Aku Nadia, santri putri kelas akhir di pesantren Al-Hidayah. Umurku dua puluh satu, sama seperti Aisyah, sahabatku sejak kami kecil sama-sama dibesarkan di lingkungan pondok ini. Orang-orang bilang aku pendiam, penurut, dan rajin tahfidz. Aku memang hafal dua puluh lima juz, dan sering jadi imam shalat di asrama putri. Tapi di balik semua itu, aku punya satu kebiasaan yang tidak ada yang tahu: aku suka memperhatikan orang-orang di sekitarku. Terlalu memperhatikan, mungkin.
Terutama Aisyah.
Sejak beberapa bulan terakhir, aku merasa ada yang aneh dengan dia. Dulu kami selalu cerita segalanya: mulai dari mimpi jadi dokter, sampai hal-hal kecil seperti santri putra mana yang paling ganteng menurut kami. Tapi belakangan ini, Aisyah sering menghindar. Matanya selalu melamun, senyumnya seperti menyimpan rahasia besar, dan yang paling mencurigakan… dia sering keluar kamar malam-malam dengan alasan-alasan yang terdengar dibuat-buat.
“Maaf ya Nad, aku mau ambil sapu di gudang belakang masjid, tadi lupa.”
“Bu Nyai nyuruh ambil handuk cadangan.”
“Aku haid, mau ganti pembalut di kamar mandi luar.”
Awalnya aku percaya saja. Aisyah kan memang anak pengasuh pondok, tugasnya banyak. Tapi semakin sering, semakin aku curiga. Apalagi kalau pagi harinya dia kelihatan capek, matanya agak sembab, tapi bibirnya malah terus tersenyum sendiri.
Malam itu — malam ketika aku mengetuk pintu gudang kecil di belakang masjid putri — adalah puncaknya.
Aku sudah curiga sejak sore. Aisyah bilang mau istirahat lebih awal karena capek, tapi pas lampu kamar dimatikan jam sepuluh, aku dengar dia bangun pelan-pelan, ambil jilbab hitamnya, dan keluar kamar tanpa suara. Aku pura-pura tidur, tapi begitu pintu kamar tertutup, aku langsung bangun dan mengikutinya dari jauh.
Dia berjalan cepat melewati lorong samping masjid, tangannya memegang kunci kecil yang aku tahu itu kunci gudang cadangan. Aku sembunyi di balik pohon pisang, melihat dia membuka pintu gudang, masuk, lalu mengunci dari dalam.
Aku menunggu di luar sekitar sepuluh menit, bingung harus apa. Harusnya aku balik ke kamar dan pura-pura nggak tahu apa-apa. Tapi ada sesuatu di dalam dada yang mendesakku untuk mendekat. Rasa ingin tahu? Cemburu? Atau… sesuatu yang lain yang aku sendiri belum paham?
Akhirnya aku mendekat dan mengetuk pelan.
“Aisyah…? Kamu di dalam ya?”
Dari dalam terdengar suara gaduh kecil, seperti orang buru-buru mengenakan baju. Jantungku berdegup kencang. Lalu pintu terbuka sedikit, dan yang muncul bukan Aisyah… melainkan Farhan.
Mas Farhan, santri putra kelas akhir yang terkenal hafiz dan rajin i’tikaf. Wajahnya agak merah, napasnya seperti baru habis lari. Bau sabun colek dan keringat samar-samar tercium dari dalam.
“Eh… Mas Farhan? Aisyah nggak sama kamu?” tanyaku, berusaha terdengar biasa saja.
Dia tersenyum paksa. “Aisyah? Enggak kok. Aku lagi ambil tikar cadangan buat i’tikaf di musala. Kamu nyari Aisyah?”
Aku mengintip ke celah pintu, tapi gelap sekali, nggak kelihatan apa-apa. “Iya, tadi dia bilang mau ambil sapu di sini. Aku khawatir, soalnya udah malam.”
Farhan menggeleng cepat. “Mungkin dia udah balik. Coba cek di kamar aja.”
Aku masih ragu, tapi akhirnya mengangguk. “Ya udah… maaf ganggu ya, Mas.”
Aku berbalik dan berjalan pelan ke arah asrama, tapi begitu yakin Farhan nggak melihat lagi, aku kembali dan sembunyi di balik tembok dekat gudang. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Sepuluh menit kemudian, pintu gudang terbuka lagi. Aisyah keluar duluan, jilbabnya agak berantakan, wajahnya memerah banget. Dia melirik kanan-kiri, lalu berjalan cepat ke arah pondok putri. Beberapa detik kemudian, Farhan keluar juga, tapi lewat arah lain menuju asrama putra.
Aku menunggu sampai keduanya benar-benar hilang dari pandangan, baru aku kembali ke kamar.
Malam itu aku nggak bisa tidur.
Aisyah masuk kamar sekitar dua puluh menit setelah aku, berusaha pelan-pelan agar nggak membangunkanku. Tapi aku pura-pura mendengkur, sambil mengintip dari balik selimut. Dia langsung ke kamar mandi kecil di ujung kamar, mandi malam-malam, lalu kembali ke kasur dengan wajah yang jauh lebih rileks.
Aku tahu apa yang baru saja terjadi di gudang itu. Aku bukan anak kecil. Aku pernah diam-diam baca novel-novel terjemahan yang disembunyikan teman-teman di loker, pernah dengar cerita-cerita dari santri senior tentang “hal-hal terlarang” yang kadang terjadi di pesantren lain. Tapi aku nggak pernah menyangka Aisyah — Aisyah yang polos, yang selalu jadi panutan — bisa melakukan itu.
Dan dengan Farhan pula.
Entah kenapa, dada aku sesak sekali. Bukan marah. Bukan kecewa biasa. Lebih dari itu. Aku merasa… cemburu? Tapi cemburu kepada siapa? Kepada Aisyah karena dia punya seseorang yang begitu mencintainya? Atau kepada Farhan karena dia memilih Aisyah, bukan aku?
Aku sering memperhatikan Farhan dari jauh. Saat dia jadi imam , suaranya yang dalam dan tenang selalu membuatku merinding. Saat dia duduk di musala membaca Qur’an sampai larut malam, aku sering lewat pura-pura ambil air wudhu hanya untuk melihat wajahnya yang khusyuk. Aku tahu aku salah, tapi aku nggak bisa berhenti.
Dan sekarang tahu bahwa dia melakukan hal-hal terlarang itu dengan sahabatku sendiri… rasanya seperti ditusuk.
Pagi harinya, saat sarapan di dapur umum, Aisyah duduk di sebelahku seperti biasa. Dia tersenyum lebar, matanya berbinar.
“Pagi Nad! Kamu tidur nyenyak semalam?” tanyanya sambil menyendok bubur.
Aku tersenyum balik, pura-pura biasa. “Iya, nyenyak banget. Kamu gimana? Kayaknya capek ya matanya.”
Dia tertawa kecil, agak gugup. “Ah iya, tadi malam susah tidur. Panas katanya.”
Aku mengangguk saja, tapi dalam hati aku berkata: *Panas ya? Atau karena habis digoyang Farhan di gudang?
Sepanjang hari itu aku terus memperhatikan Aisyah. Cara dia melamun, cara dia tersenyum sendiri saat baca pesan di HP tua yang disembunyikan di bawah bantal (dia pikir aku nggak tahu), cara dia sering ke dapur padahal bukan jadwalnya membantu ibunya.
Dan yang lebih menyakitkan, sore harinya aku melihat Farhan lewat di depan pondok putri membawa keranjang laundry kotor. Matanya langsung mencari-cari, dan saat melihat Aisyah di teras, dia tersenyum kecil — senyum yang penuh makna. Aisyah membalas senyum itu, lalu buru-buru menunduk malu-malu.
Aku berdiri di balik jendela kamar, tanganku mengepal.
Malam itu aku membuat keputusan.
Aku nggak akan langsung lapor ke Bu Nyai atau Ustazah. Belum. Aku ingin tahu lebih dalam. Aku ingin melihat sendiri apa yang mereka lakukan. Dan mungkin… mungkin aku ingin merasakan apa yang Aisyah rasakan.
Aku tahu ini salah. Aku tahu ini dosa besar. Tapi aku sudah terlanjur jatuh ke dalam lubang yang aku gali sendiri.
Beberapa malam kemudian, aku pura-pura tidur lebih awal lagi. Dan seperti dugaan, Aisyah kembali keluar kamar pelan-pelan.
Kali ini aku mengikutinya lebih dekat.
Dia menuju gudang yang sama.
Aku sembunyi di balik tembok, cukup dekat untuk mendengar suara pelan dari dalam.
“Aku kangen banget… tiga hari nggak ketemu rasanya lama banget,” suara Aisyah, manja sekali.
“Aku juga… hampir gila mikirin kamu terus,” jawab Farhan, diikuti suara ciuman yang basah.
Lalu desahan pelan. Suara kain bergesek. Suara napas yang semakin cepat.
Aku menutup mulut sendiri, tubuhku gemetar. Aku harusnya pergi. Tapi kakiku seperti ditancapkan ke tanah.
Dan tanpa kusadari, tangan kananku sudah menyusup ke dalam rokku sendiri, mencari kehangatan yang sama yang sedang Aisyah rasakan di dalam sana.
Aku tahu aku sudah terjerumus.
Tapi aku nggak bisa berhenti.
Apa yang akan kulakukan selanjutnya? Melapor? Atau justru… ikut bermain dalam rahasia terlarang ini?
Cerita lengkap ada di link profil
2196Please respect copyright.PENANAXmG00uhQKs
2196Please respect copyright.PENANARPJY4j7JiU


