Salam kenal dan salam jumpa dengan Desah Mania. Tak salah, kamu melangkah ke sini, artinya sudah siap dengan cerita-cerita yang tak terduga, alur tak biasa, alami, mudah dicerna, asli, masih segar dan tak ditampilkan di platform lain, selain di Victie.
Bersiaplah untuk bahagia dan berdebar selama membacanya. Khusus beberapa chapter area dewasa, akan dikunci dengan gembok murah seharga Rp.1.000,- tetapi akan mendapatkan aksi maksimal yang tak ternilai harganya dan dijamin tak akan mengecewakan.
^*^
^*^
Sabtu pagi masih diselimuti embun ketika sebuah motor berhenti di bahu jalan Kampung Cikulat. Tanah becek sisa hujan malam berbau segar, berpadu aroma rumput basah dan asap kayu dari dapur warga. Di kejauhan, hamparan sawah menguning menyambut cahaya matahari.
Seorang pria turun dari motor, mengenakan kemeja krem dan sepatu tua. Istrinya, menyusul sambil merapikan gamis bermotif bunga.
“Alhamdulillah, sampai juga, Mi,” katanya lega.
“Masya Allah, adem sekali,” balas Umi Siska sambil menatap rumah mungil bercat hijau muda dan pohon jambu air yang rimbun.
Beberapa perempuan kampung mendekat.
“Pak guru baru, ya?” tanya seorang ibu.
“Iya, Bu. Saya Fahmi, ini istri saya, Siska.”
Warga menyambut hangat, candaan ringan membuat suasana cepat cair. Mereka ikut membantu merapikan rumah.
Fahmi Nawawi, 45 tahun, guru agama yang sabar, resmi tinggal di kampung terpencil ini dengan harapan menemukan ketenangan baru. Istrinya, Siska Risma MeiLesti, 40 tahun, dikenal lembut dan mudah akrab. Dua putra mereka mondok di pesantren modern jadi tidak ikut pindah.
Sore hari, setelah shalat Ashar, Umi Siska keluar hendak ke warung. Namun gamis yang ia kenakan tampak lebih pas dari biasanya, membuat Ustad Fahmi sedikit risi.
“Astagfirullah, Mi… itu nggak salah bajunya?”
Umi Siska tersenyum tipis. “Biasa saja, Bi. Di sini ibu-ibu juga banyak yang pakai model begini.”
Ustadz Fahmi menghela napas, “Kita harus jaga wibawa. Orang memperhatikan.”
“Ah, jangan terlalu kaku, Abi,” jawab Umi Siska lembut sebelum pergi.
Di warung, sambutan warga ramah, meski beberapa lelaki terlihat memberi perhatian lebih dari yang membuatnya nyaman. Pujian berlebihan membuatnya canggung, namun ia tetap menjaga senyum. Dalam perjalanan pulang, sekelompok pemuda menatapnya lama—berbisik-bisik dengan nada yang tidak ia mengerti namun cukup membuat langkahnya gelisah.
Beruntung, tak jauh dari rumah, beberapa ibu muda menyapanya ramah sehingga suasana hatinya kembali ringan.
Malamnya, setelah Isya, beberapa tokoh kampung berkunjung: Pak RT, Pak RW, Ustadz setempat, Ketua Pemuda dan beberapa warga. Umi Siska menyuguhkan minuman sambil merasakan sejumlah tatapan yang cepat berpaling saat tertangkap. Tatapan Adnan sang ketua pemuda, bahkan terasa lebih tajam, hampir membuatnya tidak nyaman.
Obrolan berlangsung hangat, membahas kegiatan kampung hingga rencana menghidupkan kembali pengajian remaja. Ustadz Fahmi tampak senang karena sambutan warga begitu baik, sementara Umi Siska berusaha tetap ramah meski perasaan was-was tak sepenuhnya hilang.
Setelah tamu pulang, Ustadz Fahmi berkata, “Alhamdulillah, hari pertama ramai ya, Mi. Insya Allah kita betah.”
“Amiin, Bi,” jawabnya. Ia tersenyum.
Pikiran Umi Siska masih terbayang tatapan-tatapan aneh dari para lelaki itu terutama Adnan. Namun ia tetap yakin, kampung Cikulat menyimpan kehangatan yang bisa menjadi awal baru bagi keluarganya.
Hari berikutnya berjalan tenang. Libur sekolah membuat suasana lebih santai; udara pagi dipenuhi aroma kopi dan sarapan. Matahari sudah naik ketika Ustadz Fahmi dan Umi Siska duduk di teras, menikmati angin lembut beraroma melati.
Suara motor berhenti di depan pagar bambu. Datanglah Pak Sugandi, Kepala Sekolah, bersama istrinya. Mereka membawa kue talam dan pisang rebus sebagai tanda silaturahmi.
“Assalamualaikum, Pak Ustadz, Bu Siska!”
“Waalaikumsalam, silakan masuk,” sambut Fahmi.
Umi Siska masuk ke dapur menyiapkan teh. Hari ini ia memilih gamis abu-abu sederhana, penampilan yang lebih hati-hati setelah pengalaman kurang nyaman kemarin.
Obrolan di ruang tamu mengalir santai.
“Gimana tidurnya semalam? Sudah betah di sini Pak Ustadz?” tanya Pak Gandi.
“Insya Allah, Pak. Semoga saya bisa memberi semangat baru di pelajaran agama,” jawab Ustadz Fahmi.
Bu Gandi tersenyum ramah. “Senin Bapak bisa kenalan dengan guru-guru. Bu Siska juga boleh ikut kegiatan PKK minggu depan.”
“Insya Allah, Bu,” sahut Umi Siska hangat.
Hampir satu jam mereka bercakap tentang kegiatan sekolah, kampung dan rencana gotong royong. Setelah berpamitan, pasangan itu pergi, meninggalkan kesan baik.
“Alhamdulillah, Pak Gandi orangnya menyenangkan,” ujar Ustadz Fahmi.
Namun Umi Siska hanya berdiri di ambang pintu, memegang nampan kosong. Ada sesuatu yang ia rasakan sejak tadi. Tatapan Pak Gandi beberapa kali terasa terlalu memperhatikan. Sekilas saja, namun cukup membuat hatinya tidak tenang. Ia mencoba menganggapnya hanya salah paham, tapi rasa gelisah itu bertahan.
Ia kembali ke dapur mencuci cangkir. Ingatannya melayang pada momen ketika Pak Gandi sempat lewat menuju kamar mandi. Senyumnya sopan, namun sorot matanya seolah mengamati lebih dari sekadar menyapa. Tidak ada tindakan yang jelas, tetapi cukup untuk membuatnya menundukkan wajah dan menjaga jarak.
Setelah rumah kembali rapi, Ustadz Fahmi mengajak istrinya jalan santai keliling kampung. Angin dari arah sawah membuat cuaca terasa sejuk meski matahari sedang terik. Umi Siska berusaha mengimbangi langkah suaminya sambil menenangkan kegelisahan yang tersisa sejak kemarin.
Mereka berpapasan dengan Bu Sinta dan Pak Joko, dua guru SD yang akan menjadi rekan Ustadz Fahmi.
“Semoga betah di Cikulat ya, Pak Ustadz,” sapa Bu Sinta sambil menawarkan es teh.
Obrolan ringan menyinggung sekolah dan kegiatan pengajian. Ustadz Fahmi tampak menikmati suasananya, sementara Umi Siska sesekali kehilangan fokus, teringat pada tatapan Pak Gandi yang mengganggunya tadi pagi.
Mereka melanjutkan berjalan, disapa banyak warga. Anak-anak kecil berlari menghampiri mereka, berebut salaman. Ustadz Fahmi terlihat gembira, merasa benar-benar diterima.
Setelah cukup lama, Ustadz Fahmi berkata, “Mi, kita sekalian mampir ke rumah Pak Gandi, ya? Dekat kok.”
Umi Siska terdiam sebentar, lalu mengangguk pelan, mengikuti langkah suaminya meski perasaannya masih bercampur.
Rumah Pak Gandi cukup megah berlantai dua dengan halaman berpagar kayu. Saat mereka mengetuk, Pak Gandi keluar dengan penampilan santai: kaos singlet dan celana pendek.
“Wah, Ustadz Fahmi, Umi Siska! Masuk, masuk. Saya lagi istirahat, kalau istri lagi ke kampung sebelah, ada kerabatanya yang sakit” sambutnya ramah.
Ustadz Fahmi sama sekali tidak mempermasalahkan penampilan atasannya yang sejatinya kurang sopan, namun dia memaklumi mungkin kebiasaan di rumah memang begitu.
“Kami cuma mampir sebentar, Pak. Barusan kami sudah keliling ketemu warga, orang tua murid juga Bu Sinta dan Pak Joko.”
Mereka duduk di ruang tamu yang sejuk, kipas angin berputar pelan. Pak Gandi menuangkan es jeruk. Obrolan beralih ke sekolah dan kegiatan ekstrakurikuler. Umi Siska duduk di samping suaminya, berusaha diam dan tenang, meski perasaan tak nyamannya kembali muncul melihat dandanan Pak Gandi yang terlalu santai untuk menerima tamu, terutama anak buahnya dan istrinya.
“Umi, sudah nyaman di sini? Kalau butuh apa-apa, bilang aja ke saya,” tanya Pak Gandi dengan senyum lebar.
Umi Siska membalas dengan senyum tipis. Suasana sebenarnya tidak menyulitkan, namun kedekatan jarak dan tatapan Pak Gandi membuatnya kembali salah tingkah. Ia memegang gelas es jeruk erat, mencoba fokus pada percakapan suami dan atasannya.
Tiba-tiba Ustadz Fahmi berdiri. “Maaf, Pak Kepala, boleh pinjam kamar mandi sebentar?”
“Silakan, Pak, ada di dapur juga ada di lantai dua,” jawab Pak Gandi.
“Saya yang di dapur saja, Pak.” jawab Ustadz Fahmi sambil melangkah ke dapur dipandu Pak Gandi sampai pintu.
^*^
ns216.73.217.22da2


