Bab 4: Indra Terjebak dan Frustasi
1829Please respect copyright.PENANAX79dNoJDva
Perlahan, pelukan itu berubah menjadi sesuatu yang lebih intim. Indra mencium leher Amanda, ciuman hangat di kulit putih mulus itu. Amanda mendesah pelan, "Indra... kamu lagi stres, jangan dipaksa." Tapi Indra menggeleng, "Justru aku butuh ini. Butuh rasain kamu, biar lupa sebentar." Amanda mengangguk, membiarkan suaminya memimpin.
1829Please respect copyright.PENANAAubV7Yx19u
Foreplay dimulai dengan lembut, penuh emosi. Indra melepas hijab Amanda pelan-pelan, membiarkan rambut hitam panjang terurai di bantal. Dia mencium kening, mata, hidung mancung, lalu bibir—ciuman dalam yang penuh rasa sayang bercampur keputusasaan. Tangannya naik ke payudara Amanda, pijat lembut melalui kain gamis. puting-puting itu melaju dengan cepat, Amanda menggeliat. "Mmm... sayang..."
1829Please respect copyright.PENANA2xecYQmqrL
Indra menarik gamis ke atas, menampilkan tubuh telanjang Amanda yang indah. Kulit putihnya bercahaya di bawah lampu kamar redup. Dia menunduk, menyedot salah satu puting, lidahnya berputar pelan. Amanda mengerang sambil menggenggam rambut Indra. "Ahh...pelan...aku suka gini..." Indra berganti ke puting satunya, gigitannya ringan, membuat punggung Amanda melengkungkan.
1829Please respect copyright.PENANAhuP5zsYq6j
Tangan Indra turun, menyentuh vagina Amanda yang sudah basah. Jarinya menggosok kristorispelan, gerakan melingkar yang membuat Amanda menggigit bibir bawah. “Kamu basah banget… karena aku ya?” tanyanya dengan suara serak. Amanda mengangguk, napasnya tersengal. "Selalu karena kamu... aku cinta kamu..." Emosi mereka campur aduk—cinta, takut, dan nafsu yang jadi pengungsi.
1829Please respect copyright.PENANAgd4vmoJlBA
Indra melepas bajunya sendiri, menampilkan tubuh berotot yang berkeringat tipis. tititnya sudah keras, menonjol penuh. Amanda meraihnya, mengelus pelan sambil menatap mata Indra. "Aku pengen kamu masuk... sekarang." Indra mengangguk, memposisikan dirinya di antara kaki Amanda. Dorongan pertama pelan, masuk sebagian, lalu penuh. Suara desahan mereka bersatu: "Ahh..." dari Amanda, "Sial... enak banget..." dari Indra.
1829Please respect copyright.PENANAhVlYR0Sbvj
Gerakan mereka lambat dulu, seperti ingin merasakan setiap inci. Indra maju mundur pelan, tangannya memegang pinggul Amanda. Plok... plok... suara kulit bertemu kulit terdengar lembut tapi ritmis. Amanda mencakar punggung Indra, meninggalkan bekas merah tipis. "Lebih cepat... tolong..." pintanya. Indra mempercepat, napasnya semakin berat. Pikirannya melayang ke fantasi kasar lagi—pengen memegang leher Amanda pelan, bikin dia minta ampun—tapi dia tahan, fokus pada kelembutan malam ini.
1829Please respect copyright.PENANAR0TLCwdQAP
Amanda mencapai orgasme pertama lebih cepat dari biasanya, mungkin karena emosi yang memuncak. Tubuhnya bergetar hebat, vaginanya pecah titit Indra kuat. “Aku… keluar… Indraaa!” jeritnya pelan, air mata mengalir di pipi—bukan karena sakit, tapi karena sayang yang terlalu dalam.
LANJUTAN CERITA BISA DI AKSES DI https://lynk.id/novelhambilah1829Please respect copyright.PENANAWpyBwvgGZm
1829Please respect copyright.PENANAbyxqumIR3T


