2030Please respect copyright.PENANAiiCUWnFPDt
Gudang kecil di belakang masjid putri terasa seperti oven kecil malam itu. Udara lembab, bau sabun colek bercampur keringat dan aroma manis tubuh Aisyah yang baru saja mandi sore tadi. Tikar lipat tua yang mereka jadikan alas sudah kusut, basah di beberapa bagian karena cairan tubuh mereka berdua.
Farhan dan Aisyah masih berpelukan erat setelah orgasme kedua mereka. Napas mereka perlahan mulai teratur, namun tangan Farhan belum mau lepas dari payudara Aisyah yang masih terbuka. Jempolnya sesekali mengusap puting yang berdenyut lagi hanya karena sentuhan ringan itu.
“Aku nggak mau pulang malam ini,” bisik Aisyah manja, ciuman mencium dada Farhan yang telanjang dada karena baju kokonya sudah terbuka semua kancingnya.
Farhan tertawa pelan, suaranya parau. “Kalau aku bisa bawa kamu ke kamar aku, Sayang. Biar kita bisa sepuasnya tanpa takut ketahuan.”
Aisyah menggeliat di pelukan Farhan, pahanya menyentuh penis Farhan yang mulai mengeras lagi meski baru saja keluar. “Farhan… kamu nakal banget. Baru selesai kok udah mau lagi?”
Farhan mencium leher Aisyah panjang, lidahnya menjilat pelan dari bawah telinga sampai ke tulang selangka. “Salahin kamu. Tubuh kamu ini bikin aku nggak pernah kenyang.”
Aisyah mendesah pelan saat Farhan mulai mengangkat pinggulnya lagi, penisnya yang setengah tegang bergesek pelan di antara paha Aisyah yang masih basah. Cairan sisa orgasme mereka membuat pengaktifan itu terasa licin dan panas.
“Farhan… kita baru aja selesai… aku masih lemes…” protes Aisyah lemah, tapi kakinya malah membuka lebih lebar secara refleks.
Farhan tersenyum nakal. Dia bangun sedikit, menopang tubuhnya dengan siku, lalu menunduk mencium bibir Aisyah dalam-dalam. Lidah mereka saling menari lagi, kali ini lebih lambat, lebih sensual. Tangan Farhan turun ke bawah, jari tengahnya menyusup ke dalam vagina Aisyah yang masih sangat basah dan sensitif.
“Aaahhh…” Aisyah mengerang ke dalam mulut Farhan, pinggulnya otomatis naik menyambut jari itu.
“Kamu bilang lemes, tapi ini sudah banjir lagi,” goda Farhan sambil memasukkan satu jari lagi, menggerakkannya perlahan keluar-masuk sambil jempolnya menggosok klitoris Aisyah dengan ritme lembut.
Aisyah menggigit bibir bawah Farhan, matanya setengah terpejam. “Farhan… pelan-pelan… aku masih sensitif banget…”
Farhan menurut, gerakannya semakin lambat tapi lebih dalam. Dia menariknya secara perlahan, lalu memasukkan lagi hingga ujung-ujungnya menyentuh titik yang membuat Aisyah selalu melapisinya.
Beberapa menit seperti itu, Aisyah sudah mulai mendesah lebih keras. Farhan buru-buru menutup mulutnya dengan ciuman agar suara tidak keluar dari gudang.
Di luar gudang, tepat di balik celah kecil di dinding kayu yang sudah lapuk, Nadia berdiri membeku.
Dia tiba sekitar lima belas menit yang lalu, mengikuti Aisyah lagi seperti malam-malam sebelumnya. Kali ini dia lebih berani — mendekat hingga hampir menempel di dinding gudang. Ada satu celah sempit di antara dua papan kayu yang memungkinkannya melihat ke dalam tanpa terlihat.
Dan apa yang dia lihat membuat lututnya lemas.
Aisyah terlentang di atas tikar tua, jilbab hitamnya sudah melorot ke bahu, baju kurungnya terbuka semua, bra-nya tersingkap hingga kedua payudaranya yang putih mulus terlihat jelas. Farhan di atasnya, telanjang dada, tangannya bergerak di antara paha Aisyah yang terbuka lebar.
Nadia bisa mendengar setiap desahan kecil Aisyah, setiap bisikan nakal Farhan. Cahaya bulan yang masuk melalui celah atap membuat tubuh mereka terlihat samar tapi cukup jelas — kulit Aisyah yang berkilau karena keringat, otot punggung Farhan yang menegangkan setiap kali dia menggerakkan pinggul.
Nadia menutup mulutnya dengan tangan kanan, nafasnya tersengal. Tangan kirinya tanpa sadar sudah menyusup ke dalam rok panjangnya sendiri, menyentuh celana dalam yang sudah basah sejak dia mulai mengintip.
Di dalam, Farhan sudah menarik spesifikasi dari dalam Aisyah. Dia menjilat jarinya sendiri pelan sambil menatap mata Aisyah yang penuh nafsu.
“Rasanya enak banget kamu malam ini,” bisik Farhan sebelum menunduk lagi, kali ini langsung ke vagina Aisyah.
Mulutnya menutup seluruh bagiannya, lidahnya menjilat dari bawah ke atas, berhenti di klitoris dan menghisapnya pelan tapi kuat.
“aaaahhhh… Farhan…!” Aisyah mengerang lebih keras, tangannya mencengkeram rambut Farhan kuat-kuat, pinggulnya bergoyang naik-turun mengikuti irama mulut cowok itu.
Farhan semakin ganas. Lidahnya masuk ke dalam sebentar, lalu keluar lagi hisapan klitoris, lalu masuk lagi. Tangan di dekatnya meremas paha dalam Aisyah, meninggalkan bekas merah kecil.
Nadia di luar sudah tidak tahan. Jari tengahnya menyusup ke dalam celana dalamnya, menggosok klitorisnya sendiri dengan gerakan cepat tapi pelan agar tidak terdengar. Mata tidak berkedip melihat Aisyah yang semakin pembohong — payudaranya bergoyang setiap kali pinggulnya naik, putingnya sangat tegak, wajahnya memerah penuh kenikmatan.
“Farhan… aku mau keluar lagi… terus… jangan berhenti…” desah Aisyah dengan suara gemetar.
Farhan mempercepat gerakan lidahnya, tangan kirinya naik meremas payudara Aisyah kuat-kuat.
Beberapa detik kemudian, Aisyah mencapai orgasme ketiga malam itu. Tubuhnya menegang keras, kukunya kuat, cairan hangat menyemprotkan kecil ke mulut Farhan. Dia mengerang panjang, tapi Farhan cepat menutup mulutnya dengan tangan agar suaranya tidak terlalu keras.
Nadia di luar juga ikut mencapai puncaknya hampir bersamaan. Tubuhnya bergetar kecil, lututnya hampir ambruk. Dia menutup mulutnya lebih erat, air mata mengalir pelan karena campuran rasa murni dan kenikmatan yang terlalu kuat.
Di dalam, Farhan naik lagi, mencium Aisyah yang masih terengah-engah. Penisnya sekarang sudah sangat tegang lagi, menyentuh perut Aisyah.
“Aku masih mau, Sayang… boleh dari belakang?” bisik Farhan parau.
Aisyah mengangguk lemah, tapi matanya penuh nafsu. “Boleh… tapi pelan ya… aku udah lemes banget.”
Farhan membantu Aisyah kembali, kini posisi merangkak di atas tikar. Celana Aisyah yang bulat sempurna terangkat, vagina yang merah dan basah terlihat jelas dari belakang.
Nadia hampir pingsan melihat pemandangan itu. Dia bisa melihat semuanya — bagaimana Farhan memegang pinggul Aisyah, bagaimana penisnya yang besar dan tegang perlahan masuk ke dalam dari belakang, bagaimana Aisyah mengerang pelan setiap senti yang masuk.
Farhan mulai bergerak pelan, keluar-masuk dengan ritme yang dalam. Tangannya meraih ke depan, meremas payudara Aisyah yang bergoyang.
“Enak banget dari belakang gini… kamu ketat banget, Sayang…” bisik Farhan.
Aisyah hanya bisa mendesah, menunduk, rambut yang lepas dari jilbab bergoyang-goyang.
Nadia tidak bisa berhenti menggosok dirinya lagi. Jarinya masuk ke dalam sekarang, mengikuti irama dorongan Farhan yang semakin cepat.
Tiba-tiba… suara langkah kaki dari arah masjid.
Seseorang lewat di lorong dekat gudang, mungkin santri putri yang terlambat pulang dari musala.
Farhan dan Aisyah langsung membeku. Farhan tetap berada di dalam Aisyah, tangannya menutup mulut gadis itu. Mereka diam, napas ditahan.
Nadia di luar juga menarik langsung tangannya, bersembunyi lebih rapat ke dinding, jantungnya berdegup gila.
Langkah itu berlalu perlahan, menghilang.
Farhan dan Aisyah menghela nafas lega, namun hasrat mereka malah semakin membara ketegangan karena itu.
Farhan mulai bergerak lagi, kali ini lebih cepat, lebih keras. Gudang kecil itu berisi suara benturan pelan daging dengan daging, desahan tertahan, dan napas terengah-engah.
“Aku mau keluar lagi… bareng ya…” bisik Farhan.
Aisyah mengangguk cepat. “Di dalam aja… aku mau ngerasain kamu nyemprot di dalam…”
Beberapa dorongan keras lagi, dan mereka berdua mencapai klimaks secara bersamaan. Farhan mengerang pelan di telinga Aisyah, cairannya memenuhi dalam gadis itu. Aisyah mengoceh hebat, vaginanya berdenyut-denyut menjepit penis Farhan.
Nadia di luar juga keluar lagi untuk kedua kalinya, tubuhnya hampir ambruk ke tanah.
Saat semuanya reda, Farhan dan Aisyah berpelukan lagi di atas tikar, saling berciuman pelan, sambil berbisik kata-kata cinta.
Nadia perlahan mundur, matanya mengalir deras. Dia tahu malam ini dia sudah melihat terlalu banyak. Dan dia tahu, mulai sekarang, dia tidak akan bisa melihat Aisyah atau Farhan dengan cara yang sama lagi.
Cerita lengkap ada disini ada 18 bab
https://lynk.id/silviylstory2030Please respect copyright.PENANAQURTI7Wrxn


