Bab 3: Tarik Ulur yang Mulai Terasa
5220Please respect copyright.PENANAUjdkLhVLXY
Hari-hari magang Zahra berlalu dengan ritme yang semakin cepat. Sudah hampir dua minggu sejak pertemuan pertama dengan Riyan, dan sekarang ruang kerja mereka terasa lebih akrab. Meja Zahra yang kecil kini penuh dengan printout laporan, sticky notes berwarna-warni, dan secangkir kopi yang selalu Riyan bawakan tanpa diminta. "Ini buat kamu, biar nggak ngantuk," katanya pagi itu sambil meletakkan gelas panas di samping laptop Zahra. Aroma kopi hitam pekat bercampur dengan parfum Riyan yang maskulin membuat Zahra diam-diam menarik napas lebih dalam.
5220Please respect copyright.PENANAapGiwn7SwM
Zahra mengangkat wajah, mata cokelatnya bertemu dengan tatapan Riyan yang selalu tenang tapi penuh arti. "Makasih, Mas. Tapi jangan biasain ya, nanti aku manja." Suaranya berusaha santai, tapi ada nada pemarah yang khas saat dia merasa digoda. Riyan hanya tersenyum tipis, duduk di pinggir meja Zahra sehingga lutut mereka hampir bersentuhan. "Manja sama aku boleh kok. Aku nggak keberatan." Kata-katanya ringan, tapi nada suaranya rendah, seperti bisikan yang ditujukan hanya untuk Zahra.
5220Please respect copyright.PENANAMaSyaOX5eF
Pagi itu mereka bekerja sama menyusun proposal suplemen baru. Riyan berdiri di belakang Zahra, tangannya menunjuk layar laptop sambil menjelaskan grafik data. Jaraknya begitu dekat hingga Zahra bisa merasakan panas tubuh Riyan di punggungnya. Napasnya yang hangat menyapu leher Zahra yang terbuka sedikit di balik hijab. "Di sini kita tambahin klaim manfaat hormon balance-nya," ujar Riyan, jarinya menyentuh mouse tapi juga tak sengaja menyenggol punggung tangan Zahra. Sentuhan itu singkat, tapi cukup membuat Zahra tersentak pelan. Kulitnya merinding, putingnya mengeras di balik bra tanpa bisa dikendalikan.
5220Please respect copyright.PENANASfoTUzs9zs
Zahra mundur sedikit kursinya. "Aku... aku catat dulu ya." Suaranya agak gemetar, tapi dia berusaha terlihat normal. Riyan tak mundur, malah mencondongkan tubuh lebih dekat. "Kamu tegang ya hari ini? Santai aja, Zahra. Kita tim." Matanya menatap lurus ke mata Zahra melalui pantulan layar. Zahra merah pipi, sifat tidak enakannya muncul. Dia tak bisa langsung menolak, hanya mengangguk pelan. "Iya, Mas. Maaf."
5220Please respect copyright.PENANAjxLqIdUQ1v
Siang harinya, tim makan bersama di resto halal dekat gedung. Riyan sengaja duduk di sebelah Zahra. Saat memesan makanan, tangannya "tak sengaja" menyentuh paha Zahra di bawah meja saat mengambil sendok. Zahra langsung menepis pelan, matanya melotot pemarah. "Mas Riyan!" bisiknya marah tapi pelan agar tak terdengar orang lain. Riyan pura-pura tak bersalah. "Apa? Sendoknya jatuh tadi." Tapi senyumnya nakal, membuat Zahra semakin gelisah. Di bawah meja, lutut mereka bersenggolan lagi, dan kali ini Zahra tak langsung menjauh. Rasa penasaran mulai mengalahkan rasa malunya.
5220Please respect copyright.PENANAbWn9QOWynq
Sepanjang makan, Riyan terus menggoda dengan halus. "Kamu suka masak nggak? Kayaknya ibu kamu pasti jago masak, deh. Badan kamu seksi gini, pasti dari gen ibu." Zahra tersedak minumnya. "Mas! Jangan ngomong gitu dong. Ih, pemarah aku kalau gini." Tapi dia tertawa kecil, sifat lucunya keluar. Riyan memandangnya lama. "Lucu banget kalau marah. Mata kamu menyipit gitu, kayak kucing lagi ngambek." Zahra memukul lengan Riyan pelan. "Udah ah, fokus makan!"
5220Please respect copyright.PENANAbjCx202JVK
Sore hari, saat tim bubar, Riyan menahan Zahra. "Zahra, stay bentar. Kita review proposal bareng yuk, di ruang meeting kecil." Zahra ragu, tapi tidak enakan menolak. Mereka masuk ke ruang meeting yang sepi, pintu ditutup. Cahaya sore menyusup lewat jendela kaca buram. Riyan duduk di sebelah Zahra, bukan di depan. Mereka membahas dokumen, tapi pikiran Zahra melayang. Saat Riyan menjelaskan poin terakhir, tangannya meletak di paha Zahra – kali ini jelas sengaja. "Kamu paham nggak bagian ini?" tanyanya, suara rendah.
5220Please respect copyright.PENANApBUfcoWzrX
Zahra menatap tangan itu, jantungnya berdegup kencang. "Mas... jangan." Tapi suaranya lemah, tak ada kekuatan untuk mendorong. Riyan tak menarik tangan, malah mengusap pelan. "Kenapa? Kamu takut?" Zahra menggeleng, tapi matanya berkaca. "Aku... aku nggak biasa gini." Riyan mendekatkan wajahnya, napasnya menyentuh pipi Zahra. "Aku suka kamu, Zahra. Dari hari pertama." Kata-kata itu membuat Zahra diam, tubuhnya panas. Riyan mencium pipi Zahra pelan, singkat, tapi cukup membuat vagina Zahra basah di balik celana dalam.
5220Please respect copyright.PENANA17oPyCyuS9
Zahra bangkit tiba-tiba. "Aku pulang dulu!" katanya buru-buru, keluar ruangan dengan wajah merah. Riyan tersenyum puas di belakangnya. Bibit sudah tertanam lebih dalam.
5220Please respect copyright.PENANAJ1dIz47Zqc
Malam itu, di rumah, Layla menyambut Zahra dengan senyum. "Gimana hari ini, sayang? Kelihatan capek tapi... glowing." Zahra duduk di sofa, memeluk bantal. "Biasa aja, Ma. Tapi Mas Riyan... dia suka godain aku." Layla tertawa lucu. "Ya ampun, anak Mama mulai dikejar cowok ya? Ceritain dong." Zahra menceritakan sedikit, tapi menyembunyikan sentuhan tadi. Layla mendengarkan, matanya berbinar. Diam-diam, dia iri. Kesepiannya semakin terasa. Saat Zahra mandi, Layla sendirian di kamar, tangannya menyentuh tubuhnya sendiri. putingnya sensitif, dia membayangkan sentuhan Arya – atau bahkan kakak iparnya yang kadang mengirim pesan manis. "Astaghfirullah," gumamnya, tapi tubuhnya tetap bereaksi.
5220Please respect copyright.PENANAkYV2EGeTYY
Video call dari Arya datang pukul delapan malam. Layar menunjukkan wajah Arya yang lelah di kabin kapal. "Halo, cantik-cantik Papa. Kangen banget." Layla dan Zahra duduk berdampingan. "Papa juga, Pa. Kapan pulang?" tanya Zahra. Arya tersenyum. "Dua bulan lagi, Nak. Gimana magangnya? Mentornya baik?" Zahra mengangguk cepat. "Baik kok, Pa. Namanya Riyan." Arya mengernyit sedikit. "Riyan? Anak bos ya? Hati-hati ya, jangan terlalu deket." Layla ikut bicara. "Arya curiga mulu. Zahra pintar kok jaga diri." Tapi Arya tak puas. "Lay, kamu juga kelihatan lebih... seksi akhir-akhir ini. Pakai apa sih skincare-nya?" Layla tertawa. "Rahasia, Pa. Olahraga aja." Arya menghela napas. "Aku rindu kalian. Badan aku udah kangen peluk kalian."
5220Please respect copyright.PENANAPOOolAwfMx
Setelah call selesai, Layla merebahkan diri di tempat tidur. Tubuhnya panas, dia membayangkan Arya pulang, tangannya menjelajahi payudaranya yang besar, jarinya menyentuh vaginanya yang basah. Tapi bayangan itu berganti ke kakak iparnya – pria yang mirip Arya tapi lebih muda. Layla menggeleng, malu. Di kamar sebelah, Zahra tak bisa tidur. Dia memikirkan ciuman pipi tadi, sentuhan di paha. Jarinya tanpa sadar menyentuh kristoris, menggosok pelan. Rasa nikmat menyebar, membuatnya mendesah kecil. "Mas Riyan..." gumamnya, sebelum berhenti dan menarik selimut.
5220Please respect copyright.PENANAK4B7wJ2Yai
Di apartemen Riyan, pria itu mandi air dingin. Tubuh berototnya tegang, kontolnya tegak keras membayangkan Zahra. Dia menelepon Malik. "Bro, targetnya mulai panas. Anaknya polos tapi responsif. Ibunya pasti lebih matang. Siapin rencana besar." Malik tertawa. "Oke, gue mulai rekam konsep video. Kostum lateks, bondage, semuanya ready."
5220Please respect copyright.PENANAiM9C83dtJy
Keesokan harinya, di kantor, Zahra berusaha menghindari Riyan. Tapi Riyan mendekat saat jam istirahat. "Kemarin maaf ya, kalau kelewatan." Zahra memandangnya pemarah. "Iya, Mas. Jangan gitu lagi." Tapi Riyan mendekat lagi. "Tapi kamu nggak benci kan?" Zahra diam, tak bisa bohong. Riyan tersenyum. "Aku ajak makan malam besok. Cuma makan, janji." Zahra ragu, tapi tidak enakan. "Ya... boleh deh."
5220Please respect copyright.PENANAQP0eV4Owsz
Tarik ulur itu semakin kuat. Zahra merasa ditarik ke arah yang tak dikenal, penuh rasa takut tapi juga penasaran. Riyan menahan nafsu sadisnya, tahu waktu eksekusi masih jauh. Arya di kapal mulai curiga lebih dalam, tapi alasan-alasan dari istri dan anaknya selalu masuk akal. Keluarga harmonis ini mulai retak pelan, tanpa mereka sadari.
5220Please respect copyright.PENANA7OZSUgyldn
Di rumah malam itu, Layla memandang foto keluarga. "Arya, cepat pulang," bisiknya. Tapi tubuhnya haus, dan pikiran Zahra penuh Riyan. Badai mulai mendekat, dengan godaan yang semakin intens.
5220Please respect copyright.PENANAJUyiOvZqvb
5220Please respect copyright.PENANAQtXx1GX9sp
5220Please respect copyright.PENANAnkun3XD9gx
5220Please respect copyright.PENANASfovJ7V4uz


