Sore itu, rumah kuno kami yang biasanya hanya berisi suara rengekan bocil, mendadak berubah jadi lautan manusia. Bau harum bumbu ungkep dan asap arang mulai memenuhi udara. Satu per satu kerabat dari pihak Bapak berdatangan. Ada yang naik motor butut, ada yang carter angkot. Mereka datang membawa tas-tas besar berisi makanan, buah, sampai bingkisan plastik.
Ibu tiriku, Istri baru Bapak juga datang. Beliau menggendong anaknya yang masih kecil. Dia tersenyum sopan ke arahku, tapi matanya selalu tampak menghindar, seolah ada rasa canggung yang tak kunjung hilang. Aku hanya membalas dengan anggukan tipis. Malam ini bukan waktunya untuk berdebat atau merasa cemburu. Malam ini adalah ‘Nyewu’ Ibuku. Seribu hari sejak napas terakhirnya terhenti.
Tiga tahun berlalu, tapi rasa sesak itu masih sering datang tanpa permisi.
Di samping rumah, asap bakaran sate sudah mengepul tebal sampai ke langit-langit teras. Bapak duduk di atas dingklek: kursi kayu pendek yang sudah reyot. Di sekelilingnya ada Mas Budi (suami Mbak Sumarni), Mas Suryanto (suami Mbak Har), dan beberapa tetangga.
Wajah Bapak terlihat lelah. Rambutnya yang memutih tertutup peci hitam yang sudah agak kusam. Lebih dari 30 tahun beliau mengabdi di toko kaca milik keluarga Pak Handoko. Kesetiaan yang luar biasa.
“Lin! Jangan cuma berdiri di situ, bantu kipasin!” Seru Mas Suryanto sambil menyeka keringat di dahi.
Aku mendekat, menyambar kipas bambu dan mulai menggerakkannya dengan semangat. Bau lemak sate yang terbakar membuat perutku keroncongan, tapi pikiranku malah melayang ke tumpukan bahan makanan di dapur.
“Banyak banget ya Mas belanjanya tadi pagi?” Tanyaku pada Mas Suryanto.
“Itu bukan belanja semua, Lin,” sahut Bapak sambil membolak-balik tusuk sate. “Itu kiriman dari anak-anaknya Pak Handoko. Dari beras, minyak, sampai kambing tadi pagi itu. Mereka memang luar biasa baik.”
Aku terdiam. Hati ini terasa hangat. Pak Handoko sudah meninggal, tapi anak-anaknya tetap menjaga hubungan baik dengan Bapak. Beda agama bukan penghalang. Pernikahan Mbak Har dulu pun dibiayai mereka. Terkadang, orang lain memang bisa lebih peduli dari pada saudara sedarah.
Aku menyikut lengan Bapak dengan nada genit yang dibuat-buat. “Beh… itu dompetnya kok kelihatan tebal? Jatah sini, jatah buat beli bedak!”
Bapak tertawa kecil, suara tawanya yang serak selalu menenangkan. “Sudah besar minta duit terus kamu ini. Jolke brambang kapok, kamu."
Aku ketawa cengengesan. "Di tukar bawang nggak tuh. Rongsok kali... ah!"
Meskipun mengomel, tangan Bapak merogoh saku celana kainnya. Beliau mengeluarkan dompet lusuh yang pinggirannya sudah mengelupas, lalu menyelipkan beberapa lembar uang ke tanganku.
“Ini, buat jajan. Tapi jangan buat beli yang aneh-aneh,” bisik Bapak.
Aku nyengir lebar. “Siap, Komandan!”
Dalam hati, aku sedikit merasa bersalah. Tadi siang, Bayu dan Rizki sudah memberiku uang "imbalan" dua ratus ribu. Ditambah jatah dari Bapak, dompetku sekarang lebih tebal dari kamus bahasa Inggris. “Duh Lina… profesional sekali kamu dalam urusan malak cowok,” batinku sambil terus mengipas sate.
Setelah Isya, suasana rumah mendadak hening. Hanya ada suara dengung ayat-ayat suci yang mengalir dari ruang tamu. Aroma kemenyan dan bunga mawar yang disebar di atas nampan air menyelimuti udara, memberikan nuansa mistis sekaligus sakral.
Aku duduk bersimpuh di saf wanita, di belakang Mbak Har yang sedang terisak pelan. Aku mencoba fokus pada doa, tapi bayangan Ibu malah muncul dengan sangat jelas.
Aku ingat senyumnya saat menyisir rambutku. Aku ingat tangannya yang kasar tapi lembut saat mengusap pipiku. Dan yang paling menyakitkan, aku ingat suara rintihannya sebelum pendarahan hebat merenggut nyawanya saat melahirkan Riki.
“Ibu… Lina kangen,” bisikku dalam hati. Air mataku mulai menggenang. Di saat orang-orang sibuk dengan doa, aku malah merasa seperti orang asing yang penuh dosa.
Tadi siang aku baru saja melakukan "sesi nenen" di sekolah, dan sekarang aku duduk di sini, mendoakan Ibu. Kontras ini membuat dadaku terasa seperti dihimpit batu besar.
Selesai acara, rumah makin sesak. Semua orang sibuk makan dan mengobrol. Aku yang merasa gerah memutuskan untuk pergi ke belakang rumah, mengantre kamar mandi yang antreannya sepanjang ular naga.
Di meja kayu dekat sumur, ada sisa pisang ambon yang kulitnya sudah kuning mulus. Aku mengambil satu, berniat mengganjal perut. Tapi, saat hendak menggigitnya, ingatan tentang video yang dikirim dari Bayu dan video Fitriani tadi siang mendadak melintas di kepala.
Aku menatap pisang itu. Panjang, melengkung, dan kokoh.
“Eh, ini kok bentuknya mirip ‘anu’ ya?” Gumamku pelan, memastikan tidak ada orang di sekitar sumur.
Entah setan mana yang merasuki, aku malah mulai mempraktekkan apa yang kulihat di video. Aku kupas kulitnya perlahan, lalu kukecup ujungnya dengan lembut, membayangkan itu adalah milik Rizki. Aku mulai menjilatnya dari atas ke bawah, lambat dan sensual, persis seperti teknik yang diperlihatkan Fitriani.
“Oh, jadi begini rasanya kalau dimasukkan?” Bisikku sendiri.
Aku mencoba mendorong pisang itu masuk ke mulut, lebih dalam, sampai ujungnya menyentuh pangkal tenggorokan. Aku mencoba mengempotkan pipi dan menggerakkannya keluar-masuk dengan ritme yang semakin cepat.
“HUOGGGHKKK!!!”
Seketika, perutku bereaksi. Rasa mual menghantam, hidungku terasa panas, dan mataku langsung berair. Aku tersedak hebat sampai hampir muntah di tempat.
“Uhukk! Uhukk! Aduh… gila!” Aku memaki diri sendiri sambil terbatuk-batuk. Pisang itu kutarik keluar dengan kasar, permukaannya sudah penuh air liur.
Aku berdiri mematung di dekat sumur, memegangi dada yang masih sesak karena tersedak. “Gila kamu, Lina… lagi ada pengajian seribu hari Ibu, kamu malah latihan sepong pisang di belakang rumah! Kalau Ibu lihat, mungkin aku sudah diseret ke laut!”
Aku tertawa getir, menertawakan kebodohanku sendiri. Pisang yang sudah berantakan itu buru-buru kuhabiskan daripada ketahuan orang. Begitu kamar mandi kosong, aku langsung masuk, mengguyur wajahku dengan air sumur yang dingin, mencoba menghapus rasa malu yang membakar pipi.
Malam semakin larut. Kerabat yang menginap mulai menggelar kasur lantai di ruang tamu. Suara obrolan ngalor-ngidul terdengar samar-samar. Cerita tentang masa muda Ibu, tawa kecil bapak-bapak, dan isak tangis yang tertahan.
Besok pagi, kami harus berangkat pagi-pagi sekali ke Brebes. Ziarah ke makam Ibu di sana, dekat dengan leluhurnya. Perjalanan itu akan memakan waktu berjam-jam, tapi itu adalah satu-satunya cara agar aku merasa "dekat" lagi dengannya.
Aku merebahkan diri di kamarku yang sempit. Aku memeluk bantal guling erat-erat. Kali ini, rasa sange yang menyiksaku sejak pagi sudah hilang total. Yang tersisa hanyalah rasa rindu yang lubangnya tak pernah bisa tertutup.
Aku menatap foto Ibu di dinding yang sudah agak miring.
“Bu… maaf ya, tadi Lina iseng banget sama pisang,” bisikku dalam hati, air mata mulai mengalir pelan membasahi bantal. “Maaf kalau Lina nakal. Maaf kalau Lina belum bisa jadi anak yang baik. Tapi Lina beneran kangen banget sama Ibu.”
Malam itu, di antara suara jangkrik dan dinginnya angin Semarang, aku tertidur dengan sisa air mata di pipi. Esok adalah perjalanan panjang, menuju sebuah nisan yang menyimpan separuh jiwaku.
ns216.73.216.250da2


