1669Please respect copyright.PENANArpHXSBrpEY
Pagi itu, sinar matahari Jakarta yang terik menyusup melalui celah-celah daun pohon di halaman kampus Universitas Indonesia, menciptakan pola bayangan yang menari-nari di trotoar beton yang sudah mulai retak-retak karena usia. Suasana kampus selalu seperti ini: ramai, penuh energi muda yang bergejolak, dengan mahasiswa berlalu-lalang membawa tas ransel penuh buku dan laptop, sambil ngobrol ngalor-ngidul soal tugas, gosip, atau rencana nongkrong akhir pekan. Di tengah keramaian itu, dua sosok cewek berhijab tampak begitu menonjol, bukan karena mereka berusaha mencuri perhatian, tapi karena chemistry mereka yang bikin orang sekitar iri. Mereka adalah Agnes dan Risma, sahabat karib yang sudah seperti saudara kembar sejak semester pertama kuliah.
1669Please respect copyright.PENANAizYHpyZTL0
Agnes, cewek berusia 21 tahun dengan keturunan Arab yang bikin penampilannya eksotis, selalu jadi pusat perhatian tanpa sengaja. Tingginya 166 cm, tubuhnya langsing tapi berisi di tempat yang pas, membuatnya terlihat seperti model yang salah masuk ke dunia akademik. Payudaranya ukuran E cup selalu tersembunyi rapi di balik hijab dan baju longgar yang dia pakai sehari-hari, tapi kalau lagi pakai kaos ketat untuk olahraga, bentuknya yang bulat dan kencang bisa bikin mata cowok-cowok di sekitar melirik diam-diam. Bokongnya nggak terlalu besar, tapi bulat sempurna, seperti buah yang matang dan siap dipetik, yang bikin jeans ketatnya terlihat begitu menggoda saat dia berjalan. Kulitnya putih mulus, seperti susu segar, kontras dengan rambut hitam panjang yang mengalir lembut di balik kerudung hitamnya yang selalu rapi. Hidung mancungnya menambah kesan aristokrat, dan mata cokelatnya yang dalam, seperti cokelat leleh yang hangat, bisa bikin siapa saja yang ditatapnya merasa spesial. Tapi jangan salah, di balik penampilan yang memikat itu, Agnes punya kepribadian yang lucu dan menggemaskan. Dia suka bercanda, melempar joke-joke receh yang bikin orang sekitar ketawa ngakak, tapi kalau lagi marah, wah, bisa meledak seperti gunung berapi. Suaranya yang cempreng waktu ngomel bikin orang langsung mundur, tapi hatinya lembut banget. Agnes selalu gak enak hati kalau harus nolak permintaan orang, meskipun itu berarti dia harus korbanin waktu atau tenaganya sendiri. Itu salah satu alasan kenapa dia begitu disayang teman-temannya.
1669Please respect copyright.PENANADF9Ge7tyHx
Sementara Risma, sahabatnya yang juga 21 tahun, punya vibe yang mirip tapi dengan sentuhan khas keturunan Kalimantan. Tingginya sama, 166 cm, tubuh langsing dengan payudara D cup yang proporsional, bokong bulat yang pas, dan kulit putih yang sama mulusnya. Rambut hitam panjangnya juga tersembunyi di balik hijab, hidung mancung, dan mata hitam pekat yang bisa menembus jiwa orang. Risma juga lucu, suka ikut-ikutan bercanda bareng Agnes, tapi dia lebih santai dan nggak gampang marah. Mereka berdua seperti duo dinamis: Agnes yang eksplosif dan Risma yang calming. Setiap hari, mereka pakai hijab dengan gaya yang modis, nggak kaku, tapi tetap sopan sesuai nilai-nilai yang mereka pegang teguh sebagai cewek muslimah. Di kampus, mereka sering disebut "duo hijabers cantik" oleh teman-teman, meskipun mereka sendiri cuma ketawa kalau denger itu.
1669Please respect copyright.PENANArUVrdKKxSJ
Hari itu dimulai seperti biasa. Agnes bangun pagi di kosannya yang sederhana di daerah Depok, deket kampus. Dia ngaca dulu, memastikan hijabnya rapi, lipstik tipis yang bikin bibirnya terlihat lebih penuh, dan semprotan parfum vanila yang lembut. "Hari ini pasti seru," gumamnya sambil nyengir ke cermin. Dia ambil tas, isi dengan buku kuliah Ekonomi Bisnis, dan bergegas keluar. Di jalan, dia ketemu Risma yang udah nunggu di halte busway, seperti rutinitas mereka setiap pagi.
1669Please respect copyright.PENANAbgt7wrJ4ms
"Eh, Nes! Lo telat lagi nih, gue udah nunggu dari tadi," sapa Risma sambil nyengir, tangannya megang gelas kopi susu dari minimarket deket situ.
1669Please respect copyright.PENANA6FFQNGjIGY
Agnes langsung peluk Risma pelan, seperti biasa. "Maaf deh, Ris. Tadi alarm gue mati, gue mimpi lagi jalan-jalan ke pantai bareng lo. Lo tau kan, gue susah bangun kalau mimpi indah gitu." Mereka berdua ketawa, bahu saling senggol saat naik busway yang penuh sesak. Di dalam bus, mereka ngobrol ngalor-ngidul, dari tugas kuliah yang numpuk sampai gosip soal dosen yang lagi hits karena ganteng.
1669Please respect copyright.PENANA81WkxqCnhK
"Lo liat gak, dosen Marketing itu, Pak Andi? Gue kemarin liat dia di kantin, senyumnya bikin meleleh deh," kata Risma sambil mata berbinar-binar.
1669Please respect copyright.PENANAyPDbIyROju
Agnes geleng-geleng kepala, tapi matanya ikut berbinar. "Hati-hati lo, Ris. Jangan sampe lo jatuh hati lagi kayak waktu semester lalu sama si Andra itu. Ingat gak, lo nangis seminggu gara-gara dia selingkuh? Gue gak mau lo sakit hati lagi."
1669Please respect copyright.PENANAQAqt26Pu52
Risma cuma ketawa pelan, tapi ada sesuatu di matanya yang berbeda. "Ah, gue udah kapok lah. Sekarang gue fokus kuliah aja. Tapi... eh, lo sendiri gimana? Lo kan single forever, kapan nih dapet cowok yang bisa bikin lo deg-degan?"
1669Please respect copyright.PENANAvG0IA60IQQ
Agnes pura-pura manyun. "Gue? Ah, gue mah santai. Cowok-cowok di kampus ini kebanyakan childish. Gue butuh yang dewasa, yang bisa pegang kendali, tau gak? Yang bisa bikin gue merasa aman, tapi juga... exciting." Kata-katanya menggantung, dan Risma cuma nyengir, tapi dalam hati Risma, kata-kata Agnes itu seperti echo dari apa yang dia rasain akhir-akhir ini.
1669Please respect copyright.PENANAr40GSk6Z3j
Mereka turun di halte kampus, jalan bareng ke gedung fakultas. Sepanjang jalan, cowok-cowok melirik mereka, tapi Agnes dan Risma cuek aja, sibuk ngobrol. Mereka masuk ke kantin dulu, pesen nasi goreng kampus yang murah meriah, dan duduk di meja pojok favorit mereka. Di situ, obrolan mereka mulai lebih dalam. Agnes cerita soal mimpi-mimpinya, ingin jadi entrepreneur sukses setelah lulus, buka bisnis fashion muslimah yang trendy. Risma ikut antusias, "Gue dukung lo, Nes. Kita bisa kolaborasi, gue bagian marketingnya."
1669Please respect copyright.PENANAcoXKlioY0p
Tapi Agnes perhatiin, Risma kayak agak beda belakangan ini. Biasanya Risma energik banget, tapi sekarang matanya sering melamun, dan badannya kayak capek, meskipun dia bilang tidur cukup. Ada juga bekas merah samar di lehernya, yang dia tutupin dengan hijab lebih rapat. "Ris, lo kenapa sih akhir-akhir ini? Kayak sering capek gitu. Lo sakit apa?" tanya Agnes hati-hati, sambil nyuapin nasi goreng.
1669Please respect copyright.PENANANCu0T0t5de
Risma geleng-geleng, senyumnya dipaksain. "Ah, nggak kok. Gue cuma sibuk tugas aja. Kemarin gue ikut acara bisnis kampus, ketemu orang-orang baru. Seru deh, Nes. Lo harus ikut sometime."
1669Please respect copyright.PENANAEtykXwq64T
Agnes manggut, tapi dalam hati curiga. "Acara bisnis? Lo ketemu siapa aja? Cowok ganteng?"
1669Please respect copyright.PENANAPsyagckI15
Risma ketawa, tapi ada nada gugup. "Ada lah satu-dua. Salah satunya namanya Riyan, cowok 25 tahun, udah punya startup tech. Ganteng, pintar, dan... charming banget. Gue cuma ngobrol biasa kok."
1669Please respect copyright.PENANABQLumabSBB
Agnes nyengir lebar. "Wah, Riyan? Cerita dong! Dia kayak gimana? Tinggi? Berotot? Senyumnya bikin lo lemes gak?"
1669Please respect copyright.PENANAhywkahUQVR
Risma pipinya memerah sedikit di balik hijab. "Dia tinggi sekitar 170 cm, tubuh berotot gitu, rambut hitam lurus, senyumnya... ya ampun, Nes, bikin gue deg-degan. Tapi gue gak mau buru-buru. Lo tau kan gue?"
1669Please respect copyright.PENANAyvHVdbnLWi
Obrolan mereka berlanjut, penuh tawa dan teasing ringan. Agnes suka bercanda soal tubuh mereka sendiri, "Eh Ris, lo tau gak, payudara gue ini E cup, susah banget cari bra yang nyaman. Lo D cup aja udah enak, nggak terlalu berat." Risma ketawa, "Lo mah iri aja. Tapi bokong lo yang bulat itu, pasti cowok-cowok pada ngiler kalau lo pakai rok ketat."
1669Please respect copyright.PENANAHsYGfUcvWW
Teasing seperti itu biasa buat mereka, bikin pertemanan mereka lebih dekat. Mereka saling paham tubuh masing-masing, pernah saling bantu fitting baju di mall, dan curhat soal insecuritas. Agnes pernah bilang, "Gue suka badan gue, tapi kadang merasa terlalu seksi buat hijab. Takut dosa." Risma jawab, "Itu anugerah, Nes. Yang penting hati kita bersih."
1669Please respect copyright.PENANA03j68vWLJc
Tapi hari itu, saat mereka jalan ke kelas, Agnes ngerasa ada yang aneh. Risma sering cek HP, senyum-senyum sendiri, dan badannya kayak ada getaran halus, seperti lagi excited tapi nyembunyiin. "Ris, lo lagi apa sih? Kayak lagi jatuh cinta gitu," godain Agnes.
1669Please respect copyright.PENANA7bbBMq90Le
Risma cuma geleng, "Nggak kok. Gue cuma... lagi mikir rencana bisnis." Tapi Agnes tau, sahabatnya lagi nyimpan rahasia. Mereka masuk kelas, duduk bareng di baris tengah, dan kuliah dimulai. Selama dosen nerangin materi, Agnes curi-curi pandang ke Risma, yang matanya sering melayang ke jendela, seperti lagi ingat sesuatu yang manis tapi gelap.
1669Please respect copyright.PENANAxDPoDQXQdQ
Flashback ke awal pertemanan mereka: Mereka ketemu di orientasi mahasiswa baru, sama-sama nervous sebagai anak rantau. Agnes dari keluarga Arab-Indonesia di Jakarta, Risma dari Banjarmasin. Mereka langsung klik, saling dukung saat homesick, belajar bareng sampai malam, dan nongkrong di warung mie ayam deket kosan. Pertemanan mereka penuh tawa, air mata, dan rahasia kecil, seperti curhat soal pertama kali ciuman atau mimpi basah yang bikin malu.
1669Please respect copyright.PENANAStMVLm8Oj0
Setelah kelas selesai, mereka jalan ke perpustakaan, pinjem buku buat tugas. Di sana, Risma lagi-lagi melamun. "Ris, lo beneran gak ada apa-apa?" tanya Agnes lagi, suaranya penuh perhatian.
1669Please respect copyright.PENANAKN58p3ZZXj
Risma ragu sebentar, lalu bilang, "Sebenernya... gue lagi deket sama Riyan itu. Dia ajak gue dinner kemarin. Tapi jangan bilang siapa-siapa ya, Nes. Gue takut lo marah, soalnya lo kan bilang hati-hati."
1669Please respect copyright.PENANAaZNlGQXNaq
Agnes kaget, tapi senang. "Wah, serius? Cerita dong detailnya! Dia cium lo gak? Atau... lebih?"
1669Please respect copyright.PENANAGOqEggWJi7
Risma ketawa gugup. "Nggak lah, baru dinner. Tapi... dia pegang tangan gue, Nes. Rasanya... beda. Kayak ada listrik gitu. Gue merinding."
1669Please respect copyright.PENANAPfLAd7E9Ib
Agnes nyengir, imajinasinya langsung liar. "Wah, pasti dia cowok dominan ya? Gue bayangin, kalau dia pegang tangan aja udah gitu, gimana kalau... lo tau lah." Teasingnya bikin mereka berdua ketawa, tapi di balik itu, Agnes nggak sadar kalau Riyan udah mulai ubah Risma jadi sesuatu yang lebih dari pacar biasa.
1669Please respect copyright.PENANAPbv1Pu7G4A
Sore itu, mereka pisah di gerbang kampus. Agnes pulang ke kosan, mandi, dan mikir soal Risma. "Semoga dia bahagia," gumamnya. Tapi malamnya, Risma kirim chat: "Nes, gue lagi sama Riyan. Besok cerita ya." Agnes balas oke, tapi hati kecilnya curiga. Risma lagi berubah, dan rahasia besar lagi menanti.
1669Please respect copyright.PENANA2p4FKJqxOd
Di kamarnya, Agnes rebahan, tangannya tanpa sadar nyentuh payudaranya sendiri, mikir soal teasing tadi. "Gue juga pengen rasain deg-degan kayak gitu," bisiknya. Tapi dia gak tau, sebentar lagi, hidupnya bakal berubah total karena sahabatnya itu.
1669Please respect copyright.PENANAjowODfFmYo
Malam semakin larut, Jakarta mulai sepi, tapi di pikiran Risma, Riyan udah jadi tuan yang gak bisa ditolak. Agnes tidur nyenyak, mimpi indah, tanpa sadar badai nafsu lagi mendekat.
1669Please respect copyright.PENANA9t8gaKz5Up


