Bab 2: Pertemuan yang Menggoda1186Please respect copyright.PENANA3eNaRsZjOM
1186Please respect copyright.PENANALrhdbZmCkK
Beberapa hari setelah obrolan di kantin itu, Risma semakin sering menghilang dari radar Agnes. Biasanya mereka selalu bareng, dari pagi sampai sore, tapi sekarang Risma sering bilang "ada urusan" atau "lagi meeting kelompok". Agnes coba nggak terlalu curiga, tapi hati kecilnya mulai gelisah. "Mungkin dia lagi sibuk beneran sama proyek bisnisnya," pikir Agnes sambil nyoba yakinin diri sendiri. Tapi setiap kali Risma balas chat, jawabannya singkat, dan senyumnya di foto profil WhatsApp kayak lebih... misterius.
1186Please respect copyright.PENANAuLDdTlarrU
Hari itu adalah hari acara besar di kampus: "Entrepreneurship Expo 2025", sebuah pameran startup dan bisnis mahasiswa yang diadain di gedung serbaguna fakultas ekonomi. Booth-booth berjejer rapi, ada yang jualan produk handmade, ada yang demo app, dan ada juga talkshow dengan pembicara dari luar. Risma ikut sebagai salah satu panitia sekaligus exhibitor kecil-kecilan, boothnya tentang aplikasi manajemen keuangan untuk UMKM. Agnes awalnya nggak mau ikut, tapi Risma ngotot, "Nes, lo harus dateng! Gue butuh support moral. Lagian, lo kan pengen banget masuk dunia bisnis juga."
1186Please respect copyright.PENANAGU15OyIfCR
Akhirnya Agnes setuju. Dia datang sore hari, pakai hijab krem yang matching sama blouse putih longgar dan rok panjang hitam yang flowy. Tubuh langsingnya tetap terlihat menonjol, terutama payudara E cup yang meski ditutup rapat, tetap bikin siluetnya sensual. Bokong bulatnya bergerak lembut setiap langkah, dan kulit putihnya bercahaya di bawah lampu gedung. Matanya cokelat memindai keramaian, mencari Risma.
1186Please respect copyright.PENANAqSiyuDJmcR
"Nes! Di sini!" teriak Risma dari booth nomor 15. Dia pakai hijab navy, baju kurung modern yang pas badan, menonjolkan lekuk pinggang dan payudara D cup-nya yang proporsional. Wajahnya cerah, tapi ada kilau aneh di matanya, seperti orang yang lagi menyimpan rahasia besar.
1186Please respect copyright.PENANAPNsT0GwaC3
Agnes langsung peluk Risma. "Wah, booth lo keren banget! Lo bikin sendiri desainnya?"
1186Please respect copyright.PENANAHGGH4Lu23n
"Iya, dibantu tim. Eh, lo haus nggak? Gue ambilin minum dulu ya," kata Risma sambil buru-buru ke meja minum. Agnes duduk di kursi booth, ngobrol sama pengunjung yang lewat, sambil sesekali foto-foto buat story Instagram.
1186Please respect copyright.PENANAAqvsDSzOkz
Tiba-tiba, suara dalam dan percaya diri terdengar di belakangnya. "Permisi, ini booth Risma ya?"
1186Please respect copyright.PENANAgMsKe89ywR
Agnes menoleh, dan matanya langsung bertemu dengan pria yang bikin napasnya sedikit tersendat. Cowok itu tinggi sekitar 170 cm, tubuh berotot tapi nggak terlalu bulky, baju kemeja biru tua yang digulung lengan sampai siku memperlihatkan otot lengan yang terdefinisi. Rambut hitam lurusnya rapi, tapi ada sedikit acak-acakan yang bikin dia terlihat effortless handsome. Senyumnya menawan, gigi putih rapi, dan matanya tajam tapi hangat. Itu Riyan.
1186Please respect copyright.PENANAvQ6FHrtOFV
"Iya, ini boothnya Risma. Dia lagi ambil minum," jawab Agnes, suaranya agak gugup tanpa sadar.
1186Please respect copyright.PENANAjkRz89ixDD
Riyan mengangguk, matanya sempat melirik tubuh Agnes dari atas ke bawah, tapi cepat kembali ke mata cokelatnya. "Gue Riyan. Rekan bisnis Risma di proyek ini. Lo... Agnes, ya? Risma sering cerita soal lo."
1186Please respect copyright.PENANA2Mn4UNq5A0
Agnes tersenyum, pipinya memerah sedikit. "Iya, gue Agnes. Lo yang Riyan itu? Wah, akhirnya ketemu juga. Risma cerita banyak soal lo."
1186Please respect copyright.PENANACurRCxzzWF
Riyan tertawa pelan, suaranya dalam dan menggetarkan. "Semua cerita bagus, kan? Gue harap iya." Dia mendekat sedikit, berdiri di samping meja booth, tangannya menyandar santai. "Lo juga ikut bisnis? Keliatannya lo punya bakat entrepreneur."
1186Please respect copyright.PENANAlFa1FrAu0Y
Agnes geleng-geleng sambil ketawa. "Belum deh. Gue masih belajar. Tapi Risma bilang lo udah punya startup tech sendiri. Keren banget."
1186Please respect copyright.PENANA6Vqwq4UdlY
Mereka mulai ngobrol ringan. Riyan cerita soal app-nya yang lagi develop, tentang platform matching investor dan startup kecil. Agnes dengerin serius, sesekali tanya hal-hal pintar yang bikin Riyan mengangguk kagum. "Lo pintar juga ya, Nes. Bisa jadi co-founder gue nih," goda Riyan sambil mata menyipit genit.
1186Please respect copyright.PENANAdIiQTvbWeq
Agnes ketawa, tapi dalam hati deg-degan. Ada aura dominan dari Riyan yang bikin dia merinding, tapi enak. Seperti orang yang tau persis apa yang dia mau, dan nggak takut ambil.
1186Please respect copyright.PENANAwdEv7KuGM7
Risma balik sambil bawa dua gelas es teh. "Eh, lo berdua udah kenalan? Bagus dong!" katanya ceria, tapi Agnes notice ada getar kecil di suaranya.
1186Please respect copyright.PENANAPcnyUIUbJt
Mereka bertiga ngobrol bareng. Riyan sesekali sentuh lengan Risma pelan saat jelasin sesuatu, gerakan yang keliatan biasa, tapi Agnes ngerasa itu lebih dari sekadar teman. Risma malah senyum manja, matanya sering melirik Riyan dengan tatapan yang... patuh?
1186Please respect copyright.PENANAxiPszS7fCK
Acara mulai ramai, ada talkshow di panggung utama. Riyan bilang, "Gue ada sesi ngomong bentar di sana. Lo berdua nonton ya? Nanti gue traktir makan malam kalau lo berdua stay sampe akhir."
1186Please respect copyright.PENANAum93nDJRbk
Agnes langsung setuju, "Boleh banget!" Risma cuma manggut, senyumnya lebar.
1186Please respect copyright.PENANA0EC6OuGblW
Di panggung, Riyan tampil percaya diri. Dia bicara soal entrepreneurship, risiko, dan visi masa depan. Suaranya mengalir, tangannya gerak-gerak menekankan poin, dan setiap kali dia senyum ke penonton, banyak cewek di bawah panggung yang berbisik-bisik. Agnes ngerasa jantungnya berdegup lebih kencang. "Dia emang beda," bisiknya ke Risma.
1186Please respect copyright.PENANAHKVG63tloh
Risma cuma manggut, matanya nggak lepas dari Riyan. "Iya... dia beda."
1186Please respect copyright.PENANASuVslQjA91
Setelah talkshow, Riyan turun panggung, langsung ke arah mereka. Keringat tipis di dahinya bikin dia terlihat lebih manly. "Gimana? Bagus nggak?"
1186Please respect copyright.PENANAXaBU3J42EV
Agnes tepuk tangan kecil. "Keren banget! Lo bikin gue pengen langsung buka bisnis besok."
1186Please respect copyright.PENANAnsNJgZGs2G
Riyan tertawa. "Bagus. Nanti gue bantu lo. Sekarang... gue janji traktir makan malam. Lo berdua free kan?"
1186Please respect copyright.PENANA1dAXEFVBvC
Mereka setuju. Riyan ajak ke resto Jepang deket kampus, tempat yang agak fancy tapi masih affordable buat mahasiswa. Di meja makan, suasana santai. Riyan pesen sushi dan ramen, sambil ngobrol lebih dalam. Dia tanya soal Agnes, hobinya, mimpi-mimpinya. Agnes cerita panjang lebar, dan Riyan dengerin dengan fokus penuh, sesekali komentar yang bikin Agnes merasa dihargai.
1186Please respect copyright.PENANAu4tN2hLmBL
Risma lebih pendiam malam itu, cuma ikut ketawa atau manggut. Tapi Agnes notice, tangan Riyan sesekali nyentuh paha Risma di bawah meja, gerakan halus yang bikin Risma menggigit bibir pelan.
1186Please respect copyright.PENANAeKWaeeLOVo
Setelah makan, Riyan bilang, "Gue anter lo berdua pulang. Mobil gue di parkiran."
1186Please respect copyright.PENANAuXXlMvGrX5
Agnes mau nolak, tapi Risma bilang, "Ayo Nes, aman kok. Riyan baik."
1186Please respect copyright.PENANA9UvdySyPti
Di mobil, Riyan nyetir pelan. Musik slow jazz mengalun pelan. Risma duduk di depan, Agnes di belakang. Sepanjang jalan, Riyan dan Risma ngobrol soal proyek, tapi Agnes ngerasa ada ketegangan seksual di udara. Riyan sesekali lirik ke kaca spion, mata bertemu mata Agnes, dan senyum kecil yang bikin Agnes merinding.
1186Please respect copyright.PENANAvbviAOTQUz
Sampai di depan kosan Agnes dulu. "Thanks ya, Yan. Seru banget malam ini," kata Agnes sambil turun.
1186Please respect copyright.PENANA4YZtNanopJ
Riyan senyum. "Anytime, Nes. Besok-besok kita ketemu lagi ya. Gue suka ngobrol sama lo."
1186Please respect copyright.PENANAzZH0a4eHH9
Agnes masuk kosan dengan hati berbunga-bunga. Tapi di mobil, Riyan langsung tarik Risma ke pangkuannya. "Lo bagus malam ini, sayang. Lo bikin Agnes nyaman sama gue."
1186Please respect copyright.PENANAMLxFDsFmC2
Risma mengangguk, napasnya mulai berat. "Iya, Tuan..."
1186Please respect copyright.PENANAlj30YJfXpv
Riyan cium bibir Risma kasar, tangannya meremas payudara D cup Risma di atas baju. "Lo tau kan, gue mulai tertarik sama sahabat lo. Badannya... menggoda banget. Payudara besar, bokong bulat, kulit putih. Gue pengen rasain dia juga."
1186Please respect copyright.PENANAHvNAnQuknw
Risma menggelinjang, tapi matanya penuh kepatuhan. "Apa yang Tuan mau... gue lakuin."
1186Please respect copyright.PENANAZvN0AV7Uwd
Riyan tersenyum gelap. "Bagus. Besok lo ajak dia lagi. Gue mau lebih dekat."
1186Please respect copyright.PENANAEphWxe5jtN
Mobil melaju ke arah apartemen Riyan. Di sana, pintu tertutup, dan malam itu Risma mulai merasakan dominasi lebih dalam. Riyan ikat tangan Risma dengan tali sutra, oles minyak hangat ke tubuhnya. Jari-jarinya main di durian Risma, *squish squish* suara basah mengisi ruangan. "Lo harus bikin Agnes dateng lagi. Kalau lo berhasil, gue kasih reward. Kalau nggak... lo tau hukumannya."
1186Please respect copyright.PENANAzZKEVbBCFq
Risma mengangguk, tubuhnya gemetar karena nafsu yang ditahan. "Ya, Tuan... gue akan buat dia dateng."
1186Please respect copyright.PENANADXqOKem3xu
Foreplay berlanjut. Riyan masukin jari ke dalam durian Risma, gerakannya lambat tapi dalam, bikin Risma mengerang pelan. "Ahh... Tuan..." Bibir Riyan menjilat ceri Risma, lidahnya berputar-putar, suara *slurp slurp* basah terdengar jelas. Risma menahan orgasme, seperti yang diperintah, keringat menetes di kulit putihnya.
1186Please respect copyright.PENANAtRKYE191Dz
Akhirnya, setelah hampir 30 menit siksaan manis, Riyan izinkan. "Cum sekarang, budak gue."
1186Please respect copyright.PENANAjt5JW1yvWg
Risma orgasme hebat, tubuh bergetar, jeritan tertahan keluar. *Ahhh...!* Tubuhnya lemas di pelukan Riyan.
1186Please respect copyright.PENANAKsu1dxqsHl
Riyan peluk dia, bisik, "Besok lo ajak Agnes dinner lagi. Gue mau mulai main sama dia."
1186Please respect copyright.PENANAxJZDdf3PY5
Risma mengangguk lemah, emosinya campur aduk: cinta, takut, dan nafsu yang makin dalam.
1186Please respect copyright.PENANAueyxx7xV1w
Sementara itu, di kosannya, Agnes rebahan sambil mikir Riyan. "Dia charming banget... tapi ada sesuatu yang... gelap?" gumamnya. Tapi dia gak tau, pertemuan itu adalah awal dari jebakan yang akan mengubah hidupnya selamanya.
1186Please respect copyright.PENANAsJr8F7g9Su
Malam Jakarta terus berdenyut, dan hasrat mulai merayap pelan, siap meledak.
1186Please respect copyright.PENANAKt7OvlTIOe


