minggu pagi. Cahaya matahari pagi menyusup melalui celah tirai tipis di kamar kos Via, membuat debu beterbangan kecil di udara. Via baru selesai shalat Dhuha, masih duduk bersila di sajadah kecilnya. Cadar hitam sudah dilepas—hanya untuk di kamar sendiri, tentu saja—rambut panjangnya tergerai sedikit kusut karena semalam tidur pakai jilbab dalam. Dia memakai kaus longgar oversized dan celana pendek olahraga, bra sport hitam yang sama seperti yang terlihat sekilas di live Rabu lalu.
HP di samping sajadah bergetar pelan. Notifikasi TokTok: voice note baru dari @rafi_alfarizi.
Via tarik napas dalam, lalu mainkan.
Suara Rafi keluar, lebih santai dari sebelumnya, tapi tetap pakai salam:
“Assalamualaikum ukhti Via. Pagi ini aku lagi di teras kos, minum kopi sambil baca Qur'an juz 30. Tadi malam aku sempat mikir, ukhti bilang hijrah itu proses… bener banget. Aku dulu susah banget ninggalin scroll malam-malam, apalagi kalau nemu konten yang… eh, bikin hati gelisah. Tapi sejak nemu akun ukhti, aku mulai ganti ke konten yang mengingatkan. Makanya aku sering komen halal-halal di video ukhti, biar gak keliatan mesum. Hehe, maaf ya kalau keliatan lebay. Kalau boleh tanya, ukhti sendiri gimana sih ngatasin godaan buat bikin konten yang lebih… menarik perhatian? Karena kontennya ukhti memang beda, estetika tapi tetep syar'i.
Via dengar sampai habis, dua kali ulang. Ada bagian “konten yang bikin hati nyaman” yang bikin dia tersenyum kecil—dia tahu maksudnya. Tapi suara Rafi pagi ini terdengar hangat, seperti temen lama yang lagi curhat. Bukan seperti kebanyakan DM cowok lain yang langsung mesum atau minta foto.
Dia memutuskankan balas voice note juga, suaranya pelan seperti biasa:
Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh akhi Rafi. Alhamdulillah pagi ini aku baru selesai Dhuha, lagi rileks di kamar. Seneng banget denger akhi lagi baca Qur'an pagi-pagi. Itu amalan bagus, insyaAllah hati lebih tenang. Soal godaan bikin konten… jujur ya, aku juga ragu. Aku tahu kadang-kadang tubuhku… eh, agak menonjol meski sudah ditutup rapat. Kadang pas rekam, gerakan aja bikin khimar naik atau kain nempel. Aku selalu istighfar, niatin buat menginspirasi akhwat lain yang lagi hijrah, bukan buat dipandang cowok. Tapi ya… komentar-komentar itu kadang bikin aku mikir ulang. Makanya aku sering minta doa supaya Allah jaga niatku. Kalau boleh, boleh dong akhi cerita lebih lanjut soal perjuangan akhi? Biar aku bisa support dari sini
”
Catatan suara terkirim. Via taruh HP, lalu berdiri buat ganti baju. Tapi sebelum mandi, notifikasi masuk lagi—Rafi balas cepat.
Catatan suara baru:
“Ukh… terima kasih ya udah jujur. Aku notice dari awal kok, tubuh ukhti… subhanallah, montok tapi tertutup rapat. Itu justru yang bikin aku kagum—banyak cewek sekarang pamer, tapi ukhti beda. Aku tidak berbohong, awalnya aku suka liat konten ukhti karena… ya, estetikanya. Tapi lama-lama aku sadar, suara ukhti, cara bicara, itu yang bikin aku betah stay. Aku janji deh, aku usaha nunduk mata kalau lagi nonton. Tapi kalau ukhti izinin, aku mau Bilang: ukhti cantik banget, bahkan cuma dari mata aja keliatan. Maaf kalau kelewatan. Aku cuma… pengen jujur aja.
Via baca transkripnya (dia selalu pakai auto-transcribe biar gak dengar ulang kalau malu). Pipinya panas banget. Kata “montok tapi tertutup rapat” dan “cantik banget, bahkan cuma dari mata aja” bikin jantungnya berdegup kencang. Ini pertama kali ada cowok yang bilang langsung ke dia, dan sopan pula.
Dia duduk lagi di lantai, mikir panjang. Bagian dirinya yang solehah mengatakan “blok aja, ini fitnah”. Tapi bagian lain—yang selama ini kesepian di kos, yang capek selalu jadi “contoh akhwat baik”—merasa… dihargai. Diperhatikan bukan hanya karena konten, tapi karena dirinya sendiri.
Akhirnya dia merekam voice note lagi, suaranya agak gemetar:
"Akhi Rafi… terima kasih udah jujur. Aku nggak marah kok. Malah… seneng ada yang notice tapi tetep jaga adab. Aku juga manusia biasa, kadang butuh diingetin kalau aku cantik di mata Allah dan orang lain. Tapi ya, batasannya harus dijaga ya. Kita lanjut komunikasi aja, tapi jangan ke arah yang… nggak baik. Boleh cerita soal hari-hari akhi? Misalnya, kerjaan akhi apa, hobi apa? Biar lebih kenal sebagai saudara sesama muslim. InsyaAllah aku Allah cerita juga lebih banyak.”
Dari situ, DM mereka berubah. Bukan lagi hanya voice note pendek tentang hijrah, tapi mulai curhat kecil-kecilan.
Rafi cerita dia kerja di startup, suka coding malam-malam, kadang stres karena tenggat waktu. Via cerita dia lagi magang di pesantren kecil sebagai pengajar TPA anak-anak, suka banget ngajar tapi capek kalau anaknya rewel.
Obrolan berlanjut hampir setiap hari. Pagi voice note salam, siang tanya kabar, malam curhat ringan. Rafi selalu sisipkan pujian halus: “Suara ukhti pas cerita capek ngajar, lembut banget, bikin aku pengen denger terus.” Via balas: “Akhi jangan gombal ya, fokus hijrah aja.”
Tapi diam-diam, Via mulai menunggu notifikasi dari Rafi. Setiap voice note masuk, dia bermain di earphone, duduk sendirian di kamar, tersenyum-senyum sendiri. Kadang dia memutar ulang bagian pujian, mendengar ulang suara Rafi bilang “cantik banget”.
Rafi juga sama. Dia mulai menyimpan semua voice note Via di folder terpisah. Malam-malam, dia bermain sambil rebahan, bayangin wajah Via di balik cadar. Tangan belakangnya sering turun ke bawah selimut. Dia tahu ini salah, tapi obsesinya semakin kuat.
Tanggal 15 Maret, Sabtu malam. Via lagi live pendek, cuma baca doa malam. Rafi nonton dari awal sampai akhir, kirim hadiah lion kecil. Setelah live selesai, dia DM voice note panjang:
"Ukh, live tadi bagus banget. Suara ukhti pas baca doa… aku merinding. Aku lagi mikir, kapan ya bisa denger suara ukhti secara langsung? Bukan voice note, tapi… ketemu? Nggak usah buru-buru, cuma pengen ngobrol lebih deket sebagai saudara. Kalau ukhti nggak nyaman, nggak apa-apa. Aku paham kok.”
Via dengar voice note itu jam 23:17, sudah di kasur. Jantungnya berdegup kencang. “Ketemu?”
Dia tidak langsung membalas. Malam itu dia tidur nyaman, mimpi aneh: Rafi berdiri di depannya, tangannya perlahan angkat cadar Via, lalu… dia bangun kaget, napas tersengal, badan panas.
Pagi harinya, 16 Maret, Via akhirnya membalas voice note, suaranya pelan tapi tegas:
"Akhi Rafi… aku mikir semaleman. Ketemu… boleh. Tapi syaratnya ketat ya. Di tempat umum, siang hari, aku tetep full cadar, gak ada sentuhan, janji tetep batas saudara. Kalau akhi setuju, kita atur kapan. Tapi kalau akhi nggak bisa jaga batas, lebih baik nggak usah.”
Rafi dengar balasan itu, senyum lebar di kosannya. Dia langsung merekam:
"Alhamdulillah ukhti. Aku setuju semua syaratnya. Aku janji jaga adab. Minggu depan, Sabtu siang, di kafe deket UI? Tempatnya rame, banyak pelajar. Aku tunggu konfirmasi ukhti. Terima kasih ya… udah mau kasih kesempatan."
Via baca transkripnya, tarik napas panjang.
“Ya Allah…apa yang aku lakuin?” gumamnya.
Tapi dia membalas singkat:
“InsyaAllah setuju. Sabtu depan jam 13.00. Jangan telat ya akhi. Wassalam.”
DM pertama yang tadinya halal-halal, sekarang sudah berubah jadi janji pertemuan rahasia. Dan di balik layar, keduanya sama-sama tahu: ini bukan akhir, tapi baru permulaan dari sesuatu yang mereka berdua inginkan, meski masih terbungkus kata “hijrah” dan “saudara sesama muslim”.
Bersambung....
Cerita lengkap ada di sini https://lynk.id/silviylstory
Ada 18 bab lebih murah 1862Please respect copyright.PENANA8fV4qFEx9q


