Aku masih duduk di sofa lantai dua rumah Rizki dengan perasaan campur aduk. Bete? Jangan ditanya.
Rasanya seperti sudah siap tanding di final Liga Champions, tapi wasitnya malah asyik main PS sendirian.
Di luar, langit senja Semarang mulai berubah warna menjadi jingga kemerahan, terlihat sangat manis dari balik jendela kaca. Suara hiruk pikuk jalan Nogososro di Minggu sore terdengar sayup-sayup, kontras dengan keheningan di dalam ruangan yang hanya diisi bunyi tit-tit dari stik PS Rizki.
“Duh, tahu gini mending tadi siang aku terima tawaran Iqbal,” gumamku dalam hati.
Tadi siang, si "Gajah Kecil" Iqbal sempat menawarkan sesi tuntas di rumahnya setelah dia sendiri "selesai". Tapi aku menolak mentah-mentah karena ekspektasiku terlalu tinggi pada Rizki. Aku kira rumah mewah dan suasana sepi ini bakal jadi arena permainan panas yang bikin aku klimaks berkali-kali. Nyatanya? Aku cuma jadi penonton setia turnamen PS pribadinya.
Padahal, kondisiku sudah "siaga satu". Rizki memang lebih unggul dalam banyak hal dibanding Iqbal dan Bayu, tapi kalau urusan kepekaan... duh, dia juara terakhir. Sepertinya gosip kalau dia belum pernah pacaran itu benar adanya. Dia masih malu-malu kucing, padahal kucingnya sendiri sudah siap mengeong!
Sambil menunggu Rizki selesai dengan dunianya, aku mencoba membandingkan tiga pria yang ada di hidupku saat ini. Kami sudah bersama sejak awal masa orientasi siswa kelas satu, dan sekarang kami sudah di kelas dua. Biar kalian tidak bingung, begini deskripsi "persenjataan" mereka:
Iqbal itu sahabatku dari kecil, masih punya ikatan saudara walaupun jauh. Tubuhnya pendek badannya agak gemuk. Warna kulit kaya tanah hehehe jauh dari kata putih tapi tidak hitam juga. Ukuran penis kurang panjang tapi cukup gede menurutku mungkin kalau diukur sekitar 10 sentianlah panjangnya.
Kalau Bayu tubuhnya tinggi, sepertinya tinggi dia hampir sama denganku. Tubuhnya kurus wajahnya standar nasional, warna kulit sawo busuk hahaha tapi lebih cerah dari kulit Iqbal. Ukuran penis agak kecilan dari Iqbal tapi cukup panjang ku taksir sekitar 17 centian.
Kalau Rizki paling ganteng dari mereka berdua, warna kulitnya putih cerah lebih putih dariku. Tingginya sebatas telingaku, tapi lebih tinggi dari Iqbal. Tubuhnya porposional, ukuran penisnya lebih panjang dari Iqbal tapi lebih pendek dari Bayu kutaksir mungkin 15 centian, pas banget. Dia paling kaya dari kami berempat, gak tahu uang jajannya berapa tapi sering traktir kami jajan.
Secara visual, Rizki memang juaranya. Dia paling bersih, paling wangi, dan paling sering menraktir kami jajan. Tapi ya itu tadi... "mesinnya" sepertinya masih perlu banyak pemanasan.
“Ayok makan, Lin!” Seru Rizki memecah lamunanku.
Perutku yang tadi siang cuma diisi mi kopyok di pasar langsung merespons. Kami pun keluar menyusuri jalanan Nogososro yang mulai temaram. Aku memeluk pinggangnya erat, menempelkan dadaku ke punggungnya dengan manja. Setidaknya, momen boncengan ini sedikit mengobati rasa frustrasiku.
Rizki membawaku ke sebuah kafe gaul yang lagi hits. Suasananya romantis dengan lampu-lampu temaram, penuh dengan pasangan muda-mudi. Kami memesan dua porsi bebek goreng sambal ijo dan jus buah. Saat sedang asyik makan, hapeku berdering.
“Halo, Yuk? Tumben telpon?” Sapaku saat melihat nama Bayu di layar.
“Halo Lin, kamu lagi ngapain?” Suara Bayu terdengar antusias di seberang sana.
“Ih, ditanya malah balik nanya! Kenapa?” Gerutuku bercanda.
Bayu ternyata membawa kabar soal gadget. Saat itu, Blackberry sedang jadi simbol status sosial. Hape Rizki dan Bayu sudah Blackberry, sementara aku masih pakai hape lama yang juga beli bekas dari Bayu.
“Gini Lin, kamu pengen hape yang kayak Blackberry kan? Ini aku dapet Nokia E63 qwerty. Masih mulus kayak baru. Kamu mau nggak? Tuker tambah aja sama hape lamamu.”
“Harganya berapa, Yuk? Kalau tuker tambah aku nambah berapa?” Tanyaku penasaran.
“Aku dapet di harga dua juta. Buat kamu, nambah sejuta aja deh. Gimana?”
Duit di dompetku cuma ada 450 ribu hasil "malak" Bapak dan imbalan dari mereka berdua Bayu dan Rizki. Tapi Bayu memang kawan sejati. “Masalah duit gampang, besok aku bawain ke sekolah. Sisanya bisa kamu cicil!”
Aku langsung setuju. Fix, besok aku bakal jadi anak gaul dengan hape qwerty!
Selesai makan, kami mengobrol cukup lama. Di kafe itu, aku mencoba hal baru: merokok. Rizki yang memang sudah merokok mengajariku cara menghisapnya. Ternyata, di lingkungan sekolahku, hal ini cukup lumrah. Bahkan Aida yang dikenal sebagai anak berprestasi pun beberapa kali pernah kupergoki merokok sepulang sekolah.
Karena Iqbal tak kunjung memberi kabar (mungkin dia masih sibuk di pasar), akhirnya Rizki mengantarku pulang. Sesampainya di rumah, aku disambut oleh dua bocil yang baru pulang dari Brebes. Rizki berkenalan dengan Mbak Har dan Mas Suryanto. Hebatnya, dia langsung bisa akrab. Mereka mengobrol santai sambil menonton TV sampai jam 10 malam.
Begitu Rizki pamit dan suasana rumah kembali sepi, aku masuk ke kamar. Aku mengambil buku diary-ku, yang kini menjadi novel yang kalian baca ini.
Aku duduk di pinggir kasur, menatap langit-langit. Hari ini penuh warna: dari urusan gula aren, ciuman pertama Rizki yang manis tapi nanggung, sampai kesepakatan hape baru dengan Bayu. Tapi tetap saja, ada satu hal yang bikin aku uring-uringan.
“Gatel banget, tapi nggak sampai-sampai,” gerutuku sambil membanting bantal guling. Malam ini, Lina sang "bintang film komedi dewasa" harus menyerah pada rasa kantuk tanpa sempat merayakan kemenangan pribadinya.
1948Please respect copyright.PENANA9fwGCYt2oT


