Enam bulan lalu, musim hujan baru saja tiba di pesantren Putra Al-Hidayah. Gudang belakang yang lama sering banjir kecil di sudutnya, jadi Aisyah sering bolak-balik membawa ember dan pel untuk membersihkan wadah udara. Saat itu dia baru berusia dua puluh tahun, baru saja lulus SMA dan memilih membantu ibunya di pondok daripada kuliah di kota.
Farhan, santri kelas akhir yang sudah hafal tiga puluh juz, sering ditugaskan Ustaz Rahman untuk mengambil barang-barang cadangan dari gudang yang sama: karung beras kosong, tikar cadangan, atau ember besar untuk wudhu. Dia sudah terkenal saleh, suaranya merdu saat menjadi imam , tapi di balik sorban dan baju koko putihnya, ada hasrat yang mulai menggelora sejak pertama kali melihat Aisyah.
Pertemuan pertama yang “benar-benar” terjadi pada suatu sore menjelang Maghrib, saat hujan deras mengguyur pondok.
Aisyah masuk ke gudang sambil membawa ember besar di tangan kiri dan sapu lidi di tangan kanan. Jilbabnya basah di bagian bahu karena dia berlari menghindari hujan. Baju kurung kremnya sedikit menempel di tubuh karena basah, menampilkan lekuk pinggang dan dada yang membuatnya malu sendiri.
Dia tidak tahu kalau Farhan sudah ada di dalam, sedang mengangkat tumpukan karung beras kosong ke sudut yang lebih kering.
Saat Aisyah membungkuk untuk mengumpulkan udara di lantai, tiba-tiba…
“Astaghfirullah!” seru Aisyah kecil saat punggungnya menabrak sesuatu yang keras.
Embernya jatuh, air tumpah ke lantai lagi.
Farhan yang baru saja berdiri di belakangnya langsung memegang bahu Aisyah agar tidak terjatuh. “Maaf, maaf… aku kira nggak ada orang,” katanya cepat, suaranya dalam dan agak grogi.
Aisyah menoleh, wajahnya memerah melihat Farhan yang begitu dekat. Mereka belum pernah benar-benar berbicara sebelumnya, hanya saling tahu nama.
“Eh… gak apa-apa, Mas Farhan,” jawab Aisyah pelan sambil buru-buru merapikan jilbabnya yang agak melorot karena gerakannya yang tiba-tiba.
Farhan melepaskan pegangannya perlahan, tapi matanya tak bisa lepas dari wajah Aisyah yang basah karena gerimis. Rambut gadis itu yang sedikit terlihat di balik jilbab tampak hitam berkilau, dan bibir… merah alami meski tanpa lipstik.
“Kamu… sering ke sini ya?” tanya Farhan, mencoba mencairkan suasana sambil membantu mengambil ember yang jatuh.
Aisyah mengangguk. “Iya, Bu Nyai suruh bersihin gudang ini.Katanya sering banjir kalau hujan.”
Farhan tersenyum kecil. “Aku juga sering disuruh Ustaz Rahman ambil barang. Kayaknya kita bakal sering ketemu deh di sini.”
Aisyah tertawa pelan, agak gugup. “Iya kayaknya…”
Mereka berdua diam sejenak, hanya suara hujan di atap seng yang terdengar.
Farhan akhirnya berinisiatif. “Biar aku bantu sapu ya. Biar cepet selesai, nanti Maghrib sebentar lagi.”
Aisyah ragu sebentar, tapi akhirnya mengangguk. “Boleh… terima kasih.”
Mereka mulai membersihkan gudang bersama. Farhan menyapu udara ke luar, Aisyah mengelap rak-rak yang basah. Lorong di antara tumpukan karung sangat sempit, sehingga sering kali tubuh mereka bersentuhan tanpa sengaja.
Saat Aisyah meraih rak atas untuk mengelap debu, dia jinjit dan bajunya naik sedikit memperlihatkan pinggang putihnya yang mulus. Farhan yang kebetulan lewat di belakang langsung berhenti, matanya tak bisa diubah.
“Eh… hati-hati gadis,” bisik Farhan, tangannya secara refleks memegang pinggang Aisyah agar tidak kehilangan keseimbangan.
Aisyah tersentak, tubuhnya menegangkan merasakan tangan Farhan yang hangat di pinggangnya. Tapi dia tidak menolak. Malah jantungnya berdegup sangat kencang.
“Maaf…” Farhan buru-buru menarik tangannya, wajahnya juga memerah.
Aisyah menoleh pelan, matanya bertemu mata Farhan. Pada saat itu, ada sesuatu yang berubah. Udara di gudang kecil itu tiba-tiba terasa panas meski hujan di luar masih deras.
“Nggak apa-apa…” bisik Aisyah, suaranya hampir hilang.
Farhan menelan ludah. “Aisyah… kamu cantik banget, tahu gak?”
Aisyah terkejut mendengarnya, tapi senyum kecil muncul di bibirnya. “Mas Farhan bisa aja…”
“Beneran,” tegas Farhan, langkahnya mendekati lagi hingga jarak mereka tinggal beberapa senti. “Aku sering melihat kamu dari jauh pas kamu antar laundry ke asrama putra. Aku… aku suka ngeliatin kamu.”
Aisyah menunduk, pipinya panas. “Aku juga… sering lihat Mas Farhan pas imam salat. Suaranya bagus banget.”
Mereka saling diam lagi, tapi kali ini napas mereka sudah sama-sama cepat.
Farhan akhirnya memberanikan diri. Tangannya pelan menyentuh pipi Aisyah, jempolnya mengusap air hujan yang masih menempel di sana.
“Boleh… aku pegang tangan kamu sebentar aja?” bisik Farhan.
Aisyah mengangguk pelan, tangannya gemetar saat Farhan menggenggamnya. Telapak tangan Farhan kejam karena sering mengangkat Al-Qur'an besar dan beban di pondok, tapi sentuhannya lembut.
Mereka saling tatap lama, hingga akhirnya Farhan mendekatinya. Aisyah tidak mundur. Bibir mereka bertemu untuk pertama kalinya — ciuman kecil, ragu-ragu, tapi penuh rasa ingin tahu.
Ciuman itu berlangsung singkat, tapi cukup membuat keduanya gemetar.
Setelah itu mereka buru-buru melanjutkan membersihkan gudang, tapi suasananya sudah berbeda. Setiap kali mata mereka bertemu, ada senyum malu-malu.
Sebelum berpisah di pintu gudang, Farhan berbisik, “Besok… sore lagi, aku tunggu di sini ya?”
Aisyah mengangguk cepat. “Iya…”
Sejak hari itu, gudang belakang menjadi tempat rahasia mereka. Awalnya hanya pegangan tangan dan ciuman kecil. Lalu cium yang lebih dalam. Lalu sentuhan yang lebih berani. Hingga akhirnya, tiga bulan kemudian, mereka melakukan lebih dari itu untuk pertama kalinya — di tempat yang sama, di atas tumpukan tikar tua.
Dan sekarang, enam bulan berlalu, mereka sudah tak bisa lepas satu sama lain.
Kembali ke malam ini — di gudang kecil belakang masjid putri.
Ketukan pelan di pintu masih terdengar.
"Aisyah…? Kamu di dalam ya?" suara Nadia lagi, kali ini lebih keras sedikit.
Farhan dan Aisyah masih telanjang sebagian, tubuh mereka saling berkeringat. Aisyah panik, buru-buru mencari celana dalamnya di kegelapan.
Farhan berbisik cepat, “Tenang… aku yang buka pintu. Kamu sembunyi di belakang tumpukan tikar.”
Aisyah mengangguk ketakutan, cepat merapikan baju dan jilbabnya sambil tertutup di sudut gelap.
Farhan menarik celananya, merapikan baju koko, lalu membuka pintu gudang sedikit saja — cukup untuk mengintip.
"Nadia? Ada apa malam-malam gini?" tanya Farhan dengan suara tenang, meski jantungnya berdegup kencang.
Nadia terkejut melihat Farhan. "Eh… Mas Farhan? Aisyah nggak sama kamu?"
Farhan tersenyum paksa. “Aisyah? Enggak kok. Aku lagi ambil tikar cadangan buat i'tikaf di musala. Kamu nyari Aisyah?”
Nadia mengerutkan kening, curiga. “Tadi aku lihat dia keluar pondok bilang mau ambil sapu di gudang ini. Aku khawatir, soalnya sudah malam.”
Farhan menggeleng. “Mungkin dia udah balik. Coba cek di kamar aja.”
Nadia masih ragu, tapi akhirnya mengangguk. “Iya udah…maaf ganggu ya, Mas.”
Pintu ditutup lagi. Farhan mengunci kembali, lalu kembali ke Aisyah yang masih tertutup ketakutan.
“Dia pergi,” bisik Farhan sambil memeluk erat Aisyah.
Aisyah menangis pelan di dada Farhan. “Farhan… Nadia curiga. Kalau dia cerita ke yang lain…”
Farhan mencium keningnya berkali-kali. “Tenang… kita harus lebih hati-hati. Tapi aku tidak bisa berhenti bertemu kamu, Aisyah. Aku terlalu cinta sama kamu.”
Aisyah memeluknya balik. “Aku juga… tapi aku takut…”
Malam itu mereka berpisah lebih awal, tapi api di hati mereka semakin membara. Dan rahasia mereka mulai terancam oleh orang-orang di sekitar.
2692Please respect copyright.PENANAwdzuzMlIad


