Akhirnya, sekitar pukul empat sore, mereka tiba. Villa itu berdiri megah di lereng bukit, dikelilingi pagar tinggi dan pepohonan rindang. Gerbang otomatis terbuka setelah Kevin memasukkan kode yang sudah diberikan pemiliknya. Jalan berbatu membawa mereka ke halaman depan yang luas, dengan air mancur kecil di tengah dan kolam renang infinity yang menghadap lembah. Monica berteriak kecil kegirangan saat turun dari mobil. "Kev! Ini luar biasa!" Dia berlari kecil ke arah kolam, gaun pendeknya berkibar, bokong bulatnya terlihat menggoda saat bergerak. Kevin mengikuti dari belakang, membawa koper mereka, senyum puas di wajahnya.
4975Please respect copyright.PENANAl69DpxBRy4
Mereka masuk ke dalam vila. Ruang tengah memang seperti yang Kevin bayangkan: luas, langit-langit tinggi, sofa sectional besar berwarna abu-abu muda, meja kaca panjang, dan karpet tebal berwarna krem. Dinding kaca besar menghadap taman belakang dan kolam, memberikan privasi total. Aroma kayu mahoni dari furniture campur dengan bau segar dari taman membuat ruangan terasa mewah dan tenang. Monica berputar-putar, mata coklatnya berbinar. “Ini beneran buat kita berdua aja?” tanyanya sambil memeluk Kevin kuat, payudaranya menempel di dada suami.
4975Please respect copyright.PENANAmRHEnFrUt9
Kevin memeluk balik, tangannya turun ke bokong Monica, meremas perlahan. “Buat kita… dan kejutan-nya.” Monica mengerutkan dahi, tapi senyumnya tak hilang. Mereka jalan-jalan sebentar di sekitar villa. Monica berlari ke kolam, melepas sepatunya, dan mencelupkan kakinya ke air dingin. “Seger banget!” serunya. Kevin ikut mendekat, membuka kemeja di atasnya, menampilkan otot dada yang mengintip. Mereka duduk di pinggir kolam, kaki berendam, tangan saling bergandengan.
4975Please respect copyright.PENANABi1iiXjjlq
Sore itu berlalu dengan romantis. Mereka makan malam di teras belakang: steak medium rare yang Kevin pesan dari restoran terdekat, salad segar, dan anggur merah yang manis asam. Cahaya senja berwarna oranye menyinari wajah Monica, membuat kulit putihnya terlihat seperti mutiara. Kevin menuangkan anggur ke gelas Monica, matanya tak lepas dari istrinya. “Malam ini bakal tak terlupakan, Mon,” katanya sambil mengangkat gelas. Monica ikut mengangkat, tapi ada getaran di tangan. “Aku deg-degan, Kev. Tapi semangat juga.”
4975Please respect copyright.PENANAkzYXGy7eia
Setelah makan, mereka berenang di kolam. Udara dingin menyentuh kulit Monica, membuat anggurnya membeku secara instan. Kevin menariknya ke pelukannya di tengah kolam, menciumnya di dalam. Lidah mereka bertemu, rasa anggur masih tersisa di mulut masing-masing. Tangan Kevin menyusup ke bawah gaun basah Monica, menyentuh vaginanya yang sudah basah bukan hanya karena air kolam. Monica mengerang di mulut Kevin, pinggulnya bergoyang pelan. "Kev… jangan di sini. Nanti malam aja," desahnya, tapi tubuhnya berkata sebaliknya.
4975Please respect copyright.PENANACM9fEOu0Wq
Mereka keluar dari kolam saat matahari hampir tenggelam. Monica mandi dulu, lalu keluar dengan pakaian dalam hitam seksi yang dia bawa khusus. Kain renda tipis itu membentuk tubuh langsingnya dengan sempurna, payudara E+ cupnya terlihat menggoda melalui renda transparan, celana di dalamnya hanya menutupi sedikit. Kevin memandangnya dengan mata lapar. “Kamu siap membuat malam ini?” tanyanya sambil mendekat, tangan menyentuh kalung kontrol budak yang masih disimpan di tasnya—belum dipasang, tapi sudah siap.
4975Please respect copyright.PENANAA34bll3S5u
Monica mengangguk, napasnya cepat. “Apa pun kejutan-nya, aku percaya sama kamu.” Kevin menciumnya lagi, kali ini lebih dalam, lebih dominan. Emosi Monica campur aduk antara bahagia ulang tahun, romansa sakit itu, dan antisipasi gila yang membuat vaginanya berdebar. Kevin, di sisi lain, jantungnya penuh kendali dan kegembiraan—para pria akan datang sebentar lagi, dan pesta akan dimulai tepat jam sembilan malam.
4975Please respect copyright.PENANAqeXlT7PInZ
Malam semakin gelap, bintang-bintang mulai muncul di langit pegunungan yang jernih. Villa terasa sepi, tapi Kevin mengetahuinya hanya sementara. Dia memeriksa ponselnya diam-diam: pesan dari para pria sudah masuk, konfirmasi kedatangan pukul delapan lewat tiga puluh. Monica duduk di sofa, kakinya disilangkan, pakaian dalam hitamnya terlihat kontras dengan sofa krem. Dia memandang Kevin dengan mata penuh pertanyaan, tapi juga penuh gairah. “Kapan kejutan-nya datang?” tanyanya pelan.
4975Please respect copyright.PENANA7egbYbF7yh
Kevin tersenyum, mendekat, dan berbisik di telinga, “Sebentar lagi, sayang. Siap-siap jadi budak malam ini.”
ns216.73.216.145da2


