Chapter 2. Gimana caranya agar kak Azriel bisa lebih percaya diri
1406Please respect copyright.PENANAvzQIIpxxM4
Aku keluar dari kamar mandi dengan jantung yang masih bertalu hebat. Handuk yang melilit tubuhku terasa lebih berat dari biasanya, seolah-olah ikut menyerap ketegangan yang menggantung di udara. Mataku langsung tertuju ke area di mana bayangan tinggi itu tadi berdiri tegak.
Kosong. Kak Azriel sudah tidak ada di sana.
Namun, saat kakiku melangkah mendekati meja rias, aku merasakan sesuatu yang janggal di bawah telapak kakiku. Lantai kamarku terasa sedikit lembap. Aku berlutut, menyipitkan mata untuk meneliti permukaan kayu yang gelap itu. Ada bekas usapan yang terburu-buru, seolah-olah seseorang baru saja mencoba menyeka tumpahan cairan dengan tangan atau kain seadanya, tapi tidak benar-benar bersih.
Lalu, aroma itu menusuk indra penciumanku.
Bau itu sangat spesifik—aroma seperti daun pandan yang menyengat, namun bercampur dengan aroma amis yang khas dan tajam. Seketika, memori tentang obrolan vulgar teman-teman cewek di kantin sekolah terlintas di kepalaku. Mereka pernah tertawa-tawa sambil berbisik bahwa aroma sperma itu memang mirip dengan pandan.
Napas kutercekat. Tanganku spontan menutup mulut karena syok yang menghantam ulu hati.
"Astaga... Kak Azriel," bisikku pelan, suaraku bergetar di tengah keheningan kamar.
Pikiran itu menghantamku tanpa ampun. Jadi, dia tidak hanya diam-diam masuk dan mengintipku yang sedang mandi di balik pintu yang sengaja kubiarkan terbuka sedikit. Dia berdiri di sana, di dalam kamarku yang privat, sambil melakukan hal itu. Kakakku yang pemalu, yang gagap dan memerah padam saat bicara dengan Rina atau Lila, ternyata memiliki sisi yang begitu liar dan terlarang saat hanya ada aku di sekitarnya.
Dia mengintipku... sambil onani.
Aku terduduk lemas di tepi tempat tidur, memandangi bekas bercak di lantai itu dengan perasaan yang benar-benar kacau. Seharusnya aku merasa jijik. Seharusnya aku merasa terancam dan segera mengunci pintu rapat-rapat. Tapi anehnya, bayangan Kak Azriel yang setinggi 180 cm itu, bergelut dengan hasratnya sendiri di balik bayangan dinding kamar mandiku, justru menyulut percikan adrenalin yang tak seharusnya ada.
Ada rasa ngeri, tapi juga ada rasa penasaran yang gelap. Rahasia ini terasa begitu panas, seolah-olah bisa membakar seluruh rumah kami jika ada yang tahu.
Aku melirik ke arah pintu kamarku yang masih tertutup. Di luar sana, mungkin dia sedang bersembunyi di kamarnya sendiri, mencoba menetralkan napasnya yang memburu. Aku tahu, mulai detik ini, hubungan kami tidak akan pernah sama lagi.
Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menstabilkan debar jantung yang masih berpacu liar. Dengan gerakan tenang yang dipaksakan, aku mengambil tisu dan menyeka sisa kelembapan di lantai itu sampai benar-benar kering. Aku tidak akan menegurnya. Belum saatnya. Aku memilih untuk melipat rahasia ini rapat-rapat dalam benakku, membiarkan Kak Azriel mengira dia telah lolos dengan jejaknya yang ceroboh.
Keesokan paginya, aku berangkat ke sekolah seperti biasa. Di cermin, aku masih Nazwa yang cantik, siswi berprestasi yang tampak tak tersentuh. Namun, di balik seragam putih abu-abu ini, ada sesuatu yang telah berubah. Pandanganku terhadap laki-laki kini terasa lebih tajam, lebih skeptis.
1406Please respect copyright.PENANAobn8KTfYXc
Sepanjang pelajaran matematika pikiranku tidak benar-benar ada di dalam kelas. Aku duduk di barisan belakang, menopang dagu sambil memperhatikan punggung teman-teman kelasku. Rafi, si jenius itu, berkali-kali menoleh ke arahku, mencoba mencari celah untuk memulai percakapan tentang tugas kelompok.
Biasanya, aku merasa risih. Tapi sekarang, aku hanya merasa mereka semua... dangkal.
Mereka berebut perhatianku dengan cara yang sangat klise. Bunga, cokelat, puisi, atau pamer prestasi. Sementara itu, di rumah, ada seorang pria dewasa yang bergelut dengan obsesi terlarang terhadap adiknya sendiri sampai tangannya gemetar di balik pintu kamar mandi. Kontras itu membuat dunia sekolah ini terasa seperti taman kanak-kanak.
Begitu bel pulang sekolah berdering, aku tidak membuang waktu. Aku melewati Jaka yang mencoba mencegatku di parkiran dengan lambaian tangan singkat yang dingin, lalu memacu motor matic-ku menembus kemacetan pinggiran Jakarta. Pikiranku sudah melesat jauh ke rumah, ke lantai dua, ke sebuah pintu kamar yang menyimpan rahasia aromatik pandan yang memabukkan semalam.
Aku sampai di rumah saat matahari mulai turun, menciptakan bayangan panjang yang meliuk di ruang tamu. Rumah sepi, namun aku bisa mendengar suara denting piring dari arah dapur. Kak Azriel sedang di sana.
Aku tidak langsung menyapanya. Aku naik ke kamarku, melempar tas sekolah ke atas tempat tidur, dan mengganti seragamku. Kali ini, aku memilih pakaian yang sengaja "berbahaya". Sebuah daster rumahan berbahan satin tipis berwarna merah marun dengan potongan bahu terbuka. Bahannya sangat jatuh, mengikuti lekuk tubuh, dan yang paling penting: aku sengaja tidak mengenakan pakaian dalam di baliknya.
Aku membiarkan rambut hitamku terurai berantakan, lalu melangkah turun dengan kaki telanjang. Suara tapak kakiku sengaja kubuat seringan mungkin.
Di dapur, Kak Azriel sedang membelakangiku, berdiri di depan wastafel sambil mencuci gelas. Dia memakai kaos oblong abu-abu yang basah di bagian punggung karena keringat, memperlihatkan betapa lebarnya bahu pria yang hobi mengurung diri ini.
"Kak," panggilku dengan nada manja yang sedikit serak.
Dia tersentak. Gelas di tangannya hampir tergelincir, dentingnya beradu tajam dengan keramik wastafel. Dia menoleh perlahan, dan aku bisa melihat jakunnya naik-turun dengan cepat saat matanya menyapu penampilanku.
"N-Nazwa? Baru pulang?" suaranya pecah, tidak stabil.
Aku melangkah mendekat, masuk ke dalam ruang pribadinya di dapur yang sempit. Aku bersandar pada konter dapur, tepat di sampingnya, hingga aroma sabun cuci piring bercampur dengan wangi parfum vanilla yang kupakai sengaja di titik-titik nadiku.
"Iya, haus banget. Kakak lagi ngapain?" tanyaku sambil sedikit mencondongkan tubuh ke depan untuk mengambil gelas di rak atas.
Gerakan itu membuat kain satin tipis yang kupakai tertarik, menonjolkan bentuk tubuhku dengan sangat jelas di depan matanya. Aku bisa merasakan tatapan Kak Azriel terpaku pada area dadaku selama beberapa detik yang terasa sangat panjang, sebelum ia buru-buru membuang muka ke arah cucian piring dengan wajah yang mendadak merah padam hingga ke telinga.
"T-tadi... tadi Kakak cuma cuci gelas. Kamu mau minum apa? Biar Kakak ambilkan," katanya terbata-bata. Tangannya yang memegang spons cuci piring gemetar hebat, menciptakan busa yang meluap-luap tak karuan.
Aku terkekeh kecil, sebuah tawa yang merdu namun penuh provokasi. Aku sengaja menggeser posisiku hingga lenganku yang polos bersentuhan tipis dengan lengan kaosnya. Kulitnya terasa panas, jauh lebih panas dari suhu ruangan.
"Gak usah, Kak. Aku bisa sendiri," bisikku tepat di dekat telinganya. "Oia, Kak... semalam Kakak masuk kamarku ya? Soalnya ada bau aneh di lantai dekat kamar mandi. Kayak bau pandan gitu. Kakak naruh pengharum ruangan ya?"
Mendengar kata "pandan", Kak Azriel membeku total. Spons di tangannya jatuh ke dalam air wastafel dengan bunyi plung yang pelan. Dia tidak berani menoleh sedikit pun. Napasnya mulai terdengar berat dan tidak beraturan, persis seperti suara yang kudengar di balik pintu kamarnya semalam.
"N-nggak... Kakak gak tahu. Mungkin... mungkin Ibu naruh sesuatu sebelum pergi," jawabnya bohong, dan aku tahu dia sedang mati-matian menahan debar jantungnya yang mungkin saja bisa kudengar dari jarak sedekat ini.
Aku tersenyum penuh kemenangan di balik punggungnya. Pria setinggi 180 cm ini tampak begitu rapuh di bawah kendaliku. "Oh, kirain Kakak. Habisnya baunya awet banget sampai pagi tadi."
Aku berbalik pergi, membiarkannya mematung di depan wastafel dengan perasaan campur aduk antara gairah dan ketakutan tertangkap basah. Aku tahu, malam ini, dia tidak akan bisa fokus pada barisan kodenya lagi.
1406Please respect copyright.PENANAW3KWKCe7x0
Aku memutuskan untuk tidak menunggu sampai makan malam. Aku ingin melihat sejauh mana "benteng" pertahanan Kak Azriel bisa bertahan sebelum akhirnya runtuh.
Aku kembali ke lantai atas, melangkah dengan sengaja agar suara tapak kakiku terdengar jelas melewati depan kamar Kak Azriel. Begitu sampai di kamarku, aku tidak menutup pintu kayu itu rapat-rapat. Aku membiarkannya terbuka lebar, menciptakan sudut pandang yang sangat jelas dari lorong menuju tempat tidurku.
Aku merebahkan diri di atas sprei satin yang dingin. Aku sengaja mengambil posisi menyamping, membelakangi pintu namun dengan kaki yang tertekuk sedikit, sehingga daster marun tipis itu tersingkap hingga ke paha atas. Aku menyalakan lampu meja yang temaram, memberikan efek pencahayaan yang lembut namun menonjolkan setiap lekuk tubuh di balik kain yang licin itu.
Aku berpura-pura asyik dengan ponselku, menggulir layar tanpa benar-benar membaca apa pun. Telingaku menajam, menangkap setiap suara sekecil apa pun dari luar.
Lima menit berlalu dalam keheningan yang menyesakkan. Lalu, aku mendengarnya.
Suara langkah kaki yang sangat pelan, hampir ragu-ragu, mendekat dari arah tangga. Langkah itu berhenti tepat di depan pintuku yang terbuka. Aku bisa merasakan kehadiran seseorang di sana. Udara di kamar mendadak terasa lebih berat, dipenuhi oleh ketegangan yang kasat mata.
Aku tidak menoleh. Aku justru sengaja menggeliat sedikit, membiarkan rambutku jatuh menutupi sebagian wajahku dan membiarkan daster satin itu bergeser lebih naik lagi. Aku tahu dia sedang berdiri di sana, di kegelapan lorong, menatapku yang tampak "lengah" di atas tempat tidur.
Hening. Hanya ada suara detak jam dinding dan napas yang mulai terdengar berat dari arah pintu.
"Naz...?" bisiknya lirih, hampir seperti embusan angin. Suaranya pecah, penuh dengan keraguan yang menyakitkan sekaligus gairah yang tertahan.
Aku tetap diam, berpura-pura tertidur atau setidaknya tidak mendengar panggilannya. Aku ingin tahu apakah dia akan masuk. Aku ingin tahu apakah dia akan mengulangi kejadian di kamar mandi kemarin, tapi kali ini dengan jarak yang jauh lebih dekat.
Tiba-tiba, aku mendengar suara kain yang bergesekan—suara yang sangat spesifik dari tangan yang merogoh ke dalam saku celana atau sedang menyentuh sesuatu di balik kain kaosnya. Jantungku berdegup kencang, kali ini bukan karena takut, tapi karena sensasi kekuasaan yang aneh. Di sekolah, cowok-cowok berebut perhatianku dengan cara yang konyol, tapi di sini, aku sedang memegang kendali penuh atas kewarasan seorang pria dewasa yang merupakan kakakku sendiri.
"Nazwa..." panggilnya lagi, kali ini sedikit lebih tegas namun tetap gemetar.
Aku perlahan membalikkan tubuhku, menatap langsung ke arah pintu dengan mata yang sayu, seolah-olah baru saja terbangun dari lamunan panjang. Sosok Kak Azriel berdiri tegak di ambang pintu, tangannya satu bersandar pada kusen kayu, sementara tangan satunya lagi tersembunyi di balik bayangan tubuhnya. Wajahnya yang tampan tampak sangat tersiksa dalam keremangan cahaya lampu meja.
"Eh, Kak? Ada apa?" tanyaku lembut, sambil duduk perlahan yang membuat daster satinku jatuh mengikuti gravitasi, menonjolkan area leher dan dadaku.
Dia menelan ludah dengan susah payah. Matanya tidak bisa berbohong—ia menatapku dengan tatapan lapar yang selama ini ia sembunyikan di balik barisan kode komputernya. "Itu... makan malam sudah siap di bawah. Kakak... Kakak cuma mau bilang itu."
Tapi dia tidak beranjak pergi. Kakinya seolah terpaku di lantai kamarku.
1406Please respect copyright.PENANAsc4NeW0BJY
Makan malam itu berlangsung jauh lebih tenang dari yang kubayangkan. Suasana kaku yang biasanya menyelimuti meja makan perlahan mencair seiring denting sendok yang beradu dengan piring porselen. Aku memperhatikan Kak Azriel dari balik gelas es tehku; dia tampak lebih rileks, seolah-olah "pelepasan" yang ia lakukan secara sembunyi-sembunyi tadi sore telah membuang sebagian besar beban di pundaknya.
Dia bahkan mulai bisa menanggapi ceritaku tentang sekolah tanpa harus gagap setiap dua kata. Ternyata, jika berada dalam ruang lingkup yang ia anggap "aman", sisi komunikatifnya mulai muncul.
"Jadi, ujian praktik informatika kamu minggu depan ya?" tanya Azriel sambil menyuap nasi gorengnya. Matanya sempat bertemu dengan mataku selama dua detik penuh sebelum ia beralih ke arah lain—sebuah kemajuan besar dibandingkan biasanya yang selalu menunduk dalam.
"Iya, Kak. Nanti kalau aku bingung soal database, aku tanya Kakak ya?" jawabku dengan nada semanis mungkin.
Aku menatapnya lamat-lamat. Kak Azriel sebenarnya punya potensi besar. Wajahnya yang tampan dengan rahang tegas itu adalah modal utama, hanya saja "mesin" sosialnya karatan karena jarang dipakai. Sebuah ide liar mulai muncul di kepalaku. Jika dia bisa bersikap senormal ini di depanku setelah apa yang terjadi tadi sore, berarti rasa gugupnya bukanlah penyakit permanen. Itu hanya hambatan mental yang perlu didobrak.
Aku teringat tawaranku untuk latihan presentasi. Aku segera ke kamarnya dan mendorong pintu masuk. Pemandangannya sama persis seperti kemarin — dua monitor menyala, gelas kopi dingin, lampu utama mati. Kalau bukan karena bajunya berbeda, aku hampir tidak yakin dia bergerak sama sekali sejak semalam.
"Kak, masih inget kan kita mau latihan presentasi hari ini?"
Jeda panjang. Jarinya tidak berhenti mengetik.
"Bentar lagi ada bug yang harus dibereskan."
Aku mengangguk, meletakkan jus jeruk di sudut mejanya, lalu duduk di kursi lipat favoritku. "Oke. Aku tunggu."
Empat puluh menit kemudian, bug itu rupanya belum selesai juga.
Atau mungkin sudah selesai. Aku tidak benar-benar bisa membedakan mana baris kode yang bermasalah dan mana yang tidak. Yang aku tahu, jus jeruknya sudah aku minum setengah karena bosan, dan Kak Azriel belum sekalipun menoleh ke arahku.
"Kak."
"Sebentar."
"Kakak bilang bentar dari tadi."
"Ini lagi kritis."
Aku menyipitkan mata. "Semua bug-nya selalu kritis."
Tidak ada jawaban. Hanya suara keyboard yang semakin cepat, seolah kecepatan mengetik bisa menghalau topik yang tidak ingin dihadapi.
Aku memutuskan untuk tidak pergi.
Kak Azriel akhirnya menegakkan punggungnya, meregangkan leher ke kanan dan ke kiri hingga berbunyi, lalu meraih gelas kopinya — yang sudah jelas-jelas dingin sejak tadi siang — dan meminumnya dengan ekspresi datar tanpa mengeluh.
"Kak," panggilku sebelum dia sempat membuka tab baru.
"Lapar? Bentar aku pesanin—"
"Bukan." Aku menutup laptopku yang sejak tadi aku gunakan untuk mengerjakan soal. "Latihan presentasi."
Ekspresi di wajahnya berubah halus. Tidak dramatis, tidak kentara juga, tapi aku sudah cukup lama mengenali wajah itu untuk menangkap pergeseran kecil di sudut matanya.
"Eh, sebenernya..." Dia menggosok tengkuknya. "Kayaknya materinya masih perlu dirapiin dulu deh. Slidenya belum final."
Aku menoleh ke monitor. Slide presentasinya masih terbuka persis seperti tadi pagi. Dua puluh tiga slide. Rapi. Lengkap. Bahkan ada transisi animasi yang tidak berlebihan.
"Yang mana yang belum final, Kak?"
"Yang... slide enam. Data grafiknya mau aku update."
"Grafik yang mana?"
Dia mengklik slide enam. Sebuah grafik batang yang bersih dan jelas terpampang di layar. Perbandingan efisiensi sistem lama versus sistem barunya. Angkanya sudah ada. Labelnya sudah ada. Bahkan warnanya sudah disesuaikan dengan palet yang konsisten.
Aku menatap grafiknya. Lalu menatap Kak Azriel.
Dia menatap grafiknya juga, dengan ekspresi orang yang baru menyadari bahwa alasannya tidak sekuat yang dia kira.
"Keliatan bagus, Kak," kataku pelan.
"...Tapi font-nya."
"Font-nya?"
"aku mau ganti. Terlalu formal."
Aku menghela napas panjang, membiarkannya menggantung di udara kamar yang remang itu cukup lama agar maknanya tersampaikan dengan sempurna.
"Oke," kataku akhirnya, bangkit berdiri. "aku di bawah ya. Kalau Kakak udah siap, bilang."
Dia tidak bilang apa-apa sampai malam. Dan selama itu aku tidak melihat dia bersikap sebagai seorang kakak yang mengintip adiknya. Kakak yang onani sambil membayangkan adiknya.
Hari berikutnya, aku mencoba lagi untuk mengajak dia latihan untuk bantu dia membangkitkan percaya diri agar berani tampil melakukan presentasi.
Kali ini dengan pendekatan berbeda. Aku tidak menunggu di kamarnya. Aku menunggu di meja makan, sudah menyiapkan dua piring nasi dengan lauk yang aku beli dari warteg sebelah, dan ketika Kak Azriel turun untuk pertama kalinya sejak pagi — rambutnya berantakan, ada bekas bantal di pipinya yang berarti dia sempat tidur sebentar — aku menyambut dengan senyum paling kasual yang aku punya.
"Makan dulu, baru latihan ya, Kak."
Dia duduk. Mengambil sendok. Makan beberapa suap. Lalu, tanpa mengangkat wajah dari piringnya, berkata:
"Sebenernya... presentasi itu kan bisa diganti format. Via email juga bisa. aku mau coba negosiasi sama kliennya."
Aku meletakkan sendokku.
"Kak."
"Lebih efisien, kan? Mereka bisa baca berulang kali, nggak perlu buang waktu buat—"
"Kak Azriel."
Dia berhenti. Akhirnya mendongak. Matanya bertemu mataku, lalu cepat turun kembali ke piring.
"Kita sama-sama tau negosiasi itu bukan solusinya," kataku, memilih kata-kata dengan hati-hati seperti memilih pijakan di atas batu yang licin. "Kliennya minta tatap muka pasti ada alasannya. Mereka mau lihat orangnya langsung. Mau tau siapa yang akan megang sistem mereka."
Keheningan.
"aku bisa kirim portofolio—"
"Portofolio nggak bisa jawab pertanyaan spontan mereka, Kak."
Sudut bibirnya turun sedikit. Aku melihatnya. Dia tahu aku melihatnya.
Beberapa detik berlalu. Di luar, suara motor lewat, kemudian sunyi lagi.
"Aku emang nggak bisa, Naz." Suaranya keluar pelan, hampir terlalu pelan. Bukan defensif kali ini. Hanya... lelah. Jujur dengan cara yang jarang sekali aku dengar dari dia. "Bukan males. Bukan nggak mau. Tapi aku beneran nggak bisa. Tiap kali harus ngomong depan orang yang aku nggak kenal, semuanya berantakan. Tangan gemetar, kepala kosong. Pernah waktu sidang praktikum, aku lupa nama variabel yang aku tulis sendiri."
Aku tidak langsung menjawab. Karena ini bukan lagi soal alasan. Ini sudah menjadi pengakuan. Pengakuan yang membuat aku berpikir bahwa mungkin cara aneh yang muncuk di kapalaku itu bisa membuat dia berubah lebih percaya diri.
1406Please respect copyright.PENANAgnsyb5nXvu
Bersambung
ns216.73.217.19da2


