BAB IV
Mba Rien : Menutup Layar
1742Please respect copyright.PENANAeMpcO53i4C
Goni terus menciumi leher jenjang yang harum dan kini agak basah oleh keringat. Ia mengecup-mengembus, menggigit kecil, menghela nafas menghirup semerbak tubuhwanita yang menggairahkan ini. Rasa terimakasih memicu semangat dan birahinya, ingin rasanya ia mendekap dan melumat tubuh hangat yang ditindihnya ini.
1742Please respect copyright.PENANAziuTZq7lZX
Mba Rien tertawa kecil menerima perlakuan Goni, “Stop ….,” ucapnya, tetapi kata itu seperti kehilanganmakna. Dan Goni tak mau berhenti, malah semakin bersemangat menelusuri urat samar kebiruan dileher yang bak pualam itu.
1742Please respect copyright.PENANA29TfyRv66N
Goni naik menciumi dagu Mba Rien, menyusur bawah rahangnya, lalu turun lagi sampai ke pangkal leher. Tangannya dengan cepat menyibak kaos wanita itu, sekaligus membuka beha coklat dibawahnya, menampakkan dada ranum yang bergerak naik-turun dengan cepatnya.
1742Please respect copyright.PENANARF2pFqzCtl
“Ah, Goni…. Ohhh,” akhirnya Mba Rien hanya bisa mendesah, dan perlahan tangannya yang tenggelam di rambut Goni kini justru menekan kepala pemuda itu.
1742Please respect copyright.PENANAPuXuLAmwv6
Justru mendorongnya agak lebih ke bawah, sehingga bibir Goni kini menelusuri lembah indah diantara kedua payudara yang membusung-mengembung-menggairahkan. Harum sekali lembah itu,lembut dan bergetar menyembunyikan jantung yang berdebar kencang.
1742Please respect copyright.PENANAb7n3GcJWrW
Goni semakin berani, mengangkat mukanya menggigit daging yang membola halus-licin itu sehingga Mba Rien menggelinjang dan menjerit kecil, “Oh, …. jangan Goni…” tapi tangannya tak juga sanggup mendorong kepala Goni lepas dari dadanya.
1742Please respect copyright.PENANALiwxrkYDmC
Mba Rien hanya bisa berkata tak bisa berbuat. Sebuah penolakan yang tak punya daya, sebuah penyerahan yang tak terelakkan. Apalagi ketika mulut pemuda yang menghembus-hembuskan nafas panas itu kini tiba di satu puncak payudaranya.
1742Please respect copyright.PENANAcJ9ELB9dSx
“Oh … jangan itu,…Goni, jangan itu…“, erang Mba Rien, tetapi terlambat sudah!
1742Please respect copyright.PENANAhLILtlgMFG
Dengan cepat Goni menyedot puting kenyal yang berdiri menantang itu.
1742Please respect copyright.PENANAf45CAWapZ7
Mba Rien menggeliat, melepaskan tangannya dari kepala Goni, meremas-remas seprai seperti hendak mencari kekuatan dari situ. Dunia nyata seperti menghilang dari pandangan Rien yang kini terpejam menahan nikmat tak terperi yang menyerbu tubuhnya.
1742Please respect copyright.PENANApUsrbY5tet
Satu tangannya bergerak ke atas, menggenggam tiang ranjang seakan kini seluruh hidupnya bergantung di sana. Tak ada lagi pikiran bimbang, atau takut, atau kuatir di kepalanya.
1742Please respect copyright.PENANApuKGjGvTkv
Semuanya hilang berganti kenikmatan belaka, menjalar-jalar seperti api keluar dari mulut Goni yang kini mengemut-emut puting susunya. Goni pun semakin bersemangat, menyedot kuat-kuat dan mengulum-ulum daging kecil kenyal yang terasa aneh di mulutnya itu.
1742Please respect copyright.PENANAk8d39kwNpW
Beginikah seorang bayi merasakan susu ibunya? Pikir Goni sambil membayangkan betapa rakusnyadulu ketika ia masih bayi!
1742Please respect copyright.PENANAhKaO67c97M
Rien merasakan kewanitaannya berdenyut lagi, bagai bangkit dari istirahat, setelah tak lebih dari 10 menit lalu bergeletar terlanda orgasme. Kini kedua kakinya membuka lebih lebar lagi, dan tak sadar ia menarik satu tangan Goni untuk kembali ke bawah sana. Goni pun tak perlu mendapat tuntunan lagi sekarang.
1742Please respect copyright.PENANA1ZDQrXV7Ly
Tiba-tiba saja ia sudah menjadi piawai. Tangannya dengan cepat melakukan lagi apa yang baru saja ia pelajari dalam permainan serba menggairahkan ini. Tangan itu tahu harus berbuat apa di ladang subur yang selalu menjanjikan kehangatan itu.
1742Please respect copyright.PENANA1E8nymXzpG
Penuh kepastian, tangan pemuda itu kini mengusap-usap, menerobos-menelusup, meraih-raih. Rien membuka pahanya semakin lebar, semakin menguak, menyediakan keleluasaan kepada Goni.
1742Please respect copyright.PENANAWyVZnIaiRZ
“Ohhh, Goni…. Ohhh, aku mau …. Aaah, aku ingin ….,” Mba Rien seperti kehabisan kata-kata, “Goni,…aku,… ahhh..”
1742Please respect copyright.PENANAAoLWNwM5ho
Apa yang hendak disampaikannya? tanya Goni dalam hati, tetapi ia tidak berani bertanya. Mulutnya tak hendak lepas dari mainan baru di puncak payudara yang menggelorakan itu!
1742Please respect copyright.PENANAwGkdTfyCiQ
Dengan satu jari tengahnya, Goni membuka-menguak sepasang bibir di bawah sana. Telah menebal,bibir-bibir itu. Basah dan licin pula. Hangat dan berdenyut juga.
Jari Goni seperti menari-nari, melenggak-lenggok di taman sutera yang halus menggelincirkan.Terkadang, jari itu menelusup jauh ke bawah dan sampai di sebuah liang sempit yang berdenyut-denyut.
1742Please respect copyright.PENANAzwDe8hYgzp
Rien tersentak ketika disentuh ujung jari Goni di bagian yang sangat peka itu. Tubuh bagian bawahnya tiba-tiba terangkat meninggalkan kasur, dan akibat gerakan itu jari Goni akhirnya melesak masuk,tergelincir cepat sampai tenggelam sepanjang satu buku jari.
Ada sedikit lengket dan panas dan basah terasa oleh Goni di ujung jari yang dilingkari sebentuk otot liat-kenyal yang bergerak-gerak seperti mulut kecil.
1742Please respect copyright.PENANABGLGey7Zga
Dan Rien pun merintih pelan, “…. teruskan … masukkan …. Oh, Goni… teruskan…”.
1742Please respect copyright.PENANAGOK9mUdvH8
Dan Goni mendorong lebih dalam, merasakan jarinya kini menelusuri dinding licin bak sutra yang basah. Dan Rien semakin keras mengerang lalu memutar pinggulnya dalam gerakan asal-asalan.
1742Please respect copyright.PENANApkYrA2i9wq
Goni menarik sedikit jarinya, tapi tangan Mba Rien mendorongnya kembali. Goni menarik lagi, tetapi didorong lagi. Ditarik-didorong. Ditarik-didorong. Berkali-kali, semakin lama semakin cepat, seperti kereta api sedang mengambil ancang untuk melaju.
1742Please respect copyright.PENANACLYNDLUAZ5
Rien menutup mulut dengan punggung tangannya, menahan sebuah teriakan-teriakan kecil yang terputus-putus… ah … ah … ah. Lalu ia menggelepar kuat sekali, dan tangan Goni lepas dari selangkangannya, seperti dilemparkan oleh kekuatan gaib.
1742Please respect copyright.PENANAgz6Z56idV4
Goni sendiri terkejut sekali dibuatnya. Dan Mba Rien tidak bisa diajak bicara, karena wanita itu menggeliat, mengguling ke samping, lalu tertelungkup dengan tubuh terguncang-guncang. Ranjang berderit-derit.Goni terpana. Astaga, apa yang telah kulakukan?
1742Please respect copyright.PENANACcSvlcg3wC
Goni hendak bangkit meninggalkan tempat tidur, tetapi tiba-tiba Mba Rien telah berbalik. Wajahnya agak memerah dan bibirnya yang menggairahkan itu seperti tomat matang. Matanya setengah tertutup, memandang sayu, tetapi penuh dengan sinar yang tak bisa digambarkan oleh kata-kata.
1742Please respect copyright.PENANALLSwE4byCu
Goni setengah terduduk di pinggir ranjang, tak pasti apa yang harus dilakukannya. Lagipula, kini ia kuatir ada orang yang mendengar kegaduhan di kamar ini, walaupun ia juga tahu paviliun tempat Mba Rien indekos terpisah oleh halaman cukup luas dari rumah utama.
1742Please respect copyright.PENANAfsTLmmVIaF
Mba Rien tiba-tiba tertawa kecil, “Aduh, Goni… lihat apa yang telah kamu lakukan,” ucapnya masih agak terengah. Pakaiannya semrawut, behanya sudah terlepas sama sekali, dan roknya tersingkap lebar.
1742Please respect copyright.PENANAfMlGYgcJ3F
“Maaf, Mba …,” ucap Goni pelan. Ia sungguh-sungguh bermaksud minta maaf.
1742Please respect copyright.PENANA38vQPVDDhE
“Hei… kenapa harus minta maaf?”, ucap Mba Rien ringan, lalu ia bangkit dan merapikan pakaiannya,tetapi tidak memakai kembali beha maupun celana dalamnya yang kini entah di mana.
1742Please respect copyright.PENANA9jOr1vGTBE
“Kamu memberikan lebih dari yang aku minta, dan tak perlu minta maaf untuk itu …” lanjut Mba Rien lagi dengan suara lembut, hampir berbisik.
1742Please respect copyright.PENANAXWrt1Qqgyf
Mereka duduk berdua di pinggir ranjang. Mba Rien memeluk bahu Goni, lalu mencium leher Goni sedikit di bawah kuping. Goni menggeliat kegelian, lalu balas memeluk pinggang Mba Rien. Kemudian ia mendengar wanita itu berbisik dengan nafasnya yang hangat menyentuh tengkuk Goni, “..sekarang giliran kamu, yaa…”
1742Please respect copyright.PENANAvUP1c21NkA
Tangan Mba Rien cepat sekali telah membuka resleting celana Goni yang diam saja tak tahu harus berbuat apa. Lalu dengan lembut tetapi agak memaksa, Mba Rien mendorong tubuh pemuda itu sehingga telentang di kasur, sementara ia sendiri tetap duduk dan terus membuka resleting sampai lepas sama sekali.
Lalu jari-jarinya yang lentik mulai mengelus-elus di atas celana dalam Goni yang telah menggembung dan agak basah di sana-sini. Ah, Goni pun hanya bisa memejamkan mata, membiarkan apa pun yang akan terjadi berikutnya. Ia pasrah saja.
1742Please respect copyright.PENANAQWmuXbQm6i
Dengan tangan yang lain Mba Rien membuka kancing baju Goni, satu-persatu dengan ketrampilan danketenangannya. Tak lama kemudian, dada Goni yang bidang telah terbuka sama sekali.
1742Please respect copyright.PENANAJFNFxrdo5D
Lalu Mba Rien membungkukan badannya sedikit, dan …. Goni menggeliat kegelian ketika bibir basah wanita itu tiba di putingnya yang kecil. Rasanya seperti disengat kenikmatan dan Goni mengerang pelan.
1742Please respect copyright.PENANA8T7LZdsftY
Mba Rien bahkan lalu mengulum dan menyedot, sehingga Goni tak lagi hanya mengerang tetapi juga merintih. Enak sekali, ternyata jika seseorang bermain-main dengan puting susumu! pikirnya dalam hati.
1742Please respect copyright.PENANAFMpTdEYNis
Sementara itu jemari-jemari Mba Rien yang lain telah masuk menyelinap ke balik celana dalam Goni,dan menemukan kejantanan pemuda itu tegak-keras-panas. Jemari itu lalu meremas pelan, mengelus dan menelusur ke atas ke bawah.
1742Please respect copyright.PENANAIAA3yFL5N3
Goni memejamkan matanya erat-erat, seakan memastikan bahwa ini adalah sebuah mimpi yang nyata,sebuah kenyataan yang dimimpikannya. Tubuhnya meregang merasakan jemari itu melakukan sesuatu yang menakjubkan, membuat seluruh daerah di bawah perutnya terasa tiga kali lebih besar dari biasanya.
1742Please respect copyright.PENANA0qYBFKC2fI
Mulut Rien terus mengulum puting Goni yang kecil, tangannya terus menggosok-meremas. Dua sumber kenikmatan saling bertumbukan di tubuh Goni, menyebabkan pemuda ini bergetar hebat.Sebuah desakan gairah mulai terkumpul di tubuh bagian bawahnya, membuat kedua pahanya terasa berat.
1742Please respect copyright.PENANAnszNrop8pb
Seluruh otot tubuhnya seperti sedang bersiap-siap meledak, seperti seorang lifter bersiap-siap mengangkat barbel, seperti kuda yang berancang-ancang melompat, seperti burung garuda yang bersiap mengudara.
1742Please respect copyright.PENANAL6r8B9cqBe
Gerakan Rien makin cepat, dan sedotan mulutnya makin kuat memilin-milin puting Goni yang tentu saja tak pernah lebih besar dari semula. Tidak seperti puting payudaranya Mba Rien. Tangan Mba Rien naik-turun dengan bergairah, begitu cepat sehingga hanya tampak dalam bayang-bayang.
1742Please respect copyright.PENANAH4YOuMckrE
Goni mengerang panjang ketika akhirnya ia tak bisa lagi menahan serbuan puncak birahi menerjang mencari jalan keluar. Apalagi kemudian satu tangan Mba Rien yang masih bebas, ikut bermain dibawah sana, memegangi kantong di bawah kelaki-lakian Goni yang seperti mengeras-membatu.
1742Please respect copyright.PENANAvhL744NRy9
Tangan Mba Rien meremas pelan kantong kenyal itu. Pelan saja, tetapi sudah cukup membuat Goni menggeramkan penyerahannya, mengerangkan kepasrahannya, ketika dengan deras cairan hangat kental lepas dari tempat persembunyiannya, menghambur keluar.
1742Please respect copyright.PENANAU0ZMW6PWzd
Langit-langit kamar Mba Rien memudar di mata Goni. Ranjang Mba Rien terasa seperti awan yang membumbung membawa tubuhnya melayang. Jemari dan tangan Mba Rien masih meremas menggosok.
1742Please respect copyright.PENANAPoqx13CsgJ
Mulutnya yang basah masih mengulum-menyedot. Dunia nyata seakan berkeping-keping. Meledak mengamburkan pijar-pijar pelangi di kepala Goni. Sungguh menakjubkan!
1742Please respect copyright.PENANAg3tW7JkeX7
Lalu sepi bagai turun dari langit. Goni tergeletak lemas. Mba Rien tertelungkup di sebelahnya, dengan kepala tersandar ke dadanya. Nafas mereka berdua masih memburu. Samar-samar terdengar detik jam dinding. Malam minggu sedang menuju titik kulminasi.
1742Please respect copyright.PENANAn3n0rxSBKs
Setelah segalanya tenang, Goni bangkit dan merapikan pakaiannya. Mba Rien keluar menuju kamar mandi. Segalanya seperti sediakala, kecuali ranjang yang berantakan tak keruan. Dengan cekatan Goni membereskan seprai dan mengembalikan bantal ke tempatnya.
1742Please respect copyright.PENANA9c11L2lVvo
Ia menemukan beha dan celana dalam Mba Rien, yang segera dilipatnya baik-baik dan diletakkan dikursi meja rias. Setelah menghela nafas dalam-dalam, ia melangkah keluar, ke ruang tamu. Kosong takada siapa-siapa.
1742Please respect copyright.PENANA9Ec2QBcvyY
Lalu Mba Rien muncul dari kamar mandi. Wajahnya penuh senyum seperti biasanya. Lalu mereka duduk berhadap-hadapan.
1742Please respect copyright.PENANANxQzpMJK3I
Lama tidak berkata-kata, cuma saling menukar senyum. Ketika akhirnya Mba Rien membuka percakapan, bahan pembicaraan terasa hambar, dan wanita yang wajahnya bersinar tetapi kelihatan letih itu pun berkali-kali menguap tak mampu mengusir kantuk.
1742Please respect copyright.PENANA2X4wZgA18Q
Pukul 10 lewat seperempat, Goni akhirnya berpamit. Mba Rien berdiri di pintu depan memandangnya pergi. Goni tak bisa melihat wajahnya, karena terlindung bayangan pintu, tetapi ia tahu Mba Rien tersenyum.
1742Please respect copyright.PENANAWxInVk5bHn
Maka ia pun tersenyum sekali lagi, lalu berbalik menuntun sepedanya ke jalan raya. Gelap malam segera menyambutnya, merangkulnya dengan embun basah yang segar.
Entah kenapa, Goni merasa seperti seorang ksatria pulang dari medan pertempuran!
1742Please respect copyright.PENANAqinXUmwqoG
Itulah malam paling bergelora yang pernah dijalani Goni bersama Mba Rien. Seminggu setelah itu,sekolah dimulai dan pertemuan keduanya tak pernah lagi terjadi malam hari.
1742Please respect copyright.PENANA23JRqt3fFP
Goni juga tak lagi bisa sering mengantar-jemput Susi ke tempat latihan menari, karena kini ia punya aktifitas baru: mengantar Alma pulang. Mengerjakan PR bersama. Latihan vocal group untuk acara-acara sekolah. Kegiatan ekstrakulikuler selepas sekolah. Dan sebagainya.
1742Please respect copyright.PENANAdLixc2qX6e
Mba Rien masih sering mengajak berenang bersama (tetapi Alma tidak pernah ikut karena ia tidak bisa berenang), mereka masih dengan riang saling berlomba mencapai batu karang, mengalahkan Dodi dan Iwan dan Niken yang selalu terlalu banyak tertawa.
1742Please respect copyright.PENANAlB77xo4kHf
Mereka juga masih mencari kenari ke hutan, tetapi anehnya tak lagi ada hujan yang menyebabkan mereka terpaksa berteduh di gua. Tak sekali pun mereka pernah membicarakan adegan-adegan bergelora yang sering diputar-ulang oleh Goni di atas ranjangnya sendirian.
1742Please respect copyright.PENANA9DwK1vHF7H
Mba Rien seperti lupa tentang apa pun yang terjadi malam itu, seperti halnya ketika ia melupakan kejadian di pantai dan di gua. Segalanya normal-normal saja.
1742Please respect copyright.PENANAFBg0FpEkiy
Dan hari-hari pun berlalu dengan cepat, musim berganti dari hujan ke panas, dari basah ke kering.Ada suatu masa kemarau yang agak panjang, membuat daun-daun menguning dan suasana gerah dimana-mana.
1742Please respect copyright.PENANAGEKDWcBw3D
Pada masa seperti itu, kota kecil tempat mereka tinggal pun seperti kehilangan energi. Orang-orangjarang mau ke luar rumah, lebih sering duduk-duduk di beranda, atau berteduh di bawah pohon dihalaman sendiri.
1742Please respect copyright.PENANAhLaXZRkvzy
Toko-toko yang jumlahnya memang tidak banyak, juga sepi pengunjung. Babah Ong, pemilik toko kelontong di ujung jalan semakin sering mengomel-mengeluh.
1742Please respect copyright.PENANACVdH4q7X7N
Kemarau kali ini membawa cerita lain bagi Goni. Ia semakin dekat berhubungan dengan Alma dan semakin jarang bertemu dengan Mba Rien. Bukan apa-apa, tetapi memang suasana panas menghalangi keinginan pergi ke pantai, sementara sungai juga menipis airnya, dan kenari tidak berbuah.
1742Please respect copyright.PENANACWl4eJ3eeS
Lagipula, setiap kali mengantar Alma pulang, Goni dipaksa mampir. Ibunda Alma, Nyonya Tuti, seorang bidan satu-satunya di kota itu, menyukai pemuda ini. Ia selalu mempunyai alasan tepat untuk menyuruh Goni berlama-lama menemani Alma.
1742Please respect copyright.PENANAp59JTzUthf
Misalnya, hari itu ibu yang bertubuh gemuk bulat itu sudah menyediakan es cendol segar. Siapa bisa menolak itu di siang yang begini terik? Tetapi Goni bersopan-santun, mencoba menolak tawaran menggiurkan itu.
1742Please respect copyright.PENANAzqZgSijAiW
“Ayooo…,” sergah Alma manja, menarik kelingking Goni, menyeretnya masuk ke beranda sepertimenyeret anak kambing, “Kamu tadi bilang haus…”
1742Please respect copyright.PENANAYwXKqu2rBH
“Sudah siang, Alma,” kata Goni mencoba berdalih.
1742Please respect copyright.PENANADZ9bG6rvIM
Ibu Tuti tertawa mendengar alasan Goni, “Setiap hari kalian pulang pukul 1, apa bedanya hari ini?”
1742Please respect copyright.PENANAgH7mAN2ukq
“Ayooo…,” Alma menarik-narik lagi, kali ini pergelangan Goni yang dicekalnya erat-erat.
Terpaksa Goni melangkah masuk, menunduk menghindari tatapan Ibu Tuti yang seperti mau menggodanya sambil berkata, “Goni malu sama Ibu, ya? Baiklah kalau begitu Ibu masuk, kalian berdua saja minum cendol itu.”
1742Please respect copyright.PENANAIHrPT0Bxqj
Begitulah, akhirnya Goni minum cendol yang memang segar. Berdua saja di beranda yang sepi. Ibunda sudah pergi ke paviluan sebelah, tempatnya membuka praktek KB. Rumah besar yang menghadap jalan kecil menuju pasar ini tampak lengang.
1742Please respect copyright.PENANAfJqiwuVPD2
Berhadapan, diam-diam, Alma dan Goni menghabiskan minuman mereka. Sejuk sekali rasanya leher menelan cendol-cendol yang dingin itu.
1742Please respect copyright.PENANA4Bk7gBRj3R
Goni menyukai suasana seperti ini, di mana ia bisa berlama-lama berhadapan dengan Alma tanpa siapa-siapa di sekeliling mereka. Wajah Alma yang selalu tampak segar itu (Goni kadang-kadang membandingkannya dengan buah jeruk manis yang baru dikelupas) selalu sedap dipandang.
1742Please respect copyright.PENANAW4HOyc0674
Apalagi kalau kedua matanya yang bening menatap kepadanya, dengan bulu mata lentik yang jarang berkerejap. Di suasana panas seperti ini, Goni senang sekali berteduh di sinar mata yang lembut itu.Senang sekali mereguk nada rindu yang mengalun pula dari sana.
1742Please respect copyright.PENANANzMNiAQ14n
“Apa, sih, yang kamu lihat?” sergah Alma sambil menggigit-gigit sendok plastiknya.
1742Please respect copyright.PENANAbDWDmuFOfv
“Kamu.” jawab Goni pendek, bertopang dagu dengan satu tangan.
1742Please respect copyright.PENANAQHJtDzUp3R
“Setiap hari kamu lihat saya. Tidak bosan?”
1742Please respect copyright.PENANAMGgiiytQoW
Goni menggeleng. Pertanyaan kuno, ucapnya dalam hati sambil menahan tawa. Itu pertanyaan yang mengundang tanggapan lebih lanjut, mengundang kata-kata seperti, “tak kan pernah bosan” atau“mana mungkin aku bosan memandangmu” dan yang semacam itu. Goni mengunci mulutnya, tetapi tidak menyembunyikan senyum di matanya.
1742Please respect copyright.PENANAq5p3AtwcA1
“Tidak bosan?” tanya Alma lagi, sudah berhenti menggigit-gigit sendoknya. Bibirnya yang semakin basah oleh minuman terlihat indah agak berkilauan.
1742Please respect copyright.PENANAgrMq3ctlZv
Goni menggeleng lagi. Ia tahu Alma ingin mendengar serentetan kata-kata berbunga tentang ketidak-bosanan, tentang kerinduan yang menerus, tentang keinginan untuk selalu berdua.
1742Please respect copyright.PENANAPO2Cebakjk
Tetapi Goni menguatkan hati. Kadang-kadang ia ingin menyampaikan segala sesuatu yang indah dalamdiam. Tanpa kata-kata.
1742Please respect copyright.PENANApX8eboSWys
“Betul?” kali ini Alma terdengar penasaran, gemas diperlakukan seperti ini oleh pemuda yang tak pernah berhenti membuatnya terpesona.
1742Please respect copyright.PENANALmC7C98PnT
“Kenapa tidak bosan?” tanya Alma.
1742Please respect copyright.PENANAzN3vGrt5ic
Goni menahan senyum. Mengangkat bahu dan tetap mengunci mulutnya. Alma semakin gemas, dan karena tidak tahan lagi, ia bangkit berpindah tempat ke sebelah Goni. Jemarinya yang halus tiba-tiba saja sudah hinggap di pangkal lengan Goni, mengancamkan sebuah cubitan.
1742Please respect copyright.PENANANTnEMALmcn
“Ayo jawab. Atau Alma cubit!” ucapnya sengit.
1742Please respect copyright.PENANAZ6bFo9nb8u
Goni pura-pura tidak mendengar, memandang ke luarberanda dan melihat sekeliling. Sepi sekali siang ini.
1742Please respect copyright.PENANASs7MZKogGe
Alma mencubit pelan. Mana tega ia mencubit keras. Goni meringis pura-pura kesakitan, lalu menolehmemandangi wajah Alma yang kini dekat sekali di sisinya. Aku ingin mencium bibir ranum yang basahitu, ucap Goni dalam hati. Pasti manis seperti es cendol yang diminumnya.
1742Please respect copyright.PENANAE7c569vbNZ
“Jawab…atau…,” bisik Alma lirih, tak meneruskan kalimatnya melihat kedua mata Goni memandangnya dengan penuh rindu. Dekat sekali.
1742Please respect copyright.PENANAKgpCR92k6S
Goni semakin mendekatkan wajahnya sampai bibirnya hampir bersentuhan dengan bibir Alma. Gadis itu terdiam, jemarinya berhenti mencubit, berubah menjadi cengkraman lemah. Goni menghela nafas menikmati harum nafas Alma yang hangat menghambur dari mulutnya yang setengah terbuka.
1742Please respect copyright.PENANAF3CggbGk2M
Perlahan-lahan wajah mereka semakin mendekat. Goni mencium gadis itu, merasakan manis gula jawa yang tersisa di bibirnya yang basah, mengulum lembut seperti khawatir tindakannya akan menimbulkan gempa bumi.
1742Please respect copyright.PENANAh92VHIp6Lf
Alma menyambut ciuman Goni dengan mata terpejam dan dengan kehangatan yang justru mengusir terik kemarau hari itu.
1742Please respect copyright.PENANAWczwxxjSRC
Suatu Sabtu di penghujung musim panas, Goni menerima sepucuk surat dari Mba Rien yang disampaikan lewat Susi. Ketika itu Goni baru saja tiba dari bermain voli di lapangan di depan kanto rPak Camat.
1742Please respect copyright.PENANAlSaiVB09AQ
Dengan tangan masih berpeluh, buru-buru disobeknya sampul putih yang cuma bertuliskan “untuk Goni di rumah” itu. Di dalamnya, ada sehelai kertas surat biru muda tipis, dan potongan sebuah brosur. Apa ini? tanya Goni dalam hati, lalu ia mulai membaca:
1742Please respect copyright.PENANAX9QoXs3BJX
Adikku Goni yang cakep… (Goni tersenyum membaca sapaan ini. Ada rasa rindu menjalar tiba-tiba.Telah lama ia tak berjumpa Mba Rien).
1742Please respect copyright.PENANALPwSyQUuV3
Hari Minggu besok, Mba Rien akan pergi ke ibukota. Ada seorang sutradara tari menawarkan peran untuk sebuah pertunjukan besar. Mba Rien tidak tahu berapa lama akan berada di ibukota.
1742Please respect copyright.PENANAr5aka0J0kP
Kalau peran itu jadi diberikan kepada Mba Rien, mungkin Mba Rien akan berada di sana lebih dari setahun .. (Goni menelan ludah, merasakan mulutnya kering. Lama sekali, setahun itu!)
1742Please respect copyright.PENANApI5KgdLd5M
Mba Rien ingin mengucapkan selamat tinggal. Rajin-rajinlah belajar agar nanti bisa bersekolah ke institut teknologi yang dulu pernah kamu ceritakan itu … (Jantung Goni berdegup kencang. Mengapa tiba-tiba ia merasa dirinya akan kehilangan sesuatu yang sangat berharga?).
1742Please respect copyright.PENANAXxdR8XPrGp
Mba Rien tidak akan pernah melupakan kamu. Mba Rien juga tahu kamu akan tetap mengingat Mba Rien. Tetapi jangan lupa mengingat hal-hal lain yang penting dalam hidupmu.
Terutama, jangan pernah melupakan cita-citamu, keinginan mu yang tertinggi… (Sampai di sini, Goni menghela nafas panjang, merasakan segumpal kesedihan menyumbat kerongkongannya. Apakah iniucapan perpisahan?).
1742Please respect copyright.PENANAbTe58f4HxW
Mudah-mudahan kita akan berjumpa lagi. Sampaikan salam Mba Rien kepada orang tuamu. Jaga Susi baik-baik, ia seorang yang berbakat tari.
1742Please respect copyright.PENANAesydY8ljri
Peluk-cium, Mba RienNB : Mba Rien lampirkan potongan brosur pertunjukan tari di ibukota dan alamat sanggarnya. Kalau kamu berkesempatan, tengoklah Mba Rien di sana.
1742Please respect copyright.PENANAmNIBHGU7OO
Goni melihat jam di dinding. Jarum menunjukkan pukul tiga sore. Masih ada waktu sebelum bertandang ke rumah Alma. Cepat-cepat Goni berlari ke kamar mandi untuk membasuh tubuhnya yang berkeringat dan berdebu.
1742Please respect copyright.PENANAJbFrwrRWv0
Seperempat jam kemudian ia sudah mengayuh sepedanya dengan kecepatan maksimum menuju rumah kost Mba Rien. Ia ingin menemui wanita istimewa itu untuk mengucapkan selamat jalan.
1742Please respect copyright.PENANA8mm3AYolSJ
“Baru saja Mbak Rien pergi, dijemput oleh kakaknya naik mobil.” kata Mbak Laras di depan pintu. Goni lemas mendengar penjelasan itu.
1742Please respect copyright.PENANAWhCSzC0ORn
“Tapi, bukankah ia baru akan berangkat ke ibukota hari Minggu besok?” tanya Goni, seperti hendak mempersoalkan benar-tidaknya Mbak Rien telah pergi.
1742Please respect copyright.PENANAMnPcI6vCeW
“Betul,” jawab Mbak Laras, “Tetapi kakaknya ingin Mbak Rien menginap di rumahnya, sebelum berangkat ke ibukota. Di rumah kakaknya itu telah berkumpul kedua orang tua mereka dan anggota keluarga yang lain. Semacam pesta perpisahan.”
1742Please respect copyright.PENANAthJhNWoQon
“Rumah kakaknya tidak jauh, bukan?” tanya Goni, teringat tentang kepergian Mbak Rien sewaktu masa ujian dulu. Kalau tidak salah, jaraknya hanya 6 kilometer.
1742Please respect copyright.PENANAyNllQnxMJq
“Bukan kakaknya yang di dekat sini,” kata Mbak Laras, “Yang menjemputnya tadi adalah kakak yang satu lagi, yang tinggal di kota L.”
1742Please respect copyright.PENANA4twG8X9JgB
Goni merasakan bumi tempatnya berpijak bergoyang-goyang. Kota itu jauhnya 100 km dari sini. Ia menunduk lesu, bersandar ke pintu rumah kost, membuat Laras iba. Kasihan pemuda ini, pikir Laras dalam hati, ia pasti sangat kecewa tidak berjumpa “kakak kesayangan”-nya.
1742Please respect copyright.PENANAOcKutGjYje
Laras bisa membaca hubungan istimewa yang terjalin antara teman kostnya dengan pemuda ini,walau tak pernah tahu seberapa jauh mereka berhubungan.
1742Please respect copyright.PENANAjE3bYmMs1K
Ia hanya tahu, Rien sangat menyayangi pemuda ini, dan memberlakukannya seperti adik sendiri. Tapi ia tidak pernah tahu bahwa keduanya pernah bergumul di kamar ketika ia pergi menonton beberapa waktu yang silam.
1742Please respect copyright.PENANApgJO7Xv1sV
Setelah mengucapkan permisi, Goni meninggalkan rumah kost itu dengan tubuh tanpa daya. Ia tidak menaiki sepedanya, melainkan berjalan saja perlahan-lahan. Hari telah menjelang senja, matahari dipenuhi semburat merah-jingga.
1742Please respect copyright.PENANA24KRQk6cdS
Angin semilir seperti mencoba memberikan sedikit saja kesejukan di hari yang panas ini. Baju Goni basah oleh keringat, karena tadi ia mengeluarkan semua tenaganya untuk cepat-cepat sampai kerumah kost.
1742Please respect copyright.PENANA9hD5xvjRF6
Kini ia mengutuk-utuk ajakan Dodi dan Iwan untuk main voli, dan menyesali diri karena menampik permintaan Susi untuk menjemputnya di sanggar.
1742Please respect copyright.PENANAPHfuxSqzyP
Seandainya tadi aku menjemput Susi, pastilah aku masih sempat bertemu Mbak Rien! Umpatnya dalam hati. Sebuah batu agak besar di pinggir jalan ditendangnya. Tentu saja, jempolnya sakit bukan main, sedangkan batu itu tak bergeming.
1742Please respect copyright.PENANAYvoooH2tNe
Malamnya, malam minggu yang seharusnya indah, terasa kelabu bagi Goni. Ia berusaha menyembunyikan galau di hatinya sekuat tenaga. Tetapi percuma saja menyembunyikan perasaan didepan Alma. Gadis itu punya indra kesepuluh, khusus untuk menembus dinding kalbu Goni!
1742Please respect copyright.PENANAEgOycpsVE1
Akhirnya Goni mengaku dan menceritakan kepergian Mbak Rien. Tidak itu saja, Goni juga menceritakanhubungannya dengan Mbak Rien, setelah memberlakukan sensor ketat di sana-sini.
Alma terdiam mendengarkan cerita itu. Gadis ini memang telah lama menduga bahwa antara Goni dan wanita itu terjadi sesuatu yang lebih dari sekedar persahabatan.
1742Please respect copyright.PENANAb3DQQMueQx
Tetapi ia tidak pernah punya bukti, dan kalau ia bertemu Mbak Rien (dan ini sering terjadi), ia selalu menaruh hormat kepada wanita yang tampak selalu ceria tetapi juga penuh wibawa itu. Kini, melihat dan mendengar Goni bercerita tentangnya, Alma merasa dadanya bergemuruh. Cemburu. Iri. Curiga.
1742Please respect copyright.PENANAfxAsFACWwy
“Kenapa kamu baru cerita sekarang?” tanyanya ketus.
1742Please respect copyright.PENANAOR7peVrRe8
“Karena kamu tidak pernah bertanya,” jawab Goni, berusaha menyembunyikan kagetnya mendengar Alma berucap dengan nada ketus. Baru kali ini ia mendengar nada itu di suara Alma.
1742Please respect copyright.PENANAtqRqil44Hk
“Kenapa tidak kamu susul ke kota L,” ujar Alma, kini dengan nada sinis.Goni mengangkat mukanya, memandang Alma lekat-lekat. Benarkah ia berucap seperti itu, sinisbegitu?
1742Please respect copyright.PENANAgKAlWdAWFw
Goni menemukan sebuah wajah dingin, dengan bibir terkatup rapat membentuk garis tipis yang tegas.Jelas sekali, Alma yang manis dan lembut itu kini sedang meradang. Marah.
1742Please respect copyright.PENANAtKnl2A9Ex2
Pukul 8 malam, hanya setengah jam dari waktu kedatangannya, Goni berpamitan. Alma tidak mengantar ke gerbang seperti biasa. Tidak membiarkan bibirnya dikecup. Tidak melambai. Goni berjalan gontai pulang ke rumah.
1742Please respect copyright.PENANArncoNXT004
Ia merasa, sebuah babak dalam kehidupannya usai sudah. Panggung sudah kembali diterangi lampu-lampu. Penonton sudah bertepuk tangan. Pemain telah berganti pakaian dan pulang ke rumah masing-masing.
1742Please respect copyright.PENANAmNyBWCBWSA
Di langit banyak sekali ada bintang. Goni menengadah. Ia menyerah pada Sang Sutradara di atas sana. Babak pertama telah selesai. Mari menutup layar
1742Please respect copyright.PENANA5zforYssmf
BAGAIMANA NASIB MBA RIEN? APAKAH GONI AKAN KEMBALI BERTEMU DENGANNYA?
Petualangan apalagi yang akan di lewati oleh Goni setelah berpisah dengan Mba Rien?
Temukan jawabannya di babak selanjutnya.
Untuk babak selanjutnya berbayar murah sekali (PROMO TERBATAS WAKTU), hanya 100 koin (setara dengan 1600 rupiah) per bab. Harga per bab akan berubah sewaktu-waktu. Manfaatkan masa promo super murah ini sekarang juga. Terima kasih untuk semua dukungannya.
1742Please respect copyright.PENANAOwA68arSZS


