Bab 4: Malam yang Mengubah Segalanya
5788Please respect copyright.PENANARaRdciFZUr
Akhir pekan tiba lebih cepat dari yang Zahra bayangkan. Sepanjang minggu, Riyan terus mengirim pesan singkat tapi penuh perhatian: "Jangan lupa sarapan," "Proposalnya bagus, kamu hebat," atau "Besok malam aku jemput jam 7 ya." Zahra selalu membalas dengan nada pemarah tapi tak pernah menolak. "Jangan telat," jawabnya suatu kali, disertai emoji marah yang lucu. Di dalam hati, dia risih. Ini pertama kalinya dia setuju kencan asli dengan cowok. Sebelumnya, dia selalu menolak halus karena tidak enakan atau takut Papa tahu. Tapi Riyan berbeda – dia sabar, pintar menggoda tanpa terlalu agresif, dan membuat Zahra merasa istimewa.
5788Please respect copyright.PENANA6omIHOWQQ5
Malam Sabtu, Zahra berdiri di depan cermin lebih lama dari biasanya. Dia memilih gamis panjang berwarna biru dongker yang lembut, bahan satin yang jatuh indah di tubuh langsingnya. Payudaranya yang E cup terlihat penuh tapi tetap sopan, bokong bulatnya menonjol halus saat dia bergerak. Hijab senada dibuat rapi dengan aksesoris kecil berwarna perak. Makeup tipis: eyeliner yang membuat mata cokelatnya lebih memikat, lipstik warna nude, dan sedikit blush on. “Mama, aku keluar bentar ya,” katanya pada Layla yang sedang di ruang tamu membaca buku.
5788Please respect copyright.PENANAaG10xAaXnb
Layla mengangkat kepala, matanya berbinar lucu. “Kencan sama Riyan? Wah, anak Mama udah gede ya.” Zahra merah pipi. "Ih, Mama! Cuma makan malam kok. Jangan bilang Papa." Layla tertawa ringan. "Rahasia kita berdua. Hati-hati ya, sayang. Kalau dia macem-macem, langsung pulang." Zahra mengangguk, tapi dalam hati dia tahu malam ini akan berbeda. Tubuhnya sudah bereaksi sejak pagi – getar kecil setiap memikirkan Riyan.
5788Please respect copyright.PENANA85DJtbEu8d
Riyan datang tepat waktu dengan mobil SUV hitam mengkilap. Dia turun, mengenakan kemeja hitam lengan digulung yang menampilkan otot lengan berotot, celana chino gelap, dan sepatu kulit rapi. Rambut hitam lurusnya sedikit melengkung, senyum menawan menyambut Zahra. "Kamu cantik banget malam ini," katanya sambil membuka pintu mobil. Zahra masuk, jantungnya berdegup kencang. "Makasih, Mas. Kamu juga ganteng." Riyan tertawa pelan. “Akhirnya diakui juga.”
5788Please respect copyright.PENANAysBDDz9o9Y
Mereka menuju restoran rooftop di kawasan SCBD, tempat yang romantis dengan pemandangan lampu kota Jakarta yang berkelap-kelip. Mejanya bersudut, dikelilingi tanaman hijau dan lilin kecil yang menyala redup. Musik jazz pelan-pelan mengalun di latar belakang. Riyan memesan steak medium rare untuk dirinya dan salmon grill untuk Zahra, plus mocktail buah segar. “Aku tidak minum alkohol, biar aman,” katanya sambil bercanda. Zahra tersenyum. "Bagus lah. Aku juga nggak suka."
5788Please respect copyright.PENANA2mT7DkWHkk
Makan malam berlangsung hangat. Mereka banyak berbincang: tentang mimpi Zahra membangun karir, cerita Riyan tentang perusahaan keluarga, bahkan lelucon kecil yang membuat Zahra tertawa lepas. Sifat lucu Zahra keluar penuh – dia cerita pengalaman magang yang canggung, sambil memukul lengan Riyan pelan-pelan saat digoda. "Mas jahat! Aku pemarah tau kalau diginiin." Riyan memandangnya lama. "Justru itu yang bikin aku suka. Kamu asli, nggak dibuat-buat."
5788Please respect copyright.PENANAoeHHhsgvKD
Saat hidangan penutup tiba – kue lava coklat yang meleleh – Riyan menggeser kursinya lebih dekat. Tangannya menyentuh punggung tangan Zahra di atas meja. "Zahra, aku serius. Aku mau kita pacaran resmi." Zahra menatapnya, mata cokelatnya berkaca. "Mas... aku takut. Papa aku ketat, dan aku belum pernah begini." Riyan menggenggam tangannya dengan lembut. "Aku paham. Kita pelan-pelan aja. Tapi aku janji, aku bakal jaga kamu." Zahra diam sejenak, lalu mengangguk pelan. "Oke... kita pacaran."
5788Please respect copyright.PENANA7oc5chpZkE
Suasana langsung berubah. Riyan menarik tangan Zahra, mencium punggung tangannya dengan lembut. Bibirnya hangat, membuat Zahra mengoceh. "Makasih udah percaya aku," bisiknya. Zahra tersipu, tapi tak menarik tangan. Malam itu, mereka berjalan keluar restoran sambil bergandengan. Angin malam Jakarta sepoi-sepoi, membuat hijab Zahra berkibar lembut. Di parkiran, Riyan membukakan pintu lagi, tapi sebelum Zahra masuk, dia menarik Zahra pelan ke samping mobil, di tempat yang agak gelap.
5788Please respect copyright.PENANAToo19waPop
"Zahra..." panggilnya lembut. Zahra menatapnya, napasnya cepat. Riyan mendekatkan wajah, tangannya menyentuh pipi Zahra di bawah hijab. "Boleh?" tanyanya. Zahra mengangguk kecil, matanya tertutup. Bibir Riyan menyentuh bibir Zahra pelan, ciuman pertama yang lembut tapi penuh gairah. Bibir Zahra lembut, hangat, dan sedikit gemetar. Riyan mendalami pelan, lidahnya menyentuh bibir Zahra meminta izin. Zahra membuka sedikit mulut, membiarkan Riyan menjelajah. Rasa manis dari dessert masih tersisa, bercampur dengan aroma parfum Riyan yang maskulin.
5788Please respect copyright.PENANA5HSWnHR4SU
Ciuman itu berlangsung lama, semakin intens. Tangan Riyan melingkar di pinggang Zahra, menarik tubuhnya lebih dekat hingga payudara Zahra menempel di dada berotot Riyan. Zahra mendesah pelan di antara mencium, tubuhnya panas. vaginanya basah, kristoris berdenyut minta disentuh. Riyan tak berhenti, tangannya naik ke punggung Zahra, mengusap lembut. "Kamu enak banget," bisik Riyan di telinga Zahra. Zahra menggeleng malu. "Mas...orang liat nanti." Tapi dia tak menolak saat Riyan menciumnya pelan, di bagian yang terbuka di balik hijab.
5788Please respect copyright.PENANArnOZRTkpvl
Mereka terengah-engah. Zahra merah padam, mata berkaca. "Ini pertama kalinya aku..." Riyan tersenyum. "Aku tahu. Makanya aku pelan-pelan." Dia mencium kening Zahra. "Aku antar pulang ya." Dalam perjalanan pulang, tangan mereka saling berpegangan. Zahra diam, tapi senyum kecil tak lepas dari bibir. Tubuhnya masih gemetar, ingatannya akan ciuman itu membuatnya gelisah sekaligus bahagia.
5788Please respect copyright.PENANAwGjJ9CBJee
Sampai di depan rumah, Riyan turun membukakan pintu. “Besok ketemu lagi di kantor?” Zahra mengangguk. "Iya, Mas. Makasih malam ini." Riyan mencium pipi Zahra sekali lagi sebelum pergi. Zahra masuk rumah dengan langkah ringan, tapi wajahnya masih merah.
5788Please respect copyright.PENANAmeQefzMzwZ
Layla masih terjaga di ruang tamu. "Pulangnya lama ya? Gimana kencannya?" Zahra duduk di sebelahnya sambil memeluk bantal. "Seru, Ma. Kami... pacaran sekarang." Layla tertawa pelan. "Wah, cepet banget. Dia baik kan?" Zahra mengangguk. "Baik kok. Cuma... aku deg-degan terus." Layla memeluk putrinya. "Wajar, sayang. Nikmati aja, tapi jaga batas ya." Zahra tersenyum, tapi dalam hati dia tahu batas itu mulai bergeser.
5788Please respect copyright.PENANAFMqP9MPXsF
Malam itu, Zahra mandi lama. Udara hangat mengalir di tubuhnya, membuat putingnya membeku lagi. Dia menyentuh dirinya perlahan, membayangkan bibir Riyan di keningnya, tangannya di pinggang. Desahan kecil keluar dari mulut saat jari telunjuk menyentuh kristorisyang sensitif. Rasa nikmat menyebar dengan cepat, membuat lututnya lemas. “Mas Riyan…” gumamnya, sebelum orgasme kecil datang, membuat pembusukannya.
5788Please respect copyright.PENANARK7bgLSM92
Di apartemen, Riyan mandi air dingin. tititnya tegak keras membayangkan Zahra. Dia menelpon Yosep. "Target resmi pacaran. Ciuman pertama sukses. Siapin rencana selanjutnya – bawa ke rumah, kenalin ke ibu." Yosep tertawa. "Mantap. Gue kirim obat perangsang ringan dulu buat tes."
5788Please respect copyright.PENANASYOJ0omqw8
Sementara itu, Arya menelepon video call lebih awal dari biasa. Layla dan Zahra buru-buru duduk di sofa. "Halo sayang. Maaf telat menelpon-nya." Arya tersenyum lelah. "Gimana kabar kalian?" Layla jawab dulu. "Baik, Pa. Zahra lagi senang magang." Zahra ikut. “Iya, Pa. Mentornya baik.” Arya mengangguk, tapi matanya tajam. "Zahra, kamu kelihatan beda. Lebih bahagia. Ada apa?" Zahra tersenyum gugup. “Nggak ada apa-apa, Pa. Cuma capek aja.” Arya tak puas, tapi tak memaksa. "Aku rindu kalian. Sebentar lagi pulang."
5788Please respect copyright.PENANACV8h1UNNBb
Setelah panggilan, Layla memandang Zahra. "Papa curiga nih." Zahra tertawa kecil. “Biarin aja, Ma. Aku bahagia kok.” Layla mengangguk, tapi diam-diam dia merasakan getar serupa. Kesepiannya semakin dalam, tubuhnya haus akan menjadi sesuatu yang lebih dari pelukan suami yang jauh.
5788Please respect copyright.PENANA9A1cddHiTd
Malam kencan pertama itu menjadi titik balik. Zahra mulai jatuh lebih dalam, Riyan semakin dekat dengan rencana yang gelap. Keluarga harmonis ini, tanpa disadari, sedang melangkah ke jurang nafsu yang tak terelakkan.
LANJUTAN CERITA BISA DI AKSES DI https://lynk.id/novelhambilah
ns216.73.216.236da2


