Suasana kelas mendadak berubah auranya. Gorden jendela yang warnanya sudah pudar dan berdebu ditarik rapat-rapat oleh Iqbal. Pintu kayu kelas yang engselnya suka berbunyi krieeet sudah dikunci ceklek dari dalam. Kipas angin di langit-langit berputar malas, mengeluarkan bunyi tik-tik-tik yang entah kenapa sekarang terdengar seperti timer bom waktu di film-film action.
Aku duduk di atas meja guru di depan kelas. Posisi paling berkuasa. Seragam atasanku sudah terbuka, memperlihatkan bra renda warna hitam. Tiga cowok di depanku: Bayu, Rizki, dan Iqbal berdiri dengan formasi setengah lingkaran layaknya anak-anak TK yang lagi nunggu pembagian susu gratis. Bedanya, mata mereka melotot, dan jakun mereka naik-turun menelan ludah.
“Kertas, gunting, batu!”
Bayu mengeluarkan tangan berbentuk gunting, sementara Rizki mengeluarkan kertas.
“YES!! Gunting memotong kertas! Aku duluan, Bos!” Teriak Bayu kegirangan, nyaris melompat kalau saja Iqbal tidak langsung menggeplak kepalanya dari belakang.
“Ssst! Cangkemmu diam, Yuk! Nanti kedengeran dari luar, goblok!” Desis Iqbal dengan mata melotot. Dia lalu melipat tangan di dada, sok-sokan bertingkah seperti wasit pertandingan sepak bola. “Ingat ya, aturan mainnya jelas. Nggak boleh gigit, nggak boleh kasar. Waktumu cuma tiga menit. Mulai dari… sekarang!”
Aku tertawa renyah melihat kelakuan mereka. Benar-benar absurd. Aku menyandarkan kedua tanganku ke belakang, menopang tubuh di atas meja guru, dan membusungkan dadaku dengan bangga. “Ayo, Yuk. Katanya tadi di parkiran udah nggak sabar. Kok malah bengong?” Tantangku sambil tersenyum menggoda.
Bayu maju selangkah.
Wajahnya yang biasanya tengil dan penuh candaan sekarang berubah jadi kaku dan merah padam. Tangan kanannya gemetar saat terangkat, ragu-ragu mau menyentuh pinggangku.
“Lin… aku beneran boleh nih?” Suaranya mendadak serak, beda seratus delapan puluh derajat dari Bayu yang tadi pagi melempar kertas ke kepala Iqbal.
“Halah, kesuwen (kelamaan) kamu Yuk! Sini minggir kalau nggak berani!” Potong Rizki dari belakang, wajahnya terlihat sedikit kesal tapi matanya nggak bisa lepas dari pemandangan di depannya.
“Enak aja! Jatahku ini!” Bayu akhirnya memberanikan diri. Dia melingkarkan lengannya di pinggangku, wajahnya mendekat. Hembusan napasnya yang hangat dan bau es teh kantin menerpa kulit dadaku.
Saat wajahnya akhirnya bersentuhan dengan kulitku, Bayu tampak seperti orang yang baru pertama kali melihat keajaiban dunia. Dia bertingkah sangat hati-hati, seperti sedang memegang kristal mahal yang gampang pecah.
Aku cuma mengelus rambut belakangnya sambil tertawa kecil. Sensasinya memang membuat badanku merinding sedikit, apalagi setelah kejadian "gagal orgasme" tadi pagi di rumah. Tapi melihat Bayu yang biasanya pecicilan jadi sejinak ini, rasa lucunya jauh lebih besar daripada rasa nafsunya.
“Dua menit lagi!” Iqbal memberi laporan dari pinggir, matanya memicing menatap jam dinding kelas. “Jangan rakus kamu, Yuk!”
Bayu mendengus sebal tanpa melepaskan posisinya. “Berisik kamu, Bal! Biarin aku konsentrasi napa!”
Aku terkekeh. “Santai, Yuk. Pelan-pelan aja, nggak ada yang ngejar.”
Setelah beberapa saat yang dipenuhi dengan suara napas memburu dan omelan Iqbal dari pinggir kelas, Iqbal akhirnya menepuk bahu Bayu. “Waktu habis! Prit! Prit! Mundur kamu, ganti pemain!”
Bayu mundur dengan wajah setengah teler, bibirnya menyunggingkan senyum puas yang sumringah abis. “Wah… gila. Pantesan kamu betah bonceng Lina tiap hari, Bal. Surga dunia, Bos!”
Iqbal langsung membusungkan dada, bangga bukan main. “Ya iyalah! Hak paten itu namanya. Nah, sekarang giliranmu, Ki. Jangan malu-maluin!”
Rizki, yang sedari tadi diam mematung, menelan ludah dengan susah payah. Dia maju perlahan. Kalau Bayu tadi kaku karena saking excited-nya, Rizki ini terlihat kaku karena benar-benar gugup. Matanya tidak langsung menatap dadaku seperti yang dilakukan Bayu atau Iqbal. Matanya yang teduh itu malah menatap mataku lebih dulu.
Ada keheningan sepersekian detik yang terasa sangat panjang.
“Kenapa, Riz? Takut?” Godaku pelan. Suaraku mendadak sedikit melunak, tidak sengak seperti biasanya. Entah kenapa, ditatap sedalam itu oleh Rizki membuat dadaku berdesir dengan cara yang berbeda. Bukan desir nafsu, tapi desir aneh yang bikin perutku serasa diisi ribuan kupu-kupu.
Rizki menggeleng pelan. Tangan kanannya terangkat, menyentuh pipiku lebih dulu. Sentuhannya sangat lembut, jempolnya mengusap rahangku pelan. “Kamu cantik banget, Lin,” bisiknya tulus.
Aku tertegun. Skakmat. Kalau cowok lain yang ngomong begitu, pasti aku langsung balas dengan candaan sombong macam, “Baru sadar kamu?” atau “Udah dari lahir!”. Tapi saat Rizki yang mengatakannya, suaraku rasanya tercekat di tenggorokan.
Dia kemudian menunduk perlahan. Tangannya merengkuh punggungku dengan hangat dan protektif. Berbeda dengan Bayu yang terburu-buru, Rizki menenggelamkan wajahnya di antara dadaku dengan sangat lembut.
Aku bisa merasakan detak jantungnya yang berdegup gila-gilaan menembus seragam putih abu-abunya, beradu dengan detak jantungku yang ternyata tidak kalah hebohnya.
Aku menahan napas. Secara refleks, tanganku memeluk kepala Rizki, jari-jariku menyusup ke sela-sela rambut hitamnya yang tebal.
“Ya Tuhan… kenapa rasanya beda begini?” Batinku menjerit kebingungan. Saat bersama Iqbal, rasanya murni persahabatan nakal yang seru. Saat bersama Bayu, rasanya murni komedi dan eksperimen masa muda. Tapi bersama Rizki? Ada kehangatan yang membuatku merasa aman. Dia memperlakukanku seolah aku ini sangat berharga.
Iqbal, yang tadinya cerewet jadi timer, mendadak diam. Mungkin dia juga menyadari perubahan atmosfer di ruangan itu yang tiba-tiba jadi agak romantis.
“Lin…” Gumam Rizki dengan suara teredam di dadaku, tangannya memeluk pinggangku makin erat seolah tidak mau melepaskannya.
Aku memejamkan mata, membiarkan diriku menikmati momen itu. Rasa panas yang sejak pagi tertahan di tubuhku perlahan menguap, digantikan oleh perasaan nyaman yang aneh. Aku mengusap punggungnya pelan. “Iya, Riz?”
“Aku... aku...”
GLODAK! KLOTAK! KLOTAK!
Suara gagang pintu kelas ditekan dengan kasar dari luar memecah keheningan. Jantung kami berempat seakan melompat keluar dari dada secara bersamaan.
“Heh! Siapa yang ngunci pintu kelas ini?!”
Itu suara berat dan serak. Pak Yanto, satpam sekolah!
Rizki langsung melompat mundur seolah tersengat listrik. Wajahnya yang tadi syahdu kini pucat pasi kayak mayat hidup. Bayu panik luar biasa, sampai-sampai dia menabrak meja guru di depanku.
“Aduh, asu!” Ringis Bayu memegang lututnya.
“Ssst!! Mati kita, mati kita!” Iqbal panik setengah mati, berlari tanpa suara ke arah jendela seolah mau terbang keluar.
Aku dengan kecepatan kilat merapikan bra dan mengancingkan kembali seragam putihku. Tanganku gemetar saking kagetnya. Mataku melotot ke arah pintu. Gagang pintu itu masih diguncang-guncang dari luar.
“Halo?! Ada anak di dalam?! Keluar kalian! Ini jam pulang, bukan jam mojok!” Teriak Pak Yanto lagi, kali ini sambil menggedor pintu dengan kunci gemboknya.
BANG! BANG!
Kami berempat saling bertatapan dalam diam, menahan napas. Rizki memberi isyarat dengan tangannya agar kami semua merunduk bersembunyi di balik meja guru, jauh dari pandangan kalau-kalau Pak Yanto mengintip dari ventilasi atas.
Aku berjongkok di samping Rizki. Di tengah kepanikan dan dada yang berdebar mau copot, Rizki tiba-tiba menoleh ke arahku. Jarak wajah kami sangat dekat, napasnya menerpa hidungku. Alih-alih takut, dia malah tersenyum kecil. Senyum tipis yang tulus dan jujur. Tanpa aba-aba, dia menggenggam tangan kiriku yang dingin, meremasnya pelan seolah menyalurkan ketenangan.
“Nggak apa-apa,” bisiknya tanpa suara, hanya melalui gerak bibir.
Aku menatap mata Rizki, lalu beralih menatap tangan kami yang saling menggenggam di lantai kelas yang berdebu. Tiba-tiba, rasa panikku menguap. Di tengah kekacauan, di dalam kelas kosong dengan satpam galak yang menggedor pintu, aku menyadari satu hal.
Cerita remajaku yang penuh tawa, absurd, dan sange ini… mungkin baru saja menemukan bab romansa aslinya.
ns216.73.216.250da2


