Umi Siska membeku. Jantungnya berdebar makin tak terkendali. Bukan hanya karena kaget, tapi juga rasa malu dan sedikit rasa ingin tahu yang bercampur desiran aneh yang sulit dikendalikan. Ia dengan jelas melihat ‘batang senjata’ lelaki itu.
Ukurannya tampak luar biasa, jauh berbeda denagn milik suaminya atau yang ia bayangkan saat pertama melihat lelaki itu tadi. Seketika pipi Umi Siska memerah dan memanas. Ia segera memalingkan muka, berusaha keras untuk tidak melihat lagi.
Saat pemuda itu selesai buang air kecil dan hendak menarik kembali celananya, ia menolehkan wajahnya ke arah jendela dapur. Mata Umi Siska seketika terbelalak lebar, mulutnya menganga tanpa sadar. Lelaki itu ternyata Adnan! Sang ketua pemuda kampung yang sudah lama tidak ia lihat karena memang kerja dan tinggal di kota dengan istrinya.
Umi Siska bahkan masih ingat, bagaimana kilatan nakal mata Adnan saat ia bercanda dengan Pak RW dan saat berpamitan beberapa bulan lalu.
‘Ya Tuhan! Mas Adnan?’ batin Umi Siska histeris. Ia merasa malu, kaget, dan bingung bercampur jadi satu.
Umi Siska segera berjongkok di bawah jendela, berusaha menyembunyikan diri. Ia berharap Adnan tidak melihatnya mengintip. Ia merasa sangat bersalah dan malu. Bagaimana jika Adnan tahu bahwa ia telah melihatnya dalam keadaan seperti itu? Apa yang akan dipikirkannya?
‘Bagaimana bisa aku tidak mengenalinya? Mungkin karena Mas Adnan hanya mengenakan singlet dan celana pendek, atau mungkin karena aku terlalu fokus pada ‘batang senjatanya? Sialan!’ batinnya.
Jantung Umi Siska masih berdebar kencang. Ia mencoba mengatur napasnya dan menenangkan diri. Kejadian ini terlalu tiba-tiba dan mengejutkan. Ia tidak tahu bagaimana harus bersikap jika bertemu Adnan lagi nanti. Yang jelas, ia merasa sangat tidak nyaman dan ingin segera melupakan kejadian ini.
Setelah beberapa saat berjongkok di bawah jendela, Umi Siska menduga Adnan sudah pergi. Ia memberanikan diri untuk bangkit dan mengintip lagi. Halaman belakang sudah sepi. Ia menghela napas lega. ‘Syukurlah, dia sudah pergi,’ pikirnya.
Umi Siska merasa bahwa kampung Cikulat ini semakin membawa dirinya ke dalam berbagai situasi yang tak terduga. Setelah berbagai ketegangan batin yang ia alami, kini ia harus kembali menghadapi kejutan lain. Kejutan yang selalu membuatnya merasa campur aduk: kaget, malu, dan sedikit rasa ingin tahu yang tak seharusnya.
Namun, baru saja ia hendak berbalik, tiba-tiba terdengar suara ketukan pelan di pintu depan.
Tok! Tok! Tok!
Umi Siska terkejut. Siapa yang datang pagi-pagi begini? Dengan ragu-ragu, ia melangkah menuju pintu depan dan membukanya perlahan.
Di ambang pintu, berdiri Adnan. Ia tersenyum manis, memperlihatkan deretan gigi putihnya yang rapi.
"Selamat siang, Bu Ustadzah," sapanya sopan. "Maaf mengganggu. Boleh minta air minum? Haus sekali sedang berburu bajing."
Debaran jantung Umi Siska semakin parah. Ia tidak menyangka akan bertemu Adnan kembali secepat ini, dan dalam situasi seperti ini. Kini, ia tidak lagi melihat Adnan sebagai ketua pemuda yang sopan dan ramah. Yang terbayang di benaknya adalah ‘senjata laras panjang yang tadi dilihatnya sekilas dan benar-benar menakjubkan.
Ia merasa gugup dan salah tingkah. "Oh, Mas Adnan... Iya, tentu saja. Masuklah," jawab Umi Siska dengan suara sedikit bergetar.
Dengan senyum ramahnya, Adnan masuk ke ruang tamu. Ruangan itu sederhana namun tertata rapi, mencerminkan kepribadian pemiliknya yang telaten. Adnan mengedarkan pandangannya sejenak, lalu kembali menatap Umi Siska dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Terima kasih, Bu," ucap Adnan sambil duduk di kursi yang berada di dekat meja. "Maaf sudah lama tak bertemu, sekalinya bertemu lagi merepotkan ya."
Umi Siska berusaha menenangkan diri. Ia berjalan menuju dapur untuk mengambilkan air minum untuk Adnan. Sambil menuangkan air ke dalam gelas, pikirannya berkecamuk. Ia merasa canggung dan tidak tahu harus berkata apa. Bayangan penis besar dan panjang itu terus membayang.
"Ini, minumnya, Mas," ucap Umi Siska sambil menyodorkan segelas air dingin kepada Adnan. Tangannya sedikit gemetar.
Adnan menerima gelas itu dengan senyum. "Terima kasih banyak, Bu," ujarnya. Ia meneguk air itu dengan cepat, lalu menghela napas lega. "Segar sekali."
Setelah meletakkan gelasnya di meja, Adnan kembali menatap Umi Siska. Tatapannya kali ini terasa lebih intens dan penuh arti. Umi Siska merasa jantungnya semakin berdebar kencang. Ia tahu, percakapan ini akan menjadi lebih sulit dari yang ia bayangkan.
"Ibu pasti kaget ya, lihat saya tadi di belakang rumah?" tanya Adnan tiba-tiba, dengan nada suara yang menggoda.
Umi Siska tersentak. Ia merasa wajahnya memerah. "Ah... itu... anu..." jawabnya gugup, berusaha mencari kata-kata yang tepat. "Saya... saya tidak sengaja melihat..."
Adnan tersenyum semakin lebar. "Tidak sengaja melihat apa, Bu?" godanya lagi, membuat Umi Siska semakin salah tingkah.
Umi Siska menelan ludah. Ia tahu, ia tidak bisa lagi menghindar. Ia harus menghadapi situasi ini dengan tenang dan kepala dingin. Tapi, bagaimana caranya? Pikirannya benar-benar buntu.
"Eh, Mas Adnan, maaf ya, saya sedang masak, buat persiapan makan siang Pak Ustadz. Mohon maaf," ucap Umi Siska dengan nada yang dibuat sesantai mungkin, meskipun jantungnya masih berdegup kencang. Ia berharap alasan ini cukup meyakinkan Adnan untuk segera pergi.
Adnan tampak mengerti. "Oh, begitu. Tidak apa-apa, Bu. Saya juga tidak mau mengganggu terlalu lama," jawabnya sambil bangkit dari kursi. Ia tersenyum ramah, tapi tatapannya masih menyimpan sesuatu yang sulit dibaca.
Adnan berjalan menuju pintu, namun sebelum keluar, ia berhenti sejenak dan menoleh ke arah Umi Siska.
"Oh iya, Bu, kalau boleh, kita tukeran nomor ponsel ya?" pintanya dengan nada yang terdengar sangat sopan. "Biar mempermudah komunikasi, terutama kalau ibu butuh teman ngobrol, atau untuk apa saja." Adnan bahkan menekankan kata "untuk apa saja" sambil mengedipkan sebelah matanya.
Umi Siska merasa pipinya kembali memanas. Ia mengangguk pelan dan menyebutkan nomor ponselnya. Adnan dengan cepat menyimpan nomor itu di ponselnya, lalu membalasnya dengan sebuah pesan singkat. [Ini nomor saya, Bu]
"Terima kasih banyak, Bu Ustadzah. Saya pamit dulu. Selamat siang," ucap Adnan sambil melangkah keluar. Ia tersenyum sekali lagi sebelum menghilang di balik pintu.
Setelah Adnan pergi, Umi Siska hanya bisa bersandar lemas di daun pintu yang tertutup. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri. Namun, bayangan penis itu kembali membayang di benaknya, membuat jantungnya berdebar tak terkendali.
Umi Siska sudah banyak mendengar cerita tentang Adnan dari Bi Wati, walau sudah beristri dan punya anak di kota, namun saat pualng kampung dia dikenal agak nakal.
Umi Siska merasa terjebak dalam situasi yang aneh dan membingungkan. Apa yang sebenarnya aku inginkan, mengapa kasih nomor hape? Bagaimana harus bersikap jika Adnan menghubunginya nanti? Bagaimana kalau kethuan istrinya nanti. Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar-putar di kepalanya, membuatnya semakin gelisah.
^*^
ns216.73.217.22da2


