Umi Siska gelisah sendiri di kamarnya. Semua pekerjaan rumah sudah selesai, dan Ustadz Fahmi baru akan pulang nanti sore. Kesunyian rumah semakin menambah kegelisahannya. Ia mencoba membaca buku, tapi pikirannya melayang pada Adnan dan kejadian pagi tadi. Ia merasa malu, penasaran, dan sedikit takut.
Tiba-tiba, ponselnya berdering, menandakan ada notifikasi pesan WhatsApp. Dengan ragu-ragu, Umi Siska membuka aplikasi tersebut. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal. Ternyata, itu nomor Adnan.
[Selamat siang, Umi Siska. Sedang apa nih? Masih kepikiran saya ya? wkwkwkwk]
Umi Siska tersentak membaca pesan itu. Pipinya langsung memerah. Ia menggigit bibirnya, berusaha menenangkan diri. Ia tidak tahu harus membalas apa. Jantungnya berdebar semakin kencang saat notifikasi pesan baru kembali muncul.
[Tadi pasti kaget ya, lihat senjata saya? Maaf kalau bikin Ibu terpesona. Hehe…]
Umi Siska merasa darahnya berdesir. Ia benar-benar tidak menyangka Adnan akan seberani ini. Ia merasa marah, malu. Ia ingin membalas pesan itu dengan kata-kata yang tegas dan menohok, tapi entah kenapa, jari-jarinya terasa kaku dan sulit digerakkan.
Pesan ketiga dari Adnan masuk, kali ini lebih menggoda.
[Bu Ustadzah, jangan diam saja dong. Biar saya tidak penasaran, Ibu lebih suka saya berburu di hutan, atau berburu di hati Ibu? wkwkwk]
Setelah pesan-pesan lainnya yang lebih berani bermunculan, walau tak satu pun dibalasnya. Umi Siska benar-benar kehilangan kata-kata untuk membalasnya. Naum ia sadar sudah terpesona dengan Adnan. Sehingga ia tidak bisa menghentikan dirinya untuk terus membaca pesan-pesan nakal itu.
Umi Siska menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya membalas pesan Adnan dengan nada yang dibuat bercanda, meskipun jantungnya masih berdebar tak karuan.
[Saya tadi kaget, seharusnya Mas Adnan berburu di hutan, biar gak ngagetin orang,] balas Umi Siska, berharap Adnan mengerti bahwa ia tidak tertarik dengan rayuan gombalnya.
Namun, Adnan semakin berani dan mau menyerah begitu saja.
[Masa lihat senjata saya kaget, Bu?]
Umi Siska semakin kelabakan. Terdiam beberapa saat.
[Bu Ustadzah, sebenarnya saya sudah lama memperhatikan Ibu, dari sejak pertama bertemu beberapa bulan lalu. Ibu memang beda, cantik, anggun, dan sangat menarik.]
Umi Siska tak membalas lagi.
[Saya tahu Ibu kesepian di rumah, kenapa kita tidak saling menghangatkan? Saya sanggup membuat Ibu bahagia, percayalah.]
Umi Siska merasa rayuan Adnan sudah terlalu jauh. Dengan tangan gemetar, ia mengetik balasan.
[Maaf Mas Adnan, saya tidak tertarik. Mohon, jangan ganggu saya lagi. Kecuali mau saya laporkan ke Pak Ustadz]
Setelah mengirim pesan itu, Umi Siska mematikan ponselnya dan meletakkannya di meja.
Tak lama kemudian, Ustadz Fahmi pulang dengan wajah berseri, membawa kabar yang langsung menghapus kegelisahan Umi Siska. Ia menyampaikan bahwa panggilan yang telah lama mereka nantikan akhirnya datang: promosi pengangkatannya sebagai Kepala Sekolah mulai diproses oleh dinas pendidikan. Kebahagiaan itu membuat Umi Siska ikut larut, merasa bangga sekaligus lega atas pencapaian besar suaminya.
Ustadz Fahmi menjelaskan bahwa ia harus berangkat bersama Pak Gandi dan Pak Joko untuk menghadiri proses administratif dan wawancara, bahkan kemungkinan besar harus menginap agar urusan cepat selesai.
Mendengar nama Pak Gandi sempat membuat senyum Umi Siska meredup, namun ia segera menepis kekhawatirannya demi menjaga momen bahagia suaminya. Ia diminta untuk tidak memberi tahu siapa pun sampai semuanya resmi, dan Umi Siska menyanggupi, meski perasaannya campur aduk antara syukur dan kecemasan samar.
Setelah menyiapkan beberapa keperluan, Ustadz Fahmi segera berangkat dengan motornya, meninggalkan rumah dengan penuh harapan dan membawa impian baru untuk masa depan mereka.
Umi Siska menatap kepergian suaminya hingga motor itu hilang di tikungan, meninggalkan rumah yang kembali sunyi namun kini dipenuhi harapan. Ia masuk dengan hati lebih tenang, mencoba menikmati kabar promosi Ustadz Fahmi dan membiarkan rasa syukur memenuhi benaknya.
Namun malam yang sunyi memunculkan kembali bayangan Adnan dengan senjata andalannya yang aduhai. Dan membandingkannya dengan senjata suaminya yang sangat kontras. Bayangan Pak Gandi pun ikut hadir, kian membuatnya resah dan gelisah.
"Andai suamiku sejantan Mas Adnan... atau Pak Gandi..." bisiknya pelan, kata-kata itu terasa asing namun begitu nyata di telinganya sendiri.
Saat kesunyian dalam kesendiriannya semakin jauh, ada sebersit harapan absurd yang muncul. Masuk kembali pesan-pesan rayuan Adnan yang mungkin bisa menghibur hatinya. Namun sama sekali tidak ada.
“Dia pasti tersinggung atau takut dilaporkan pada Abi, makanya tidak kirim pesan lagi,” batinnya sedikit tenang namun juga ada rasa kecewanya yang aneh. ‘Atau mungkin sudah kembali ke kota ke istrinya.”
Malam mendekati jam setengah sembilan. Umi Siska masih terombang-ambing dalam pikirannya yang kalut, bayangan Adnan dan Pak Gandi terus berkelebatan, mengusik ketenangan batinnya. Rumah terasa semakin dingin dan sunyi tanpa kehadiran Ustadz Fahmi.
Tiba-tiba, sebuah ketukan pelan terdengar di pintu depan, memecah keheningan malam.
Tok tok tok
Jantung Umi Siska langsung mencelos. Pikirannya langsung kalut, melayang pada skenario terburuk.
"Adnan?" bisiknya panik. Atau mungkin siapa pun yang punya niat tak baik, mengingat ia sendirian di rumah.
Ia membayangkan lagi tatapan pemuda-pemuda di jembatan, atau Adnan di halaman belakang tadi siang. Dengan langkah gemetar, Umi Siska mendekati pintu, napasnya tertahan. Ia mengintip dari celah kecil di jendela samping pintu, namun tak melihat siapa-siapa. Ragu-ragu, tangannya terulur ke kenop pintu, namun urung.
Tok tok tok..
Ketukan kembali terdengar, kali ini sedikit lebih tegas.
"Assalamualaikum, Umi, maaf ini saya Gandi."
Sekujur tubuh Umi Siska seketika terasa lemas. Jantungnya berdebar makin tak karuan, kali ini bukan hanya karena takut, tapi juga terkejut dan bingung.
"Pak Gandi?" Hatinya bertanya-tanya, bukannya Pak Gandi tadi ikut mengantar suaminya ke kantor dinas? Bukankah ia juga seharusnya menginap di kota? Mengapa ia ada di sini, di depan rumahnya, di malam hari? Pikiran negatif mulai berkejaran. Apakah ini bagian dari rencananya?
"Maaf, Umi, kalau mengganggu," suara Pak Gandi terdengar lagi, kali ini lebih dekat, "Ada beberapa berkas Pak Fahmi yang ketinggalan dan dia meminta saya untuk mengambilnya. Penting untuk wawancara besok."
Penjelasan itu sedikit meredakan kepanikan Umi Siska, namun debaran di dadanya tak sepenuhnya hilang. Berkas? Apa benar? Walau dengan jantung berdebar kencang dan lutut yang terasa lemas, Umi Siska akhirnya memberanikan diri membuka pintu.
Di ambang pintu, Pak Gandi berdiri dengan senyum ramahnya yang khas, memegang sebuah map tipis. Ia mengenakan kemeja batik yang berbeda dari seragam tadi siang, dan kali ini celana kain panjang yang rapi. Penampilannya terlihat sopan, namun tatapannya, entah mengapa, terasa seperti menelusuri sekujur tubuh Umi Siska dari atas ke bawah.
"Silakan masuk, Pak," ucap Umi Siska, suaranya sedikit serak, membuka pintu lebih lebar dan mempersilakan Pak Gandi masuk. Ruang tamu yang sepi terasa makin dingin dengan kehadiran tak terduga ini. Umi Siska merasa seperti masuk ke dalam permainan yang tak ia mengerti aturannya.
Umi Siska berusaha menenangkan diri setelah mempersilakan Pak Gandi masuk. Dengan langkah yang masih gemetar, ia berkata, "Silakan duduk dulu, Pak. Saya siapkan minum sebentar."
^*^
ns216.73.217.22da2


