Bab 3: Jatuh ke Pelukan Dominasi
933Please respect copyright.PENANATAJqjX6Aee
Malam setelah dinner itu, Risma tidak langsung pulang ke kosannya. Mobil Riyan melaju pelan meninggalkan lampu-lampu kota yang mulai redup, menuju apartemen mewah di kawasan Sudirman yang jarang disentuh mahasiswa biasa. Risma duduk di kursi penumpang, tangannya gemetar ringan di atas paha, hijabnya masih rapi tapi napasnya sudah tak beraturan. Setiap kali lampu jalan menyinari wajahnya, terlihat kilau keringat tipis di dahi dan lehernya. Riyan tidak banyak bicara selama perjalanan, hanya sesekali melirik ke arah Risma dengan senyum tipis yang membuat perut gadis itu bergejolak.
933Please respect copyright.PENANAllURpuXfKk
Sampai di basement apartemen, Riyan mematikan mesin. Dia tidak langsung turun. Tangan kanannya meraih dagu Risma, memaksa wajah gadis itu menoleh ke arahnya.
933Please respect copyright.PENANAZV82su4d2M
“Malam ini lo bakal belajar hal baru, Ris,” suaranya rendah, hampir seperti bisikan tapi penuh otoritas. “Lo bilang lo suka gue. Sekarang buktikan.”
933Please respect copyright.PENANA1MBrL2gseR
Risma menelan ludah. Matanya hitam pekat itu berkaca-kaca, campuran antara takut dan hasrat yang sudah terlalu lama dipendam. “Gue… gue siap, Yan.”
933Please respect copyright.PENANAym74vAXexK
Riyan tersenyum lebih lebar. “Bukan Yan lagi mulai sekarang. Panggil gue Tuan.”
933Please respect copyright.PENANAGoRgUQew3a
Kata itu seperti petir kecil yang menyambar dada Risma. Dia mengangguk pelan. “Ya… Tuan.”
933Please respect copyright.PENANApcUuAPcC9t
Mereka naik lift dalam diam. Di dalam lift yang sempit, Riyan berdiri sangat dekat, bahunya menyentuh bahu Risma. Bau parfum maskulinnya memenuhi ruang kecil itu, membuat kepala Risma pusing ringan. Begitu pintu apartemen terbuka, Riyan langsung menarik pergelangan tangan Risma masuk, lalu menutup pintu dengan keras. *Brak.*
933Please respect copyright.PENANAEdubk8Q5W3
Ruangan itu luas, minimalis, dengan pencahayaan redup dari lampu dinding. Di sudut ruang tamu ada pintu kayu gelap yang selama ini Risma pikir hanya lemari besar. Malam itu, Riyan membuka pintu itu. Di baliknya adalah ruangan khusus—ruang BDSM pribadi yang Riyan bangun sendiri. Dinding hitam matte, lampu sorot merah lembut, rak-rak berisi tali, borgol, dildo berbagai ukuran, botol-botol minyak, dan alat-alat lain yang membuat jantung Risma berdegup kencang.
933Please respect copyright.PENANAYoWKa3CTXc
“Masuk,” perintah Riyan.
933Please respect copyright.PENANAe2bwQS7AXO
Risma melangkah masuk dengan kaki gemetar. Pintu ditutup lagi. Suara kunci berderit terdengar jelas.
933Please respect copyright.PENANAsur3OTosIA
Riyan berdiri di belakangnya, tangannya meraih hijab Risma dari belakang. Dengan gerakan lambat tapi tegas, dia membuka peniti dan melepas kain itu. Rambut hitam panjang Risma terurai, jatuh ke punggungnya seperti air terjun gelap. Riyan mengusap rambut itu pelan, lalu menarik kepala Risma ke belakang hingga lehernya terekspos.
933Please respect copyright.PENANAoCLr6dOanO
“Lo cantik banget kalau gini,” bisiknya di telinga Risma. Bibirnya menyentuh cuping telinga gadis itu, lalu turun ke leher, meninggalkan jejak ciuman basah. *Ciuup… ciuup…*
933Please respect copyright.PENANARsoLS7RbQP
Risma menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan desahan. Tapi ketika tangan Riyan merayap ke depan, meremas payudara D cup-nya dari atas baju kurung, desahan itu lolos juga. “Ahh…”
933Please respect copyright.PENANAaURMBMjI69
Riyan tertawa pelan. “Belum mulai, udah basah ya?”
933Please respect copyright.PENANALp6fUxihWv
Dia memutar tubuh Risma menghadapnya, lalu mendorong gadis itu mundur hingga punggungnya menyentuh tiang kayu di tengah ruangan. Dari rak, Riyan mengambil tali sutra hitam panjang. Dengan gerakan terlatih, dia mengikat kedua pergelangan tangan Risma ke atas kepala, mengikatnya ke tiang sehingga lengan Risma terentang sempurna. Tubuhnya sekarang terbuka, rentan.
933Please respect copyright.PENANAreTItoMsLx
Riyan mundur selangkah, mengamati “karya”-nya. Matanya menelusuri lekuk tubuh Risma: payudara yang naik-turun karena napas cepat, pinggang ramping, bokong bulat yang masih tertutup rok panjang, dan kaki yang sedikit gemetar.
933Please respect copyright.PENANAgvzEPSnBn7
“Lo tau kenapa gue bawa lo ke sini?” tanya Riyan sambil melepas kancing kemejanya satu per satu, memperlihatkan dada berotot dan perut six-pack yang terdefinisi.
933Please respect copyright.PENANAhTAwR33mT0
Risma menggeleng pelan, suaranya hampir hilang. “Karena… gue suka Tuan?”
933Please respect copyright.PENANAW884zjUV3l
“Benar. Tapi lebih dari itu. Karena lo butuh dikendalikan. Lo butuh seseorang yang bisa bikin lo lupa segalanya kecuali kenikmatan dan kepatuhan.”
933Please respect copyright.PENANAeSLz6PvUQV
Riyan mendekat lagi. Kali ini tangannya membuka kancing baju kurung Risma satu per satu. Setiap kancing yang terlepas, napas Risma semakin berat. Begitu baju terbuka, bra hitam renda yang menutupi payudara D cup-nya terlihat jelas. Riyan menarik bra itu ke bawah tanpa melepasnya, membuat anggur-anggur cokelat muda Risma terekspos. Putingnya sudah mengeras karena udara dingin dan rangsangan.
933Please respect copyright.PENANAWuIbuovdls
Riyan menjepit salah satu anggur itu dengan jari, memilin pelan. Risma menjerit kecil. “Ahh! Tuan… sakit…”
933Please respect copyright.PENANAcZ6VYwYTMi
“Sakit? Tapi lo suka, kan?” Riyan menjilat anggur itu, lidahnya berputar-putar di sekitar puting yang sensitif. *Slurp… slurp…* Suara basah itu menggema di ruangan sunyi.
933Please respect copyright.PENANAdH5F7hrtku
Risma menggeliat, tali sutra mengikat pergelangannya semakin erat setiap dia bergerak. Riyan turun lebih rendah, membuka rok Risma, menarik celana dalam renda hitam itu ke bawah. Durian Risma sudah basah sekali, cairannya menetes pelan ke paha dalamnya.
933Please respect copyright.PENANA5Xerbk9iSw
Riyan tersenyum puas. “Lihat ini. Lo udah banjir sebelum gue mulai beneran.”
933Please respect copyright.PENANAIR7mvYWOlF
Dia berlutut, wajahnya tepat di depan durian Risma. Lidahnya menyentuh ceri kecil itu sekali, lalu menjilat dari bawah ke atas dengan gerakan lambat. Risma langsung menjerit. “AHHH! Tuan… tolong…”
933Please respect copyright.PENANAvBPmylutfX
Riyan tidak berhenti. Lidahnya bermain-main di ceri itu, berputar, menekan, lalu masuk ke dalam lipatan durian yang basah. *Slurp… lick… squish…* Suara-suara basah itu bercampur dengan desahan Risma yang semakin keras.
933Please respect copyright.PENANAyEul3gXG3m
Setelah beberapa menit, Riyan berdiri lagi. Dari rak, dia mengambil botol kecil berlabel “Yosep Special” — obat perangsang dosis tinggi yang dikirim rekannya itu. Dia menuang sedikit ke telapak tangan, lalu mengoleskannya ke durian dan ceri Risma.
933Please respect copyright.PENANA1AnIJQvLWx
Efeknya hampir instan. Risma merasa panas membara menyebar dari pusat tubuhnya ke seluruh saraf. Payudaranya terasa lebih sensitif, duriannya berdenyut-denyut minta disentuh.
933Please respect copyright.PENANA69xPv3jzsL
“Tahan dulu,” perintah Riyan. “Lo nggak boleh orgasme sebelum gue izinkan.”
933Please respect copyright.PENANA0lJGX091MR
Risma mengangguk lemah, tapi tubuhnya sudah gemetar hebat.
933Please respect copyright.PENANAXE3qNn2H2R
Riyan melepas celananya sendiri. Pisangnya yang 19 cm sudah tegang sempurna, urat-uratnya menonjol, ujungnya berkilau karena cairan pra-ejakulasi. Dia mendekat, menggesekkan pisang itu ke durian Risma tanpa masuk, hanya menggesek-gesek pelan di ceri dan bibir durian.
933Please respect copyright.PENANAKUALPMTFM3
Risma menangis kecil. “Tuan… masukin… tolong…”
933Please respect copyright.PENANAB8JrcqRcOz
“Belum. Lo harus minta lebih sopan.”
933Please respect copyright.PENANABVFeTz1Glj
Risma menatap Riyan dengan mata berkaca-kaca. “Tolong… Tuan… masukkan pisang Tuan ke durian budak ini… gue mohon…”
933Please respect copyright.PENANAkwGwh6fb2u
Riyan tersenyum puas. Dia mendorong pelan, ujung pisangnya masuk ke dalam durian yang sudah sangat basah. Risma menjerit nikmat. “AHHH! Besar… Tuan…”
933Please respect copyright.PENANASpU53tgT9h
Riyan mulai bergerak pelan, masuk-keluar dengan ritme yang terkendali. Setiap dorongan membuat payudara Risma bergoyang, anggur-anggurnya bergesekan dengan dada Riyan. *Plak… plak… plak…* Suara benturan kulit terdengar ritmis.
933Please respect copyright.PENANAuJmpzYfV4G
Tapi Riyan tiba-tiba berhenti. Dia keluar sepenuhnya, membuat Risma merintih kecewa.
933Please respect copyright.PENANAPRrliTiyRU
“Belum boleh cum,” katanya dingin.
933Please respect copyright.PENANAj8ivHDY6v4
Dia mengambil dildo silikon 15 cm dari rak, model yang agak tebal dengan permukaan bertekstur. Dengan gerakan cepat, dia memasangkannya sebagai “masker mulut” — memasukkan bagian pangkal ke mulut Risma, lalu mengikat tali di belakang kepala sehingga dildo itu menempel seperti gag.
933Please respect copyright.PENANAXL7HE7fM70
“Lo bakal deepthroat ini sambil gue mainin durian lo.”
933Please respect copyright.PENANAsSqfodCBXv
Risma mengangguk lemah, air matanya menetes. Riyan kembali memasukkan pisangnya ke durian Risma, kali ini lebih keras. Gerakannya cepat, dalam, membuat Risma mengerang di balik dildo yang menyumbat mulutnya. *Gluk… gluk…* suara dildo di mulutnya bercampur dengan *plok plok plok* dari dorongan di bawah.
933Please respect copyright.PENANA9jyj5dAm61
Obat perangsang membuat setiap sensasi berlipat ganda. Risma merasa seperti akan meledak, tapi Riyan selalu berhenti tepat sebelum klimaks. Dia menarik pisangnya, menggantinya dengan dua dildo lebih kecil yang dimasukkan sekaligus ke durian dan apel Risma.
933Please respect copyright.PENANAiEox9O5EC6
“Double penetration,” bisik Riyan. “Tahan ya, budak.”
933Please respect copyright.PENANAmNg6SgUpyB
Risma menangis, tubuhnya bergetar hebat. Dua dildo itu bergerak bergantian, mengisi kedua lubangnya. Riyan memutar-mutarnya, menekan titik sensitif di dalam. *Squish… squish… plop…*
933Please respect copyright.PENANAjljFFUgePo
Setelah hampir 40 menit siksaan itu, Risma sudah di ambang kegilaan. Air matanya mengalir deras, tubuhnya berkeringat deras, duriannya berdenyut-denyut minta pelepasan.
933Please respect copyright.PENANAgZykbszulu
Riyan akhirnya melepas dildo dari mulut Risma. “Mau cum?”
933Please respect copyright.PENANAT791pzpZ6S
“Ya Tuan… tolong… gue mohon… biarkan budak ini orgasme…” suara Risma serak, putus-putus.
933Please respect copyright.PENANAtODLbwYgIv
Riyan tersenyum. “Baik. Cum sekarang. Tunjukkin betapa lo milik gue.”
933Please respect copyright.PENANAXAfR0zOEmY
Dia mendorong pisangnya masuk lagi, kali ini tanpa ampun, gerakannya brutal tapi tepat mengenai titik G. Risma menjerit panjang. “AHHHHHH!!!”
933Please respect copyright.PENANA8OkcWt91Yi
Tubuhnya mengejang hebat, duriannya menyemprot cairan bening, orgasme yang begitu kuat hingga kakinya lemas. Gelombang demi gelombang kenikmatan menyapu tubuhnya, membuatnya bergetar tak terkendali selama hampir satu menit penuh.
933Please respect copyright.PENANAZlS6izWK1Z
Riyan menarik pisangnya, membiarkan Risma terkulai di ikatan. Dia membuka tali perlahan, menangkap tubuh Risma yang lemas, lalu membawanya ke kasur besar di sudut ruangan.
933Please respect copyright.PENANAAiXtNliE5V
Risma terbaring, napas tersengal, mata setengah terpejam. Riyan berbaring di sampingnya, tangannya mengusap rambut basah keringat gadis itu.
933Please respect copyright.PENANAgobXHoq07N
“Lo sekarang milik gue sepenuhnya,” bisiknya. “Lo budak seks gue. Lo paham?”
933Please respect copyright.PENANAPrqM2qqqlC
Risma mengangguk lemah, suaranya hampir tak terdengar. “Ya… Tuan… gue milik Tuan… selamanya…”
933Please respect copyright.PENANAENOV3CfYWv
Riyan mencium keningnya. Tapi di balik kelembutan itu, matanya melirik ke arah HP Risma yang tergeletak di lantai. Layar menyala karena notifikasi dari Agnes: “Ris, lo di mana? Kok nggak balas chat?”
933Please respect copyright.PENANAWfMw5sXxBx
Riyan tersenyum gelap. Foto Agnes di wallpaper HP Risma membuat hasratnya bangkit lagi. Tubuh langsing, payudara E cup, bokong bulat, kulit putih, mata cokelat memikat…
933Please respect copyright.PENANAXnNqMYZE2H
“Sebentar lagi,” gumamnya pelan. “Sahabat lo bakal ikut main.”
933Please respect copyright.PENANAjYTAyF5pOm
Risma tertidur lelap di pelukannya, tidak tahu bahwa malam itu adalah akhir dari kebebasannya—dan awal dari jebakan yang akan menyeret Agnes ke dalam kegelapan yang sama.
933Please respect copyright.PENANAc37j8mfyaZ
Jakarta di luar jendela terus berdenyut, tapi di dalam ruangan itu, hanya ada suara napas pelan Risma dan detak jantung Riyan yang penuh rencana.
933Please respect copyright.PENANAuxWNonMsdN


