Sabtu malam yang penuh doa dan sate ternyata sukses menguras tenagaku. Alarm hape Nokia-ku sudah menjerit-jerit, suara "titit-titit-titit" yang cempreng itu menusuk gendang telinga. Dengan nyawa yang belum terkumpul genap, kupaksa mataku terbuka. Hal pertama yang kucari tentu saja si layar kecil itu.
Begitu kulihat jamnya... 09:10.
“Astaga! Mampus, aku kesiangan!!!” Teriakku pada tembok kamar yang diam saja.
Aku melompat dari kasur, lari keluar kamar tanpa alas kaki. Sepi. Sunyi. Hanya ada suara detak jam dinding dan dengung kulkas tua di dapur. Tidak ada suara Riki yang merengek, tidak ada omelan Mbak Har, tidak ada suara batuk Bapak.
Rumah ini sudah kosong melompong. Rombongan keluarga besar sudah berangkat ke Salem, Brebes, untuk menengok peristirahatan terakhir Ibu tanpa diriku.
“Yah... beneran ditinggal,” gerutuku sambil menggaruk kepala yang masih berantakan. Ada rasa kecewa sedikit karena gagal ziarah, tapi ya mau bagaimana lagi? Kasurku tadi memang terasa seperti punya magnet sepuluh ribu watt.
Aku duduk terhenyak di sofa ruang tamu yang busanya sudah agak kempes. Kusambar lagi hape yang sejak tadi kugenggam. Ada beberapa pesan masuk.
Mbak Har: “Lin, kalau sudah makan, magic com jangan lupa dicabut! Kamu tidur kayak kebo, dibangunin nggak bangun-bangun. Jadinya kita tinggal jalan duluan.”
Rizki: “Lin, ngumpul kuy mumpung libur. Bayu sama Iqbal juga sudah tak kabari.”
Membaca SMS kedua dari Rizki, bibirku otomatis melengkung membentuk senyum nakal. Rasa kecewa karena ditinggal ziarah langsung menguap ke langit-langit rumah. Otakku yang emang dasarnya sudah agak "berbakat" langsung memutar memori kejadian di kelas kemarin.
“Wah, mereka pasti mau minta jatah lagi ini. Dasar buaya-buaya haus susu,” gumamku dalam hati sambil tertawa genit.
Baca selengkapnya di: https://victie.com/app/books/4811
2351Please respect copyright.PENANAXc6ZpESCi2


