Malam berikutnya datang lebih cepat dari yang Aisyah bayangkan. hari Sepanjang dia nyaman. Saat membantu ibunya di dapur, pikiran melayang ke Farhan. Saat mencuci pakaian santri, tangannya gemetar mengingat sentuhan Farhan di kulitnya. Bahkan saat shalat Maghrib berjamaah, dia sulit konsentrasi karena tahu bahwa malam ini mereka akan bertemu lagi — di tempat yang lebih berani.
Gudang kecil di belakang masjid putri memang lebih aman. Tidak ada yang sering lewat sana setelah Isya, karena santri putri sudah diwajibkan kembali ke asrama. Pintunya terkunci dari luar, tapi Aisyah punya kunci duplikat — hadiah dari ibu yang percaya gadis itu hanya akan mengambil sapu atau ember cadangan.
Pukul 22:15, Aisyah keluar dari pondok putri dengan alasan “mau ambil sapu di gudang”. Jilbabnya malam ini warna hitam pekat, agar lebih menyatu dengan kegelapan. Di bagian bawahnya, dia memakai baju kurung tipis berwarna krem muda yang agak ketat di tubuh — sengaja dipilih karena Farhan pernah bilang suka melihat lekuk pinggangnya dari balik kain itu.
Dia berjalan cepat melewati lorong sempit di samping masjid. Angin malam dingin, membuat putingnya berputar di balik bra tipis yang dia pakai. Aisyah menggigit bibir, sudah merasakan getar di antara pahanya hanya karena memikirkan apa yang akan terjadi.
Sampai di gudang, dia membuka kunci pelan-pelan. Di dalam sudah gelap total, tapi dia mencium bau sabun colek yang familiar — bau Farhan.
“Farhan…?” bisiknya sambil menutup pintu dari dalam dan menguncinya kembali.
Tiba-tiba dua tangan kuat memeluknya dari belakang. Aisyah tersentak kecil, tapi langsung tersenyum saat merasakan nafas panas di tengkuknya.
“Aku sudah dari tadi nunggu,” bisik Farhan parau. Bibirnya langsung mencium leher Aisyah, lidahnya menjilat pelan kulit yang terbuka di bawah jilbab.
Aisyah memejamkan mata, mendesah pelan. “Kamu...bikin aku takut tadi.”
Farhan tertawa kecil, tangannya sudah bergetar ke depan, meremas payudara Aisyah dari luar baju. “Maaf… aku nggak tahan pengen pegang kamu langsung.”
Aisyah memutar tubuhnya, menghadap Farhan. Dalam kegelapan, dia hanya bisa melihat siluet wajah cowok itu, tapi itu cukup. Mereka langsung berciuman — kali ini lebih ganas dari kemarin. Lidah Farhan masuk ke dalam mulut Aisyah, menari-nari dengan lidah gadis itu. Tangan Aisyah mencengkeram kerah baju koko Farhan, menariknya lebih dekat.
Beberapa menit mereka hanya berciuman sambil berdiri, napas saling bercampur. Farhan kemudian menggendong Aisyah perlahan dan membawanya ke sudut gudang tempat ada tumpukan tikar lipat tua. Dia merebahkan Aisyah di atasnya, lalu naik ke atas tubuh gadis itu tanpa memutuskan mencium.
“Farhan… pelan-pelan… aku takut ada yang denger,” bisik Aisyah di sela-sela mencium.
“Tenang... di sini aman. Aku sudah cek tadi, nggak ada yang lewat,” jawab Farhan sambil tangannya membuka kancing baju kurung Aisyah satu per satu.
Saat baju terbuka hingga perut, Farhan menunduk, mencium dada Aisyah yang masih tertutup bra putih tipis. Dia menarik tali bra ke bawah dengan giginya, menampilkan puting yang sudah tegak.
“Aisyah... kamu cantik banget,” bisik Farhan sebelum menutup puting kiri Aisyah, menghisapnya pelan sambil lidahnya berputar-putar.
Aisyah mendesah panjang, tangannya menggenggam rambut Farhan. “Ahh… Farhan… enak…”
Farhan bergantian mengisap kedua payudara Aisyah, tangan kanannya sudah turun ke bawah, menyusup ke dalam rok panjang gadis itu. Jari-jarinya langsung menemukan celana dalam yang sudah basah.
“Kamu sudah banjir tadi ya?” goda Farhan sambil tersenyum nakal, mengitari pelan-pelan menggosok klitoris Aisyah dari luar kain.
Aisyah menggeliat, pinggulnya secara refleks naik menyambut sentuhan. “Farhan... jangan godain... aku dari siang sudah mikirin kamu...”
Farhan tertawa kecil. Dia menarik celana dalam Aisyah ke bawah hingga lepas dari kakinya, lalu membuka roknya hingga tersingkap ke pinggang. Sekarang Aisyah telanjang dari pinggang ke bawah, hanya jilbab dan bra yang melorot yang masih menutupi tubuh atasnya.
Farhan menunduk di antara paha Aisyah, mencium bagian dalam paha gadis itu bergantian, semakin mendekati pusat kenikmatan.
“Farhan…apa yang mau kamu lakuin…?” tanya Aisyah dengan suara gemetar, meski dia sudah tahu jawabannya.
“Aku mau cium kamu di sini… boleh?” bisik Farhan sambil meniup pelan ke arah vagina Aisyah yang sudah sangat basah.
Aisyah mengangguk cepat, napasnya tersengal. “Boleh... cepat... aku udah gak tahan...”
Farhan tidak menunggu lagi. Lidahnya langsung menyentuh klitoris Aisyah, menjilat pelan dari bawah ke atas. Aisyah langsung mengerang sambil menutup mulutnya sendiri agar suaranya tidak keluar.
Farhan semakin bersemangat. Lidahnya bermain di seluruh bagian sensitif Aisyah, terkadang masuk sedikit ke dalam, terkadang menghisap klitoris dengan lembut. Tangan kirinya memegang paha Aisyah agar tetap terbuka lebar, sementara tangan bersiap meremas payudara gadis itu.
“Aaahhh... Farhan... enak banget... terus... jangan berhenti...” desah Aisyah, pinggulnya bergoyang mengikuti irama lidah Farhan.
Beberapa menit kemudian, Aisyah merasakan gelombang kenikmatan yang semakin mendekat. Tubuhnya menegangkan, kakinya terinjak.
“Farhan… aku mau keluar… ahhh…!”
Farhan mempercepat gerakan lidahnya, dan akhirnya Aisyah mencapai orgasme malam pertamanya. Tubuhnya bergetar hebat, cairan hangat membasahi mulut Farhan. Dia tetap menjilat pelan hingga getaran Aisyah reda.
Setelah itu, Farhan naik kembali, mencium bibir Aisyah yang masih terengah-engah. Aisyah bisa berdetak rasa dirinya sendiri di lidah Farhan, tapi itu justru membuatnya semakin terangsang.
“Sekarang giliran aku,” bisik Aisyah nakal sambil membuka ikat pinggang Farhan.
Farhan tersenyum membantu Aisyah menurunkan celananya. Penisnya yang sudah sangat tegang langsung terbebas, menyentuh perut Aisyah.
Aisyah memegangnya pelan, mengocok perlahan sambil menatap Farhan. “Besar banget… aku selalu takut pas masuk nanti.”
Farhan mencium keningnya. “Kita pelan-pelan aja... aku nggak mau kamu kesakitan.”
Aisyah mengangguk, lalu membimbing penis Farhan ke pintu masuk vaginanya yang masih sangat basah. Farhan masuk pelan, senti demi senti, sambil terus mencium Aisyah agar gadis itu rileks.
Saat sudah masuk semuanya, mereka berdua diam sejenak, menikmati rasa penuh yang luar biasa.
“Gerakin, Farhan…” pinta Aisyah dengan suara manja.
Farhan mulai menggerakkan pinggulnya dengan pelan, keluar-masuk dengan irama yang lembut. Aisyah memeluk erat, mendesah di setiap dorongan.
Semakin lama, gerakan Farhan semakin cepat. Gudang kecil itu hanya berisi suara napas terengah-engah dan desahan pelan mereka berdua.
“Aisyah… aku sayang banget sama kamu…” bisik Farhan di tengah-tengah dorongannya.
“Aku juga… Farhan… lebih cepat… aku mau lagi…” balas Aisyah, kakinya melingkar di pinggang Farhan.
Mereka semakin pembohong, tapi tetap berusaha tidak berisik. Farhan sesekali menutup mulut Aisyah dengan ciuman saat desahan gadis itu mulai keras.
Tak lama kemudian, Aisyah mencapai orgasme keduanya, kali ini bersama Farhan yang juga menyemprotkan cairannya di dalam Aisyah. Mereka berpelukan erat, tubuh saling berkeringat di atas tikar tua itu.
Beberapa menit mereka hanya diam, saling mencium pelan sambil mengatur napas.
Tiba-tiba... suara ketukan pelan di pintu gudang.
Tok... tok... tok...
Mereka berdua langsung membeku lagi, mata saling memandang penuh ketakutan.
“Siapa…?” bisik Aisyah dengan suara hampir hilang.
Farhan menutup mulut Aisyah pelan, matanya waspada.
Ketukan itu berhenti, lalu terdengar suara perempuan pelan dari luar.
"Aisyah...? Kamu di dalam ya?"
Itu suara Nadia — sahabat Aisyah di pondok putri, yang kadang curiga kalau Aisyah sering keluar malam.
Jantung mereka berdua berdegup kencang lagi.
CCerita lengkap link di profil❤️🩹
ns216.73.217.22da2


