Bab 5: Kesepakatan Rahasia Amanda dan Yoga
1264Please respect copyright.PENANAHthmv53oBj
Pagi itu terasa lebih berat dari biasanya bagi Amanda. Cahaya matahari Bandung yang biasanya lembut sekarang terasa menusuk melalui jendela kamar. Dia berdiri di depan cermin besar, memeriksa penampilannya untuk kesekian kalinya. Hijab krem polos yang dia pilih hari ini jatuh rapi di bahu, gamis abu-abu muda yang sederhana tapi elegan menutupi tubuh langsingnya dengan sempurna. Payudara E cup-nya terlihat proporsional, bokong kencangnya tersembunyi di balik kain longgar, tapi dia tahu bentuk tubuhnya tetap terlihat menarik meski tertutup. Kulit putihnya kontras dengan warna lembut pakaian, mata cokelat memikatnya dipoles tipis eyeliner, hidung mancungnya terlihat tajam. Amanda menghela napas panjang, mencoba menenangkan detak jantung yang tak karuan.
1264Please respect copyright.PENANAtk0TNdwfBn
Indra sudah berangkat ke kantor lebih awal, setelah mencium keningnya dan berbisik, “Terima kasih ya, sayang. Aku janji ini cuma sementara. Empat bulan doang, terus kita mulai hidup baru.” Kata-kata itu seharusnya menghibur, tapi justru membuat Amanda semakin gelisah. Dia tahu ini demi suaminya—demi menghapus noda kesalahan yang sebenarnya bukan salah Indra sepenuhnya, demi promosi, demi masa depan mereka. Tapi kenapa rasanya seperti dia sedang menyerahkan dirinya ke sesuatu yang tak terlihat?
1264Please respect copyright.PENANAjPi4i62rdn
Amanda mengambil tas kecil berisi laptop dan dokumen freelance-nya, lalu naik ojek online menuju gedung perusahaan Yoga di kawasan elit kota. Sepanjang perjalanan, pikirannya berputar. “Ini cuma kerja asisten. Administrasi, desain, meeting. Nggak ada yang aneh,” gumamnya sendiri, mencoba meyakinkan diri. Tapi ingatan malam acara perusahaan itu kembali muncul: tatapan Yoga yang dalam, sentuhan sekilas di punggungnya, senyum yang terlalu hangat. Ada sesuatu di pria itu yang membuatnya merinding—bukan takut murni, tapi campuran antara takut dan... rasa penasaran yang tak seharusnya ada.
1264Please respect copyright.PENANA7PeZSiVYKu
Gedung perusahaan tinggi menjulang, kaca hitam mengkilap memantulkan langit cerah. Amanda masuk ke lobi, disambut resepsionis ramah yang langsung mengantarnya ke lantai 28—lantai eksekutif. “Pak Yoga sudah menunggu di ruangannya, Mbak Amanda,” kata resepsionis sambil tersenyum. Amanda mengangguk, tangannya sedikit gemetar saat menekan tombol lift.
1264Please respect copyright.PENANAzVDl3vHu4f
Pintu ruang Yoga terbuka otomatis saat dia mendekat. Ruangan luas, minimalis tapi mewah: meja kayu mahoni besar, sofa kulit hitam panjang, jendela dari lantai ke langit-langit menghadap pemandangan kota. Yoga duduk di belakang meja, kemeja putih lengan digulung memperlihatkan lengan berotot, rambut hitam lurusnya rapi, senyum menawan sudah terpasang di wajahnya sejak Amanda masuk.
1264Please respect copyright.PENANAuAfbUnqYiy
“Amanda, tepat waktu. Bagus,” sapanya dengan suara dalam yang tenang. Dia bangun, mengulurkan tangan. Amanda menjabatnya—sentuhan hangat, kuat, tapi kali ini lebih lama dari seharusnya. “Duduklah. Kita bicara santai saja.”
1264Please respect copyright.PENANAIlhaYvDZnt
Amanda duduk di kursi tamu, kakinya disilangkan rapat. “Terima kasih sudah mau ketemu langsung, Pak. Indra bilang... ada kesepakatan yang perlu kita bahas.”
1264Please respect copyright.PENANAEyGpsdkEKe
Yoga mengangguk, duduk kembali dan mencondongkan tubuh sedikit ke depan. Matanya tak lepas dari wajah Amanda. “Benar. Indra sudah cerita semuanya kan? Kerugian perusahaan karena kesalahan dokumen yang dia approve. Nilainya besar, Amanda. Kalau tidak ditangani, Indra bisa dipecat, bahkan di-blacklist di industri ini. Tapi aku nggak mau itu terjadi. Dia karyawan terbaikku.”
1264Please respect copyright.PENANACrbTtCsJBN
Amanda mengangguk pelan. “Iya, Pak. Indra bilang... kalau aku bersedia jadi asisten khusus selama empat bulan, semuanya bisa diselesaikan. Dia dipromosikan ke cabang Surabaya, gaji naik, catatan buruk dihapus.”
1264Please respect copyright.PENANAmJ8EwqMKN4
“Persis,” jawab Yoga. Dia membuka map di meja, mengeluarkan kontrak dua lembar. “Ini kesepakatannya. Kamu bekerja sebagai asisten pribadiku—handle jadwal, desain materi presentasi, ikut meeting penting, administrasi proyek rahasia. Kerja full-time, Senin sampai Minggu, tanpa libur. Gaji bulanan 50 juta, plus bonus performa. Indra pindah ke Surabaya bulan depan, jabatan manager senior. Semua catatan kesalahan dihapus dari sistem.”
1264Please respect copyright.PENANAtfdOcJgTRW
Amanda membaca kontrak itu dengan teliti. Bahasanya formal, tak ada yang mencurigakan di permukaan. Tapi ada satu kalimat yang membuatnya ragu: “Pekerja bersedia menjalankan tugas sesuai arahan penuh atasan tanpa pengecualian.” Dia menatap Yoga. “Tanpa pengecualian artinya apa, Pak?”
1264Please respect copyright.PENANAPXzC0efkP2
Yoga tersenyum tipis. “Artinya fleksibel. Kadang meeting malam, kadang perjalanan dinas mendadak, kadang tugas yang butuh kerahasiaan tinggi. Tapi semuanya masih dalam koridor profesional. Aku nggak akan minta sesuatu yang melanggar hukum atau prinsipmu.”
1264Please respect copyright.PENANAFKX2TBhHOH
Amanda diam sebentar. Dia ingat wajah Indra yang penuh harap malam tadi, ingat bagaimana suaminya hampir menangis karena stres. “Kalau aku setuju... Indra aman sepenuhnya?”
1264Please respect copyright.PENANAsRafbKM0Bi
“Sepenuhnya,” jawab Yoga tegas. “Aku kasih jaminan tertulis kalau perlu. Tapi aku harap kamu percaya kata-kataku.”
1264Please respect copyright.PENANAwXC7VMfdVr
Amanda menarik napas dalam. “Baik. Aku setuju.”
1264Please respect copyright.PENANADRLg7APgdW
Yoga mengulurkan pena. Amanda menandatangani, tangannya sedikit bergetar. Saat pena menyentuh kertas, Yoga menatapnya intens. “Terima kasih, Amanda. Mulai besok, kamu resmi jadi bagian timku. Indra akan diberi surat promosi sore ini.”
1264Please respect copyright.PENANA84bPU6qOZt
Amanda mengangguk, mencoba tersenyum. “Terima kasih, Pak. Aku... aku lakukan ini demi Indra.”
1264Please respect copyright.PENANAJrvxOc3mmC
Yoga bangun, berjalan ke sisi meja dan berdiri di depan Amanda. Jarak mereka dekat sekali sekarang. “Aku tahu. Dan aku menghargai pengorbananmu.” Tangannya menyentuh bahu Amanda sekilas—sentuhan yang seolah tak sengaja, tapi membuat Amanda tersentak. “Kamu cantik sekali hari ini. Hijab krem cocok dengan kulitmu.”
1264Please respect copyright.PENANAfNjmmdXFDQ
Amanda merasa pipinya panas. “Terima kasih,” jawabnya pelan, buru-buru bangun. “Kalau nggak ada lagi, aku pamit dulu.”
1264Please respect copyright.PENANAuTTPOk2W8s
Yoga mengantarnya ke pintu. “Besok jam 8 pagi, datang langsung ke sini. Pakai baju yang nyaman—kadang kita kerja lama.” Matanya menelusuri tubuh Amanda sekilas, tapi cepat kembali ke wajah. “Hati-hati di jalan.”
1264Please respect copyright.PENANAkp6QMvXOiQ
Amanda keluar dari ruangan dengan jantung berdegup kencang. Di lift, dia menatap bayangannya di dinding kaca. “Ini cuma kerja, Amanda. Cuma kerja,” gumamnya. Tapi kenapa rasanya seperti dia baru saja menandatangani sesuatu yang lebih dari sekadar kontrak?
1264Please respect copyright.PENANAuxCr738CiH
Sore itu, Indra pulang dengan wajah cerah. Dia memeluk Amanda erat di pintu. “Sayang! Aku dapet surat promosi resmi! Gaji naik, jabatan manager senior, pindah ke Surabaya bulan depan. Semua beres!” Matanya berkaca-kaca. “Kamu luar biasa. Terima kasih... aku nggak tahu harus gimana kalau nggak ada kamu.”
1264Please respect copyright.PENANATosNy23hlu
Amanda memeluk balik, mencium dada Indra. “Aku senang banget buat kamu. Ini kan demi kita.” Tapi dalam pelukan itu, Amanda merasa ada beban baru di dadanya—rahasia yang dia simpan sendiri.
1264Please respect copyright.PENANAX8c3vMr7fv
Malam itu, mereka merayakan dengan makan malam romantis di rumah. Amanda masak steak sederhana, Indra membuka wine non-alkohol favorit mereka. Setelah makan, mereka ke kamar. Indra menarik Amanda ke pangkuannya di kasur, menciumnya dalam. “Aku pengen rayain ini sama kamu,” bisiknya.
1264Please respect copyright.PENANAf8jU1K8mq2
Foreplay dimulai dengan penuh rasa syukur. Indra melepas hijab Amanda pelan, membiarkan rambut hitam terurai. Dia mencium lehernya, turun ke bahu, lalu ke payudara melalui kain gamis. Amanda mendesah, “Indra... pelan...” Tapi tubuhnya sudah bereaksi, puting mengeras, vagina basah.
1264Please respect copyright.PENANA73vNGDOXEn
Indra menarik gamis ke atas, memperlihatkan tubuh telanjang Amanda. Dia menjilat puting satu per satu, gigitannya ringan membuat Amanda melengkung. “Kamu enak banget... aku nggak akan pernah bosan sama tubuhmu.” Amanda menggeliat, tangannya meraih kontol Indra yang sudah keras. “Aku juga... pengen kamu sekarang.”
1264Please respect copyright.PENANAlIcqd5mOAD
Indra memposisikan diri, masuk pelan tapi dalam. Gerakan mereka sinkron, plok... plok... suara ritmis memenuhi kamar. Amanda mengerang, “Lebih dalam... ahh...” Indra mempercepat, tangannya meremas bokong Amanda. Tamparan ringan: plak! Amanda tersentak, matanya berkilau. “Lagi...”
1264Please respect copyright.PENANA93QE2ZO9lK
Mereka klimaks bersama, Amanda bergetar hebat, Indra menyemprot di dalam dengan desahan panjang. Setelah itu, mereka berpelukan erat. “Aku sayang kamu selamanya,” bisik Indra. Amanda balas, “Aku juga.” Tapi di pikiran Amanda, bayangan Yoga muncul lagi—tatapan itu, sentuhan itu. Dia menggeleng pelan, memeluk Indra lebih erat.
1264Please respect copyright.PENANAqysGLtAPvI
Sementara itu, di penthouse-nya, Yoga duduk sendirian dengan segelas whiskey. Kontrak sudah ditandatangani. Indra akan pindah bulan depan. Amanda mulai “bekerja” besok. Dia tersenyum gelap, mengirim pesan singkat ke Ahmad dan Amari: “Mangsa sudah masuk kandang. Persiapan fase latihan dimulai.”
1264Please respect copyright.PENANAmI38V2CaTy
Empat bulan yang akan mengubah segalanya baru saja resmi dimulai.
LANJUTAN CERITA https://lynk.id/novelhambilah1264Please respect copyright.PENANARm6kwk0410
1264Please respect copyright.PENANAk8UAcQPijm


