Bab 2: Pagi yang Masih Panas
1577Please respect copyright.PENANAC9NUFUmUAl
Cahaya pagi menyusup lembut melalui tirai tipis suite hotel, membentuk garis-garis emas di atas seprai putih yang sudah kusut parah. Aisyah terbangun pelan, tubuhnya terasa berat tapi ringan sekaligus—seperti habis lari maraton tapi justru ingin lari lagi. Dia membuka mata perlahan, dan yang pertama dilihatnya adalah dada lebar Bram yang naik-turun pelan di sampingnya. Lengan suaminya melingkari pinggang Aisyah erat, seperti tak mau lepas.
1577Please respect copyright.PENANAecrOsdvGxi
Aisyah tersenyum kecil, wajahnya masih merah karena ingatan malam tadi. vagina-nya terasa sedikit perih, tapi perih yang enak, yang mengingatkan betapa penuhnya dia malam itu. Putingnya masih sensitif, setiap hembus napas Bram yang hangat menyentuh kulit dada membuat puting-puting itu mengeras lagi tanpa disentuh.
1577Please respect copyright.PENANAzMf2F29u8P
Dia menggeser tubuh pelan, ingin melihat wajah Bram lebih dekat. Rambut hitam lurus suaminya acak-acakan, bibirnya sedikit terbuka, dan senyum kecil masih tersisa meski sedang tidur. Aisyah tak tahan, jemarinya menyentuh pipi Bram lembut, lalu turun ke bibirnya, mengusap pelan.
1577Please respect copyright.PENANAomsf7iGRhF
Bram membuka mata perlahan, tatapannya langsung lembut tapi penuh api. “Pagi, istriku,” bisiknya serak, suara pagi yang dalam.
1577Please respect copyright.PENANAjmrvzFrSRP
“Pagi, suamiku,” balas Aisyah malu-malu, tapi matanya berbinar. “Kamu… tidur nyenyak?”
1577Please respect copyright.PENANA8XiM3VAYae
Bram tertawa kecil, tangannya merayap naik menyusuri punggung Aisyah yang telanjang. “Nyenyak banget. Tapi bangunnya lebih enak kalau lihat kamu gini.”
1577Please respect copyright.PENANAcFTXEKPQJu
Dia menarik Aisyah lebih dekat sampai dada mereka menempel. Kulit Aisyah yang putih kontras dengan kulit Bram yang lebih sawo matang. Payudara penuh Aisyah tertekan lembut ke dada Bram, puting-putingnya bergesek pelan setiap kali mereka bernapas. Aisyah menggigit bibir bawah, sensasi itu langsung menjalar ke bawah perut.
1577Please respect copyright.PENANATbQd4nPOhE
“Bram… pagi-pagi gini udah nakal aja,” protesnya sambil cemberut lucu, tapi tangannya malah merangkul leher suaminya lebih erat.
1577Please respect copyright.PENANAAReJKCYEyw
“Salah siapa yang bangun duluan dan ngelus-ngelus pipiku?” Bram membalikkan tubuh Aisyah dengan cepat, membuatnya telentang di bawahnya. Matanya menelusuri tubuh istrinya dari atas ke bawah—rambut hitam yang tersebar di bantal, mata cokelat yang memikat, hidung mancung, b/ibir merah yang sedikit bengkak karena ciuman semalam, lalu turun ke leher, payudara yang naik-turun cepat, perut rata, dan akhirnya vagina yang masih agak merah karena malam tadi.
1577Please respect copyright.PENANARqqXvxctgf
“Cantik banget,” gumam Bram lagi, suaranya rendah penuh kekaguman.
1577Please respect copyright.PENANAr9MKKQgV5l
Dia menunduk, mencium kening Aisyah dulu, lalu mata, hidung, pipi, sampai akhirnya bibir. Ciuman pagi ini lebih lambat, lebih dalam dari semalam. Lidah Bram menyusup pelan, menari dengan lidah Aisyah yang masih malu-malu. Rasa manis sisa pasta gigi mint bercampur air liur mereka, suara ciuman basah “chup… chup…” terdengar jelas di kamar yang sunyi.
1577Please respect copyright.PENANApZP3AyjfMM
Tangan Bram turun, meremas salah satu payudara Aisyah lembut. Jemarinya memilin puting yang sudah keras, memutar pelan lalu menarik ringan. Aisyah mendesah di dalam mulut Bram. “Mmm… Bram…”
1577Please respect copyright.PENANAO2FceFFD3z
Bram melepaskan ciuman, turun ke leher Aisyah, menjilat garis lehernya sampai ke tulang selangka. Bau sabun vanila dari tubuh Aisyah masih tersisa, bercampur aroma keringat semalam yang manis. Bram menyedot kulit leher itu pelan, meninggalkan tanda merah kecil. Aisyah menggeliat, kakinya merapat.
1577Please respect copyright.PENANA3EPOfbukK3
“Jangan ninggalin bekas… nanti kelihatan,” protes Aisyah sambil tertawa kecil.
1577Please respect copyright.PENANA7y47sA1Wrg
“Biarkan kelihatan. Biar semua tahu kamu punya suami,” jawab Bram nakal, lalu bibirnya langsung menangkap salah satu puting. Dia menjilat dulu lingkaran gelap di sekitarnya, lalu menyedot kuat sambil lidahnya memutar-mutar puncaknya. Aisyah menjerit kecil, punggungnya melengkung. “Ahh… Bram… sensitif banget…”
1577Please respect copyright.PENANAffda23aQX0
Tangan Bram yang lain merayap ke bawah, menyusuri paha dalam Aisyah yang sudah mulai lembab lagi. Jemarinya menyentuh bibir vagina yang masih agak bengkak, mengelus pelan tanpa langsung masuk. Aisyah menggigit bibir, pinggulnya naik sendiri mencari sentuhan lebih.
1577Please respect copyright.PENANAwily5gw8Hd
“Kamu basah lagi, Sayang,” bisik Bram di telinga Aisyah, napasnya hangat membuat bulu kuduk istrinya berdiri. “Masih sakit?”
1577Please respect copyright.PENANA0a0Maqr5vS
Aisyah menggeleng pelan. “Nggak… cuma… aneh. Kayak pengen lagi.”
1577Please respect copyright.PENANAkDRktxBb9Q
Bram tersenyum lebar. “Bagus. Karena aku juga pengen lagi.”
1577Please respect copyright.PENANAyIygKh4efu
Dia membalikkan tubuh Aisyah pelan sampai posisi menyamping, punggung Aisyah menempel dada Bram. Spooning position yang intim. kontol Bram yang sudah keras sejak tadi menempel di bokong bulat Aisyah, panas dan berdenyut. Bram menggesekkan pelan dulu, ujungnya menyentuh celah bokong lalu turun ke vagina dari belakang.
1577Please respect copyright.PENANAfghsbtruMs
Aisyah mendesah panjang. “Bram… dari belakang gini… malu…”
1577Please respect copyright.PENANA0hAwypO5CZ
“Malu kenapa? Kamu istriku,” Bram mencium tengkuk Aisyah, giginya menggigit pelan kulit di sana. Tangan kanannya merangkul dari belakang, meremas payudara Aisyah bergantian, sementara tangan kirinya memandu kontolnya ke pintu masuk vagina.
1577Please respect copyright.PENANAMaz2rrEwJO
Dia mendorong pelan. Kepala kontol masuk lagi, kali ini lebih mudah karena Aisyah sudah licin. Suara “plop” basah terdengar, diikuti desahan Aisyah yang panjang. “Ahhh… penuh lagi…”
1577Please respect copyright.PENANAXt0Z3D4oje
Bram tidak buru-buru. Dia bergerak pelan, masuk-keluar dengan irama lambat tapi dalam. Setiap dorongan membuat bokong Aisyah bergesekan dengan pangkal kontol Bram, suara kulit bertemu “plak… plak…” pelan tapi ritmis. Tangan Bram terus meremas puting Aisyah, memilin dan menarik ringan, membuat Aisyah semakin gelisah.
1577Please respect copyright.PENANAXnaeR9KGAP
“kristoriskamu keras banget,” bisik Bram, jarinya turun menyentuh kristoriskecil yang membengkak. Dia menggosoknya melingkar sambil terus mendorong dari belakang. Aisyah menjerit kecil, kakinya merapat mencoba menahan sensasi yang menumpuk.
1577Please respect copyright.PENANAPmObN35flX
“Bram… aku… cepet lagi… ahh…”
1577Please respect copyright.PENANAWmZLQIUFMs
Bram mempercepat sedikit, dorongannya lebih kuat. kontolnya keluar-masuk vagina Aisyah dengan suara licin “slurp… slurp…”, cairan bening Aisyah menetes ke paha mereka berdua. Bau manis vagina Aisyah semakin kuat, bercampur aroma maskulin Bram yang semakin panas.
1577Please respect copyright.PENANA7yBlJXC5OC
Aisyah merasa gelombang itu datang lagi, lebih cepat dari semalam. “Bram… aku mau… keluar…”
1577Please respect copyright.PENANAYdTsIP3Jw3
“Sabar, Sayang. Bareng aku,” Bram menggigit bahu Aisyah pelan, dorongannya semakin dalam. Dia menekan kristorisAisyah lebih kuat, menggosok cepat.
1577Please respect copyright.PENANAKlOfeicBb0
Aisyah mengejang, vagina-nya berdenyut kuat memerah kontol Bram. “AHHH… BRAM!!” cairan orgasmenya menyembur hangat, membasahi paha dan seprai. Bram ikut mencapai puncak, mendorong dalam-dalam, spermanya menyemprot kuat di dalam kondom. “Aisyah… ahhh… cintaku…”
1577Please respect copyright.PENANAwlITqpN1tr
Mereka terdiam sesaat, napas tersengal. Bram mencium tengkuk Aisyah lembut, tangannya masih memeluk erat.
1577Please respect copyright.PENANATBBPc00S0F
“Kita… harus check out siang ini,” kata Aisyah pelan, suaranya lemah tapi bahagia.
1577Please respect copyright.PENANA6FQab9pVgW
Bram tertawa kecil. “Iya. Pulang ke rumah baru kita. Mulai hidup beneran sebagai suami istri.”
1577Please respect copyright.PENANABmE1akyG0G
Aisyah memutar tubuh, menghadap Bram. Matanya berkaca-kaca. “Aku seneng banget… jadi istri kamu.”
1577Please respect copyright.PENANARzx3bjAkGh
Bram mencium keningnya lama. “Aku juga. Dan ini baru awal, Sayang. Masih banyak yang bisa kita coba bareng.”
1577Please respect copyright.PENANACH1beYDriS
Aisyah tersenyum malu, tapi ada kilau penasaran di matanya. “Banyak yang bisa dicoba?”
1577Please respect copyright.PENANAIupOA5ztOg
Bram mengangguk, senyumnya nakal. “Banyak. Tapi pelan-pelan. Aku mau kamu nikmatin setiap langkahnya.”
1577Please respect copyright.PENANAginaDN3qA9
Mereka berbaring lagi dalam pelukan, menikmati sisa pagi yang hangat. Di luar, kota besar Jakarta sudah mulai ramai, tapi di dalam kamar ini, dunia mereka masih hanya berdua—penuh kenikmatan yang baru saja dibuka.
1577Please respect copyright.PENANAt9vassoFHC
Siang itu, setelah check out, mereka naik mobil menuju rumah baru di kawasan elit Jakarta Selatan. Rumah dua lantai modern, dengan taman kecil dan balkon luas. Begitu masuk, Aisyah langsung berlari ke kamar utama, melompat ke ranjang king size yang baru.
1577Please respect copyright.PENANASJrSWsjC5d
“Ini rumah kita beneran, Bram!” serunya girang.
1577Please respect copyright.PENANAZNt2BvsIZH
Bram mengikuti, menjatuhkan diri di samping Aisyah. “Iya. Dan malam ini… kita lanjutin lagi?”
1577Please respect copyright.PENANAValbIU8ps9
Aisyah memukul lengan Bram pelan sambil tertawa. “Kamu nggak capek apa?”
1577Please respect copyright.PENANAVsiwQKimBy
“Capek? Sama kamu? Nggak pernah,” jawab Bram, lalu menarik Aisyah ke pelukannya lagi.
1577Please respect copyright.PENANA9J9ywiGZmq
Sore itu, di rumah baru mereka, sesi ketiga dimulai dengan lebih santai tapi tak kalah panas. Bram membaringkan Aisyah di ranjang, kali ini tanpa buru-buru. Dia mulai dengan pijatan lembut di seluruh tubuh Aisyah—dari bahu, punggung, pinggang, sampai paha. cairan orgasme pijat wangi lavender dia tuang ke telapak tangan, lalu mengoleskan pelan.
1577Please respect copyright.PENANA8PBYBmQ8zJ
Aroma lavender menyeruak, bercampur bau tubuh Aisyah yang semakin hangat. Tangan Bram menyusuri setiap inci kulit putih itu, meremas bokong bulat Aisyah pelan, lalu naik ke payudara. Jemarinya memilin puting-puting itu sampai Aisyah mendesah terus-menerus.
1577Please respect copyright.PENANABf6RiAzNPy
“Lagi… Bram… pijat di situ lagi…”
1577Please respect copyright.PENANAoqsWPqdl9k
Bram tersenyum, lalu turun ke vagina. Jarinya mengelus bibir luarnya dulu, lalu memisahkan perlahan. kristorisAisyah sudah membengkak lagi. Dia menggosok pelan dengan ibu jari, sementara jari lainnya masuk ke dalam, mengaduk-aduk dinding hangat yang licin.
1577Please respect copyright.PENANA41yGITiuQf
Aisyah menggeliat, tangannya mencengkeram seprai. “Enak… Bram… lebih dalam…”
1577Please respect copyright.PENANAh6XIA7jSNL
Bram menambah jari, menggerakkan masuk-keluar lambat. Suara licin terdengar lagi, bercampur desahan Aisyah yang semakin keras. Bram menunduk, lidahnya menyentuh kristorisitu, menjilat pelan lalu menyedot ringan.
1577Please respect copyright.PENANAp8dz6ws568
Aisyah menjerit. “Ahhh… lidah kamu… panas…”
1577Please respect copyright.PENANAIlh3WNLbTW
Bram terus menjilat, lidahnya menari di kristorissambil jari-jarinya bergerak lebih cepat. Aisyah mencapai puncak lebih cepat kali ini, tubuhnya mengejang, cairan orgasmenya menyembur ke mulut Bram. “BRAM!! AHHH!!”
1577Please respect copyright.PENANA4pM0pGSCyH
Bram menjilat semuanya pelan, lalu naik lagi, mencium Aisyah dalam-dalam supaya istrinya merasakan rasanya sendiri. Aisyah tersipu tapi tak menolak.
1577Please respect copyright.PENANANBijTB388B
Malam itu, mereka tidur dalam pelukan, tubuh saling menempel. Aisyah berbisik pelan sebelum terlelap. “Aku suka hidup bareng kamu, Bram.”
1577Please respect copyright.PENANAFEyU0FYENV
Bram mencium keningnya. “Aku juga. Dan besok… kita mulai rutinitas baru.”
1577Please respect copyright.PENANABTOVQg2m0U
Aisyah tersenyum dalam tidur. Dunia mereka baru saja dimulai—dan rasanya, kenikmatan ini tak akan pernah berakhir.
1577Please respect copyright.PENANAyKXeRem8bv


