3402Please respect copyright.PENANAXJFzcHjxLW
Di bawah pohon manggis yang rindang di belakang pondok pesantren Putra Al-Hidayah, malam selalu terasa lebih gelap dibandingkan di tempat lain. Lampu taman mati sejak jam sembilan, hanya ada sorot samar dari musala yang masih terang karena ada santri yang i'tikaf. Di situlah Aisyah biasa menunggu.
Aisyah bukan santri biasa. Ia anak pengasuh pondok, gadis berusia dua puluh satu yang sudah tiga tahun ini membantu ibunya mengurus dapur dan laundry untuk santri putra. Rambutnya selalu terikat rapi di balik jilbab lebar warna krem, tapi matanya... matanya selalu mencari-cari sesuatu yang dilarang.
Malam itu, seperti biasa, dia membawa keranjang berisi handuk bersih. Tujuannya gudang belakang yang sudah lama ditinggalkan. Di sana ada Farhan, santri kelas akhir yang sudah hafal tiga puluh juz, tapi juga hafal setiap lekuk tubuh Aisyah sejak pertama kali mereka “bertabrakan” di lorong sempit gudang itu enam bulan lalu.
Aisyah melangkah pelan, jantungnya berdegup kencang. Angin malam menerpa jilbabnya, membuatnya harus terus merapikannya.
“Aisyah...” suara pelan dari balik pintu gudang yang setengah terbuka.
Dia tersenyum kecil, melangkah masuk. Gudang itu gelap, hanya diterangi cahaya bulan yang masuk melalui celah-celah atap bocor.
Farhan sudah menunggu, duduk di atas tumpukan karung beras kosong. Serbannya dilepas, rambutnya agak berantakan. Matanya langsung mengunci Aisyah begitu gadis itu masuk.
“Kamu telat lima menit,” bisik Farhan, suaranya parau.
“Maaf... Ibu tadi nyuruh nyapu dapur lagi. Katanya ada santri yang numpahin teh.” Aisyah meletakkan keranjangnya, lalu mendekat.
Farhan bangun, langsung meraih pinggang Aisyah dan menariknya ke pelukannya. Napasnya panas di leher gadis itu.
“Aku kangen banget,” bisiknya lagi, rekomendasi sudah menyentuh cuping telinga Aisyah.
Aisyah menggigit bibir bawahnya. “Farhan... kita nggak boleh sering-sering gini. Kalau ketahuan...”
“Ssst…” Farhan menutup mulut Aisyah dengan mencium pelan dulu, lalu semakin dalam. Tangannya sudah membayangkan ke bawah jilbab, menyentuh tengkuk Aisyah yang hangat.
Aisyah balas menciumnya sambil memeluk leher Farhan. Mereka sudah tahu betul cara saling membakar tanpa suara keras.
Beberapa menit kemudian, Farhan mendorong Aisyah perlahan hingga punggung gadis itu menyentuh dinding gudang yang dingin. Jilbab Aisyah sudah melorot sedikit, menampilkan leher jenjangnya.
“Kamu pakai parfum baru ya?” tanya Farhan sambil mencium leher Aisyah.
“Iya… yang kemarin kamu bilang wangi.” Aisyah tersenyum di antara desahan pelannya.
Farhan tertawa kecil. “Kamu nurut banget kalau sudah gini.”
Tangan Farhan mulai membuka kancing baju kurung Aisyah satu per satu, sangat pelan agar tidak ada suara. Aisyah membantu, napasnya semakin cepat.
“Farhan… cepat… aku takut ada yang lewat,” bisik Aisyah.
“Tapi aku mau nikmatin dulu,” jawab Farhan nakal. Bibirnya turun ke dada Aisyah yang sudah terbuka sebagian.
Aisyah memejamkan mata, menahan desahan. Tangan kirinya menggenggam bahu Farhan kuat-kuat.
Tiba-tiba... suara langkah kaki di luar gudang.
Mereka berdua langsung membeku.
“Siapa itu?” bisik Aisyah panik, buru-buru merapikan bajunya.
Farhan menutup mulut Aisyah pelan, matanya waspada. Mereka diam, menahan napas.
Langkah itu berhenti tepat di depan pintu gudang. Lalu terdengar suara batuk kecil... suara yang mereka kenal.
Itu suara Ustaz Rahman, pengawas asrama malam.
“Astaghfirullah... gudang ini kok pintunya kebuka,” gumam suara itu.
Farhan dan Aisyah saling pandang, jantung mereka hampir copot.
Pintu gudang berderit pelan saat Ustaz Rahman mendorongnya lebih lebar. Cahaya senter handphone menyapu ke dalam.
Mereka tertutup di sudut gelap, berharap tumpukan karung cukup tersembunyi.
Senter berhenti di keranjang handuk Aisyah yang diletakkan di tengah.
“Ini siapa handuk ya… Aisyah kali,” gumam Ustaz Rahman lagi. Dia melangkah masuk satu langkah.
Aisyah menutup mulutnya sendiri, air mata hampir jatuh karena takut.
Farhan memeluknya erat dari belakang, berbisik sangat pelan di telinga Aisyah, “Tenang… dia tidak akan melihat kita.”
Ustaz Rahman mengambil keranjang itu, lalu keluar lagi sambil menutup pintu gudang perlahan.
Mereka berdua diam beberapa menit, sampai yakin Ustaz Rahman benar-benar pergi.
Aisyah langsung menangis pelan. “Farhan...kita hampir ketahuan...”
Farhan memeluknya erat. “Maaf… aku yang maksa kamu malam ini.”
Aisyah menggeleng. “Bukan salah kamu... aku juga pengen ketemu kamu.”
Mereka saling diam, masih memeluk kegelapan.
Beberapa menit kemudian, Farhan berbisik lagi, "Besok malam... kita pindah tempat ya? Ke gudang kecil di belakang masjid putri. Lebih aman."
Aisyah mengangguk. “Iya… tapi aku takut, Farhan. Kalau sampai ketahuan, aku yang paling rugi.”
Farhan mencium keningnya. “Aku nggak akan biarin kamu kenapa-kenapa. Aku janji.
Mereka berpisah malam itu dengan hati yang masih berdegup kencang, tapi juga api yang semakin membara.
Apa yang akan terjadi besok malam? Dan siapa lagi yang mungkin mengetahui rahasia mereka?
Cerita lengkap link di profil ❤️🩹
3402Please respect copyright.PENANAFUfy0FydYH


