Live Malam
Tanggal 5 Maret 2025, Rabu malam. Hujan deras mengguyur Jakarta sejak maghrib, membuat udara di kosan Via terasa lebih lembab dan hangat. Via selesai shalat Isya, masih pakai gamis abu-abu yang sama dari siang tadi—kainnya sedikit basah di bagian bahu karena tadi sempat kehujanan pas ambil paket endorse dari ojek online. Paket itu berisi hijab instan dan gamis baru dari brand kecil yang lagi naik daun, hadiah karena video olahraganya kemarin tembus 2,3 juta views.
Dia duduk di lantai, membuka paket itu sambil scroll TokTok. Followers sudah 187 ribu. Notifikasi undangan langsung dari pengikut banjir: “Ukh live dong”, “Ukh cerita hijrah lagi plis”, “Ukh baca Qur'an live yuk”. Melalui ragu-ragu. Biasanya dia live cuma sekali seminggu, Sabtu malam, durasi pendek 30 menit. Tapi malam ini mood-nya lagi bagus. Hujan deras, gak ada rencana keluar, dan dia pengen ngobrol sama follower yang katanya lagi butuh motivasi.
“Ya sudah lah, tinggal bentar aja,” gumamnya.
Melalui berdiri, periksa penampilan di cermin besar. Cadar hitam polos masih rapi, tapi khimarnya agak longgar karena tadi dipakai seharian. Dia tarik ke depan supaya lebih menutup dada, tapi tetap saja payudara montoknya membuat kain depan membusung lembut. Bra sport hitam tebal yang dia pakai di dalam seharusnya bisa menahan, tapi malam ini karena lembab, kain gamis menempel lebih rapat di kulit.
Dia memasang ring light lebih dekat, atur kamera HP di tripod agak rendah supaya sudutnya dari bawah—efek yang membuat pandangan tampak lebih besar dan ekspresif. Lalu tekan tombol Go Live.
Layar langsung ramai. Penonton naik cepat: 200… 500… 1.200 dalam 2 menit.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, ukhti dan akhi yang lagi hujan-hujanan di rumah masing-masing Alhamdulillah malam ini aku bisa live lagi. Maaf ya kemarin-kemarin jarang, ngajar sama endorse kecil-kecilan. Hari ini mau ngobrol santai aja, sambil baca doa-doa ringan atau tanya jawab kalau ada yang mau curhat.”
Suara Via lembut, agak serak karena hujan dingin. Dia tersenyum—mata berkerut manis di balik cadar.
Chat langsung membanjir:
- “Ukh cantik banget malem ini”
- “MasyaAllah tabarakallah, auratnya terjaga tapi tetep glowing”
- “Ukh joget syar'i lagi dong plis”
- “Dada ukhti kok makin keliatan montok ya? Maaf astaghfirullah”
Via baca beberapa komentar sopan dulu.
"Terima kasih ya ukhti yang bilang glowing, Alhamdulillah cuma pake skincare halal aja kok. Oh iya, tadi ada yang nanya soal hijrah dari joget. Aku dulu memang suka banget joget trend, tapi sekarang diganti jadi gerakan dzikir ringan. Mau lihat contohnya?"
Penonton langsung heboh: “Mau! Mau! Joget lagi ukh!”
Via tertawa kecil—suara tawanya lembut, hampir seperti desahan ringan.
“Oke deh, tapi cuma bentar ya.Gerakan dzikir sambil berdiri aja.”
Dia berdiri perlahan. Lagu nasyid favoritnya diputar pelan dari speaker: shalawat Nabi versi akustik tanpa beat keras. Via mulai melingkari tangan kanan-kiri pelan, seperti gerakan wirid. Pinggulnya bergoyang tipis mengikuti irama, dada naik-turun setiap tarikan napas dalam.
Pas bagian refrain, dia angkat kedua tangan ke atas seperti memohon. Khimar yang longgar terangkat karena gerakan tangan. Kain depan naik cukup tinggi—sekilas, garis bra sport hitam terlihat jelas menekan payudara yang montok. Bentuknya kentara sekali: bulat penuh, naik-turun pelan mengikuti napas Via yang mulai agak cepat karena gerakan.
langsung gila.
Chat cepat kencang:
- “Astaghfirullah… ukhti”
- “Subhanallah ukhti”
- “Ukh jangan angkat tangan lagi plis, aku takut dosa”
- “Ini siaran langsung terbaik malam ini”
- “Zoom dong ukh, plis”
Via sadar khimarnya naik. Dia buru-buru turunkan tangan, tarik khimar ke depan lagi. Tapi terlambat—sudah banyak yang screenshot.
“Maaf ya ukhti akhi, khimarnya longgar tadi. Aku tarik lagi deh supaya lebih rapi,” katanya sambil tertawa kecil, suaranya agak gemetar karena malu.
Tapi malah bikin penonton tambah heboh. Views sudah 8.700, hadiah mulai lebih baik: mawar, singa, bahkan unicorn.
Via duduk kembali, nafasnya sedikit tersengal. Dada naik-turun lebih jelas sekarang karena kain basah menempel.
"Ya Allah...maaf ya kalau tadi ada yang kurang sopan. Aku nggak sengaja. Mari kita lanjut baca doa. Doa sebelum tidur yuk, biar hati lebih tenang."
Dia mulai membaca doa dengan suara pelan, mata terpejam. Tapi chat masih pembohong:
- “Ukh napasnya kedengeran banget, seksi”
- “Suara ukhti lembut banget, bikin merinding”
- “Live ini bikin aku pengen taubat tapi malah pengen… eh”
Via coba abaikan. Dia lebih lanjut baca ayat Kursi pelan-pelan. Suaranya semakin lembut, hampir bergetar. Karena hujan deras di luar, AC mati, ruangan terasa panas. Keringat tipis mulai muncul di leher dan dada Via. Kain gamis menempel lebih rapat, menampilkan garis lekuk payudara yang basah oleh keringat.
Tiba-tiba, ada notifikasi hadiah besar: unicorn dari akun @rafi_alfarizi. Nominalnya lumayan—setara Rp1 juta.
Via baca nama pengirim.
“Jazakillah khair katsiran akhi Rafi… semoga Allah melipatgandakan balas ganda ya. Terima kasih support-nya.”
Dia senyum manis ke kamera—matanya berbinar.
Rafi, di kosannya di Kemanggisan, duduk tegak begitu Via sebut namanya. Dia lagi live dari HP, earphone nempel, tangan kanan memegang tisu karena tadi sudah… ya, begitu. Melihat Via angkat tangan tadi, khimar naik, bra hitam terlihat, dada montok bergoyang pelan—itu sudah cukup buatnya.
Dia mengetik di chat:
“Ukh, semangat terus ya. Konten ukh bermanfaat banget buat aku. Doain aku istiqamah hijrahnya.”
Via baca chat itu, senyum lagi.
“Aamiin ya Rabbal alamin, akhi Rafi.Semoga kita sama-sama dilindungi Allah dari fitnah dunia.”
Hidup berlanjut 15 menit lagi. Via coba alihkan topik ke ceramah ringan tentang sabar menghadapi hujan dan cobaan. Tapi setiap kali dia menarik napas dalam untuk bicara panjang, dada naik-turun lagi, kain menempel, dan chat kembali pembohong.
Akhirnya jam 22:15, Via pamit.
"Ukhti akhi, hujan makin deras nih. Aku tutup live-nya ya. Jangan lupa shalat tahajud kalau bisa. Semoga Allah beri ketenangan di hati kita semua. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."
Tinggal selesai. Tampilan akhir: 14.800. Total hadiah: hampir Rp 5 juta rekor buat Via.
Dia mematikan HP, duduk diam di lantai. Napasnya masih agak cepat. Pipi panas di balik cadar. Ada rasa malu yang di dalam, tapi juga… sensasi aneh. Sensasi dilihat, dikagumi, diinginkan—sesuatu yang selama ini dia hindari karena takut dosa.
Dia buka DM. Ada pesan dari Rafi, dikirim tepat setelah live selesai:
"Ukh, live tadi indah banget. Suara ukh lembut, bikin hati tenang. Tapi tadi pas khimar naik… maaf ya aku notice, tapi itu ujian buat aku. Aku berusaha nunduk mata. Jazakillah atas kontennya. Kalau boleh, boleh dong voice note besok? Pengen denger cerita hijrah ukh lebih dalam."
Via baca pesan itu berkali-kali. Jantungnya berdegup kencang lagi. Ada bagian dirinya yang bilang “tolak aja, bahaya”. Tapi ada bagian lain yang mengatakan “dia support, dia bilang lagi hijrah”.
Dia membalas singkat:
"Waalaikumsalam akhi. Alhamdulillah kalau bermanfaat. Besok boleh voice note, tapi ingat ya batasannya. InsyaAllah aku balas setelah zuhur. Semangat hijrahnya ya"
Dia taruh HP, lalu isi ulang. Hujan masih deras di luar. Tapi di dalam dada Via, ada badai kecil yang mulai berputar.
Sementara itu, Rafi di kosannya memutar ulang rekaman live yang dia screen record diam-diam. Zoom ke bagian khimar naik, ke dada yang naik-turun, ke senyum mata Via saat memanggil namanya. Dia tersenyum puas.
“Pelan-pelan, Via… sebentar lagi cadar itu aku buka sendiri,” gumamnya sambil mematikan lampu.
Malam itu, keduanya tidur dengan pikiran yang sama: besok akan ada voice note pertama. Dan dari situlah, pintu sisi gelap mulai terbuka lebar.
Cerita lengkap link di profil ya❤️🩹
Cerita sudah tamat hanya di lynkid
ns216.73.217.39da2


