Setelah ritual mandi kilat yang bikin badan segar (dan pikiran makin liar), aku dan Iqbal bersiap berangkat. Tapi, ada satu rintangan besar: 50 kilogram gula merah.
Bayangkan saja, ada lima karton besar yang harus diantar ke pasar untuk bapaknya Iqbal. Satu karton beratnya sepuluh kilo. Di teras, Iqbal sudah nangkring di atas Yamaha FizR full clutch tahun 2004-nya. Motor andalan kami yang suara knalpotnya sudah seperti musik pagi hari.
Iqbal cengengesan sambil menatapku bloon. “Tom, aku yang nyetir ya? Kamu belum pernah bawa muatan seberat ini kan? Bahaya kalau goyang-goyang di jalan.”
Aku langsung melotot. “Maksudmu aku disuruh mangku gula aren seberat ini, Gel? Anjrit! Mending aku mangku dua cowok sekaligus walaupun berat tapi enak rasanya. Nah kalau gula? Yang ada badanku pegal-pegal semua, Wasyu!”
Iqbal tidak peduli dengan keluh kesahku. Dia malah masuk ke rumah dan keluar membawa sebuah hoodie hitam miliknya yang ukurannya kebesaran di badanku.
“Nih, pakai, Tom. Putingmu nyeplak banget itu. Nanti kalau bapakku lihat, bisa-bisa kamu diceramahi tujuh hari tujuh malam!” Perintahnya telak.
Aku mendengus kesal sambil memakai hoodie itu. “Duh, padahal kostum perangku sudah oke buat menggoda Rizki, malah harus ketutup kain tebal begini gara-gara gula aren,” batinku merana. Tapi ya sudahlah, demi kelancaran misi hari ini.
Setelah berjuang menjaga keseimbangan di atas FizR dengan beban 50kg, kami sampai di pasar. Bapaknya Iqbal menyuruh kami makan dulu (lumayan, asupan tenaga gratis) dan pulangnya kami diberi uang 50 ribu buat jajan. Lumayan banget! Silsilah keluarga kami memang agak membingungkan, tapi yang jelas Bapaknya Iqbal dan Bapakku itu kerabat.
Begitu urusan gula selesai, kami langsung melesat ke rumah Rizki.
Begitu sampai, aku sempat terpana. Pagar besinya menjulang tinggi, rumahnya dua lantai dan terlihat sangat mewah jika dibandingkan rumah kunoku. Dari "Geng Koplak" kami berempat, Rizki memang juaranya soal urusan fasilitas. Tapi rumah itu terasa sangat sunyi, seolah-olah hanya ada angin yang numpang lewat.
Di dalam, ternyata sudah ada Bagas dan temannya. Mereka bertiga sedang asyik bermain PlayStation. Aku dan Iqbal pun ikut gabung, duduk lesehan sambil ngobrol.
“Rumahmu bagus, Riz, tapi kok sepi banget ya?” Tanyaku sambil clingak-clinguk memperhatikan interior rumahnya yang rapi.
Rizki cuma tersenyum tipis tanpa mengalihkan pandangan dari layar TV. “Aku cuma tinggal berdua sama Nenek di sini, Lin.”
Ternyata, orang tua dan adiknya tinggal di Jakarta karena pekerjaan. Rizki ini sudah seperti pengembara; sejak SD sudah pindah sekolah tiga kali dari Kalimantan, Jakarta, sampai Bandung. Akhirnya pas SMP, dia memilih menetap di kampung sama Neneknya biar bisa fokus sekolah.
“Pantas saja dia agak pendiam, ternyata mantan anak rantau,” pikirku.
Waktu berlalu dengan obrolan santai dan bunyi stik PS yang dipencet brutal. Sebenarnya, aku sudah mulai gelisah. Birahiku yang tertunda dari pagi tadi sudah di ubun-ubun. Ingin rasanya aku buka hoodie gerah ini, lalu memanjakan mereka semua sampai puas.
Aku mulai melancarkan seranganku. Aku bergeser duduk mendekati Rizki, sesekali memeluk lengannya atau menyodorkan dadaku ke arah lengannya saat dia lagi asyik nge-game. Tapi sial, Rizki sepertinya sedang kerasukan jiwa atlet e-sport. Dia tetap fokus ke layar, seolah dadaku tidak lebih menarik daripada skor pertandingan di game.
“Asem! Ini anak beneran nggak peka atau gimana sih?” Gerutuku dalam hati.
Tiba-tiba, hape Iqbal berbunyi. Dia tampak serius menerima telepon. “Halo, waalaikumsalam... iya... oke... baik...”
“Dari siapa, Gel? Serius amat?” Tanyaku penasaran.
“Dari Ibu, Tom. Katanya Ibu nggak bisa jemput Bapak di pasar. Aku disuruh balik sekarang buat jemput Bapak. Kamu mau nunggu di sini atau ikut aku?” Tanya Iqbal.
Wah, ini dia! Kesempatan emas!
“Lina biar nunggu di sini saja, Bal. Masih sore ini. Nanti kalau kamu nggak bisa balik buat jemput, biar aku yang antar dia pulang!” Seru Rizki tiba-tiba, memotong pembicaraan.
Hatiku bersorak kegirangan. “Nah, gitu dong! Ini baru Rizki yang aku mau!”
Iqbal pamit dan langsung ngeloyor menuruni anak tangga. Tinggal kami berempat. Rizki kemudian mengambil hapenya, mengetik sesuatu dengan cepat. Tak lama kemudian, Bagas tiba-tiba mengecek hapenya sendiri, seolah baru mendapat instruksi rahasia.
Hanya butuh dua menit setelah Iqbal pergi, Bagas dan temannya pun ikut pamit. “Mas, aku pulang dulu ya. Mari, Mbak Lina,” ucap Bagas sambil nyengir penuh arti sebelum mereka berdua menghilang di balik pintu bawah.
Kini, rumah mewah itu benar-benar hanya milik kami berdua. Sunyi. Hanya ada suara kipas angin dan detak jantungku yang mulai balapan lagi. Rizki meletakkan stik PS-nya, lalu duduk di sofa dengan santai.
“Sini, Lin, duduk. Kita tunggu Iqbal sambil ngobrol,” panggilnya pelan.
Aku baru mau melangkah menuju sofa, tapi Rizki bergerak lebih cepat. Dia menarik tanganku dengan tegas, membimbingku untuk duduk tepat di sampingnya. Sangat dekat sampai aku bisa mencium aroma parfum khasnya yang maskulin.
Rizki menatapku dalam-dalam. Tidak ada lagi stik PS, tidak ada lagi gangguan teman-teman. Di tengah kesunyian rumah dua lantai itu, dia perlahan mendekatkan wajahnya.
Dan di sanalah, di antara rasa sangeku yang sudah meledak dan keberanian Rizki yang tiba-tiba muncul, dia mendaratkan ciuman pertamanya di bibirku. Lembut, tapi penuh tuntutan, seolah dia ingin bilang kalau selama ini dia hanya menunggu waktu yang tepat untuk "menyerang."
ns216.73.216.250da2


