1875Please respect copyright.PENANAfMekKkVLo0
BAB 3
MBA RIEN : Menguak Rahasia Berdua
1875Please respect copyright.PENANABgRKfI6xmo
“Peristiwa Kenari”, demikian Rien menamakannya, adalah sebuah langkah tak terencana yang sempat membuat wanita lajang ini panik. Ketika mereka berdua akhirnya tiba kembali di kota, menembus rintik hujan dan gelap senja, Rien sempat ingin berbincang dahulu. Ia ingin menjelaskan sesuatu, agar Goni tak salah tangkap.
Tetapi mulutnya terkunci, dan otaknya buntu.
Lagipula, apa yang bisa ia jelaskan? Misteri apa yang bisa ia ungkap dalam sebuah peristiwa pendek yang begitu bergelora tadi? Dan kenapa ia harus mengkhawatirkan Goni; kesalah-tangkapan apa yang mungkin terbesit di benak pria muda itu?
1875Please respect copyright.PENANA3KU1tploBk
Akhirnya mereka berpisah dengan kikuk. Di perempatan dekat kantor camat, Rien berbelok ke kiri, ketempat kostnya. Sambil berusaha tersenyum menenangkan diri, ia melambaikan tangan dari atas sepedanya.
1875Please respect copyright.PENANAmLIkRoZMTI
Goni tampak ragu-ragu, apakah hendak ikut belok kiri atau terus, langsung ke rumahnya. Tetapi dilihatnya Mba Rien hanya melambai, tidak menawarkan mampir. Maka ia pun hanya membalas lambaian dan melanjutkan perjalanan ke rumah.
1875Please respect copyright.PENANAqtZhKPkdkW
Di tempat kost, Rien memutuskan untuk segera mandi, terburu-buru melepas jaket parasut dan celana pendeknya. Dengan bersaput handuk, ia berlari kecil ke kamar mandi di sebelah kamar tidurnya.
1875Please respect copyright.PENANAKd6spcFNfy
Teman satu kostnya, seorang guru SMP bernama Laras yang sebaya dengannya, tak tampak. Mungkin sedang bermain ke tetangga sebelah. Cepat-cepat Rien mengunci pintu kamar mandi dan membuka pakaian-pakaian dalamnya. Lalu ia membasuk kaki-kakinya yang terpercik lumpur, dan mencucitangan.
Sewaktu mencuci tangan itulah, terbayang kembali “peristiwa kenari” yang barusan dialaminya. Sambil tersenyum, dalam hati ia memarahi dirinya sendiri. Rien, kamu telah membuka gerbang ke arah duniayang tak terduga! Kini, apa yang akan terjadi berikutnya, kamu harus simak dengan seksama.
1875Please respect copyright.PENANA6e5BVGj59U
Dan dengan hati-hati. Siapa yang tahu, apa yang kini bergejolak di hati Goni, dan apakah keremajaannya mampu menampung gejolak itu. Rien mengambil sabun dan membasuh keduatangannya dengan seksama. Tangan itu yang tadi meremas-membelai, menguak sebuah tabir dari babak cerita di panggung kehidupan!
1875Please respect copyright.PENANAIs48BINRiY
Lalu Rien menumpahkan bergayung-gayung air dingin ke tubuhnya. Segera kesegaran menyerbubadannya, membuatnya ingin bernyanyi. Maka tak lama kemudian ia menggumamkan lagu -entahapa- sambil mulai menyabuni tubuhnya.
Lehernya yang jenjang ia sabuni. Sepasang bukit indah di dadanya, ia sabuni, sampai dipenuhi busa-busa harum. Pada saat menyabuni bagian bawah tubuhnya, ia terkejut sendiri. Hampir saja sabun lepas dari genggaman. Ternyata kewanitaannya basah oleh cairan bening yang telah lama tak pernah ada di sana.
Kekagetannya juga berlanjut, ketika Rien sadar bahwa di bagian itu ada rasa hangat yang berlebihan. Ada sensitifitas yang lebih dari biasanya. Tanpa sabun, tangannya bergerak lebih ke bawah, mengusap-usap seperti sedang menduga apa gerangan yang terjadi.
1875Please respect copyright.PENANAzgUeWTmqaV
Sebenarnya, Rien tak perlu menduga, karena setiap usapan mendatangkan rasa yang telah lama takdirasakannya: sebentuk geli yang bercampur nikmat, yang dengan mudah membuat jantungnya berdegup sekian kali lebih kencang.
1875Please respect copyright.PENANA8HAv9BsW8Q
Tanpa bisa dicegah, Rien tiba-tiba mendesah, dan kedua kakinya bagai sedang berseteru, saling memisahkan diri satu sama lainnya.
Suara kucuran air cukup keras menyembunyikan desah Rien yang kini memperkuat usapan tangannya. Bahkan itu bukan lagi mengusap namanya. Itu meremas namanya. Menekan-nekan dengan telapak,dan menggaruk-mengurat dengan jari tengah.
Lalu pangkal ibu jarinya bertumbu pada bagian atas, bergerak-gerak seperti sedang menarik picusenjata. Rien menggelinjang, dan hampir saja terpeleset di lantai kamar mandi yang licin. Tangan kirinya yang bebas buru-buru berpegangan ke tembok, sementara tangan lainnya tak hendak berhenti.
Malah bergerak makin cepat seperti ada sesuatu yang mendesak yang harus dilakukan di bawah sana. Mata Rien sedikit terpejam, dan mulutnya yang berpagar bibir basah itu sedikit terbuka. Nafasnya sedikit memburu.
1875Please respect copyright.PENANAETkjWrBFmp
Serbuan-serbuan kenikmatan datang entah dari mana, dan Rien agak terhuyung, sehingga ia akhirnya bersandar di tembok marmer yang dingin dan basah.
Suara orang membuka pintu ruang depan membuat Rien tersentak sadar. Buru-buru ia kembali kedekat bak mandi.
1875Please respect copyright.PENANAj3e1R4CgW4
Terdengar suara Lara nyaring, “Rieeeen …….. kau kah itu di kamar mandi?”
1875Please respect copyright.PENANAnUE7fUNiSf
Rien membersihkan tenggorokannya yang tiba-tiba tersekat, sebelum menjawab keras-keras, “Ya, iniaku La … sedang mandi…”, entah apa pula perlunya menambahkan kata “sedang mandi” di ujung kalimat!
1875Please respect copyright.PENANAjXe52K2sVM
“Dari mana saja, anak manis?” teriak Lara lagi, terdengar melangkah menuju kamarnya di seberang kamar Rien.
1875Please respect copyright.PENANAhoa5AefiCA
“Dari hutan mencari kenari …. “, jawab Rien sambil mulai mengguyur.
1875Please respect copyright.PENANARiSeEMSXim
Duh, segera saja api yang berkobar di tubuhnya padam. Dalam hati Rien bersyukur, Lara dating sebelum dirinya betul-betul terlena oleh tangannya sendiri!
Tetapi sesungguhnya ia juga kesal, kenapa Lara datang pada saat seperti itu. Sambil tertawa kecil, Rien menghentikan perdebatan di kalbunya. “Peristiwa Kenari” ternyata tidak hanya mengubah hidup Goni!!
1875Please respect copyright.PENANA6ywdcfFQhX
Sementara Goni telah pula sampai di rumahnya. Ia telah pula di kamar mandi, dan telah pula menyabuni tubuhnya. Sama dengan Mba Rien, ia telah pula kembali membayangkan apa yang terjadi di hutan tadi.
Bedanya, Goni tak berhenti karena terganggu oleh teriakan ayah, atau panggilan ibu, atau ajakan Susi untuk bermain petak umpet. Goni melanjutkan gerakan-gerakan tangannya, mengerang pelan ketika akhirnya ledakan-ledakan orgasme tercapai.
1875Please respect copyright.PENANAN0HhqttPcu
Seminggu setelah “peristiwa kenari”, Goni disibukkan oleh ulangan-ulangan di sekolahnya. Dalam kesibukannya itu, Goni tak bertemu Mba Rien. Ia tak mungkin bisa menemui Mba Rien, karena diam-diam Mba Rien pergi ke rumah salah seorang kakaknya di kota B, 6 kilometer di sebelah selatan.
1875Please respect copyright.PENANAg2fwhyMO5O
Sebuah pesan pendek disampaikan Niken kepada Goni, ketika pria remaja ini lewat di depan sanggar (tentu saja, ia sengaja lewat!). Kata Niken, Mba Rien menyuruh Goni rajin belajar supaya semua ulangannya bernilai bagus. Kata Niken lagi, Mba Rien baru akan pulang bulan depan, karena sanggarakan tutup sementara murid-murid menjalani ulangan.
1875Please respect copyright.PENANAOwlPCGEszq
Untuk beberapa saat, Goni merasa ada sesuatu yang tak beres. Kenapa dia tiba-tiba menghindar? Sergahnya dalam hati, disertai gundah karena kepergian Mba Rien hanya berjarak seminggu dari peristiwa di gua itu.
1875Please respect copyright.PENANA7rYWcBaf5Z
Apakah ia marah? Tetapi apa yang membuatnya marah? Mba Rien tak tampak marah ketika ia melakukan itu di gua; ia bahkan tampak ceria, dan matanya penuh senyum menggoda. Apakah ia malu menemuiku lagi? Tapi, bukankah aku yang seharusnya malu menemuinya?
1875Please respect copyright.PENANAu8aLdR01VA
Pikiran-pikiran itu berkecamuk sepanjang hari, berlanjut sepanjang malam, sehingga Goni barutertidur pukul 2 pagi. Untung keesokan harinya ulangan belum lagi dimulai karena masih dalam rentang “minggu tenang”.
1875Please respect copyright.PENANA0kZj2EyPdH
Tentu saja Goni tak punya seorang pun yang bisa diajak mendiskusikan pikiran-pikirannya. Tidak Dodi dan Iwan yang baginya cuma akan menambah persoalan. Tidak juga ibu, dan apalagi tentu bukan ayah. Keduanya pasti cuma akan marah dan menuduh yang bukan-bukan.
1875Please respect copyright.PENANAKFt1SGOcyq
Maka Goni terpaksa mengambil kesimpulan sendiri. Ia pergi ke pantai sendiri, berenang sampai letih, lalu tidur-tiduran di bawah semak-semak tempat ia dulu pertama kali menyentuh dada Mba Rien.Sambil tertidur itu lah ia memutuskan, bahwa tak mungkin Mba Rien bermaksud buruk.
1875Please respect copyright.PENANAhTgmSqyh69
Tak mungkin tiba-tiba Mba Rien meninggalkan dirinya penuh dengan tanya yang belum terjawab. Ia adalah seorang wanita bijaksana, pikir Goni dalam hati, dan ia pergi karena aku harus ulangan umum. Karena aku harus berkonsentrasi dengan buku-bukuku.
1875Please respect copyright.PENANAHgNwFKFGsI
Karena dengan Mba Rien di dekatnya, buku-buku akan dia lempar jauh-jauh!
Pikiran itu meneduhkan gejolak hati Goni, walau tak pernah menjadi jawaban sempurna bagi pertanyaan-pertanyaan yang terus berdatangan di kepalanya. Pikiran itu pula yang membantu Goni berkonsentrasi ke pelajaran sekolahnya, sehingga ulangan umum tak terasa begitu menyiksa.
1875Please respect copyright.PENANA0iQigUSUce
Dua minggu ia hanya belajar dan belajar, sehingga ketika ulangan tiba, kepalanya seperti penuh dengan huruf dan angka. Satu demi satu ia menyelesaikan mata ulangan dengan sedikit kesulitan saja. Di akhir masa ulangan, kepalanya terasa kosong sekali. Ringan dan sejuk.
1875Please respect copyright.PENANAnnJNarBTYE
“Kamu kelihatan riang dan optimis…,” tiba-tiba Alma sudah berdiri di dekatnya, memeluk tas dan menuaskan senyum di mukanya yang tampak letih setelah seharian berkutat dengan kertas ulangan.
1875Please respect copyright.PENANAwYSMBYqScD
Goni membalas senyum Alma, dan tiba-tiba sadar bahwa cuma gadis ini yang tampaknya peduli akan perasaannya. Goni teringat, Alma pula yang dua minggu lalu -sebelum ulangan dimulai- bertanya kenapa wajahnya keruh.
1875Please respect copyright.PENANAs6PRoxbu61
Alma pula yang pernah menawarkan sebotol minuman dingin ketika ia sedang duduk sendirian dipinggir lapangan basket menunggu bel masuk setelah istirahat. Alma yang penuh perhatian!
1875Please respect copyright.PENANAHLCcr0aByL
“Lega rasanya setelah semua ulangan selesai,” ucap Goni sambil memandang Alma, dan menyadari betapa indah kedua bola mata gadis yang oleh Dodi dan Iwan selalu dipuji-puji setinggi langit. Alma tersenyum lagi, menembakkan seberkas perasaan yang belum jelas tertangkap oleh Goni.
1875Please respect copyright.PENANAQVgJlJT5V7
“Pulang sama-sama?” kata Alma lembut, seperti mengajak, seperti menebak.
Ah, Goni tak tega mengatakan “tidak”, maka ia cuma mengangguk dan mereka berjalan beriringan pulang. Goni menuntun sepedanya, Alma berjalan sambil tetap mendekap tas sekolahnya.
1875Please respect copyright.PENANADD7CK2XqIm
Sayup-sayup Goni mendengar Dodi berteriak “cihuiii..” dan Iwan memperdengarkan suitan nakalnya.Goni mengutuk dalam hati, dua monyet itu sungguh tak punya sopan. Tetapi ia tersenyum juga.
1875Please respect copyright.PENANACz9rIf34Oi
Mereka berjalan pelan-pelan, menyusuri jalan yang dipagari pohon-pohon asam rindang, berbincang-bincang ringan tentang sekolah. Alma bertanya tentang rencana liburan, Goni mengatakan ia belumpunya rencana.
1875Please respect copyright.PENANAhTDWEL5m6I
Alma berbicara tentang rencana berkemah anak-anak kelas dua dan kelas tiga, Goni mengatakandukungannya kepada rencana itu. Alma bertanya apakah Goni akan ikut berkemah, dan Gonimenjawab “mungkin”. Alma lalu terdiam. Goni juga diam. Pohon-pohon asam juga diam. Angin jugadiam.
Dalam diam Goni membandingkan Alma dengan Mba Rien. Betapa berbedanya! Alma tampak lembut,mungil, terkadang seperti sedang bersedih. Mba Rien selalu menggairahkan, tegas, dan penuh idekegiatan.
1875Please respect copyright.PENANAQ0pU6FOvlb
Tetapi Alma sangat cantik, terutama jika mereka sedang berdua, dan jika ia sedang bertanya, “Ada apa?” dengan suaranya yang pelan dan matanya yang menatap bening. Di depan Mba Rien, Goni seperti murid di hadapan maha-guru dunia persilatan, mengikuti segala gerak-geriknya dengan seksama, mematuhi anjuran dan permintaannya.
1875Please respect copyright.PENANAEnNmwimBko
Di depan Alma, sebaliknya, ia merasa perlu melingkarkan tangan di bahu yang tampak ringkih itu.Merasa perlu selalu jalan di sebelah kanan kalau beriringan. Merasa perlu menawarkan membawa alat-alat laboratorium setiap kali mereka selesai praktikum.
1875Please respect copyright.PENANAZMatghKo1t
Mereka tiba di depan bioskop satu-satunya di kota itu. Mereka harus berpisah di sini, kecuali jika Goni ingin mengantar Alma sampai ke rumahnya. Alma memecah kesunyian di antara mereka, “Sampai jumpa lagi sehabis liburan,” katanya pelan, lalu mulai berbelok.
1875Please respect copyright.PENANA2wwhft1bDC
“Alma..,” tiba-tiba saja Goni sudah berucap, tapi ia sendiri lupa hendak bicara apa.
1875Please respect copyright.PENANAMw7En3tb6L
Alma menghentikanlangkah, berputar menghadap Goni yang juga sedang berdiri terpaku. Alma menunggu, wajahnyapenuh harap. Ah, mengertikah Goni apa artinya “harap”?
1875Please respect copyright.PENANA6Ll9E176n2
“Aku ingin ikut berkemah…, tapi…,” Goni berucap penuh keraguan.
1875Please respect copyright.PENANAfUfejpwsiy
Cepat sekali wajah Alma berubah mendengar ucapan Goni, dan bibirnya yang mungil susah-payah menyembunyikan senyum yang tiba-tiba menyeruak. Segumpal harapan tersekat di kerongkongnya.
1875Please respect copyright.PENANA5ygPX4qwDp
“….. tapi aku tidak tahu harus mendaftar kepada siapa.” lanjut Goni setelah menelan ludah yang terasapahit.
1875Please respect copyright.PENANA6Cp6YoUy53
“Aku bendahara panitia,” sergah Alma cepat sekali, seperti memang sudah dipersiapkan sejak taditetapi ditahan-tahan,
“Kamu bisa mendaftar kepadaku. Hari ini juga namamu sudah bisa kutulissebagai peserta. Aku bisa menalangi uang pendaftarannya. Aku….,”
1875Please respect copyright.PENANANSNRm3Nsg0
Alma menghentikan ucapannya,sadar melihat Goni berdiri melongo memandang gadis di depannya bicara penuh semangat, sepertiberbicara di depan pertemuan partai politik!
1875Please respect copyright.PENANAfeakirklqe
Alma merasa mukanya tersiram air hangat, dan ia segera menunduk menyembunyikan rasa malu yangmenyerbu. Goni tiba-tiba ingin tertawa keras, tetapi ia bertahan sekuat tenaga, sehingga yang keluarcuma senyuman yang lebar.
1875Please respect copyright.PENANAJWRd1Su6f3
“Kalau begitu,” ucap Goni sambil tetap menahan senyum, “Sampai jumpa di alun-alun sekolah Sabtudepan!”
1875Please respect copyright.PENANAZnDONw1Y5m
Alma mengangkat muka, memperlihatkan wajahnya yang memerah tetapi juga bersinar riangsempurna. Matanya berbinar seperti bintang timur di pagi hari.
Mulutnya mengguratkan senyum amat manis, bahkan bagi Goni, bahkan di terik siang yang kering itu.
1875Please respect copyright.PENANAcuQKSBeibR
“Sampai jumpa,” bisiknya, tetapi tentu Goni tak mendengar karena ia telah mulai melangkah lagisambil melambaikan tangan.
1875Please respect copyright.PENANARuaQXsYDxq
Alma mengangkat tangan kananya, melambai pelan, dan akhirnya berbalik untuk berjalan ke arah rumahnya. Bumi terasa empuk, seperti kasur terbuat dari busa. Alma senang sekali hari itu. Senang-senang-senang sekali!
1875Please respect copyright.PENANAGGYZPcG4IU
Bumi perkemahan adalah arena penuh suka-duka remaja. Pak Guru dan Bu Guru adalah sipir-sipirpenjara, dan anak-anak kelas dua dan kelas tiga adalah para pesakitan. Tetapi siapa yang peduli!Setelah letih didera ulangan dan ujian, bumi perkemahan adalah penjara yang dirindukan.
1875Please respect copyright.PENANAclt8WY6kzk
Di sini mereka bisa berteriak mengalahkan guntur di langit, bernyanyi tanpa not balok dan tanpadirijen (yaitu Pak Sulih, guru seni yang terlalu tua itu!), serta tidur melewati batas waktu yang selaluditetapkan secara sepihak oleh orangtua. Di sini pula menyebar cinta remaja, cinta monyet, puppylove, atau apa lah namanya!
1875Please respect copyright.PENANAZiKq74bepZ
Di perkemahan itu pula, Goni “menemukan” Alma, setelah sekian lama mereka berteman. Goni kinimenyadari, Alma bukan gadis biasa, bukan semata-mata teman sekelas yang duduk di bangku kayuberwarna coklat tua itu.
1875Please respect copyright.PENANAyQo6Z2OSoU
Bukan seperti Tres, atau Sriani, atau Gina, atau Lisa. Karena Alma punya kelebihan dari semua merekaitu: Alma peduli padanya, peduli pada apa yang dirasakannya, dan peduli dengan ketulusan. KarenaAlma tidak meminta, tetapi memberi. Alma tidak mengajak, tetapi mendampingi.
1875Please respect copyright.PENANAH3mhEdlz7v
Pagi itu, dengan alasan menemani Alma mengambil air di sungai, Goni menarik gadis itu ke baliksebuah batu besar. Di situ, di antara gemersik air dingin dan kicauan burung yang terlambat bangun,Goni menciumnya.
1875Please respect copyright.PENANAcz0GQAh8Nx
Lembut dan penuh perasaan, ia mengulum bibir gadis yang kini memeluknya erat sekali. Almamemejamkan mata, merasakan angin seperti sutra menyelimuti tubuh mereka berdua, mendengarnyanyian merdu dari daun-daun yang berjatuhan.
1875Please respect copyright.PENANAE1XX2QHAR0
Goni merengkuh tubuh yang terasa jauh lebih mungil itu (Alma cuma setinggi hidungnya), melumatbibirnya yang basah dan terasa manis. Ember terguling berkelontangan.
1875Please respect copyright.PENANACpSXYSuNPd
Sejak itu, Dodi dan Iwan mengubah sebuah lagu pop dengan teks gubahan mereka sendiri yang sangatgombal. Goni pusing sekali mendengar gubahan yang tidak karuan itu.
Bahasanya buruk, tidak puitis, dan jelas-jelas memproklamirkan percintaan Alma dengannya.
Pusingsekali Goni dibuatnya, tetapi apa lah dayanya, cuma Dodi dan Iwan yang bisa menghiburnya denganketololan-ketololan seperti itu!
1875Please respect copyright.PENANAqyt3KpTEED
Enam hari menjelang masa sekolah, Alma menemani kedua orangtuanya ke ibukota, katanya hendakmenjenguk kakek-neneknya. Inilah pertama kalinya Alma merasa perlu melaporkan kepergiaannyakepada Goni, karena sejak perkemahan dan ciuman pertama itu, Goni resmi menjadi kekasihnya.
1875Please respect copyright.PENANAdLiuCfU0EH
Seorang kekasih harus tahu kemana pasangannya pergi, bukan? Maka Alma menulis surat pendek, diatas kertas merah jambu, dan dikirim lewat kurir istimewa bernama Dodi dengan pesan wanti-wanti,
“Jangan dibuka sebelum tiba di tangan Goni!”
1875Please respect copyright.PENANArwb8X2lLBs
Goni tersenyum membaca surat itu, sementara Dodi memanjang-manjangkan leher ingin mengintipisinya. Dengan seksama, dilipatnya kertas merah muda itu, dan disimpannya di dompet. Kepada Dodi,ia bilang bahwa Alma pergi ke ibukota untuk menikah dengan pria pilihan orangtua mereka.
Dodi mencibir tak percaya, tapi Goni tak peduli apakah temannya percaya atau tidak. Mereka lalubersiap-siap berenang ke sungai, dan mengajak Iwan ikut serta. Sepanjang sore, mereka berlomba-lomba menyebrangi sungai, dan Goni selalu menang. Kedua temannya terlalu ceking dan terlalubanyak bergadang.
1875Please respect copyright.PENANAWBHAzw7uDe
Sepulangnya dari berenang, ketika Dodi dan Iwan telah terpisah darinya, Goni bertemu Niken.
1875Please respect copyright.PENANAAvq5NF4wG1
“Hai…, apa kabar!” sergah wanita teman Mba Rien itu.
1875Please respect copyright.PENANAlE7vKVe2n1
“Kabar baik,” ucap Goni pendek.
Sebetulnya ia ingin melanjutkan dengan pertanyaan tentang MbaRien, tetapi Goni ragu apakah hal itu patut ditanyakan kepada Mba Niken.
1875Please respect copyright.PENANAMIEnf0A4pg
“Tidak pernah ke sanggar lagi?” tanya Niken, entah kenapa Goni merasa wanita ini sedangmenggodanya.
1875Please respect copyright.PENANAj8cHZB9lfc
“Mmmm …. bukankah latihan tari belum dimulai lagi, dan Susi belum perlu datang lagi?” jawab Goni.
1875Please respect copyright.PENANAX6yi3OPBLF
Niken tertawa kecil, “Maksudku, …. koq tidak pernah ngobrol dengan Mba Rien lagi, dia kan sudahdatang!”
1875Please respect copyright.PENANAzXrHguO5ia
Goni menelan ludah. Oh, Mba Rien telah pulang. Cepat sekali rasanya waktu berlalu, pikirnya dalamhati. Lalu, entah kenapa ia akhirnya berjalan beriringan dengan Niken ke arah sanggar. Nikenberceloteh entah tentang apa, Goni tak begitu memperhatikan, karena kepalanya sibuk menjawabberbagai persoalan yang tiba-tiba muncul.
1875Please respect copyright.PENANArz8uZ4LNEZ
Sesampai di sanggar, Niken berkata bahwa ia hendak ke belakang dulu, dan bahwa Mba Rien ada diruang latihan. Goni menggumamkan terimakasih, menjawab sekenannya, lalu berjalan ke arah ruanglatihan. Langkahnya terasa berat, tetapi kaki-kakinya seperti digerakkan oleh mesin yang tak bisadikendalikannya sendiri.
1875Please respect copyright.PENANA7yX2gLZ1z9
“Hei!!! Goni!…apa kabar?” suara Mba Rien yang lepas-nyaring terdengar begitu Goni muncul di pinturuang latihan.
Goni terpaku sejenak, matanya menyesuaikan diri dengan keremangan ruang latihan.Akhirnya ia melihat Mba Rien, sedang menggelar tikar-tikar bersama seorang wanita lain yang takdikenal Goni.
Rien mendekat dengan cepat. Duh, kenapa ia jadi rindu kepada remaja ini? sergahnya dalam hati,tetapi ia tak mempedulikan perasaannya. Dipeluknya Goni sebelum pemuda ini sepenuhnya sadar apayang terjadi, lalu dikecupnya cepat pipinya.
1875Please respect copyright.PENANAPcVYrKKoti
Kemudian dilepasnya pelukan secepat ia mencium pipinya, dan diberondongnya Goni denganserentetan pertanyaan.
1875Please respect copyright.PENANAtsa6L7b6Q7
Goni tergagap-gagap menjawab pertanyaan tentang ulangan, tentang liburan, tentang orangtuanya,tentang Susi, tentang …. entah tentang apa lagi. Banyak sekali yang tak bisa dijawabnya. Mba Rientampak bersemangat sekali, dan Goni baru belakangan menyadari bahwa rambut wanita ini telahberubah pendek.
1875Please respect copyright.PENANA538Ou8TF0x
Tetapi perubahan itu justru menambahkan kecantikan baru, karena lehernya yang jenjang dan mulusitu semakin terpampang indah, dan matanya yang bersinar itu semakin tampil. Goni tiba-tiba merasaingin melingkarkan tangannya di leher yang menggairahkan itu!
1875Please respect copyright.PENANA9LRCND5MNK
Setelah mencencar dengan pertanyaan dan menyeret Goni untuk membantunya menggelar tikar-tikar,akhirnya Mba Rien mengajak Goni ke tempat kostnya. Goni hendak membantah, karena hari sudahmulai gelap. Tetapi, sebagaimana biasanya, ia tak pernah bisa menolak inisiatif Mba Rien. Lagipula inimalam Minggu dan sekolah belum lagi mulai.
1875Please respect copyright.PENANARxTvpeCSus
Goni tadi sore telah mengatakan akan bermalam minggu bersama teman-teman, dan ayah-ibu telahmengijinkannya pulang paling lambat pukul 11. Maka akhirnya Goni bertandang ke tempat kost MbaRien.
1875Please respect copyright.PENANAnY4XGTtMay
Di tempat kost Mba Rien, tampak Mbak Laras sedang berbincang dengan seorang pria berwajahtampan dan berpakaian rapi, mungkin pacarnya. Goni mengangguk sopan, dan Mba Laras mencubitpahanya sambil mengomel, mengatakan bahwa Goni tidak adil karena hanya datang kalau ada MbaRien.
1875Please respect copyright.PENANAoLdKVloZof
Pria yang sedang bersama Mba Laras bertanya, siapa si Goni itu (usil juga dia!) dan segera dijawabbahwa Goni adalah adik bungsu Rien. Pria itu menggumamkan, “Oooo..” yang entah mengandungcuriga atau percaya. Goni tiba-tiba sebal kepada pria yang -harus diakuinya- berwajah tampan danberbaju cukup bagus untuk ukuran kota kecil.
1875Please respect copyright.PENANAcPp1oArtul
Mba Rien mengajak Goni masuk ke kamarnya, dan Goni tentu menurut saja karena Mba Laras jugamengusirnya dari ruang tamu (“mengganggu pembicaraaan,” katanya).
1875Please respect copyright.PENANAjzMU95pfSr
Di kamar, Mba Rien mengeluarkan sebungkus kue bolu oleh-oleh dari kakaknya, dan Goni bersuka-citamelahap pengganan lezat kegemarannya itu. Mba Rien terus bercerita tentang kakaknya, tentang anakkakaknya, tentang kota yang terkenal dengan bolunya, dan sebagainya, dan seterusnya.
1875Please respect copyright.PENANAHcRbfyRZXc
Goni, seperti biasa, cuma mendengar dengan seksama. Tetapi mata Goni tak lekang dari Mba Rien yangbergerak lincah mengimbangi keramaian ceritanya. Ia seperti burung gelatik di pagi hari, pikir Goni.Menggairahkan pula, dengan dada yang terlonjak-lonjak seperti itu, dengan mulut yang basah sepertiitu, dengan pinggul yang bergoyang seperti itu.
1875Please respect copyright.PENANAIZDM984LKo
Lalu terdengar Laras berteriak dari kamar tamu, mengatakan bahwa ia dan teman prianya akan keluaruntuk menonton. Mba Rien keluar sebentar dan berbicara dengan pria teman Laras itu, lalu terdengarpintu depan ditutup, dan Mba Rien kembali ke kamar.
1875Please respect copyright.PENANAbh434gW5GZ
Goni sedang berdiri membuka-buka album foto di meja kerja Mba Rien yang dipenuhi majalah-majalah dan buku tentang tari-menari. Cantik sekali Mba Rien dalam foto-foto penampilannya.
Ia memang penari yang kata orang penuh bakat, dan sudah pernah diajak tur keliling Indonesia olehseorang sutradara tari dari ibukota. Goni juga pernah mendengar bahwa Mba Rien diajak tur ke luarnegeri, tetapi entah kapan realisasinya.
1875Please respect copyright.PENANArOohKtnQJi
Goni tersentak ketika merasakan nafas Mba Rien di tengkuknya. Tanpa terdengar, Mba Rien telahberdiri di belakang Goni, dekat sekali. Dengan ringan ia menjelaskan foto-foto di album itu, tetapi Gonitak bisa sepenuhnya mengerti.
1875Please respect copyright.PENANAdvveLNnqht
Betapa tidak! Tubuh Mba Rien menempel di tubuhnya. Nafasnya harum memenuhi udara. Dadanyayang kenyal menekan punggung Goni, membuat pemuda ini tiba-tiba bersyukur bahwa Mba Laras danteman prianya pergi ke luar rumah!
Lalu, entah kekuatan apa yang datang ke Goni, tiba-tiba ia sudah berbalik dan memeluk Mba Rien.Bukan itu saja, Goni bahkan tiba-tiba sudah mengulum bibir basah yang bernafas harummenggairahkan itu. Rien tergagap, kedua tangannya siap mendorong dada Goni.
1875Please respect copyright.PENANAvZBDXOjv0D
Tetapi dengan tiba-tiba pula tangan itu kehilangan daya, dan berhenti di dada Goni, bukan mendorongmelainkan menempel saja. Lalu, ketika Goni terus melumat bibirnya, Rien tak kuasa mencegah keduatangannya merengkuh tubuh pemuda itu.
Kedua payudaranya terhenyak di dada Goni, membuat Goni semakin bergairah menciumi wanita yangselalu menggairahkan birahinya ini.
1875Please respect copyright.PENANAuxur1cjGZI
Rien mengerang mendapat perlakuan Goni yang penuh nafsu itu. Matanya terpejam penuhpenyerahan, juga ketika pelan-pelan mereka bergeser ke arah dipan.
Tangan Rien meremas punggung Goni, dan bahkan lalu menekan tengkuk pemuda itu, mendorongGoni untuk berbuat lebih bergairah lagi. Dan Goni pun menyambut ajakan seperti itu dengan sepenuhhati. Entah bagaimana awalnya, kedua tangannya kini meremas-remas payudara Rien, menyebabkanwanita itu terengah-engah.
Puting-puting susunya terasa menegang mendapat perlakuan Goni yang sebetulnya agak kasar itu.Terasa gatal pula, karena Rien tergesek-gesek beha nilonnya. Kehangatan tiba-tiba menjalari tubuhnya,ke arah bawah, ke antara dua pahanya yang kini menempel erat di paha Goni.
1875Please respect copyright.PENANABGRiijtYzZ
Keduanya lalu terjerembab di dipan yang berderit menahan beban yang lebih berat dari biasanya.Goni menindih Rien dan masih menghujaninya dengan ciuman. Rok Rien yang pendek telahtersingkap, memperlihatkan seluruh pahanya, dan celana dalam krem tipis yang berenda-renda.
1875Please respect copyright.PENANAGXCWX5XtlP
Sejenak Goni melihat pemandangan itu, menyebabkan ia semakin bergairah menciumi Mba Rien-nya.Tetapi cuma itulah yang bisa dikerjakan Goni selama ini, meremas payudara (sebagaimana Mba Rienmengajarinya di pantai) dan menciumi bibirnya (seperti “peristiwa kenari” sore itu). Tidak lebih dari ituyang bisa dikerjakan pemuda tak berpengalaman ini!
Adalah Rien yang kemudian tak merasa cukup diciumi dan diremas-remas seperti itu. Tubuhnya mintalebih dari itu, dan Rien ingin mendapatkannya dari Goni, pemuda yang semakin lama semakindisukainya ini.
1875Please respect copyright.PENANAj4NL3pnTp4
Ia tahu, ini adalah sebuah permintaan yang berbahaya dan harus diperlakukan hati-hati. Tetapipancaran birahi dari pemuda yang sekarang mendekapnya ini begitu kuat, mengundang Rien untukhanyut lebih jauh lagi, berenang lebih dalam lagi. Sanggupkah ia menolaknya?
1875Please respect copyright.PENANAZBA3RTuyig
Dengan tangan kanannya yang bebas, Rien tiba-tiba sudah menuntun tangan kanan Goni,membawanya ke bawah. Tangan pemuda itu tampak lemas tak berdaya, mengikuti saja. Sambilmengerangkan sesuatu yang tak jelas, Rien menelusupkan tangan Goni dan tangannya ke balik celanadalamnya.
1875Please respect copyright.PENANADTj39mGrGK
Goni merasakan telapak tangannya mengusap rambut-rambut halus dan bukit kecil yang hangat dibalik nilon tipis itu. Ah, apa yang harus kulakukan? pikirnya risau. Tetapi Goni diam saja, karena tangan Mba Rien kini mengajak tangannya berputar-putar mengusap.
Hangat sekali di bawah sana, jauh lebih hangat daripada kedua payudaranya, ucap Goni dalam hati.Apalagi kemudian tangannya didorong lebih ke bawah. Tidak hanya ada hangat di sana, tetapi jugaagak basah. Gerakannya masih mengusap-usap, menuruti saja gerakan tangan Mba Rien yang kinitampak semakin terengah-engah.
1875Please respect copyright.PENANAaCrGZ001Mi
Tiba-tiba Mba Rien melepaskan bibirnya dari pagutan Goni, membuat pemuda ini agak terperanjat.Apalagi kemudian Mba Rien bangkit, membuat Goni khawatir telah melakukan suatu kesalahan fatal.Tetapi ternyata tidak. Ternyata Mba Rien bangkit untuk melepas celana dalamnya, dengan sebuahgerakan cepat yang menakjubkan.
1875Please respect copyright.PENANAjkGxRludeF
Goni terkesima melihat Mba Rien kini menggeletak di sampingnya, dengan rok tersingkap sepenuhnya,dan dengan kewanitaan yang terpampang jelas, menampakkan segitiga hitam rambut-rambut halusyang sedikit membukit, dan sepasang bibir yang membasah. Goni menelan ludah berkali-kali.Pemandangan itu sungguh berada di luar batas khayalnya selama ini. Jauh di luar batas!
1875Please respect copyright.PENANAO4jp1Ryxji
Wajah Mba Rien tampak serius dengan sinar yang menggairahkan, pikir Goni sambil mencari jawab dimata wanita itu. Ia sungguh bingung, tak tahu harus berbuat apa. Mba Rien tersenyum, lalu berbisik,“Goni.. Mba ingin kamu melakukan sesuatu malam ini. Mau?”
1875Please respect copyright.PENANAWAygTurJ50
Goni mengangguk bisu. Apa lagi yang bisa dilakukannya selain itu? Ia melihat Mba Rien tersenyum seperti biasanya, penuh dengan bujukan agar ia percaya saja kepadanya. Ia diam saja, ketika tangan Mba Rien menuntun tangannya kembali ke bawah, ke segitiga yang tampak menggoda dan mengundang itu.
1875Please respect copyright.PENANAShEaxFVFMQ
Ia diam saja ketika dengan sabar Mba Rien memintanya menjulurkan jari tengahnya. Ia diam sajaketika Mba Rien, dengan tangan kirinya, menguak bibir-bibir di bawah sana, memperlihatkan dinding halus yang tampak licin-basah dan agak berdenyut berwarna merah muda itu.
1875Please respect copyright.PENANAmGXepii8zJ
“Oh, Goni… tolong gosok-gosokkan jari tengahmu di sana….,” tiba-tiba Mba Rien mendesah penuhdengan permohonan.
1875Please respect copyright.PENANAWU3A4VVQYF
Goni terenyuh mendengar baru kali ini Mba Rien memohon. Cepat-cepat ia memenuhi permintaannya,dan dengan rasa kagum mulai menelusuri celah bibir dan dinding halus yang basah itu dengan jaritengahnya. Perlahan ia menelusur ke bawah, ujung jarinya terasa menyentuh sebuah liang liat yangagak sempit.
1875Please respect copyright.PENANAb3Gvje9m4u
Perlahan ia naik kembali, terus ke atas karena tangan Mba Rien menariknya sampai hampir keluar darilepitan bibir-bibir yang tampaknya menebal itu. Ujung jari Goni kini merasakan sebuah tonjolan kecildi balik selaput kulit yang agak tebal. Mba Rien tampak memejamkan mata erat-erat ketika Goni mengurut-urut tonjolan itu seperti yang diminta Mba Rien.
1875Please respect copyright.PENANAtgerEWtjL2
“Terus, Goni… teruskan, ohhhhhh..,” Mba Rien seperti merengek-rengek dengan wajah yang semakin memerah dan mulut membuka menghembuskan nafas memburu.
Goni memenuhi permintaannya,menggosok dan mengurut dengan jari tengahnya lebih cepat lagi.
1875Please respect copyright.PENANAPgWh7GUgE6
Mudah sekali melakukannya, karena jarinya licin dipenuhi cairan kental bening yang ia tak tahu apanamanya. Mudah sekali jari tangannya melesak ke liang kenyal kecil di bawah sana, karena liang ituseperti membuka dengan sendirinya, dan seperti hendak menyedot masuk jarinya.
Gerakan-gerakan tangan Goni semakin teratur; naik…, turun…. berputar,… naik … turun…. Melesak sedikit. Demikan seterusnya, sementara Mba Rien kini menggelinjang, mengerang-erang seperti orang mengejan, dan melentingkan badannya seakan punggungnya tertusuk duri.
“Oooooh, Goni… lebih cepat lagi …. Goni, ahhhh…,” Mba Rien kini seperti orang mau menangis dan memohon-dengan-sangat kepada Goni.
1875Please respect copyright.PENANA6a1pWjiLV6
Sungguh membuat iba Goni, tetapi sungguh menggairahkan pula permintaan itu. Maka Goni bergerak secepat mungkin, sekeras mungkin, sekuat mungkin. Tangannya terasa pegal, tetapi ia tak peduli, ia harus lebih cepat lagi dan lebih kuat lagi menggosok.
1875Please respect copyright.PENANAiMI3U0VDDX
Harus lebih kuat lagi memutar sambil menekan kalau perlu, karena setiap putaran dan tekanantampaknya membuat Mba Rien semakin keenakan. Rasanya seperti sedang menimba sumur dengansatu tangan, peluh telah membasahi dahi Goni, tetapi untuk wanita ini rasanya masuk sumur pun rela!
1875Please respect copyright.PENANAILbgdQAFFX
Tiba-tiba Mba Rien mengejang, dan untuk beberapa detik Goni menyangka perempuan ini sedangmenghadapi maut. Kaget, ia tarik tangannya, tetapi Mba Rien memprotes…
”Ah, jangan Goni….janganberhenti!” sambil menarik tangan Goni untuk kembali ke bawah sana.
Cepat-cepat Goni memenuhi permintaan itu, dan menggosok-mengurut kembali sekuat tenaga. Satu kali, dua kali, tiga kali …. lima kali… akhirnya Mba Rien seperti berteriak tertahan.
Tubuhnya menggeliat lalu melenting seperti busur panah, lalu terjerembab kembali ke kasur dan berguncang-guncang seperti sedang diserang batuk hebat. Tetapi bukan batuk yang keluar dari mulutnya, melainkan erangan-erangan dan rintihan-rintihan. Goni takut sekali melihatnya!
1875Please respect copyright.PENANAWJKPK6FFU5
“Ohhhhhh…, Goni!” ucap Mba Rien seperti orang menahan tangis, memeluk leher pemuda itu,meraihnya ke pelukan tubuhnya yang masih turun-naik dengan nafas memburu.
Goni terdiam menempelkan kepalanya di dada Mba Rien, mendengar jantungnya bagai berdentum-dentum, keras sekali.
1875Please respect copyright.PENANAomHKdj8iMV
“Goni …. maafkan Mba Rien !” tiba-tiba terdengar wanita itu berucap. Goni hendak mengangkat kepalanya, tetapi tertahan oleh tangan yang memeluk erat lehernya.
Lalu ia merasakan air hangat mengalir di dahinya. Mba Rien menangis!
1875Please respect copyright.PENANAfBx1ibD0DL
Ada apa gerangan? Apa yang salah? Cepat-cepat Goni melepaskan diri dari pelukan, dan memandang heran. Mba Rien memang menangis, matanya penuh air mata, tetapi mulutnya tersenyum manis.
1875Please respect copyright.PENANAmM9Q236BO8
“Kenapa?” tanya Goni dengan sejuta keheranan.
1875Please respect copyright.PENANAM1xnd40AOD
Mba Rien menggelengkan kepalanya pelan-pelan, tangannya lembut mengusap wajah Goni, lalu jugamengusap rambutnya yang agak menutupi dahi.
Dia berbisik, “Aku telah menguak sebuah rahasiapenting untukmu …..”
Goni diam dan masih mengernyitkan dahi. Mba Rien berkata lagi, masih dengan berbisik, “Itu tadi orgasme pertamaku di tangan kamu, Goni…”
Orgasme. Rahasia penting. Goni menghela nafas panjang. Ia menguakkan kepadaku rahasia terpenting seorang wanita.
1875Please respect copyright.PENANAIkCqEKccQY
Mba Rien membawakan kepadaku dunia yang kini justru penuh misteri untuk dikuakkan, pikir Gonidengan dada dipenuhi aneka perasaan: bangga bahwa ia dipilih oleh wanita menggairahkan ini, takjub karena ternyata orgasme itu begitu indah sekaligus menakutkan, terharu karena melihat wanita ini harus berjuang melawan dirinya sendiri sampai menangis!Dengan cepat dipeluknya Mba Rien, diciuminya leher wanita yang harum itu. Oh, terima kasih untuk kunci rahasia itu Mba Rien. Terima kasih banyak!!
1875Please respect copyright.PENANAZzoJAS8Yo9
1875Please respect copyright.PENANAmVEtp7qGel


