Bab 4: Rasa Bosan dan Hasrat Baru
806Please respect copyright.PENANApe4jUBwcvF
Pagi setelah malam yang panjang itu, sinar matahari menyusup melalui tirai tipis apartemen Riyan di Sudirman. Cahaya lembut menyentuh tubuh Risma yang masih telanjang, terbaring miring di atas bermimpi hitam yang kusut. Putihnya penuh bekas merah samar—jejak jari Riyan di pinggang, bekas gigitan ringan di bahu, dan garis-garis tipis dari tali sutra yang semalam mengikatnya berjam-jam. Napasnya pelan, teratur, tapi wajahnya menunjukkan kelelahan yang dalam. Matanya tertutup rapat, ciumannya sedikit membengkak karena deepthroat berulang, dan di antara pahanya masih terasa lengket sisa cairan dari orgasme terakhir yang dipaksa ditahan lama sekali.
806Please respect copyright.PENANAcmEHMtDCDy
Riyan sudah bangun lebih dulu. Dia berdiri di dekat jendela besar, hanya memakai celana boxer hitam yang ketat, menampilkan garis otot punggung dan bokong yang tegas. Tubuhnya berotot tapi ramping, hasil gym rutin dan pola makan ketat. Rambut hitamnya masih acak-acakan, tapi matanya tajam, penuh perhitungan. Dia memegang secangkir kopi hitam panas, menatap keluar ke arah gedung-gedung tinggi Jakarta yang mulai ramai. Pikirannya tidak lagi tertarik pada tubuh yang terbaring di kasur itu.
806Please respect copyright.PENANAmDKTGn78qh
Riyan melirik sekilas ke Risma. Cantik. Patuh. Sensitif. Semua yang dia inginkan dari seorang budak seks. Tapi setelah hampir tiga bulan penuh eksplorasi—bondage setiap malam, obat perangsang rutin, penetrasi ganda, enema mingguan, mendengarkan listrik ringan, dan orgasme yang dikendalikan sepenuhnya—rasa penasaran itu mulai memudar. Risma tidak lagi menawarkan perlawanan. Tidak ada lagi ragu atau air mata pertama kali. Dia sudah terlalu tunduk, terlalu mudah diprediksi. Setiap berbunyi, setiap getaran tubuh, setiap “Tuan…tolong…” terasa seperti replay dari malam sebelumnya.
806Please respect copyright.PENANATUKisApsYD
Dia menghela napas pelan. Bosan.
806Please respect copyright.PENANASqsX8iMuHY
Riyan meletakkan cangkir kopi di meja kecil, lalu berjalan ke arah kasur. Dia duduk di pinggir, tangannya menyentuh pipi Risma dengan lembut. Gadis itu terbangun perlahan, mata hitam pekatnya terbuka, langsung mencari wajah berputar.
806Please respect copyright.PENANAKSUZTYMFuS
“Pagi, Tuan…” suaranya serak, masih lemah.
806Please respect copyright.PENANAklwLUiLLNt
“Halaman, budak,” jawab Riyan datar. Tangannya turun, meremas payudara D cup Risma sekali, tapi tanpa gairah yang biasa. Hanya seperti memeriksa barang miliknya. “Lo capek?”
806Please respect copyright.PENANAxptR3Bgyim
Risma mengangguk pelan. “Sedikit… tapi kalau Tuan mau lagi, gue siap.”
806Please respect copyright.PENANAcnVAZBBetM
Riyan tersenyum tipis, tapi senyuman itu tidak mencapai matanya. "Nanti malam aja. Sekarang lo mandi dulu. Gue ada pertemuan pagi."
806Please respect copyright.PENANAek6NXdOEaX
Risma bangun dengan patuh, berjalan ke kamar mandi sambil menahan rasa nyeri di antara pahanya. Saat air shower membasahi tubuhnya, dia merasa lega sekaligus kosong. Lega karena malam ini mungkin dia bisa istirahat. Kosong karena dia tahu, semakin patuh dia, semakin cepat Riyan akan bosan.
806Please respect copyright.PENANAXtGUspRNiQ
Sementara itu, Riyan kembali ke ponselnya. Dia membuka galeri foto Risma—banyak sekali. Foto-foto candid saat Risma tertawa di kampus, selfie berhijab yang manis, dan tentu saja foto-foto intim yang dia ambil sendiri: Risma telanjang dengan kalung kontrol budak di leher, Risma terikat dengan tali merah, Risma dengan dildo di mulut, Risma menangis karena menahan orgasme selama hampir satu jam.
806Please respect copyright.PENANAeU6kp6QqGv
Tapi matanya berhenti di satu foto yang berbeda.
806Please respect copyright.PENANAMro9OC9L6s
Foto itu diambil oleh Risma sendiri, beberapa minggu lalu. Dia dan Agnes sedang selfie di kafe kampus. Agnes tersenyum lebar, mata cokelatnya berbinar, hijab krem membingkai wajah eksotisnya dengan sempurna. Payudara E cup-nya terlihat lebih menonjol dibanding Risma, meski tertutup blus longgar. Bokong bulatnya terlihat jelas saat dia sedikit membungkuk untuk mengambil gelas kopi. Kulit putihnya kontras dengan rambut hitam panjang yang sedikit terlihat di balik hijab. Hidung mancung, bibir penuh, dan ekspresi lucu yang polos—semuanya ada di foto itu.
806Please respect copyright.PENANA09xI1til6g
Riyan memperbesar gambar itu. Jarinya menyentuh layar, mengusap wajah Agnes secara virtual. Napasnya sedikit lebih berat. Ada sesuatu yang berbeda di sini. Agnes tidak terlihat seperti Risma yang sudah patuh. Di matanya ada percikan pemberontakan, ada sifat pemarah yang Risma ceritakan, ada ketidakpatuhan yang belum dijinakkan. Dan itu… membuat darah Riyan mengalir lebih cepat.
806Please respect copyright.PENANAMktafKKGFZ
Dia membayangkan. Bayangkan Agnes di ruangan BDSM ini. Bayangkan tali sutra mengikat pergelangan tangan yang ramping. Bayangkan anggur-anggur besar E cup itu mengalir di bawah jepitan. Bayangkan durinya yang belum pernah disentuh orang lain, basah karena obat perangsang, berdenyut minta dilepaskan tapi dipaksa menahannya. Bayangkan pertama Agnes—bukan kecewa patuh seperti Risma, tapi terkejut, marah, malu, tapi akhirnya… menyerah.
806Please respect copyright.PENANAg4XhlsyHg9
Pisangnya mulai terpusat hanya dengan pikiran itu.
806Please respect copyright.PENANAB7pHUtVTHx
Riyan meletakkan ponselnya, lalu berjalan ke kamar mandi. Risma sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk. Dia langsung tergeletak begitu melihat Riyan masuk.
806Please respect copyright.PENANAfiwesrLqrK
“Tuan mau mandi bareng?” tanyanya lembut.
806Please respect copyright.PENANAadtFVlSC56
Riyan menggeleng. “Nggak.Lo duduk disitu.” Dia menunjuk lantai keramik basah.
806Please respect copyright.PENANA7TQqqeuyEz
Risma patuh duduk, berlutut, tangan di atas paha. Riyan membuka boxer-nya, pisang 19 cm-nya sudah setengah tegang. Dia mendekat, mengarahkan ke bibir Risma.
806Please respect copyright.PENANAQW3ywJO7w1
“Buka mulut.”
806Please respect copyright.PENANA5SKvLEFOWP
Risma membuka mulut lebar. Riyan mendorong masuk perlahan, lalu mulai bergerak maju-mundur. *Gluk… gluk…* Suara tenggorokan Risma yang basah terdengar jelas di kamar mandi yang menggemum. Riyan memegang kepala gadis itu dengan kedua tangan, mendorong lebih dalam hingga hidung Risma menyentuh kedalaman.
806Please respect copyright.PENANAxBqFQbtsh9
“Deepthroat seperti biasa,” perintahnya.
806Please respect copyright.PENANAi0LCruxMhv
Risma berusaha, air mata menetes karena refleks muntah, tapi dia tidak melawan. Riyan mempercepat gerakan, pikirannya melayang ke Agnes. Dia membayangkan mulut Agnes yang lebih kecil, lebih rapat, lebih perawan. Dia membayangkan Agnes berusaha melawan, tapi akhirnya menyerah karena obat perangsang dan ancaman.
806Please respect copyright.PENANASlWINW5apN
Tak butuh waktu lama. Riyan menarik keluar, menyemprotkan cairannya ke wajah dan dada Risma. Cairan putih kental menetes dari dagu gadis itu, jatuh ke payudaranya.
806Please respect copyright.PENANAS8DPwgs0as
“Bagus,” kata Riyan dingin. "Sekarang bersihkan diri. Aku mau bersiap malam ini."
806Please respect copyright.PENANAOzLiHmViWc
Risma mengangguk, membersihkan wajahnya dengan udara. Tapi di dalam hatinya, ada rasa cemburu yang mulai tumbuh. Dia tahu muncul Riyan berbeda akhir-akhir ini. Dan dia tahu siapa alasannya.
806Please respect copyright.PENANAu2NwD0aS4Z
Malam harinya, Riyan mengajak Risma ke ruang BDSM lagi. Kali ini lebih brutal. Dia mengikat Risma telentang di meja kayu khusus, kaki terbuka lebar dengan borgol logam di pergelangan tangan kaki. Dari rak, dia mengambil botol enema besar. Cairan hangat dituangkan pelan ke apel Risma. Risma menggeliat, perutnya mulai kembung.
806Please respect copyright.PENANAWb2Y7uc2Bl
“Tahan,” perintah Riyan. “Jangan keluar sebelum saya mengizinkannya.”
806Please respect copyright.PENANAX96pR0HINt
Risma menggigit bibir, keringat menetes. Riyan lalu mengoleskan obat penahan orgasme ke durian dan cerinya—obat dari Yosep yang membuat sensitivitas meningkat tapi klimaks tertunda. Lalu dia memasukkan dua dildo sekaligus: satu ke durian, satu ke apel, keduanya bergetar dengan remote control.
806Please respect copyright.PENANAmHziQwgfxl
“Gue mau lo tahan selama 45 menit,” katanya sambil menyalakan getaran ke tingkat rendah.
806Please respect copyright.PENANAG5RLg8qTqD
Risma langsung mengerang. “Tuan… ini… juga…”
LANJUTAN CERITA BISA DI AKSES DI https://lynk.id/novelhambilah
806Please respect copyright.PENANAUYQZF1NKz9


