Bab 3: Rutinitas yang Mulai Terasa Biasa
1416Please respect copyright.PENANALOuf22vZ1I
Tiga bulan berlalu sejak malam pertama mereka di hotel mewah itu. Rumah baru di kawasan elit Jakarta Selatan sudah terasa benar-benar seperti rumah—dinding putih bersih, furnitur minimalis, dan aroma kopi pagi yang selalu Bram buat untuk Aisyah. Pagi ini sama seperti pagi-pagi sebelumnya: Aisyah bangun lebih dulu, mengenakan kaus oversize milik Bram yang kebesaran sampai menutupi bokong bulatnya, lalu berjalan ke dapur dengan langkah ringan.
1416Please respect copyright.PENANAUKAQvPW8dh
Dia menuang kopi ke dua cangkir, menambahkan susu ke cangkirnya sendiri, lalu membawanya ke kamar. Bram masih terlelap, tubuh berototnya setengah tertutup selimut tipis. Aisyah meletakkan cangkir di meja samping, lalu naik ke ranjang pelan, merangkak mendekati suaminya.
1416Please respect copyright.PENANAEoiBJMOLui
“Bangun, suami ganteng,” bisiknya sambil mencium pipi Bram lembut.
1416Please respect copyright.PENANA0XTOJJnftF
Bram membuka mata perlahan, senyumnya langsung muncul. “Pagi, istri cantik.” Tangannya langsung meraih pinggang Aisyah, menariknya sampai duduk di atas pangkuannya. Kaus oversize itu naik sedikit, memperlihatkan paha mulus Aisyah yang putih.
1416Please respect copyright.PENANAiFIrFVv4G1
“Kopi dulu atau…?” tanya Bram nakal, tangannya sudah merayap ke bawah kaus, menyentuh bokong Aisyah yang telanjang.
1416Please respect copyright.PENANAvAYsO1C917
Aisyah tertawa kecil, memukul dada Bram pelan. “Kopi dulu lah. Nanti telat ke kantor.”
1416Please respect copyright.PENANA73CYdspSjR
Tapi Bram tidak peduli. Dia menarik Aisyah lebih dekat, mencium bibirnya dalam-dalam. Ciuman pagi ini seperti ritual: lambat, basah, penuh lidah yang saling bertemu. Rasa kopi yang baru diminum Aisyah bercampur dengan napas Bram yang masih hangat dari tidur. Suara “chup… chup…” terdengar lembut di kamar yang sunyi.
1416Please respect copyright.PENANAc1ilxx24T3
Tangan Bram naik, meremas payudara Aisyah dari bawah kaus. puting-puting itu langsung mengeras di telapak tangannya. Aisyah mendesah di mulut suaminya. “Bram… pagi-pagi…”
1416Please respect copyright.PENANAkjtPgcZw6b
“Pagi-pagi justru paling enak,” balas Bram serak, lalu membalikkan tubuh Aisyah sampai dia telentang di bawahnya. Kaus oversize ditarik ke atas, memperlihatkan tubuh telanjang Aisyah yang sudah familiar tapi tetap membuat Bram terpana setiap kali melihatnya.
1416Please respect copyright.PENANApt2QP4tTUw
Payudara E+ cup itu bergoyang pelan setiap kali Aisyah bernapas cepat. Bram menunduk, menjilat salah satu puting dengan lidah panas, menyedot lembut sambil giginya menggigit ringan. Aisyah menggeliat, tangannya meraih rambut Bram. “Ahh… Bram… enak…”
1416Please respect copyright.PENANA4HIk2hadP3
Tangan Bram turun, menyusuri perut rata, lalu masuk ke celah paha. vagina Aisyah sudah lembab sejak tadi, bibir luarnya licin dan hangat. Jemarinya mengelus kristoriskecil yang membengkak, menggosok melingkar pelan. Aisyah langsung mengangkat pinggul, mencari lebih.
1416Please respect copyright.PENANA41qSqKXAFd
“Kamu selalu siap banget tiap pagi,” gumam Bram sambil tersenyum.
1416Please respect copyright.PENANAg452fTZRez
“Salah kamu yang bikin aku gini,” protes Aisyah sambil cemberut lucu, tapi matanya penuh hasrat.
1416Please respect copyright.PENANAGsmrvlLi3S
Bram memasukkan dua jari sekaligus, menggerakkan masuk-keluar lambat. Suara licin “slurp… slurp…” terdengar jelas, bercampur desahan Aisyah yang semakin keras. Dia menambah kecepatan, jarinya melengkung mencari titik sensitif di dalam. Aisyah menjerit kecil, kakinya merapat.
1416Please respect copyright.PENANATd6McQAWeu
“Bram… aku… mau…”
1416Please respect copyright.PENANASfxnoiyYCq
Belum selesai bicara, Bram sudah menarik jarinya, lalu naik posisi. kontolnya yang sudah keras tegak sempurna, ujungnya berkilau. Dia memandu masuk pelan, kepala kontol meregangkan vagina Aisyah yang ketat. Suara “plop” basah terdengar, diikuti desahan panjang Aisyah.
1416Please respect copyright.PENANATHG85wLSx5
“Ahhh… penuh… Bram…”
1416Please respect copyright.PENANAFRS5PkdqtJ
Bram mulai bergerak, dorongan stabil dan dalam. Setiap kali masuk penuh, pangkal kontolnya menggesek kristorisAisyah, membuat istrinya menggeliat tak karuan. Suara kulit bertemu “plak… plak…” ritmis, bercampur napas mereka yang tersengal.
1416Please respect copyright.PENANAJUcle3YZLw
Aisyah merangkul leher Bram, kakinya melingkar di pinggang. “Lebih cepat… ahh… Bram… enak banget…”
1416Please respect copyright.PENANAoFLaHq7nLd
Bram mempercepat, dorongannya lebih kuat. vagina Aisyah berdenyut memerah kontol Bram setiap kali dia tarik keluar. Bau manis cairan Aisyah semakin kuat, menyeruak ke hidung mereka berdua. Aisyah mencapai puncak lebih dulu, tubuhnya mengejang, cairan orgasmenya menyembur hangat membasahi pangkal kontol. “AHHH… BRAM!!”
1416Please respect copyright.PENANAOnLxCsk96f
Bram ikut, mendorong dalam-dalam, spermanya menyemprot kuat di dalam kondom. “Aisyah… ahhh…”
1416Please respect copyright.PENANAeF3CKJYvBH
Mereka terdiam sesaat, keringat bercucuran. Bram mencium kening Aisyah lembut. “Pagi yang sempurna.”
1416Please respect copyright.PENANAL87yBf5WWm
Aisyah tersenyum lemah. “Setiap pagi sama kamu emang sempurna.”
1416Please respect copyright.PENANAY3azJQN4C6
Tapi di balik senyum itu, Bram mulai merasakan sesuatu yang berbeda. Tiga bulan ini seks mereka rutin—pagi sebelum kerja, malam sebelum tidur, kadang siang kalau libur. Selalu enak, selalu orgasme, tapi… sama. Misionaris, doggy, cowgirl—variasi posisi sudah mereka coba semua. Tidak ada lagi rasa gugup seperti malam pertama, tidak ada lagi kejutan.
1416Please respect copyright.PENANAkH4I0tOsrG
Saat mandi bersama sore itu, Bram memandang Aisyah yang sedang menyabuni tubuhnya. Air hangat mengalir di kulit putih Aisyah, membuat payudara dan bokongnya berkilau. Bram memeluk dari belakang, kontolnya menempel keras di celah bokong istrinya.
1416Please respect copyright.PENANATwkq9O7N5x
“Kamu lagi mikirin apa?” tanya Aisyah sambil memutar kepala.
1416Please respect copyright.PENANATdiNIBNays
Bram mencium tengkuknya. “Kamu. Dan… hal-hal baru yang bisa kita coba.”
1416Please respect copyright.PENANA8K0Wtiq4Ap
Aisyah tertawa kecil. “Hal baru? Kayak apa?”
1416Please respect copyright.PENANAkdViCVmNEJ
Bram diam sejenak. “Nanti aku ceritain. Sabar ya.”
1416Please respect copyright.PENANA2et8iTiCcP
Malam itu, setelah makan malam sederhana—nasi goreng buatan Aisyah—mereka duduk di sofa ruang tamu. Aisyah bersandar di dada Bram, tangan suaminya mengelus rambut panjangnya.
1416Please respect copyright.PENANAXbmyCJmUyL
“Bram… kamu kok akhir-akhir ini agak beda?” tanya Aisyah pelan.
1416Please respect copyright.PENANAcO39mHhibx
“Beda gimana?”
1416Please respect copyright.PENANA6MvvgG3E2P
“Lebih… pendiam kalau lagi mikir. Kayak lagi nyusun rencana gitu.”
1416Please respect copyright.PENANAtOevboawKM
Bram tertawa kecil, tapi ada nada serius di suaranya. “Aku cuma mikir… kita udah nikmatin banyak hal bareng. Tapi aku pengen lebih. Pengen eksplor lebih dalam sama kamu.”
1416Please respect copyright.PENANA0mLHRA0OMa
Aisyah memandang ke atas, mata cokelatnya penuh penasaran. “Eksplor gimana? Kayak mainan-mainan gitu?”
1416Please respect copyright.PENANAJdD1Q3OLRv
Bram mengangguk pelan. “Iya. Mainan, posisi baru, mungkin… sedikit permainan kekuasaan. Aku pengen lihat sisi lain dari kamu. Dan aku pengen kamu lihat sisi lain dari aku.”
1416Please respect copyright.PENANA3q5v84M3xS
Aisyah diam sejenak. Wajahnya merah, tapi bukan karena malu—lebih ke rasa ingin tahu yang mulai tumbuh. “Aku… nggak tahu banyak soal itu. Tapi kalau kamu yang ajarin… aku mau coba. Asal kamu janji pelan-pelan ya.”
1416Please respect copyright.PENANAJ0tSxP5L7O
Bram mencium bibir Aisyah lembut. “Janji. Aku nggak akan pernah maksa kamu. Kita coba bareng, kalau kamu nggak suka, kita stop.”
1416Please respect copyright.PENANA6SJabzMUmK
Aisyah tersenyum, lalu memeluk Bram erat. “Oke. Aku percaya kamu.”
1416Please respect copyright.PENANA81LTlu5Tp2
Malam itu, sesi seks mereka terasa sedikit berbeda. Bram lebih dominan—dia memerintah Aisyah untuk telanjang dulu, lalu berlutut di depan ranjang. Aisyah patuh, meski wajahnya merah padam.
1416Please respect copyright.PENANAfY8KkKAHVg
“Buka kaki lebar, Sayang,” perintah Bram lembut tapi tegas.
1416Please respect copyright.PENANAG32zE4I7C9
Aisyah melakukannya, vagina-nya terbuka lebar di depan mata Bram. Bau manisnya langsung tercium. Bram menunduk, lidahnya langsung menjilat kristorisAisyah dengan gerakan cepat. Aisyah menjerit, tangannya mencengkeram seprai.
1416Please respect copyright.PENANArzW6vCr0OR
“Ahh… Bram… lidah kamu… ahh!”
1416Please respect copyright.PENANA03tZqZbKwJ
Bram terus menjilat, menyedot kristoriskuat sambil jari-jarinya masuk ke vagina, mengaduk-aduk. Aisyah menggeliat hebat, pinggulnya naik-turun sendiri. “Bram… aku… mau keluar…”
1416Please respect copyright.PENANAmE3SUxJXb6
“Belum. Tahan dulu,” perintah Bram, lalu berhenti tiba-tiba.
1416Please respect copyright.PENANAY8VF7StrTx
Aisyah memprotes dengan suara manja. “Kenapa berhenti… aku udah di ujung…”
1416Please respect copyright.PENANAy7YqD4o3M9
“Itu namanya edging, Sayang. Biar orgasmenya lebih kuat nanti.”
1416Please respect copyright.PENANARXItngjl5o
Aisyah cemberut lucu. “Kamu jahat…”
1416Please respect copyright.PENANAiBVKBLs73C
Bram tertawa, lalu naik ke atas, memasukkan kontolnya dalam satu dorongan kuat. Aisyah menjerit panjang. “AHHH… dalam banget!”
1416Please respect copyright.PENANAXhtBCN3soz
Bram bergerak cepat, dorongannya keras dan dalam. Setiap kali Aisyah hampir mencapai puncak, Bram berhenti lagi, menarik keluar sepenuhnya. Aisyah hampir menangis karena frustrasi nikmat.
1416Please respect copyright.PENANA4X6fEcuCdC
“Bram… tolong… kasih aku keluar…”
1416Please respect copyright.PENANApEGwCFl6I3
Baru setelah yang ketiga kali, Bram membiarkan. Dorongannya super cepat, kontolnya menggesek kristorisAisyah tanpa ampun. Aisyah mengejang hebat, cairan orgasmenya menyembur kuat, tubuhnya bergetar panjang. “BRAM!! AHHH!! YA TUHAN!!”
1416Please respect copyright.PENANAVhX9oB9A5L
Orgasme itu terasa lebih intens dari biasanya, membuat Aisyah lemas beberapa menit. Bram ikut keluar di dalam, lalu memeluk istrinya erat.
1416Please respect copyright.PENANAwZQsJoCpgg
“Kamu luar biasa, Sayang,” bisiknya.
1416Please respect copyright.PENANAyQYLPQD3QH
Aisyah tersenyum lemah, napasnya masih tersengal. “Itu… gila. Aku suka… yang tadi. Yang ditahan-tahan gitu.”
1416Please respect copyright.PENANAiBp8WttfsE
Bram tersenyum dalam hati. Benih fetish mulai tumbuh. Besok, dia akan mulai mencari tahu lebih banyak—mungkin ke mall, mungkin ke tempat khusus. Dia ingin membawa Aisyah ke dunia yang lebih dalam, dan dari reaksi istrinya malam ini, sepertinya Aisyah juga siap.
1416Please respect copyright.PENANAw8LLPEvIqb
Di luar jendela, lampu kota Jakarta berkelap-kelip. Di dalam rumah, pasangan itu tertidur dalam pelukan, mimpi mereka penuh dengan kemungkinan kenikmatan baru yang menanti.
1416Please respect copyright.PENANAywYJ8Bpmtk
1416Please respect copyright.PENANAWWmjBYIoTj
1416Please respect copyright.PENANAKSAGsPAE0W
1416Please respect copyright.PENANAPK5NTlaRig
1416Please respect copyright.PENANAlhST5Wkvri


