Chapter 1. Kak Azriel yang introvert
Sore ini aku masih berdiri terpaku di depan cermin. Handuk putih melilit tubuhku yang masih basah, sementara sisa-sisa air dari rambut hitam panjangku jatuh berirama, menciptakan pola titik-titik gelap di atas lantai keramik yang dingin. Dengan telapak tangan, aku menyeka kabut tipis yang menghalangi pandangan, membiarkan pantulan wajahku perlahan muncul ke permukaan.
Aku tersenyum tipis. Kulitku tampak cerah, pipiku merona alami karena siraman air hangat, dan senyumku... ya, senyum itu yang selalu membuat teman-teman di sekolah memberikan julukan "glowing" tanpa henti. Namun malam ini, ada yang terasa ganjil. Senyum itu tidak mencapai mataku. Ada sesuatu yang mengganjal di dada, sebuah kecemasan yang mendesak untuk dikeluarkan.
"Kak Azriel lagi di kamarnya ya?" gumamku pelan, suaraku nyaris tertelan oleh suara tetesan air di bak mandi.
Rumah kami di pinggiran Jakarta ini memang mungil, hanya bangunan dua lantai yang sederhana, namun biasanya terasa hangat dan nyaman. Sayangnya, kehangatan itu mulai memudar seiring frekuensi kepergian orang tua kami. Ayah sering tertahan di Surabaya untuk urusan proyek, sementara Ibu bolak-balik ke Bandung demi urusan supplier. Kadang mereka pergi dua minggu, bahkan sebulan penuh. Alhasil, rumah ini hanya menjadi saksi bisu keseharian aku dan Kak Azriel yang tinggal berdua.
Dia kini berusia 22 tahun, sedang bergelut dengan skripsi di semester akhir teknik informatika sambil menyambi kerja freelance sebagai programmer. Sedangkan aku, gadis 18 tahun yang masih terjebak dalam hiruk pikuk ujian akhir kelas 12 dan rentetan agenda OSIS yang melelahkan. Aku menyayangi kakakku melebihi apa pun. Sungguh. Tapi akhir-akhir ini, ada tembok tak kasat mata yang ia bangun. Dia semakin tertutup, seolah sedang menyembunyikan diri dari dunia.
Pagi tadi, pemandangan itu terulang lagi. Aku melihatnya duduk di meja makan dengan bahu yang merosot lesu. Matanya tertunduk lesu menatap piring nasi goreng yang sudah mendingin, seolah tidak ada selera untuk menyentuhnya. Rambutnya yang acak-acakan dan kaos hitam longgar yang ia kenakan membuat postur tubuhnya yang setinggi 180 cm itu justru terlihat ringkih, seolah ia ingin mengecil dan menghilang ke dalam bayang-bayang.
Padahal, Kak Azriel punya wajah yang bisa membuat banyak gadis menoleh. Hidungnya mancung, rahangnya tegas, dan mata cokelatnya biasanya memancarkan kecerdasan tajam saat ia sedang berhadapan dengan barisan kode di layar monitor. Tapi begitu ada perempuan yang mendekat? Dia langsung "salting" parah. Wajahnya akan memerah padam sekejap, tangannya mulai gemetar tanpa kendali, dan suaranya mendadak hilang entah ke mana.
Aku menghela napas panjang, membiarkan bahuku ikut merosot melihat bayanganku sendiri di cermin yang mulai kembali mengabut. "Gimana ya caranya bantu kakak biar dia bisa percaya diri," bisikku pada diri sendiri, penuh tekad yang masih mencari jalan keluar.
2587Please respect copyright.PENANAbyiRKYnZAI
Ide ini sudah berputar di kepalaku selama dua bulan terakhir, menjadi sebuah rencana yang perlahan matang di balik kesibukan sekolah. Kak Azriel itu seperti teka-teki yang terkunci rapat. Dia hampir tidak pernah membawa teman perempuan ke rumah. Lingkaran sosialnya sangat sempit, hanya ada dua teman laki-laki yang hobinya mengurung diri dan bermain Dota sampai subuh tiba. Aku sering menangkap basah tatapannya yang diam-diam mencuri pandang ke arahku dan teman-temanku saat kami baru pulang sekolah, namun ia selalu punya seribu cara untuk berpura-pura sibuk di depan laptop begitu aku menoleh.
Aku melangkah turun ke lantai bawah, hanya mengenakan tank top putih tipis dan celana pendek rumahan yang nyaman. Suasana rumah terasa begitu sunyi, menyisakan suara dengung AC di ruang tamu yang beradu dengan bunyi ketikan keyboard yang ritmis dari arah kamar Kak Azriel di lantai atas.
"Kak!" panggilku sedikit lantang sambil mulai menaiki anak tangga satu demi satu. "Makan malam sudah aku pesankan. Ayam geprek sama es teh kesukaan Kakak."
Keheningan menyambut panggilanku. Tidak ada jawaban sama sekali. Karena penasaran, aku mendorong pintu kamarnya yang ternyata tidak terkunci, membiarkan celah cahaya dari lorong masuk ke dalam ruangannya yang remang-remang.
Dia duduk membelakangi pintu, terpaku di depan monitor yang menyala terang dengan barisan kode pemrograman yang rumit. Earphone besar menempel di telinganya, mengisolasi dia dari dunia luar. Aku melangkah mendekat, lalu menyentuh bahunya dengan lembut untuk menarik perhatiannya.
"Kak."
Kak Azriel tersentak hebat, seolah baru saja disambar petir di siang bolong. Earphone miliknya terjatuh ke atas meja. Wajahnya seketika berubah merah padam begitu menyadari kehadiranku yang berdiri tepat di sampingnya. Mungkin karena penampilanku yang agak berantakan, tank top putihku sedikit basah karena tetesan air dari rambut yang belum kering sempurna, hingga kainnya menempel tipis di dadaku.
"N-Nazwa… ngagetin aja?" suaranya terbata, matanya berkedip cepat seolah bingung harus melihat ke arah mana.
Aku menyunggingkan senyum manis yang paling tulus. "Habisnya Kakak belum makan dari siang, kan? Ayo turun, keburu ayamnya dingin."
2587Please respect copyright.PENANAIW9qDQQewE
***
2587Please respect copyright.PENANA1ffbQBqooK
Kantin SMA Harapan Bangsa saat jam istirahat kedua adalah definisi dari kekacauan yang terorganisir. Bau soto ayam bercampur dengan aroma keringat dari lapangan basket, dan suara riuh rendah ratusan siswa memenuhi udara yang pengap. Aku duduk di meja pojok favoritku, mencoba fokus pada semangkuk bakso urat dan buku latihan soal matematika namun ketenangan itu tidak bertahan lama.
Semuanya bermula ketika Jaka, si kapten basket, melangkah masuk dengan gaya angkuh yang biasa. Dia tidak sendirian, diikuti oleh "pasukan" setianya yang membawa nampan berisi minuman kaleng. Dia langsung menuju mejaku, menaruh bola basketnya di atas meja dengan bunyi dentum yang cukup keras hingga beberapa kuah baksoku menciprat ke pinggir mangkuk.
"Naz, sore ini ada pertandingan persahabatan. Gue udah pesenin kursi paling depan buat lo. Lo harus dateng, soalnya gue bakal dedikasiin three-point pertama gue buat lo," katanya dengan suara bariton yang sengaja dikeraskan, seolah ingin memastikan seluruh penghuni kantin mendengarnya.
Belum sempat aku membuka mulut untuk menolak secara halus, tiba-tiba Arvin—si anak teater yang biasanya kalem—muncul dari arah belakang dengan buku sketsa di tangannya. Wajahnya yang pucat tampak sedikit mengeras melihat Jaka yang mendominasi ruang gerakku.
"Jaka, lo nggak lihat Nazwa lagi makan? Jangan diganggu dong." sindir Arvin dengan nada dingin yang menusuk. Dia kemudian beralih menatapku, matanya yang melankolis mencoba mencari simpati. "Naz, gue lebih pengen lo dateng ke aula sore ini. Gue mau latihan monolog terakhir sebelum pementasan, dan gue butuh opini kritis lo."
Jaka mendengus remeh, berdiri tegak hingga perbedaan tinggi badannya dengan Arvin terlihat sangat kontras. "Opini kritis? Katanya jangan diganggu. Nyatanya lo ganggu Nazwa dengen tawaran lo yang aneh, Vin, emang dia mau dengerin lo ngomong sendiri di atas panggung gelap. Minggir deh."
"Siapa yang lo suruh minggir?" Arvin tidak gentar, dia melangkah maju hingga mereka kini berdiri berhadapan, hanya terpisah jarak beberapa sentimeter.
Suasana kantin yang tadinya berisik mendadak sunyi senyap. Semua mata tertuju pada meja pojok itu. Teman-teman Jaka mulai berdiri, sementara beberapa anggota klub teater juga mulai berkumpul di belakang Arvin. Ketegangan meningkat drastis, seperti kabel listrik yang hampir putus.
Lalu, seolah drama ini belum cukup lengkap, Rafi—si juara olimpiade matematika yang biasanya paling anti keributan—ikut menimpali dari meja sebelah tanpa menoleh. "Secara statistik, probabilitas Nazwa mau dateng ke acara kalian berdua itu di bawah sepuluh persen. Dia lebih butuh bantuan buat bahas soal try out minggu depan. Jadi, mending kalian berdua berhenti buang-buang energi kinetik yang nggak berguna ini."
Jaka dan Arvin serempak menoleh ke arah Rafi. "Lo diem aja deh, kutu buku!" bentak mereka hampir bersamaan.
Aku meletakkan sendok dan garpuku dengan bunyi denting yang tajam di atas piring, menciptakan efek dramatis yang cukup untuk membuat mereka bertiga terdiam dan menoleh ke arahku. Aku berdiri perlahan, merapikan buku sosiologiku yang sedikit terkena uap panas bakso, lalu menyampirkan tas di bahu.
"Udah?" tanyaku datar, menatap mereka satu per satu dengan tatapan yang benar-benar kosong dari rasa kagum.
"Naz..." Jaka mencoba meraih lenganku, tapi aku menghindar dengan gerakan halus.
"Jaka, gue gak suka basket. Arvin, monolog lo itu terlalu depresif buat sore yang panas begini. Dan Rafi, perhitungan lo benar, probabilitas gue buat bertahan di sini adalah nol persen."
Aku melangkah melewati mereka, membiarkan mereka bertiga terpaku di tengah kantin yang kini mulai dipenuhi bisik-bisik riuh para siswa lain. Aku bisa merasakan tatapan kesal, bingung, dan malu dari mereka yang tertinggal di belakang. Bagi mereka, ini adalah pertarungan harga diri. Bagiku? Ini hanya drama remaja yang sangat melelahkan dan sama sekali tidak membuat jantungku berdegup lebih kencang.
Saat aku berjalan menuju pintu keluar kantin, aku hanya memikirkan satu hal: Apa Kak Azriel sudah makan siang atau dia masih bersembunyi di bawah selimutnya?
***
2587Please respect copyright.PENANA2uPj0Wu4mB
Pulang sekolah dengan kepala yang penuh adalah hal yang sudah biasa bagiku. Tapi sore ini, langkah kakiku terasa lebih berat dari biasanya. Bukan karena drama kantin tadi yang masih menjadi bahan bisik-bisik di koridor. Bukan juga karena buku latihan soal sosiologi yang belum separuhnya selesai. Tapi karena satu kalimat pendek yang tidak sengaja aku dengar pagi tadi, tepat sebelum aku turun ke dapur.
Suara Kak Azriel dari balik pintu kamarnya yang terbuka sedikit.
"Kenapa harus gue yang presentasi? Kirim aja filenya."
Lalu suara di seberang telepon — aku tidak bisa mendengarnya jelas — sepertinya menjawab sesuatu yang membuat kakakku terdiam cukup lama.
"Gue... gue nggak bisa. Lo tau sendiri kan gue kayak gimana kalau depan orang banyak."
Aku tidak jadi turun waktu itu. Aku berdiri mematung di lorong gelap, punggungku menempel di dinding, dan hatiku mengerut pelan.
2587Please respect copyright.PENANAo5CUPwVMbg
Rumah menyambutku dengan sunyi yang sudah akrab. Aku melempar tas ke sofa, melepas sepatu, lalu berdiri sejenak di tengah ruang tamu sambil mendengarkan. Suara keyboard dari lantai atas. Teratur. Ritmis. Seperti detak jantung rumah ini.
Aku naik ke atas, tapi kali ini aku tidak langsung mengetuk pintunya. Aku berdiri di depannya beberapa detik, menimbang kata-kata.
Aku mengetuk dua kali. Pelan.
"Kak. Boleh masuk?"
Jeda sebentar. "...Boleh."
Kamarnya masih sama seperti kemarin dan kemarin-kemarin sebelumnya. Dua monitor menyala dengan jendela-jendela kode yang aku bahkan tidak tahu cara membacanya. Gelas kopi di sudut meja sudah pasti sudah dingin sejak tadi siang. Lampu utama mati, hanya mengandalkan cahaya biru dari layar dan satu lampu meja kecil yang kuning remang.
Kak Azriel menoleh sebentar, lalu matanya kembali ke layar. "Ada apa?"
"Nggak ada apa-apa." Aku menarik kursi lipat yang biasanya tergeletak di sudut kamarnya — kursi yang sepertinya memang sudah ditakdirkan untuk aku duduki setiap kali berkunjung ke sini — dan duduk di sampingnya. "Boleh di sini nggak? Di bawah sepi."
Dia tidak menjawab. Tapi juga tidak mengusirku. Aku anggap itu sebagai iya.
Beberapa menit berlalu dalam diam. Aku membuka buku latihan soalku, pura-pura membaca, padahal lebih banyak mencuri pandang ke arah layarnya. Ada sesuatu yang berbeda dari biasanya. Kode-kode itu masih terbuka, tapi kursor-nya tidak bergerak. Tangannya bertumpu di meja, jarinya mengetuk-ngetuk ritme yang tidak beraturan.
"Kak lagi ada masalah?" tanyaku akhirnya, berusaha terdengar santai.
"Nggak."
Satu kata. Pendek. Berdinding tinggi.
Aku menghela napas pelan, mengalihkan pandangan ke halaman buku yang sudah aku tatap tanpa membaca selama lima menit terakhir. Oke. Jangan dipaksa.
Tapi kemudian, tanpa diduga, dia yang bicara duluan.
"Ada proyek freelance yang minta kakak presentasi langsung ke kliennya minggu depan." Suaranya datar, tapi ada sesuatu yang retak di pinggirannya. "Di kantornya. Tatap muka."
Aku mendongak. Dia masih menatap layarnya. Rahangnya sedikit mengeras.
"Terus?" tanyaku hati-hati.
"Terus... nggak ada apa-apa. Tinggal dikerjain." Dia menggeser mouse-nya, seolah percakapan ini sudah selesai.
Tapi aku tahu itu bukan nggak ada apa-apa. Aku mengenalnya terlalu lama untuk percaya pada jawaban itu.
"Kakak takut?" tanyaku langsung.
Keheningan.
Jari-jarinya berhenti mengetuk.
"Bukan takut," katanya akhirnya, pelan. "Lebih ke... kakak tau diri kakak bakal berantakan. Tangan gemetar. Lupa ngomong apa. Kliennya pasti langsung kabur."
Aku menutup bukuku pelan. "Kak pernah nyoba latihan presentasi sebelumnya?"
Dia akhirnya menoleh. Ada ekspresi aneh di wajahnya — campuran antara defensif dan lelah. "Latihan sama siapa? Laptop gue?"
"Sama aku."
Kata itu keluar begitu saja, tanpa sempat aku pertimbangkan lebih panjang. Tapi begitu sudah terucap, aku tidak ingin menariknya kembali.
Kak Azriel menatapku. Matanya yang cokelat gelap itu — yang biasanya hanya hidup saat berhadapan dengan baris kode — kini memiliki ekspresi yang sulit aku baca. Sesuatu antara bingung, tidak percaya, dan sesuatu lagi yang lebih dalam yang aku tidak berani memberinya nama.
"Serius?" suaranya nyaris tidak terdengar.
"Emang muka aku keliatan bercanda?" balasku, tersenyum kecil.
Dia menatapku satu detik lebih lama dari yang biasanya, lalu cepat-cepat mengalihkan pandangan kembali ke layar. Telinganya memerah. Pelan, tapi aku melihatnya.
"...Nanti ganggu belajar kamu."
"Sosiologi bisa nunggu. Klien kakak nggak bisa."
Lagi-lagi hening. Tapi kali ini, kursor di layarnya bergerak. Dia membuka sebuah folder, lalu satu file presentasi terbuka di hadapan kami berdua.
"Ini materinya," katanya, suaranya kembali datar seperti biasa. Tapi ada sesuatu yang berbeda. Bahunya tidak lagi setegak tadi. "Kalau kamu mau liat dulu."
Aku mendekatkan kursi lipatku, membaca slide pertama. Nama proyeknya tertera di sana — sistem manajemen inventori untuk sebuah perusahaan tekstil kecil di Tangerang. Sederhana, tapi jelas dia sudah menuangkan banyak waktu ke dalamnya.
"Ini bagus, Kak," kataku jujur.
"Proyeknya doang yang bagus. Orangnya yang presentasiin nggak."
Aku menoleh ke arahnya. Dia masih menatap layar, tapi sudut bibirnya turun ke arah yang membuat dadaku sedikit nyeri.
Selama bertahun-tahun, aku melihat Kak Azriel sebagai sosok yang selalu bisa diandalkan. Diam-diam memperbaiki WiFi kalau mati, diam-diam menaruh sarapan di meja kalau aku bangun kesiangan, diam-diam mengurus rumah yang setengah kosong ini tanpa pernah mengeluh keras-keras. Dia tidak pernah meminta apa pun.
Tapi di balik semua itu, rupanya ada bagian dari dirinya yang tidak pernah dia perbaiki — bagian yang sudah lama dia anggap tidak bisa diperbaiki.
"Kak," panggilku pelan.
Dia menoleh.
"Kita mulai latihan besok ya. Sepulang sekolah." Aku berdiri, merapikan buku yang sejak tadi tidak benar-benar aku baca. "Dan tolong jangan bilang nggak usah atau nggak perlu repot-repot. Soalnya gue udah mutusin."
Ekspresi di wajahnya bergerak-gerak sebentar — sesuatu yang ingin keluar tapi tidak jadi. Akhirnya dia hanya mengangguk satu kali, kaku, seperti orang yang baru pertama kali belajar menyetujui sesuatu.
Aku berbalik menuju pintu, tapi kemudian berhenti. Ada satu hal lagi.
"Kak Azriel."
"Hm?"
"Tangan gemetar itu bisa diatih. Lupa ngomong itu bisa diantisipasi." Aku memegang kusen pintu, tidak menoleh. "Yang paling susah itu kalau orangnya dari awal udah nyerah duluan sebelum mulai."
Aku tidak menunggu responsnya. Aku turun ke bawah, menyalakan kompor, dan mencoba berkonsentrasi pada tugas merebus mie instan — hal termudah yang ada di dunia — sambil berusaha keras tidak memikirkan ekspresi di wajahnya ketika aku tadi bicara.
Tapi sepertinya mie ini akan matang terlalu lama malam ini.
Karena pikiranku masih ada di lantai atas.
2587Please respect copyright.PENANAKew4TATFRx
2587Please respect copyright.PENANAvsqNQCbwVc
Besok, batinku, mengaduk perlahan. Kita mulai besok.
Dan untuk pertama kalinya dalam dua bulan terakhir, rencana yang berputar di kepalaku itu akhirnya punya tanggal mulai.
2587Please respect copyright.PENANA7kVpjNO0wU
2587Please respect copyright.PENANAWatGDV0AjQ
***
Setelah ngobrol dengan kak Azriel aku memutuskan untuk mandi di kamar mandi dalam kamarku—keuntungan memiliki rumah dengan kamar mandi pribadi di setiap kamar adalah privasi yang mutlak. Karena merasa berada di wilayah kekuasaanku sendiri, aku hanya menutup pintu kamar mandi seadanya, membiarkannya sedikit terbuka tanpa terkunci rapat.
Uap air hangat mulai memenuhi ruangan, menciptakan suasana yang relaks. Namun, di tengah gemericik air yang jatuh menyentuh kulit, gerakanku mendadak terhenti.
Mataku terpaku pada dinding kamar mandi yang diterangi cahaya lampu kamar yang terang. Di sana, sebuah bayangan tinggi dan statis terpantul dengan jelas. Postur itu, tinggi badan yang menjulang itu... aku mengenalinya dengan sangat baik. Itu pasti bayangan Kak Azriel.
Duniaku seolah berhenti berputar sejenak. Kak Azriel masuk ke kamarku diam-diam? Jangan-jangan, dia sedang mengintipku?
Seharusnya aku berteriak. Seharusnya aku merasa terhina dan membentaknya dengan kalimat, "Kak! Kalau masuk kamar orang ketuk pintu dulu!" Tapi, lidahku mendadak kelu. Seluruh tubuhku membeku di bawah kucuran air, sementara jantungku mulai berdegup kencang dengan ritme yang tidak beraturan. Anehnya, alih-alih kemarahan yang meluap, ada sebuah sensasi hangat yang asing dan tak terdefinisi merayap perlahan di perutku, membuat bulu kudukku meremang bukan karena dingin.
Tanpa suara, aku memutuskan untuk tidak melakukan apa pun. Aku melanjutkan mandiku dengan gerakan yang sengaja diperlambat, seolah-olah aku sedang terjebak dalam sebuah adegan film yang berjalan dalam mode slow motion. Aku tidak menoleh, tidak juga memanggil namanya. Aku membiarkan ketegangan itu menggantung di udara yang lembab.
Apakah benar Kak Azriel mengintipku? Mengapa dia melakukannya? Dan yang lebih menggangguku adalah... mengapa aku tidak merasa marah seperti seharusnya seorang adik pada kakaknya?
2587Please respect copyright.PENANAnNmhpcnPfz
Bersambung
ns216.73.216.86da2


