Kini hanya Umi Siska dan Pak Gandi di ruang tamu. Ruangan terasa lebih sunyi. Umi Siska menunduk, memainkan ujung gamisnya. Pak Gandi bersandar santai di sofa dan bergeser sedikit, seolah ingin menunjukkan bahwa ia benar-benar rileks di rumah sendiri.
“Umi, tenang aja. Di kampung ini kita semua akan dianggap satu keluarga,” katanya dengan nada ramah, meski bagi Umi Siska terdengar janggal.
“I-iya, Pak. Terima kasih sudah menyambut kami,” jawab Umi Siska dengan suara pelan.
Pak Gandi lalu menghela napas, menatapnya seolah ingin membuka percakapan yang lebih personal. “Ustadz Fahmi orang baik, Tapi ya… guru seperti dia pasti banyak beban. Hubungan suami-istri kadang terganggu karena rutinitas dan beban pikiriannya? Saya paham kok.”
Umi Siska terkejut. Ada nada samar yang membuat kata-kata itu terasa lebih dari sekadar obrolan biasa. Dari mana ia tahu tentang urusan rumah tangga? Mengapa komentar itu meluncur seolah ia sudah lama menyimpan persepsi tertentu tentang kehangan ranjang Ustadz Fahmi dan istrinya.
Pak Gandi bergeser lagi sedikit, duduk lebih kantas dengan tetap bersandar, kakinya terbuka lebar. Posisi itu membuat tonjolan di selangkangannya yang sebenarnya sudah terlihat jelas, kini semakin jelas di mata Umi Siska, walau terhalang celana pendeknya yang terkesan makin pendek. Umi Siska bahkan menduga lelaki paruh baya itu tak memakai dalaman.
Umi Siska merasakan wajahnya memanas, matanya buru-buru memaling ke jendela, tapi bayangan yang sempat terlihat tak bisa sepenuhnya lepas dari benaknya. Apakah ini sengaja? Pikirannya berputar kacau, membuatnya salah tingkah, tangan gemetar saat memegang gelas, dan ia berpura-pura menatap gambar karpet lantai.
Beruntung Ustadz Fahmi tak muncul lagi dari dapur, lantas melirik jam di pergelangan tangannya.
"Pak Kepala, kami harus pamit dulu, sudah sore. Terima kasih banyak sudah menyambut kami dengan hangat," ujarnya ramah. Umi Siska segera berdiri, merasakan sedikit kelegaan bahwa momen ini akan segera usai.
Pak Gandi ikut bangkit, senyumnya masih tersungging. "Oh, iya, Pak Ustadz. Jangan sungkan-sungkan mampir lagi kapan-kapan, kita bisa diskusi santai di sini. Umi juga main aja sering-sering ke sini biar cepat akrab dengan istri saya," jawabnya kalem sambil mengantar Ustadz Fahm dan istrinya sampai beranda.
Hari-hari berlalu. Umi Siska mulai mengikuti ritme hidup kampung, ikut mencuci dan mandi di sungai bersama ibu-ibu, menghadiri arisan, dan menjadi bagian dari obrolan ringan tetangga. Meski kadang masih menerima tatapan-tatapan lelaki yang membuatnya canggung, ia berusaha tetap ramah dan menjaga sikap.
Dua bulan tinggal di Cikulat, keluarga Ustadz Fahmi semakin dikenal. Warga sering memuji keanggunan Umi Siska; pesona halusnya membuatnya cepat terkenal. Meski ia selalu mengikuti anjuran suami untuk berpakaian sopan, tetap saja ada lelaki yang memperhatikan dengan cara yang membuatnya gelisah. Ditambah lagi, hubungan rumah tangga mereka terasa dingin belakangan ini, membuat batinnya makin rapuh.
Siang itu Umi Siska baru pulang dari sungai. Gamis krem yang ia kenakan masih agak lembap saat ia menjemur cucian di halaman samping. Tempat itu agak tersembunyi, namun masih terlihat dari pagar bambu. Angin semilir menenangkan, tetapi pikirannya tidak.
Tiba-tiba terdengar suara memanggil.
“Assalamualaikum, Umi! Lagi sibuk?”
Umi Siska terkejut. Di balik pagar berdiri Pak Sugandi, berseragam PNS rapi, map tebal di tangan.
“Maaf mengganggu. Saya habis dari rumah orang tua murid. Lewat sini sekalian mampir. Ustadz Fahmi masih di sekolah, ya?”
“Waalaikumsalam… iya, Pak.” Umi Siska mencoba tersenyum, meski gamisnya yang lembap menempel pada tubuh membuatnya tidak nyaman.
Pandangan Pak Gandi tampak terlalu memperhatikan, jauh lebih lama dari yang pantas.
“Sudah dua bulan di Cikulat, Umi betah?” tanya dengan senyum yang terasa terlalu akrab.
“Alhamdulillah, Pak. Sudah mulai terbiasa,” jawabnya pelan.
Pak Gandi mengangguk, sorot matanya tak lepas darinya.
“Kalau ada apa-apa, Umi bilang saja. Saya harus pastikan keluarga guru-guru aman dan nyaman.”
Lalu ia mengeluarkan ponsel.
“Boleh minta nomor Umi? Biar mudah kalau ada hal penting. Pak Ustadz kan sering di luar.”
Umi Siska ragu sejenak, tapi akhirnya menyebutkan nomornya. Secara formal itu wajar. Namun hati kecilnya terasa tidak tenang. Ada sesuatu dalam cara Pak Gandi berdiri, bicara, dan menatap yang membuatnya ingin lekas mengakhiri percakapan.
“Baik, Umi. Nanti saya hubungi kalau ada kabar,” katanya sebelum pergi.
Begitu ia menghilang dari pandangan, Umi Siska segera masuk dan mengunci pintu. Napasnya berat, tangan gemetar. Ia duduk di sofa, mencoba memahami perasaan yang menekan dadanya: takut, cemas… dan sesuatu lain yang ia benci akui. Bahwa sikap Pak Gandi membangunkan kembali ketidakstabilan batinnya beberapa bulan terakhir.
Ia mencoba mengalihkan pikiran dengan beres-beres rumah. Namun bayangan tatapan Pak Gandi seakan menempel. Rumah terasa sepi, tetapi ia merasa seperti diawasi.
Ponselnya tiba-tiba bergetar. [Umi, ini nomor pribadi saya. Kalau Umi butuh apa-apa, kabari saja.]
Umi Siska mengetik pelan: [Iya, Pak. Terima kasih.]
Beberapa detik kemudian pesan baru masuk: [Saya lewat tadi lihat Umi baru dari sungai. Kelihatan segar sekali.]
Dada Umi Siska langsung mengencang. Ia tidak membalas.
Pesan berikut menyusul: [Kalau ada yang ganggu, bilang sama saya. Pak Ustadz kan banyak kesibukan… pasti Umi sering sendirian, ya?]
Umi Siska segera menutup ponsel. Tangannya gemetar lebih keras daripada tadi. Ia berdiri, menatap pintu rumah seolah takut seseorang mengetuk kapan saja.
Dalam hatinya muncul dua ketakutan sekaligus: Tukut pada orang lain, dan takut pada pikirannya sendiri yang mulai goyah.
Haruskah ia menceritakan ini pada suaminya? Ataukah diam, agar tidak menimbulkan masalah di tempat yang baru?
Umi Siska masih mencoba menenangkan diri, tiba-tiba terdengar suara letusan senapan angin dari belakang rumah.
Dorr! Dorr! Dorr!
Umi Siska tersentak dan melonjak kaget, tubuhnya bergetar hebat. Wajar saja, ia kan baru kemarin pindah ke kampung ini. Suara tembakan itu membuatnya membayangkan hal-hal yang tidak-tidak. Dengan jantung berdebar tak karuan dan lutut yang terasa lemas, ia memberanikan diri mengintip dari jendela dapur.
Di halaman belakang, sekitar dua puluh meter dari rumahnya, dekat rimbunnya pohon-pohon besar dan semak belukar, berdiri seorang lelaki. Ia sedang asyik membidik sesuatu dengan senapan anginnya. Burung, mungkin? Atau tupai yang sering mencuri buah?
Lelaki itu tampak santai, hanya mengenakan kaus singlet putih yang memperlihatkan otot-otot lengannya dan celana pendeknya. Umi Siska terus mengamati gerak-geriknya dengan rasa was-was. "Siapa dia? Dan kenapa menembak di dekat sini bukan di hutan?" gumamnya dalam hati.
Setelah beberapa lama fokus membidik ke arah pepohonan, lelaki itu tiba-tiba menurunkan senapan anginnya dan menyandarkannya di batang pohon mangga yang kokoh, lalu tanpa ragu-ragu, ia melonggarkan ikat pinggangnya dan menurunkan celana pendeknya hingga sebatas lutut.
Umi Siska tercekat dan tertegun. ‘Apa yang akan dia lakukan?’ pikirnya panik.
Lelaki itu berdiri menghadap semak-semak yang rimbun, lalu mulai buang air kecil. Dari sudut pandang Umi Siska yang mengintip dari balik jendela dapur, bisa dengan jelas melihat segalanya dari samping.
^*^
ns216.73.217.22da2


