Bab 4: Kedatangan Para Pria dan Dominasi Awal
5183Please respect copyright.PENANAZ6xYaztVbW
Malam mulai melandai vila dengan kegelapan yang pekat, hanya diterangi oleh lampu-lampu taman luar yang memancarkan cahaya kuning hangat melalui jendela kaca besar ruang tengah. Jam dinding digital di dinding menunjukkan pukul delapan lewat dua puluh menit, dan suara angin pegunungan yang berhembus pelan melalui celah pintu terbuka terdengar seperti bisikan rahasia. Monica duduk di salah satu bagian sofa besar berwarna abu-abu muda, kakinya disilangkan dengan anggun, pakaian dalam hitam renda tipisnya menempel sempurna di tubuh langsingnya. Payudara E+ cupnya terlihat naik-turun perlahan mengikuti napas yang mulai tidak teratur, anggurnya menegang karena udara malam yang dingin menyusup masuk. Rambut hitam panjangnya tergerai bebas, beberapa helai menempel di kulit putih bahunya yang sedikit berkeringat karena antisipasi yang semakin membara.
5183Please respect copyright.PENANAaLqTCc4uFx
Dia memainkan ujung tikungan di pinggir celana dalam renda yang hampir transparan, mencoba menenangkan diri. Aroma vanila dari parfumnya masih menempel kuat, namun kini bercampur dengan bau samar kayu mahoni dari furniture villa dan angin segar pegunungan yang membawa aroma pinus dari luar. Monica merasa jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya. Kejutan yang Kevin janjikan sepanjang hari ini membuat rasa penasarannya mencapai puncak, namun juga membangkitkan sedikit rasa pemarah karena Kevin masih menyimpan rahasia sampai detik terakhir. “Dia beneran bakal ngaasih apa sih?” gumamnya pelan pada dirinya sendiri, mata coklatnya melirik ke arah pintu masuk yang masih tertutup.
5183Please respect copyright.PENANAuDAWBSJonN
Kevin berdiri di dekat pintu depan, tubuh berototnya terlihat tegang di balik kemeja hitam yang sudah dibuka dua kancing di atasnya, menampilkan bidang dada yang berkilau tipis karena keringat ringan. Dia memegang ponsel di tangan kanan, memeriksa pesan masuk satu per satu. Layar ponsel menyala setiap beberapa detik, menampilkan notifikasi dari grup chat “Tim Khusus”. Pesan-pesan singkat datang bertubi-tubi: “Udah di gerbang”, “Lima menit lagi”, “Parkir di depan ya bos”, “Seru banget nih”. Kevin tersenyum tipis, emosinya penuh kontrol seperti seorang konduktor yang siap memulai simfoni paling pembohong dalam hidupnya. Dia sudah memastikan semuanya: villa terkunci rapat dari luar, kamera keamanan dimatikan sesuai kesepakatan, dan NDA digital yang dikirim ke masing-masing pria sudah ditandatangani secara elektronik.
5183Please respect copyright.PENANAPjBnBMtcpg
Pukul delapan lewat tiga puluh, suara mobil pertama terdengar dari luar—derum mesin SUV yang pelan, diikuti suara larangan berderit di atas kerikil halaman depan. Kevin melirik sekilas Monica, lalu berjalan ke pintu. Monica bangkit dari sofa, dress lingerie-nya bergoyang lembut mengikuti gerakan tubuhnya. “Siapa itu, Kev?” tanyanya dengan suara yang sedikit cemas, campuran antara penasaran dan gugup. Kevin tidak menjawab langsung, hanya mengangkat satu jari ke bibir sebagai isyarat diam, lalu membuka pintu lebar-lebar.
5183Please respect copyright.PENANAsET9VypfVj
Angin malam langsung masuk, membawa aroma tanah basah dan pinus yang segar. Cahaya lampu taman menyingsingkan wajah Ahmad yang pertama masuk—pria kurus atletis dengan tinggi seratus tujuh puluh lima sentimeter, rambut pendek rapi, dan senyum tipis yang penuh antisipasi. Di belakangnya, Budi dengan postur gemuk berotot mengikuti, tubuhnya lebar dan kuat, tititnya sudah terlihat menonjol samar di balik celana jeans gelap. Chandra masuk selanjutnya, tubuh atletis rampingnya bergerak lincah, diikuti Dedi yang lebih pendek tapi tegap. Satu per satu, dua puluh pria itu masuk ke ruang tengah villa, membentuk lingkaran longgar di sekitar area tengah karpet krem.
5183Please respect copyright.PENANArJTnEw6COe
Aroma mereka langsung memenuhi ruangan: campuran parfum maskulin yang berbeda-beda—ada yang kayu cendana, ada yang citrus segar, ada yang lebih berat seperti musk dan tembakau—bercampur dengan bau keringat ringan dari perjalanan dan kegembiraan yang tertahan. Udara yang tadinya sejuk sekarang terasa lebih panas, lebih tebal, seperti sebelum badai dimulai. Monica berdiri di tengah ruangan, mata coklatnya melebar melihat kepadatan pria berpostur beragam itu. Dari yang tinggi kurus seperti Guntur hingga yang berotot tebal seperti Toni, dari yang gemuk kekar seperti Oka hingga yang langsing tinggi seperti Faisal—semuanya ada di sana, mata mereka mengurungnya dengan membungkus lapar tapi terkendali.
5183Please respect copyright.PENANAx7tT5umP20
“Kev… ini…” suara Monica tercekat, nafasnya tersengal. Tubuhnya tiba-tiba terasa panas, vaginanya berdenyut kuat di balik renda tipis. Rasa penasarannya yang selama ini hanya ada di fantasi sekarang menjadi nyata, dan itu membuatnya hampir memusingkan. Kevin mendekat dari belakang, tangannya melingkari pinggang Monica, menarik tubuh istrinya ke dadanya. Napasnya panas di telinga Monica. "Ini hadiah ulang tahunmu, sayang. Gangbang sepuluh jam nonstop, seperti yang kita bicarakan. Mereka semua di sini buat kamu."
5183Please respect copyright.PENANAz0nVaxTpkB
5183Please respect copyright.PENANAW2E8XsIbqJ


