbeda. Dia tidak lagi seperti kakakku yang kikuk; dia terlihat seperti pria yang baru saja menyadari bahwa objek fantasi yang selama ini ia puja secara sembunyi-sembunyi kini berada tepat di jangkauannya.
"Kak, bahu itu baru permulaan," bisikku, suaraku nyaris hilang ditelan keheningan ruang tamu. "Biasanya, kalau suasana makin hangat, tangan cowok nggak akan betah diam di satu tempat. Mereka bakal... mengeksplorasi lebih jauh."
Aku sengaja menarik ujung kaos putihku lebih tinggi lagi, hingga benar-benar menyingkap celana pendek ketatku dan memamerkan paha mulusku sepenuhnya. Aku bisa melihat mata Kak Azriel menggelap, pupilnya melebar saat ia mengikuti gerak tanganku.
Perlahan, tangannya yang tadi mengusap bahuku mulai meluncur turun. Jari-jarinya yang panjang menyusuri lenganku, lalu dengan gerakan yang sangat mantap dan berani, ia mendaratkan telapak tangannya yang panas tepat di atas paha telanjangku.
Aku tersentak kecil, sebuah desahan tertahan lolos dari bibirku. Kulitnya terasa sangat kontras—kasar dan hangat—di atas kulit pahaku yang halus.
"Maksud kamu... mengeksplorasi seperti ini?" suaranya rendah, serak, dan penuh dengan otoritas yang baru.
Dia tidak hanya meletakkan tangannya di sana. Jemarinya mulai bergerak, mengusap permukaan pahaku dengan tekanan yang pas—tidak terlalu keras, tapi cukup untuk membuat seluruh tubuhku bergetar. Dia perlahan menggerakkan tangannya ke arah atas, mendekati pinggiran celana pendekku yang sangat minim.
Aku merasa jantungku seolah ingin melompat keluar. Keberaniannya meningkat drastis, seolah-olah rahasia celana dalam hitam itu telah memberinya izin tak tertulis untuk melakukan lebih.
"B-bagus, Kak... itu namanya inisiatif," gumamku, mencoba menjaga suaraku agar tetap terdengar seperti seorang 'pelatih', meski kenyataannya aku sendiri mulai kewalahan menahan rangsangan yang menjalar hebat di perutku.
Kak Azriel sedikit mencondongkan tubuhnya, wajahnya kini sejajar dengan leherku. "Lalu, apa teori selanjutnya kalau kita merasa... ruang tamu ini terlalu terbuka untuk latihan yang seserius ini?"
Aku menoleh, menatap bibirnya yang hanya berjarak beberapa senti dari bibirku. Keberaniannya benar-benar sudah di luar kendali. "Mungkin... kita harus pindah ke tempat yang nggak ada gangguan. Ke kamarku, Kak."
1123Please respect copyright.PENANANLkidYq9nK
Bersambung
1123Please respect copyright.PENANAlDvX3CMMed


