Bab 2: Pertemuan Pertama di Lantai Eksekutif
6533Please respect copyright.PENANAqSKBqECDnH
Pagi itu, Zahra melangkah masuk ke gedung tinggi di kawasan Sudirman dengan jantung berdegup kencang. Lift kaca yang transparan membawanya naik ke lantai 15, tempat divisi pemasaran dan pengembangan bisnis perusahaan farmasi besar itu berada. Udara di dalam gedung terasa dingin dari AC, kontras dengan panas Jakarta di luar. Zahra menarik napas dalam, menyesuaikan hijab hitamnya yang rapi, blus putih longgar yang menutupi lekuk tubuh langsingnya, dan rok panjang hitam yang sopan. Payudaranya yang berukuran E cup terasa sedikit sesak di balik kain, tapi dia sudah terbiasa. Kulit putihnya tampak lebih cerah di bawah lampu neon kantor, dan mata cokelatnya memancarkan campuran gugup serta antusiasme.
6533Please respect copyright.PENANA9IjKX7hhip
Ruang lobi divisi itu luas, dengan dinding kaca yang memamerkan pemandangan gedung-gedung pencakar langit. Zahra disambut oleh HRD, seorang wanita paruh baya yang ramah. "Selamat datang, Zahra. Kamu akan ditempatkan di tim pengembangan produk baru. Mentor kamu adalah Riyan, anak dari pemilik perusahaan." Zahra mengangguk, mencoba menahan senyum gugup. Dia sudah mendengar nama Riyan dari rekan magang lain kemarin – pria muda yang cerdas, tampan, dan punya aura dominan yang membuat orang segan sekaligus tertarik.
6533Please respect copyright.PENANAEPwhemaoFh
Ruang kerja tim berada di sudut lantai, semi-open space dengan meja-meja kayu gelap dan kursi ergonomis. Zahra diberi meja kecil di dekat jendela, tepat menghadap meja besar yang tampaknya milik Riyan. Saat dia menyusun barang-barangnya – laptop, notes, dan botol air – pintu ruang meeting terbuka. Keluarlah seorang pria tinggi 170 cm, tubuh berotot terlihat jelas meski dibalut kemeja putih lengan digulung dan celana chino hitam. Rambut hitam lurusnya rapi, tapi ada sedikit acak-acakan yang membuatnya terlihat lebih santai. Senyumnya menawan, gigi putih rapi, dan mata cokelatnya tajam, seperti bisa menembus apa yang dipikirkan orang lain.
6533Please respect copyright.PENANADeOXjTKKlY
Itu Riyan.
6533Please respect copyright.PENANAz5l7rAFBi8
"Zahra, kan? Selamat datang di tim." Suaranya dalam, tenang, tapi ada nada hangat yang membuat Zahra langsung merasa nyaman. Dia mengulurkan tangan untuk bersalaman. Saat jari mereka bersentuh, ada getar kecil yang Zahra rasakan hingga ke tulang punggung. Kulit Riyan hangat, tangannya kuat tapi tidak kasar. "Aku Riyan. Kamu akan bantu aku di proyek suplemen baru. Santai aja, aku nggak galak kok." Zahra tertawa kecil, sifat lucunya muncul. "Semoga beneran nggak galak, Mas. Aku gampang pemarah kalau diteken." Riyan mengangkat alis, senyumnya melebar. "Noted. Aku suka yang berani lawan balik."
6533Please respect copyright.PENANAatkGbT3E9f
Pertemuan pertama itu berlangsung di ruang meeting kecil. Riyan menjelaskan proyek: mengembangkan suplemen kesehatan untuk wanita, fokus pada hormon dan kecantikan. Zahra mendengarkan dengan seksama, mencatat setiap detail. Saat Riyan berdiri untuk menunjuk slide di layar, Zahra tak bisa menahan diri untuk memperhatikan tubuhnya. Otot lengan yang menonjol saat dia menggerakkan pointer, dada lebar yang terlihat kokoh di balik kemeja. Dia menggelengkan kepala pelan, malu pada pikirannya sendiri. *Ini baru hari pertama, Zahra. Fokus!*
6533Please respect copyright.PENANAWau8xcO6W5
Siang hari, mereka makan siang bersama tim di kantin lantai bawah. Riyan duduk di seberang Zahra. "Kamu magang di sini karena apa? Karir atau cuma iseng?" tanyanya sambil menyendok nasi. Zahra mengangkat bahu. "Karir lah. Papa aku kapten kapal pesiar, jarang pulang. Aku pengen mandiri." Riyan mengangguk, matanya tak lepas dari wajah Zahra. "Bagus. Keluarga harmonis ya? Ibu kamu pasti cantik, mirip kamu." Zahra tersipu, tapi sifat pemarahnya muncul. "Ih, jangan gombal mulu. Kerja dulu dong." Riyan tertawa, suaranya rendah dan menggoda. "Bukan gombal. Pengamatan aja."
6533Please respect copyright.PENANA08KXB8a3Ds
Sepanjang hari, interaksi mereka penuh godaan subtil. Saat Zahra kesulitan membuka file di laptop, Riyan mendekat dari belakang, tangannya menyentuh bahu Zahra untuk menunjuk mouse. Jarak mereka begitu dekat hingga Zahra bisa mencium aroma parfum maskulinnya – campuran kayu dan sedikit citrus. Napas Riyan terasa hangat di telinga Zahra. "Klik ini, terus save as." Zahra menelan ludah, tubuhnya bereaksi aneh. putingnya mengeras sedikit di balik bra, membuatnya gelisah. Dia mundur pelan. "Makasih, Mas. Aku bisa sendiri." Riyan tersenyum, tapi matanya gelap, seperti sedang menilai sesuatu. Dia menahan diri, karena rencananya lebih besar dari sekadar flirting kantor.
6533Please respect copyright.PENANABDqFijiF6d
Sore hari, Arya menelepon via video call seperti biasa. Layla dan Zahra duduk di ruang tamu rumah. "Halo, sayang-sayang Papa. Gimana hari ini?" Arya tersenyum lebar di layar. Layla menjawab dulu. "Biasa aja, Pa. Zahra cerita magangnya seru." Zahra ikut bicara. "Iya, Pa. Mentornya baik, namanya Riyan. Anak bos." Arya mengangguk, tapi ada sedikit kerutan di dahinya. "Bagus. Tapi hati-hati ya, Nak. Cowok kantor kadang suka manfaatin." Zahra cemberut. "Papa curiga mulu. Aku tahu kok batasnya." Layla tertawa, tapi diam-diam dia merasakan sesuatu. Kesepiannya semakin terasa, tubuhnya haus akan perhatian. Saat video call selesai, Layla merebahkan diri di sofa, tangannya tanpa sadar menyentuh paha sendiri. Pikirannya melayang ke Arya, tapi juga ke kakak iparnya yang kadang mengirim pesan lucu.
6533Please respect copyright.PENANArsT9RzR8yn
Di kantor, Riyan sendirian di ruangannya setelah jam kerja. Dia memandang foto Zahra dari profil LinkedIn-nya – senyum manis, mata cokelat memikat, tubuh langsing dengan payudara besar yang tersembunyi rapi. Nafsunya naik, kontolnya mengeras di balik celana saat membayangkan Zahra telanjang, terikat, memohon. Tapi dia menahan. *Belum waktunya. Aku mau lebih dari itu. Ibu dan anaknya.* Dia menelepon Yosep. "Bro, gue nemu target bagus. Anak magang, cantik, polos. Ibunya juga pasti hot. Siapin obat dulu." Yosep tertawa di ujung telepon. "Oke, gue kirim sample perangsang dosis tinggi. Silikon juga kalau mau upgrade tubuh mereka nanti."
6533Please respect copyright.PENANAjA52Uqtfy5
Malam itu, Zahra pulang dengan perasaan campur aduk. Di kamar mandi, air hangat mengalir di tubuhnya. Dia memandang cermin, melihat payudaranya yang penuh, bokong bulatnya yang basah. Sentuhan air membuat kristoris sensitif, membuatnya menggigit bibir. Pikirannya melayang ke Riyan – tangannya yang kuat, senyumnya yang menawan. "Astaghfirullah," gumamnya, tapi tubuhnya tetap bereaksi. Dia menyentuh dirinya pelan, jari menyusuri vaginanya yang mulai basah. Rasa hangat menyebar, tapi dia berhenti, malu. *Ini baru pertemuan pertama. Jangan gila, Zahra.*
6533Please respect copyright.PENANAIsqWIlq91n
Riyan di apartemennya yang mewah, mandi air dingin untuk menenangkan nafsu. Tubuh berototnya berkilau, kontol 19 cm-nya tegak sempurna. Dia membayangkan Zahra berlutut di depannya, mulutnya penuh, mata cokelatnya memohon. "Sabar," katanya pada diri sendiri. Rencana besarnya baru dimulai. Dia akan membuat Zahra jatuh cinta dulu, lalu tarik ibunya ke dalam jaring.
6533Please respect copyright.PENANAQPoBjyc8wT
Hari-hari berikutnya, kedekatan mereka bertambah. Riyan sering ajak Zahra diskusi di kafe kantor, tangannya tak sengaja menyentuh lengan Zahra, atau lutut mereka bersenggolan di bawah meja. Zahra pemarah saat digoda, tapi tak bisa menolak. "Mas Riyan, jangan gitu dong. Orang liat." Riyan tersenyum. "Biarin. Kamu lucu kalau marah." Zahra merah pipi, hatinya berdegup. Di rumah, Layla perhatikan perubahan putrinya. "Kamu senang ya magang? Cerita dong soal Riyan itu." Zahra tertawa. "Biasa aja, Ma. Dia baik kok."
6533Please respect copyright.PENANA3e9cvRNf3Q
Arya di video call mulai curiga lebih dalam. "Zahra kelihatan beda, lebih glowing. Kamu pakai apa sih?" Zahra dan Layla saling pandang. "Rahasia wanita, Pa." Tapi Arya merasa ada yang tak beres. Kesepian di kapal membuatnya rindu, tapi juga curiga.
6533Please respect copyright.PENANAXheM69PyQH
Di kantor, Riyan mulai tes batas. Saat Zahra menunduk membaca dokumen, dia mendekat, bisik di telinga. "Kamu wangi banget hari ini." Zahra tersentak, badannya panas. "Mas! Jangan deket-deket." Tapi dia tak mundur jauh. Riyan menahan senyum puas. Bibit ketertarikan sudah tertanam.
6533Please respect copyright.PENANAwQX6CvDSrU
Zahra pulang malam itu, tubuhnya penuh getar. Di tempat tidur, dia memeluk bantal, membayangkan Riyan memeluknya dari belakang. Rasa penasaran dewasa mulai bangkit, meski dia masih polos. Riyan, di sisi lain, merencanakan langkah selanjutnya. Pertemuan pertama ini hanyalah awal dari dominasi yang akan datang.
6533Please respect copyright.PENANAU82osLB5ZY


