Chapter 5. Hentikan berhalusinasi
1249Please respect copyright.PENANAFF5syPI4MX
Aku menatap Kak Azriel yang berdiri di ambang pintunya. Cahaya temaram lorong membuat bayangannya jatuh tinggi menimpaku, memberikan kesan dominan yang selama ini ia sembunyikan. Ada binar haus akan pengakuan di matanya—dia ingin lebih dari sekadar usapan bahu atau paha semalam.
1249Please respect copyright.PENANAEc0GSy35mm
"Naz..." suaranya rendah, bergetar karena rasa ingin tahu yang besar. "Ada... latihan selanjutnya? Untuk malam ini?"
1249Please respect copyright.PENANAwxoKhEA1w9
Aku menyunggingkan senyum tipis, senyum yang sengaja kubuat misterius sekaligus menjanjikan. Aku melangkah satu tindak mendekat, hingga ujung sepatuku bersentuhan dengan kakinya yang telanjang.
1249Please respect copyright.PENANAWTehZWOuOu
"Malam ini? Kurasa Kakak sudah cukup belajar untuk satu hari," bisikku sambil mendongak, menatap langsung ke manik matanya yang dalam. "Tapi kalau Kakak tanya soal latihan selanjutnya... tentu saja ada. Tapi ada syaratnya."
1249Please respect copyright.PENANABnR9g8FjqY
Aku meletakkan telapak tanganku di dadanya yang bidang, merasakan detak jantungnya yang kembali berpacu kencang karena kehadiranku. "Kakak harus buktikan kalau Kakak sudah jauh lebih baik dari 'Azriel yang dulu'. Kakak harus bisa menghadapi dunia nyata, bukan cuma aku."
1249Please respect copyright.PENANADlMFBHZaSQ
Kak Azriel mengernyitkan dahi, tampak bingung sekaligus penasaran. "Maksud kamu?"
1249Please respect copyright.PENANAzQSCwpJYrP
"Besok," kataku sambil menarik tanganku perlahan, memberikan jeda yang menyiksa. "Aku bakal bawa temanku ke rumah. Aku bakal kenalin dia sama Kakak. Aku mau lihat gimana cara Kakak bicara, gimana cara Kakak menatapnya, dan seberapa tenang Kakak di depan cewek asing."
1249Please respect copyright.PENANAZgstssZr8O
Aku melihat jakunnya bergerak naik-turun. Tantangan ini jelas jauh lebih berat daripada sekadar simulasi denganku. Menghadapi orang asing adalah ketakutan terbesarnya selama ini.
1249Please respect copyright.PENANA5UIpFMFCbg
"Kalau Kakak berhasil bikin dia terkesan... atau setidaknya nggak kelihatan kayak cowok aneh yang gagap..." Aku berjinjit, mendekatkan bibirku ke telinganya hingga aroma vanilla-ku menyatu dengan aroma maskulinnya. "Aku janji bakal kasih latihan lagi. Sesuatu yang jauh lebih seru... dan jauh lebih intim dari yang semalam."
1249Please respect copyright.PENANAxgPGoH8hEX
Aku bisa merasakan seluruh tubuhnya menegang. Janji itu seolah menjadi bahan bakar baru yang membakar keraguannya. Dia mengepalkan tangannya, sorot matanya berubah dari ragu menjadi penuh tekad.
1249Please respect copyright.PENANA9vC08p9r3V
"Oke," jawabnya mantap, suaranya tidak lagi bergetar. "Aku terima tantangannya. Bawa temanmu besok. Aku bakal tunjukin kalau aku bukan pecundang lagi."
1249Please respect copyright.PENANAUHj3r89Dge
Aku tertawa kecil, menepuk pipinya dengan lembut sebelum berbalik menuju kamarku sendiri. "Jangan bikin aku kecewa, Kak. Hadiahnya... sangat sepadan dengan usahamu."
1249Please respect copyright.PENANApseKoBNySH
Aku menutup pintu kamarku dan menguncinya, menyisakan Kak Azriel yang masih berdiri di lorong, terjebak di antara rasa gugup menghadapi besok dan imajinasi liar tentang "hadiah" yang kujanjikan. Permainan ini semakin berbahaya, tapi aku tidak sabar melihat seberapa jauh dia akan melangkah untuk memuaskan rasa penasarannya padaku.
1249Please respect copyright.PENANAemDr4oF6qg
Keesokan sorenya, aku melangkah masuk ke rumah bersama Sisil. Dia adalah teman sekelasku yang paling pendiam—tipe gadis yang selalu menunduk, bicaranya lembut hampir seperti bisikan, dan sangat mudah merasa canggung di depan lawan jenis. Sisil adalah instrumen sempurna untuk ujian Kak Azriel: dia butuh seseorang untuk memimpinnya, dan Kak Azriel harus menjadi pemimpin itu.
"Duduk dulu, Sil. Aku panggilin kakakku ya," kataku sambil tersenyum menenangkan pada Sisil yang tampak gelisah meremas ujung rok seragamnya di sofa ruang tamu.
Aku menaiki tangga dan mengetuk pintu kamar Kak Azriel. Tidak butuh waktu lama sampai pintu itu terbuka. Dia sudah siap. Kak Azriel mengenakan kemeja flanel yang rapi dengan lengan digulung hingga siku, rambutnya tertata, dan aroma parfumnya tercium maskulin namun tidak berlebihan.
"Ingat, Kak. Dia pemalu. Kalau Kakak diam, suasana bakal mati. Kakak yang harus pegang kendali," bisikku sambil memberikan kedipan penyemangat.
Kami turun bersama. Begitu sampai di ruang tamu, Sisil langsung berdiri, wajahnya sedikit memerah. "H-halo... Kak," gumamnya pelan, nyaris tak terdengar.
Aku melirik Kak Azriel. Sesaat, aku melihat keraguan lama itu muncul di matanya. Rahangnya mengeras. Tapi kemudian, dia menarik napas panjang—mungkin mengingat "janji" latihan intim yang kuberikan semalam.
"Halo, Sisil ya? Saya Azriel," katanya. Suaranya tidak bergetar. Dia mengulurkan tangan terlebih dahulu, sebuah langkah inisiatif yang membuatku batin bersorak. "Silakan duduk lagi. Jangan sungkan, anggap rumah sendiri."
Kami duduk melingkar. Suasana sempat hening sejenak karena Sisil hanya menunduk memainkan jari-jarinya. Kak Azriel menatapku sekilas, dan aku memberinya kode melalui tatapan mata: Ayo, pimpin dia.
"Nazwa bilang kamu satu kelompok tugas sama dia ya?" Kak Azriel memulai percakapan, matanya menatap Sisil dengan tenang, tidak lagi gelisah. "Tugas sosiologi tentang apa? Kayaknya seru sampai harus dikerjain sore-sore begini."
Sisil mendongak sedikit, terkejut karena diajak bicara duluan. "I-iya Kak... tentang perubahan sosial. Susah banget cari datanya."
"Oh, bagian statistiknya ya? Kalau butuh bantuan cari referensi jurnal, saya ada beberapa akses di laptop. Kebetulan saya suka baca topik itu," balas Kak Azriel dengan nada santai namun penuh wibawa.
Aku hanya duduk menyamping, memperhatikan dengan takjub. Kak Azriel benar-benar mengambil peran pemimpin. Dia bertanya tentang hobi Sisil, memberikan komentar cerdas yang membuat Sisil perlahan mulai berani tertawa kecil dan bercerita lebih banyak. Kepercayaan diri Kak Azriel meningkat pesat karena dia merasa "berkuasa" atas jalannya obrolan ini.
Sesekali, saat Sisil sedang asyik bercerita, Kak Azriel melirikku. Tatapannya seolah berkata, Lihat? Aku bisa melakukannya. Sekarang, mana janjimu?
Kilatan di matanya bukan lagi sekadar binar senang karena berhasil bicara, tapi ada rasa lapar akan hadiah yang kusulut semalam. Dia sedang menunjukkan padaku bahwa dia sudah siap untuk "latihan yang lebih seru".
Begitu Sisil pamit dan pintu depan tertutup rapat, suasana rumah yang tadinya formal mendadak berubah menjadi tegang. Kak Azriel tidak lagi duduk santai. Dia berdiri, lalu melangkah mendekatiku dengan tatapan yang sangat intens—tatapan seorang pria yang baru saja menyelesaikan ujian berat dan kini menuntut imbalannya.
Dia tidak bicara, hanya menatapku lurus, memberikan kesan dominan yang jauh lebih kuat dari sebelumnya.
"Evaluasi dulu, Kak," kataku sambil mundur selangkah, mencoba menjaga jarak meski jantungku berdegup kencang melihat keberaniannya. "Ayo ke kamarku."
Begitu kami berada di dalam kamarku yang tertutup, Kak Azriel langsung berdiri di depanku. "Aku sudah lakukan bagianku, Naz. Sisil nyaman, dia terkesan, dan aku memimpin pembicaraan. Sekarang... mana janjimu?"
Aku duduk di tepi tempat tidur, menatapnya dengan serius. "Sebelum kita mulai sesi yang 'lebih seru', aku punya syarat. Kakak harus jujur padaku."
Aku menarik napas panjang. "Jujur, Kak... apa Kakak masih sering mengintipku? Dan soal kemarin pagi di keranjang cucian... apa Kakak masih sering onani pakai celana dalamku?"
Pertanyaan itu membuat Kak Azriel tertegun. Rona merah sempat muncul di telinganya, tapi dia tidak membuang muka.
"Naz, aku—"
"Hentikan semua hal konyol itu, Kak," potongku tegas. "Ngintip, mencuri celana dalam, berhalusinasi sendiri... itu menyedihkan. Kalau Kakak mau jadi pria sejati, Kakak harus fokus untuk mendapatkan sesuatu yang nyata. Bukan cuma bayangan. Janji sama aku, Kakak bakal stop semua kebiasaan itu sekarang juga."
Keheningan menyelimuti kamar itu selama beberapa detik. Kak Azriel menatap tangannya, lalu kembali menatap mataku dengan tatapan yang lebih dalam.
"Aku janji, Naz," suaranya berat dan tulus. "Aku nggak mau terjebak di sana lagi. Aku mau yang nyata. Aku janji bakal stop semua itu."
Aku tersenyum puas. "Bagus. Karena kalau Kakak masih main di belakang, latihan ini nggak ada gunanya."
Aku berdiri, melangkah mendekat hingga dada kami nyaris bersentuhan. Aku meraih tangan kanannya, meletakkannya kembali di pinggangku, lalu menariknya sedikit agar dia mendekat. Aroma maskulinnya terasa begitu kuat sekarang.
"Sesuai janjiku... karena Kakak sudah jujur dan sudah berani menghadapi Sisil, sesi latihan kali ini bakal jauh lebih seru."
Aku berjinjit, berbisik tepat di bibirnya, "Skenario selanjutnya: Kita sedang berdua di tempat yang paling aman, dan cewekmu ini... baru saja bilang kalau dia sangat bangga sama kamu. Dan kali ini, Kakak nggak perlu menahan diri kalau aku nggak menepis tangan Kakak."
1249Please respect copyright.PENANA7tXu89gsUD
Aku menarik napas panjang, membiarkan keheningan kamar menyelimuti kami. Tanganku menuntun tangan Kak Azriel, kembali ke posisi awal di bahuku. Kulitnya terasa panas, dan kali ini, tidak ada keraguan yang tersisa di jemarinya.
"Mulai dari awal, Kak. Tenang, tapi pasti," bisikku.
Kak Azriel mulai mengusap bahuku, lalu perlahan tangannya meluncur turun ke lengan, dan mendarat di pahaku yang hanya tertutup celana pendek minim. Dia melakukan usapan yang lebih berani sekarang, bukan sekadar menyentuh, tapi memberikan remasan pelan yang posesif di paha mulusku. Sensasi itu membuat seluruh tubuhku berdesir hebat.
"Bagus... sekarang, jangan cuma diam di situ," gumamku serak.
Kak Azriel menarikku ke dalam pelukannya. Dada bidangnya menekan dadaku yang tanpa penyangga di balik kaos tipis ini. Pelukannya terasa sangat nyata, sangat maskulin. Dia kemudian memberanikan diri, mendekatkan wajahnya dan memberikan ciuman yang lebih berani di leherku, menghirup aromaku dalam-dalam seolah ia sedang mengklaim apa yang selama ini hanya ada dalam fantasinya.
Gairahku meledak. Aku bisa merasakan jantungku berdegup di kerongkongan. Aku meraih tangannya, menuntunnya naik dari pinggangku menuju dadaku. Aku membiarkan dia meremas dadaku, meski masih terhalang kain kaos putih yang tipis. Sentuhannya yang tegas membuat napas kami berdua menjadi satu, berat dan memburu.
"Cukup, Kak... stop," bisikku sambil memegang pergelangan tangannya, menepisnya dengan lembut namun penuh perjuangan karena aku sendiri hampir kehilangan kendali.
Aku melepaskan diri dari pelukannya, mundur satu langkah sambil merapikan kaosku yang sudah berantakan. Napasku tersengal-sengal, dan aku bisa melihat Kak Azriel berdiri mematung dengan tatapan yang sangat gelap, penuh dengan hasrat yang belum tuntas.
"Untuk malam ini... benar-benar cukup," kataku, mencoba menstabilkan suaraku yang gemetar.
Aku sudah sangat terangsang hebat. Kalau ini dilanjutkan, aku takut kami benar-benar akan kebablasan."
Aku menatapnya tajam, mencoba mengembalikan kewarasan di antara kami berdua. "Kakak sudah hebat malam ini. Kakak sudah membuktikan kalau Kakak bisa jadi pria yang nyata. Sekarang, kembali ke kamar Kakak. Simpan energi itu untuk besok."
Kak Azriel hanya diam sejenak, dadanya naik turun dengan cepat. Dia menelan ludah, lalu mengangguk pelan. Dia tahu batas yang aku tetapkan adalah benteng terakhir pertahanan kami.
"Tidur yang nyenyak, Naz," katanya parau sebelum berbalik dan keluar dari kamarku.
Begitu pintu tertutup dan terkunci, aku jatuh terduduk di tepi tempat tidur. Seluruh tubuhku masih gemetar. Aku baru saja menyadari bahwa "monster" yang aku ciptakan dan aku latih ini, ternyata jauh lebih kuat dan lebih menggoda daripada yang pernah aku bayangkan.
1249Please respect copyright.PENANAvQpI2lXQIv
Pagi ini, udara di sekolah terasa jauh lebih segar daripada udara pengap penuh ketegangan di rumah. Aku butuh oksigen. Aku butuh realitas yang tidak melibatkan hubungan darah atau rahasia di balik pintu kamar.
Sentuhan Kak Azriel semalam masih membekas di kulitku—rasa remasan di paha dan tekanan tangannya di dadaku membuatku terjaga hampir sepanjang malam. Aku menyadari satu hal yang menakutkan: aku mulai kecanduan pada "monster" yang kulatih sendiri. Jika aku tidak menarik rem sekarang, garis batas itu akan hancur lebur.
Begitu melihat Rian di parkiran motor, aku tidak membuang waktu. Aku berjalan mendekat dengan senyum yang paling cerah, bukan senyum penuh manipulasi seperti yang kuberikan pada Kak Azriel, tapi senyum seorang gadis yang ingin melarikan diri.
"Pagi, Rian! Masih ingat janji latihan band?" sapaku sambil menyampirkan tas di bahu.
Rian menoleh, matanya berbinar melihatku. "Nazwa! Gue kira lo bakal jaga jarak setelah semalam. Tentu saja ingat. Jadi, lo beneran mau mampir sore ini?"
"Gue butuh hiburan, Rian. Kayaknya dengerin lo main gitar jauh lebih baik daripada bengong di rumah," jawabku jujur.
Sepanjang hari di sekolah, aku sengaja menempel pada Rian. Kami makan siang bersama di kantin, mengobrol tentang hal-hal remeh, dan aku membiarkan dia sesekali merangkul bahuku di depan teman-temannya. Rasanya... aman. Rian adalah "pendingin" yang kubutuhkan. Bersamanya, hasratku terasa lebih normal, lebih terjaga, dan tidak seberbahaya saat aku berada di bawah tatapan lapar Kak Azriel.
Namun, di sela-sela tawa bersama Rian, ponselku bergetar. Sebuah pesan singkat dari Kak Azriel.
Kak Azriel: Naz, aku sudah siapkan makan siang untukmu di meja. Jangan lupa makan. Aku sedang memikirkan 'teori' baru untuk latihan kita nanti malam.
Aku menelan ludah, jariku gemetar saat membaca pesan itu. Dia benar-benar sudah masuk ke dalam perannya. Dia tidak lagi menunggu instruksiku; dia mulai berinisiatif menciptakan skenarionya sendiri.
"Ada masalah, Naz?" tanya Rian, memperhatikan perubahan wajahku.
Aku langsung mematikan layar ponsel dan menyimpannya dalam saku. "Nggak ada. Cuma urusan rumah. Jadi, jam berapa kita berangkat ke studio?"
Aku bertekad malam ini tidak akan pulang cepat. Aku akan menghabiskan waktu dengan Rian sebanyak mungkin, membiarkan dia membawaku ke dunianya yang bising dan penuh distorsi gitar, hanya agar aku bisa melupakan sejenak betapa panasnya sentuhan kakak kandungku sendiri semalam.
Studio musik itu berbau kayu tua, karpet peredam suara, dan sedikit aroma rokok elektrik. Begitu Rian menyandang gitar elektriknya dan menginjak pedal distorsi, sosoknya yang biasanya santai dan sopan mendadak berubah. Dia bukan lagi cowok pendiam yang menungguku di minimarket; dia adalah pusat gravitasi di ruangan ini.
Lampu studio yang remang kemerahan menyorot keringat di pelipisnya saat jemarinya menari lincah di atas senar, menciptakan melodi yang kasar namun sangat emosional. Aku duduk di sofa pojok, memerhatikannya dengan napas tertahan. Cara dia memejamkan mata saat melakukan solo gitar, otot lengannya yang menegang, dan ekspresi wajahnya yang begitu fokus benar-benar membuatku terpesona.
Ini adalah sisi maskulin yang berbeda. Bukan dominasi yang gelap dan tersembunyi seperti Kak Azriel, melainkan energi yang meledak-ledak dan bebas.
"Gimana, Naz? Terlalu berisik?" teriak Rian di sela-sela jeda lagu, sambil menyeka keringat dengan ujung kaosnya, memperlihatkan sedikit perutnya yang rata.
"Gak, Rian! Itu... keren banget," balasku jujur. Aku beranjak dari sofa dan mendekat ke arahnya.
Rian meletakkan gitarnya di penyangga, lalu menarikku duduk di bangku tinggi di sampingnya. Dia masih terengah-engah, aroma maskulin yang murni tanpa beban rahasia memenuhi indra penciumanku. Tanpa ragu, dia menggenggam tanganku.
"Lo tahu gak? Gue main sehebat tadi cuma karena ada lo di sini," bisiknya. Dia menatapku dengan binar kekaguman yang tulus. Dia perlahan mendekatkan wajahnya, dan kali ini aku tidak menghindar. Aku membiarkannya mencium pipiku dengan lembut, lalu turun ke sudut bibirku.
Sentuhan Rian terasa seperti air dingin yang membasuh api gelisahku. Bersamanya, aku merasa seperti remaja normal. Aku melupakan sejenak bayangan Kak Azriel di rumah, melupakan latihan-latihan intim yang menyesakkan, dan melupakan kerumitan moral yang menghantui kepalaku belakangan ini. Aku hanya ingin menjadi Nazwa yang sedang jatuh cinta pada seorang anak band.
"Mainin satu lagu lagi buat gue, Rian," pintaku sambil menyandarkan kepala di bahunya.
"Apapun buat lo, Naz," jawabnya manis.
Malam itu, studio menjadi tempat persembunyianku yang paling aman dari labirin perasaan yang kubangun sendiri di rumah. Aku merasa lebih tenang, lebih terkontrol, dan yakin bahwa Rian adalah jalan keluar yang kubutuhkan.
Aku melangkah masuk ke dalam rumah dengan sangat hati-hati, berusaha agar derit pintu pagar tidak memecah keheningan malam. Jam di dinding ruang tamu sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat sedikit. Aroma studio musik dan parfum Rian masih samar-samar menempel di bajuku, memberikan semacam tameng pelindung dari rasa bersalah yang biasanya muncul tiap kali aku menginjakkan kaki di rumah ini.
1249Please respect copyright.PENANAU46aDU0XnH
Aku menaiki tangga perlahan, bersiap untuk menghadapi "interogasi" atau tatapan menuntut dari Kak Azriel. Namun, saat aku melewati kamarnya yang pintunya sedikit terbuka, tidak ada suara langkah kaki atau bisikan yang menyambutku.
1249Please respect copyright.PENANAjv7P8SSP3O
Aku memberanikan diri untuk melongok sedikit ke dalam.
1249Please respect copyright.PENANAODc4A8UuNS
Di sana, di bawah lampu tidur yang kuning redup, Kak Azriel sudah tertidur lelap. Dia masih mengenakan kaos polo yang rapi—mungkin baju yang dia siapkan untuk "latihan" kami yang gagal malam ini. Posisinya miring, salah satu tangannya memeluk bantal, dan wajahnya terlihat sangat tenang. Tidak ada rahang yang mengeras karena gairah, tidak ada tatapan lapar yang mengintimidasi. Dia hanya terlihat seperti kakak laki-lakiku yang lelah setelah seharian mencoba menjadi pria yang lebih baik.
1249Please respect copyright.PENANAtchxyNTPiv
Aku berdiri di ambang pintu selama beberapa saat, memerhatikannya. Ada rasa lega yang luar biasa menyusup di dadaku melihatnya tertidur senormal itu. Ternyata, dia bisa mengendalikan dirinya. Dia menepati janjinya untuk tidak begadang menungguku atau melakukan hal-hal konyol lagi.
1249Please respect copyright.PENANAbfQZCQhmbO
Mungkin menjauh sejenak adalah pilihan yang tepat, pikirku sambil tersenyum tipis.
1249Please respect copyright.PENANAfZxixvJiaF
Aku menutup pintunya perlahan, nyaris tanpa suara, lalu masuk ke kamarku sendiri. Aku merebahkan tubuh di atas kasur, menatap langit-langit. Malam ini, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, kepalaku terasa dingin. Kenangan tentang Rian yang memetik gitar dan ciuman lembutnya di sudut bibirku memberikan rasa nyaman yang nyata—sesuatu yang "legal" dan tidak berisiko.
1249Please respect copyright.PENANAl0ugxRVsfs
Namun, saat aku memejamkan mata, bayangan remasan tangan Kak Azriel di pahaku semalam tiba-tiba melintas begitu saja. Sial. Tubuhku seolah punya ingatannya sendiri yang sulit dihapus oleh melodi gitar Rian sekalipun.
1249Please respect copyright.PENANA5Y2sKT5oii
bersambung
Baca lanjutannya sampai tamat di https://victie.com/novels/rindu-rumah
1249Please respect copyright.PENANAY4A9JDXuUB
Chapter lanjutan
Chapter 6. Jangan Berhenti
Chapter 7. Ternyata sangat nikmat
Chapter 8. yang keras ya kak, sampai aku gak bisa jalan.
Chapter 9. Kamu cepat pulang ya kakak kangen
Chapter 10. Kalau kamu masih pegal kakak gendong kamu ke sekolah kalau perlu
Chapter 11. Pengen tarik kamu ke kamar
Chapter 12. Sebelum berpisah
Chapter 13. Bisa move karena bule
1249Please respect copyright.PENANAordny2NZKu


