Bab 1: Malam Pertama yang Membakar
1999Please respect copyright.PENANAZ7R6neFsjV
Aisyah berdiri di depan cermin kamar suite hotel bintang lima itu, tangannya gemetar sedikit saat menyentuh gaun tidur sutra putih yang tipis banget sampai hampir tembus pandang. Kainnya menempel lembut di kulitnya yang putih mulus, menonjolkan lekuk tubuh langsingnya. Payudara berukuran E+ cup terlihat penuh dan berat di balik renda halus, putingnya yang masih mengeras karena dingin AC samar-samar terlihat seperti dua butir puting merah muda yang menggoda. Bokongnya yang bulat tapi tidak terlalu besar terasa lebih sensitif dari biasanya, seperti tahu malam ini akan jadi milik seseorang selamanya.
1999Please respect copyright.PENANAHuWxeuyGb5
Dia menarik napas dalam-dalam. Rambut hitam panjangnya tergerai sampai pinggang, mata cokelatnya memandang pantulan dirinya sendiri dengan campuran gugup dan penasaran. “Ya Tuhan… ini beneran malam pertama,” gumamnya pelan, suaranya hampir tak terdengar.
1999Please respect copyright.PENANAzlplTyClNc
Pintu kamar mandi terbuka pelan. Bram keluar hanya dengan handuk melilit pinggang. Tubuhnya yang berotot tapi tidak terlalu kekar, tinggi 170 cm, terlihat basah oleh sisa air mandi. Rambut hitam lurusnya masih meneteskan air, dan senyum menawannya muncul begitu mata mereka bertemu.
1999Please respect copyright.PENANAHI7p1BNetk
“Kamu cantik banget, Sayang,” ucap Bram lembut, suaranya rendah dan hangat seperti bisikan angin malam.
1999Please respect copyright.PENANA2kNT9bauqY
Aisyah tersipu, tangannya buru-buru menutup dada meski gaun itu sudah hampir tak menutupi apa-apa. “Jangan ngeliatin gitu dong… malu.”
1999Please respect copyright.PENANAUY6XqBlOFK
Bram tertawa kecil, melangkah mendekat. Langkahnya pelan, seperti predator yang tahu mangsanya tak akan lari. “Malu kenapa? Kamu istriku sekarang. Semuanya milikku.”
1999Please respect copyright.PENANAO2pJxXC4pY
Dia berdiri tepat di depan Aisyah, jarak mereka hanya beberapa senti. Aroma sabun mandi Bram yang segar bercampur wangi maskulin alaminya langsung menyeruak ke hidung Aisyah. Hangat tubuhnya terasa sebelum disentuh. Bram mengangkat tangan kanannya, jemarinya menyentuh pipi Aisyah dengan lembut, lalu turun menyusuri leher, bahu, sampai ke tali gaun tidur yang tipis itu.
1999Please respect copyright.PENANAfCpeRPMVj5
“Tarik napas dalam, Sayang. Aku nggak akan buru-buru. Kita punya sepanjang malam.”
1999Please respect copyright.PENANA6DgrkGrUcc
Aisyah mengangguk kecil, tapi jantungnya berdegup kencang sampai terdengar di telinganya sendiri. Bram menarik tali gaun perlahan. Kain sutra meluncur ke bawah seperti air terjun lembut, memperlihatkan payudara penuh Aisyah yang terangkat karena napasnya yang tersengal. Putingnya langsung mengeras lebih keras di udara dingin kamar.
1999Please respect copyright.PENANAGNQetCxbnx
Bram menatapnya lama, matanya gelap penuh hasrat. “Lihat ini… sempurna.” Jemarinya menyentuh salah satu puting merah muda itu, mengelus pelan dengan ibu jari. Aisyah langsung menggigit bibir bawahnya, suara desahan kecil keluar tanpa sadar. “Ahh…”
1999Please respect copyright.PENANAHZYzWvZ9WU
Sensasi itu seperti listrik kecil yang menjalar dari dada sampai ke perut bawahnya. Bram menunduk, bibirnya menyentuh kulit leher Aisyah dulu, mencium pelan, lalu menjilat garis lehernya dengan lidah hangat. Rasa asin kulit Aisyah bercampur wangi parfum vanila yang dia pakai tadi sore. Aisyah memejamkan mata, tangannya meraih bahu Bram untuk menahan diri.
1999Please respect copyright.PENANA7r04e8QlFn
Bram terus turun. Bibirnya menemukan salah satu puting, menjilat dulu pelan di sekitar lingkaran gelapnya, lalu menyedot lembut. “Mmm… manis,” gumamnya di antara sesapan. Aisyah menjerit kecil, punggungnya melengkung. “Bram… ahh… pelan…”
1999Please respect copyright.PENANAFNK5cnxxuS
Tapi Bram tidak berhenti. Tangan kirinya merayap ke bawah, menyusuri perut rata Aisyah, lalu masuk ke celah pahanya yang sudah lembab. Jarinya menyentuh vagina yang masih tertutup rapat, hanya mengelus bibir luarnya dengan lembut. Aisyah langsung menggigit bahu Bram, suara “hngg…” terdengar basah.
1999Please respect copyright.PENANAfsbsLtotTc
“Sudah basah banget, Sayang. Kamu pengen aku, ya?” tanya Bram sambil tersenyum nakal.
1999Please respect copyright.PENANAunWz7pImxl
Aisyah menggeleng cepat, tapi wajahnya merah padam. “Jangan bilang gitu… malu…”
1999Please respect copyright.PENANAQ5jg69zGzA
Bram tertawa pelan, lalu mengangkat Aisyah dengan mudah, membawanya ke ranjang king size yang sudah ditaburi kelopak mawar merah. Dia merebahkan Aisyah di tengah, lalu naik ke atasnya, handuknya sudah terlepas entah kapan. kontol Bram yang sudah keras dan panjang—ukuran 19 cm—terlihat tegak, urat-uratnya menonjol, ujungnya berkilau karena cairan bening yang keluar.
1999Please respect copyright.PENANAoMLSDgLRE5
Aisyah menatapnya dengan mata melebar. “Itu… gede banget…”
1999Please respect copyright.PENANAQOkM04hX4b
Bram tersenyum, mencium bibir Aisyah dalam-dalam. Lidah mereka bertemu, saling menari, rasa manis permen mint dari mulut Bram bercampur air liur Aisyah yang semakin banyak. Ciuman itu basah, berisik, suara “chup… chup…” terdengar jelas di kamar yang sunyi.
1999Please respect copyright.PENANAthj0X9SUgl
Tangan Bram turun lagi, kali ini memisahkan bibir vagina Aisyah dengan jari telunjuk dan tengah. Dia menemukan kristoriskecil yang sudah membengkak, menggosoknya pelan dengan gerakan melingkar. Aisyah langsung menggeliat, pinggulnya naik sendiri. “Ahh… Bram… itu… enak… tapi aneh…”
1999Please respect copyright.PENANAME1XQVgb02
“Tenang, Sayang. Aku mau kamu nikmatin semuanya.” Bram terus menggosok kristorisitu lebih cepat, lalu memasukkan satu jari ke dalam vagina yang sudah licin. Dinding dalamnya hangat, ketat, menyedot jari Bram seperti tak mau lepas. Aisyah menjerit kecil, kakinya merapat.
1999Please respect copyright.PENANAx50KDWRKDO
Bram menambah satu jari lagi, menggerakkan perlahan masuk-keluar, sambil bibirnya kembali ke puting Aisyah, menyedot bergantian. Bau harum vagina Aisyah yang manis mulai tercium, bercampur aroma tubuh mereka yang semakin panas.
1999Please respect copyright.PENANAxI0lTKwkIN
Aisyah merasa ada sesuatu yang menumpuk di perut bawahnya, seperti gelombang yang mau pecah. “Bram… aku… rasanya mau… ahh!”
1999Please respect copyright.PENANAennjKPWW1f
Bram berhenti tiba-tiba, menarik jarinya keluar. Aisyah memprotes dengan suara manja. “Kenapa berhenti…?”
1999Please respect copyright.PENANAbMZwcrXwGB
“Belum waktunya, Sayang. Aku mau kamu orgasme bareng aku, pas aku masuk.”
1999Please respect copyright.PENANAAEUFrnNg8Q
Dia meraih kondom dari meja samping, memakainya dengan cepat. Lalu kembali ke atas Aisyah, posisi misionaris klasik. Ujung kontolnya menyentuh bibir vagina Aisyah, menggesek pelan dulu, melumasi dengan cairan mereka berdua.
1999Please respect copyright.PENANA8z8xGQ3Ytu
“Siap, Sayang? Ini mungkin sakit sedikit di awal.”
1999Please respect copyright.PENANAcloRHUUHBX
Aisyah mengangguk, matanya berkaca-kaca karena campuran takut dan ingin. “Aku percaya kamu…”
1999Please respect copyright.PENANAPRLVZ1y2wT
Bram mendorong pelan. Kepala kontolnya masuk, meregangkan dinding ketat Aisyah. Aisyah menjerit kecil, tangannya mencengkeram seprai. “Sakit… Bram… pelan…”
1999Please respect copyright.PENANAJQ5bJSxuT0
Bram berhenti, mencium kening Aisyah, bibirnya, pipinya. “Sst… napas dalam. Aku nggak gerak dulu.” Dia tetap di situ, hanya menggerakkan pinggul kecil-kecilan supaya Aisyah terbiasa.
1999Please respect copyright.PENANAoHGvyBAeiz
Perlahan, rasa sakit berubah jadi penuh, hangat, dan… nikmat. Aisyah mulai menggerakkan pinggulnya sendiri, mencari lebih. “Bram… lanjut…”
1999Please respect copyright.PENANAqYPL2tlA6O
Bram tersenyum, lalu mendorong lebih dalam. Setengah kontolnya masuk, lalu hampir seluruhnya. Suara “plop” basah terdengar saat dia masuk penuh. Aisyah menjerit lagi, tapi kali ini karena kenikmatan. “Ahhh… penuh… Bram… dalam banget…”
1999Please respect copyright.PENANASXfPIoeMLA
Bram mulai bergerak pelan, masuk-keluar dengan irama stabil. Setiap dorongan membuat payudara Aisyah bergoyang, puting-putingnya bergesekan dengan dada Bram yang keras. Suara kulit bertemu kulit “plak… plak…” pelan tapi ritmis, bercampur desahan mereka berdua.
1999Please respect copyright.PENANAWTgd1DYBqk
Aisyah merangkul leher Bram, kakinya melingkar di pinggang suaminya. “Lebih cepat… ahh… Bram… enak…”
1999Please respect copyright.PENANAA8mGn1gzZi
Bram mempercepat, dorongannya lebih kuat. kontolnya keluar-masuk vagina Aisyah dengan suara licin “slurp… slurp…”, cairan bening Aisyah membasahi pangkal kontol Bram setiap kali dia tarik keluar.
1999Please respect copyright.PENANA13DQjZsrFy
Aisyah merasa gelombang itu datang lagi, lebih kuat. “Bram… aku… mau… keluar…”
1999Please respect copyright.PENANARxjVq9gvk8
“Sama, Sayang… bareng ya…” Bram mendorong lebih dalam, menggesek kristorisAisyah dengan setiap gerakan. Aisyah menjerit panjang, tubuhnya mengejang. “AHHH… BRAM!!”
1999Please respect copyright.PENANA32a8HPTa7X
vagina Aisyah berdenyut kuat, memerah kontol Bram, cairan orgasmenya menyembur hangat membasahi mereka berdua. Bram ikut mencapai puncak, mendorong dalam-dalam, spermanya menyemprot kuat di dalam kondom. “Aisyah… ahhh… Sayangku…”
1999Please respect copyright.PENANAiMAb8Akrow
Mereka berdua terdiam sesaat, napas tersengal, keringat bercucuran. Bram mencium kening Aisyah lembut. “Kamu luar biasa.”
1999Please respect copyright.PENANABYuKJVSAjd
Aisyah tersenyum lemah, matanya berkaca-kaca bahagia. “Aku… nggak nyangka… segila ini…”
1999Please respect copyright.PENANAY01kdFRmCC
Bram menarik diri pelan, membuang kondom, lalu memeluk Aisyah erat. Mereka berbaring dalam diam, hanya mendengar detak jantung satu sama lain.
1999Please respect copyright.PENANApxSXPSAZkm
Malam itu baru permulaan. Dunia baru yang penuh kenikmatan terbuka lebar di depan mereka.
1999Please respect copyright.PENANAWGKmvUEqw0


