Rafi di Balik Layar
7 Maret 2025, Jumat sore. Langit Jakarta sudah mulai gelap meski baru pukul 16:45. Rafi duduk di balkon kosannya di Kemanggisan, kaki selonjor di kursi plastik murah, HP di tangan kanan, rokok elektrik di tangan kiri. Asap vanila tipis mengepul ke udara lembab. Di layar HP-nya, folder “Via” sudah berisi 47 video—semua di-download dari TokTok Via, plus rekaman live Rabu malam kemarin yang dia simpan full HD.
Rafi bukan tipe cowok yang langsung nge-DM cewek random. Umurnya 24, kerja di startup fintech sebagai backend developer, gaji lumayan buat standar freshgraduate: 12 juta per bulan plus bonus. Kosannya rapi, motor Nmax hitam parkir di bawah, gym 3x seminggu, kadang nongkrong di kafe mewah sama temen kantor. Tapi dibalik itu semua, Rafi punya sisi yang jarang dia tunjukkan: obsesi terhadap cewek berjilbab yang “kontras”. Cewek yang kelihatan alim total, tapi tubuhnya… ya Tuhan, seperti Via.
Semuanya dimulai dari video joget syar'i pertama itu. Rafi lagi scroll FYP sambil makan mie instan malam Minggu, tiba-tiba muncul Via. Cadar hitam, mata sipit manis, suara lembut, tapi saat dia muter badan—khimar naik sedikit, dada montok bergoyang halus—Rafi langsung terdiam. Dia ulang video itu 7 kali malam itu juga. Besoknya, dia buka profil, gulir ke bawah, simpan semua video yang ada gerakan badan. Zoom-in bagian dada, pinggul, bahkan leher yang kadang terlihat pas khimar agak longgar.
“Gila… ini cewek beneran nggak sadar apa pura-pura?” gumamnya waktu itu.
Sekarang, setelah live Rabu malam kemarin, level obsesinya naik. Rekaman live itu dia putar ulang setiap malam. Bagian khimar naik pas angkat tangan: bra sport hitam terlihat jelas menekan payudara yang bulat penuh. Bagian napas Via tersengal pas duduk kembali: dada naik-turun cepat, kain gamis basah menempel. Dan yang paling bikin dia gila: saat Via membaca doa dengan mata terpejam, suaranya bergetar lembut—seperti desahan kecil yang tidak sengaja.
Rafi tarik napas panjang dari vape-nya, lalu buka galeri lagi. Dia memutar bagian live di menit 12:47—saat Via baca ayat Kursi. Suara Via pelan, agak serak karena hujan dingin. Rafi menutup mata, bayanganin suara itu di telinga, dekat sekali. Tangan kirinya turun pelan ke celana pendeknya. Dia nggak malu lagi—ini sudah jadi ritual malamnya sejak live itu.
Setelah selesai, dia bersihkan diri, lalu buka DM TokTok. Pesan terakhir dari Via: “Besok boleh voice note, tapi ingat ya batasannya. InsyaAllah aku balas setelah zuhur.”
Hari ini Jumat. Zuhur sudah lewat sejam yang lalu. Rafi tersenyum kecil. Dia membuka perekam catatan suara, tarik napas dalam, lalu rekam:
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh ukhti Via. Ini akhi Rafi. Alhamdulillah hari ini aku sempat shalat Jumat di masjid deket kantor. Terima kasih ya udah izinin voice note. Aku cuma mau bilang, live Rabu malam kemarin bener-bener menginspirasi. Suara ukhti pas baca doa… lembut banget, bikin hati tenang. Aku lagi usaha kurangin main game sampe larut, ganti baca Qur'an atau dengerin murottal. Kalau boleh, aku mau cerita sedikit tentang perjuangan hijrahku. Semoga tidak mengganggu. Jazakillah khair, ukhti.”
Dia kirim. Jantungnya berdegup kencang—bukan karena takut ditolak, tapi karena bersemangat. Ini langkah pertama ke catatan suara. Suara asli Via, bukan hanya dari speaker HP.
Di sisi lain , Via lagi duduk di kamar kos, baru selesai shalat Ashar. getaran HP. Dia buka DM, lihat voice note dari Rafi. Jarinya ragu sejenak, tapi akhirnya ditekan play.
Suara Rafi keluar: dalam, agak serak, tapi sopan. Nada bicaranya tenang, seperti orang yang benar lagi proses hijrah. Via dengar sampai habis, senyum kecil di balik cadar.
“Kayaknya tulus nih,” pikirnya.
Dia membalas voice note juga, suaranya lembut seperti biasa:
“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh akhi Rafi. Alhamdulillah kalau live kemarin bermanfaat. Seneng banget denger akhi lagi usaha istiqamah. Hijrah emang proses, nggak harus langsung sempurna. Aku dulu juga susah banget ninggalin kebiasaan lama. Kalau boleh tau, apa yang paling susah buat akhi sekarang? Biar aku bisa doain lebih spesifik. Semangat ya, insyaAllah Allah mudahkan.”
Catatan suara terkirim. Via taruh HP, lalu berdiri buat ambil air minum. Tapi entah kenapa, ada getar kecil di dada. Suara Rafi tadi… dalam, hangat, bikin bulu kuduknya merinding sedikit.
Rafi dapat memberitahukan voice note. Dia langsung play, volume penuh. Suara Via mengalir lembut ke telinga. Dia menutup mata, bayangin Via duduk di depannya, cadar hitam, mata sipit manis menatap. Dada montok naik-turun pelan setiap napas tarik. Rafi ulang voice note itu 3 kali berturut-turut.
“Gila… suaranya lebih enak dari video,” gumamnya.
Dia balas lagi, kali ini lebih panjang:
“Ukh, terima kasih udah bales. Yang paling susah buat aku sekarang… jujur ya, godaan mata. Scroll TokTok atau IG, sering ketemu konten yang bikin syahwat bangkit. Makanya aku seneng banget nemu konten ukhti—syar'i, mengingatkan kebaikan, tapi tetap… eh, estetika gitu. Maaf kalau terlalu blak-blakan. Aku cuma mau jujur biar ukhti bisa doain aku lebih kuat. Kalau boleh, boleh dong kita lanjut voice note besok? Aku janji batasin jamnya, ngga gangguan.”
Via baca transkrip voice note itu (dia menggunakan fitur auto-transcribe). Pipinya panas. Ada bagian “tetap estetis” yang membuat dia sadar: Rafi memperhatikan tubuhnya. Tapi dia tidak marah—malah ada rasa bangga kecil yang aneh.
Dia membalas voice note terakhir hari itu:
"Akhi Rafi, jujur itu bagus kok. Godaan mata emang ujian berat di zaman sekarang. Aku juga kadang takut kontenku malah jadi fitnah buat orang lain. Makanya aku selalu ingetin diri sendiri: niatnya beribadah, bukan pamer. Aamiin ya Rabbal alamin buat doa akhi. besok boleh lanjut voice note, tapi setelah Isya aja ya, biar gak terlalu malam. Semangat terus, Allah lihat usaha kita."
Malam itu, Rafi tidur dengan senyum. Dia sudah merencanakan: besok voice note lebih dalam. Tanya soal hidup sehari-hari Via, soal kesendirian di kos, soal apa yang dia suka lakuin pas malam hujan. Pelan-pelan, dia akan bikin Via nyaman. Lalu, suatu saat, dia akan ajak ketemu.
Sementara Via, sebelum tidur, buka galeri HP-nya. Ada foto selfie lama pas SMA—tanpa cadar, rambut panjang tergerai, baju ketat. Dia tampil dengan penampilan sekarang. “Dulu aku bebas… sekarang aku tertutup. Tapi kenapa rasanya ada yang kurang?” pikirnya.
Dia mematikan lampu. Di kegelapan kamar, suara Rafi masih menggema di kepalanya. Dan di kos Rafi, suara Via masih diputar ulang di earphone.
Keduanya belum sadar, bahwa voice note pertama itu sudah menjadi benang pertama yang mengikat mereka ke sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari sekadar percakapan hijrah.
Bersambung
Cerita lengkap ada di https://lynk.id/silviylstory Cerita ada 18 bab 72 hal bisa di victie juga cek di profil
ns216.73.217.39da2


